
Beberapa tahun yang lalu
Di sebuah kamar berukuran 4x6 meter, nampak seorang wanita tengah berkutat di balik meja belajarnya. Ini adalah tahun keduanya kuliah di bidang manajemen. Hanya tinggal sedikit lagi dia akan meraih gelar master. Sejak tiga bulan lalu, dia tinggal bersama dengan adik dari mamanya. Karena kedua orang tuanya kembali pulang ke tanah air. Sang papa kembali ditugaskan di negara asalnya.
Ponsel wanita itu berdenting. Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Senyum mengembang di wajahnya begitu melihat sang kekasih yang mengirimkan pesan. Pria yang sudah menjalin hubungan dengannya selama setahun mengajaknya bertemu dan berjalan-jalan di Orchid Road.
Setelah yakin tidak ada yang kurang dari penampilannya, wanita itu keluar dari kamarnya. Di ruang depan, dia berpapasan dengan sang paman yang baru pulang kerja. Mata pria berusia empat puluh tahunan itu memandangi tubuh keponakannya yang terbalut dress selutut tanpa lengan. Lekuk tubuh wanita itu terlihat begitu jelas. Apalagi leher jenjangnya yang berwarna putih membuat sang paman meneguk ludahnya kelat.
“Om.. aku pergi dulu, ya.”
“Mau kemana?”
“Mau ketemu Mahes.”
“Pulangnya jangan malam-malam.”
Hanya anggukan saja yang diberikan oleh wanita itu. Dia segera keluar dari unit apartemen yang hanya ditempati berdua saja dengan sang paman. Leo, adalah seorang duda. Pria itu sudah bercerai dari istrinya tiga tahun lalu. Kedua anaknya juga ikut dengan sang istri. Dia senang sang keponakan bisa tinggal dengannya. Leo jadi memiliki teman di unit apartemennya yang sepi.
“Mahes!”
Terdengar suara wanita itu memanggil kekasihnya yang tengah mengantri es krim. Dengan dua es krim di tangannya, Mahes mendatangi sang kekasih. Dia mengajak wanita itu duduk di salah satu kursi untuk menikmati es krim. Mahes, pria yang sejak SMA hingga di bangku kuliah terkenal playboy, kini hanya setia pada satu wanita saja yang menjadi kekasihnya saat ini.
“Kamu tau aja aku suka es krim rasa ini.”
“Apa sih yang aku ngga tau soal kamu.”
Saat tengah menikmati es krim sambil berbincang santai. Tiba-tiba saja wanita itu seperti melihat lelaki yang selalu memenuhi relung hatinya sejak sekolah. Dia segera berdiri untuk mengejar pria itu. Mahes yang terkejut melihat kekasihnya begitu saja meninggalkannya, segera menyusul.
“Ad!” panggil wanita itu seraya menepuk pundak pria tersebut.
“Oh sorry,” ujar wanita itu lagi. Saat saar sudah salah mengenali seseorang.
“Ta!”
Wanita yang ternyata adalah Yulita menolehkan kepalanya ketika mendengar suara Mahes. Dia menyesal begitu saja meninggalkan Mahes, hanya karena melihat pria yang di matanya mirip Adrian. Sampai saat ini pun dalam hati Yulita masih ada nama Adrian terukir di hatinya.
“Kamu kenapa?” tanya Mahes.
“Ngga apa-apa. Ayo kita nonton,” ajak Yulita.
Mahes hanya menganggukkan kepalanya saja lalu menggandeng tangan Yulita berjalan menuju bisokop. Walau Yulita tak mengatakannya, namun Mahes yakin kalau kekasihnya itu mengejar lelaki yang mirip Adrian. Hatinya sakit mengingat sang kekasih yang masih belum bisa menghilangkan nama Adrian dari hatinya. Namun begitu dia akan terus bertahan. Berharap Yulita akan benar-benar melihat padanya.
🌸🌸🌸
Beberapa bulan kemudian
Yulita merangkak naik ke atas kasur. Dia segera membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Seharian ini menyelesaikan tesisnya, belum lagi dia juga membantu Mahes yang sama sepertinya tengah menyusun tesis. Tangannya bergerak mematikan lampu di kamarnya.
Dua jam berlalu, Yulita sudah masuk ke alam mimpi. Namun kemudian dia merasakan seseorang seperti tengah menggerayangi tubuhnya. Perlahan mata Yulita terbuka. Dia terkejut melihat sang paman berada di atas tubuhnya.
“Om..”
“Sssttt… diam Yulita. Biarkan om menikmati tubuhmu.”
Sebisa mungkin Yulita memberontak, namun tenaga Leo begitu kuat, hingga akhirnya wanita itu harus pasrah menerima pelecehan seksual dari pamannya. Bukan itu saja, ternyata sang paman mengidap kelainan s*k*.. Pantas saja istrinya tidak kuat dan meminta cerai darinya.
Terdengar teriakan Yulita saat Leo mulai menyakiti tubuhnya menggunakan alat-alat yang dimilikinya untuk melakukan BDSM. Teriakan Yulita tertahan karena mulutnya dibungkam dengan kain. Kedua tangan dan kakinya terikat ke ujung ranjang. Wanita itu hanya bisa menangis mendapatkan perlakuan yang begitu kejam dari sang paman.
Apa yang dilakukan Leo tidak berhenti di satu malam. Pria itu terus mengeksplotasi keponakannya itu. Apalagi setelah Yulita berhasil menyelesaikan sidang tesisnya dan putus dari Mahes, Leo semakin menguasai dirinya. Sehari-harinya Yulita hanya dikurung di unit apartemennya dan harus mau memuaskan hasratnya kapan pun dia menginginkannya.
Sosok Yulita yang memang pendiam menjadi semakin tertutup. Sehari-harinya dia lebih senang mengurung diri di kamar. Lama-lama tekanan yang dialaminya membuat wanita itu stress, namun begitu Leo masih belum mau melepaskan keponakannya itu. Hampir tiga bulan lamanya Yulita mendapatkan siksaan fisik dan psikis.
Curiga sang anak yang jarang memberikan kabar, ibu Yulita datang mengunjungi anaknya. Dia terkejut saat mendatangi unit apartemen adiknya, Yulita didapati terkulai di bath tub dengan pergelangan tangan teriris. Dengan cepat wanita itu memanggil ambulans untuk menyelamatkan anaknya.
Setelah sang anak berhasil diselamatkan, Yulita sama sekali tidak mau membuka mulutnya. Apa yang menyebabkannya melakukan aksi bunuh diri. Leo sendiri mengaku tak tahu menahu akan apa yang terjadi dengan Yulita. Pria itu mengatakan dirinya sering pergi meninggalkan Yulita di apartemen sendiri.
Di suatu malam, Yulita terbangun dari tidurnya. Wajahnya nampak pucat, matanya cekung dan tak ada gairah hidup terpancar dari kedua matanya. Wanita itu berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya di sana. Tangisnya kembali pecah meratapi nasib dirinya. Kepala wanita itu yang semula tertunduk segera terangkat begitu mendengar sebuah suara.
“Dasar wanita bodoh! Kenapa kamu hanya bisa menangis dan menangis saja?”
Mata Yulita membelalak melihat pantulan dirinya di cermin. Di sana dia melihat seorang wanita yang wajahnya mirip dengannya namun nampak begitu percaya diri. Pantulan dirinya itu terus saja memprovokasi dirinya.
“Apa kamu pikir dengan kamu diam, maka si Leo akan mengakhiri semuanya? Pikir dengan otak bodohmu. Sampai kapan kamu akan terus seperti ini?!!!”
“A.. aku ha.. harus bagaimana?”
“Biarkan aku yang mengendalikanmu,” Yulita di dalam cermin nampak menyeringai.
“A.. apa maksudmu?”
“Biarkan aku yang mengambil alih tubuhmu. Aku lebih kuat darimu, aku bisa melawan Leo, bahkan aku juga bisa mendapatkan Adrian untukmu.”
“Benarkah?”
“Iya. Kamu masih mencintainya bukan? Maka biarkan aku yang mengambil alih tubuhmu.”
Tiba-tiba saja kepala Yulita terasa sakit. Wanita itu mengerang kencang sebelum tubuhnya ambruk ke lantai.
__ADS_1
Perlahan Yulita membuka matanya. Dirinya ternyata masih berada di kamar mandi. Dengan susah payah Yulita bangun, kemudian berdiri kembali di depan wastafel. Dia membasuh wajahnya dengan air, kemudian mengeringkannya. Saat keluar dari kamar mandi, nampak ibunya baru saja masuk membawakan makanan untuknya.
“Lita.. ayo makan dulu. Kamu harus banyak makan supaya bisa pulih. Kalau kamu sudah sembuh, mama akan membawamu pulang.”
Yulita membuka kotak makanan yang diberikan ibunya. Kemudian dengan lahap dia memakannya. Mama Yulita terkejut melihat nafsu makan anaknya yang sudah kembali. Sebuah senyum terukir di wajahnya. Dia yakin sang anak akan kembali bangkit setelah ini.
🌸🌸🌸
Beberapa bulan sebelum kematian Aditya
Yulita berjalan mondar-mandir di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Pertemuannya kembali dengan Mahes membangkitkan kembali ingatan kelamnya dahulu. Apalagi pria itu beberapa kali mencoba untuk menggodanya. Hingga akhirnya dia bersedia menjalin hubungan kembali dengan Mahes diam-diam di belakang Indira.
Namun dia terkejut saat mengetahui Mahes juga menjalin hubungan dengan Amanda dan juga Ara. Teman masa sekolah dan kuliahnya itu rela menjadi pemuas Mahes di atas ranjang. Dengan kesal Yulita meremat erat rambutnya, matanya menatap nyalang ke arah pantulan dirinya.
“Mahes brengsek! Apa dia tidak cukup hanya memiliki aku. BRENGSEK!!”
“Ya.. sudah kubilang, kamu itu terlalu lemah. Kamu tidak mengijinkanku masuk sejak bertemu dengan Adrian. Dan lihat apa yang terjadi? Kamu tetap tidak bisa mendapatkan Adrian dengan sikap manismu itu. Lalu Mahes, pria brengsek itu tidak pantas mendapatkan diriku! Dasar bodoh!!”
“Lalu apa maumu?”
“Biarkan aku masuk!! Aku yang akan mendapatkan Adrian untukmu!!”
Yulita merasakan sakit di kepalanya. Telinganya berdenging cukup kencang sampai wanita itu menutup kedua telinganya. Perlahan tubuh Yulita terkulai jatuh ke lantai.
🌸🌸🌸
“Ad..”
Adrian menolehkan kepalanya ketika Yulita memanggilnya. Pria itu menerima ajakan Yulita makan malam karena tak enak terus menerus menolaknya. Wanita itu mengajak Adrian makan malam di sebuah private room di restoran mewah.
“Kamu ngapain ngajak aku makan malam di sini? Bukannya lebih baik di bawah?”
“Supaya kita bisa berduaan.”
Kening Adrian mengernyit, dia bingung melihat sikap Yulita yang jauh berbeda dengan kesehariannya. Yulita menyunggingkan senyumannya, kemudian berjalan mendekati Adrian. Tangannya terulur hendak memeluk leher pria itu, namun dengan cepat Adrian menepisnya.
“Hentikan, Ta. Aku datang ke sini karena menghargai pertemanan kita. Tapi melihat sikapmu yang seperti ini, membuatku muak.”
Adrian segera meninggalkan ruangan usai mengucapkan kata-kata yang membuat telinga Yulita marah. Kemarahan jelas tercetak di wajah Yulita. Dia mengambil gelas sloki kemudian menekannya keras hingga pecah dan pecahannya melukai telapak tangannya.
“Kamu terlalu sombong, Ad. Lihat saja, aku akan membuatmu menangis darah.”
🌸🌸🌸
“Yulita sayang.”
“Lepas!”
Yulita berusaha melepaskan diri dari kungkungan Leo. Pria itu mengerahkan semua tenaganya untuk melumpuhkan Yulita. Dia sudah sangat merindukan keponakannya itu. Namun Leo tak menyadari, Yulita yang dihadapinya sekarang bukanlah Yulita yang dulu berhasil diintimidasinya.
Dengan bersusah payah Yulita melepaskan diri. Dia mengambil sebuah piala yang ukurannya lumayan berat lalu memukulkannya ke kepala Leo dengan kencang beberapa kali. Tubuh Leo ambruk dengan kepala bersimbah darah.
“Dasar brengsek!! Mati saja kamu!”
Yulita menarik tubuh Leo ke bagian belakang rumah. Dia membawa jasad Leo ke gudang yang jarang dibuka oleh kedua orang tuanya. Di sana terdapat sebuah freezer yang sudah tak digunakan lagi. Yulita memasangkan kabel lemari pendingin tersebut yang memang masih berfungsi. Kemudian dengan susah payah dia memasukkan tubuh Leo ke dalam freezer. Yulita menutup pintu gudang dan menguncinya. Dibuangnya kunci gudang ke dalam tong sampah yang ada di sana.
🌸🌸🌸
Malam kematian Amanda
Setelah mendapatkan ponsel Mahes, Yulita meminta Amanda datang ke rooftop. Dia lebih dulu pergi ke bagian teratas hotel. Wanita itu sudah memutuskan untuk menyingkirkan Amanda begitu mendengar wanita itu hamil anak Mahes. Setelah Amanda, dia juga akan menyingkirkan Ara dan Indira. Dia akan melimpahkan semua kesalahan pada Mahes.
Pintu rooftop terbuka, Amanda berjalan mendekati posisinya bersembunyi. Dengan sekali hantam dia memukul belakang kepala Amanda hingga wanita itu pingsan. Sekuat tenaga Yulita menarik tubuh Amanda mendekati pembatas rooftop.
“Dasar wanita murahan. Kamu pikir akan lolos begitu saja setelah kamu menggoda Mahesku? Terima saja akibat perbuatanmu.”
Yulita menegakkan tubuh Amanda kemudian menyandarkannya sebentar ke pembatas rooftop. Dia memperhatikan sejenak Amanda yang masih belum sadarkan diri. Senyum menyeringai tercetak di wajahnya.
“Selamat tinggal sayang. Semoga kamu tenang di neraka bersama anakmu.”
Tangan wanita itu sedikit mengangkat tubuh Amanda lalu mendorongnya jatuh ke bawah. Terdengar tawanya ketika terdengar suara jatuh disusul suara alarm mobil. Kepalanya kemudian mendongak, melihat drone yang melintas di atasnya. Wanita itu segera mengambil ponselnya. Lalu mengirimkan pesan pada komplotannya.
To 08xxxxxxxxxx :
Perintahkan temanmu untuk meretas semua cctv di hotel. Hilangkan semua jejakku. Dan cari tahu, siapa orang yang menerbangkan drone di atas hotel.
Setelah memberikan perintahnya, Yulita segera keluar dari rooftop. Dia berjalan seolah-olah wanita itu tidak pernah melakukan hal keji.
🌸🌸🌸
From 08xxxxxxxxx :
Dronenya tidak merekam apapun.
To 08xxxxxxxxxx :
Kamu yakin?
__ADS_1
From 08xxxxxxxxx :
Iya, kami sudah memeriksanya. Tapi.. sikap kakaknya nampak mencurigakan.
To 08xxxxxxxxx :
Ikuti kakaknya.
From 08xxxxxxxxx :
Baik.
Yulita mengakhiri berbalas pesan dengan oramg yang direkrutnya, lalu kembali duduk di sisi ranjang. Dia masih menunggu kabar dari anak buahnya. Bagaimana pun juga bukti dirinya tengah membunuh Amanda harus didapatkan. Jika tidak, maka penjara sudah menanti dirinya. Melihat ponselnya berdenting, Yulita segera membaca pesan yg masuk.
From 08xxxxxxxxx :
Sepertinya bukti ada di Aditya.
To 08xxxxxxxxx :
Menarik. Adit.. bunuh dia lalu ambil buktinya. Kirimkan di mana lokasi kalian. Aku akan memastikan sendiri Adit mati di hadapanku.
Setelah mendapatkan lokasi dari orang suruhannya, Yulita segera menyambar tasnya. Saat melintasi cermin besar, langkahnya tertahan mendengar suara dari dalam cermin.
“Kamu mau kemana?”
“Diam saja di sana dan jangan banyak bertanya.”
“Apa yang sudah kamu lakukan?!”
“Aku melakukan hal yang tidak bisa kamu lakukan. Aku sudah membunuh Leo dan juga Amanda. Dan sekarang aku akan membunuh Adit. Aku ingin melihat lelaki kesayanganmu menangis darah karena adik tersayangnya meninggal.”
“Dasar gila!”
“Diamlah dan tetaplah di sana.”
Tanpa mempedulikan teriakan-teriakan dari dalam cermin, Yulita keluar dari kamarnya. Dia segera masuk ke dalam mobil lalu memacu kendaraannya menuju lokasi yang diberikan orang suruhannya.
Yulita menghentikan mobilnya di dekat perempatan sambil terus menekan-nekan pedal gasnya. Dapat dilihatnya Aditya tengah melaju kencang dengan motornya. Yulita segera menekan pedal gas dalam-dalam hingga mobilnya melaju kencang. Tanpa mengurangi kecepatan, dia langsung menabrak motor Aditya yang melintas di depannya.
Tubuh Aditya terpental jatuh dari motor yang dikemudikannya lalu menghantam aspal dengan keras. Wanita itu meneruskan perjalanan setelah berhasil mencelakai Aditya. Dari kaca spion dia bisa melihat kerumunan orang-orang mengerubungi Aditya. Tercetak senyum licik penuh kepuasan di wajahnya. Lalu tangannya memutar audio mobil dengan volume keras. terdengar suara Yulita bernyanyi mengikuti alunan lagu sambil menggoyang-goyangkan kepalanya.
🌸🌸🌸
Mengetahui orang suruhannya sudah berhasil ditangkap oleh Fajar, Yulita bermaksud melarikan diri. Dia mengepak pakaiannya ke dalam tas gendong. Sambil menggendong ransel di punggungnya dan juga membawa shoulder bag-nya, Yulita keluar dari kamarnya. Di ruang tengah dia berpapasan dengan kedua orang tuanya.
“Lita, kamu mau kemana?”
“Aku mau refreshing, liburan.”
“Berapa lama?”
“Mungkin seminggu.”
“Hati-hati. Oh iya, apa om Leo ada ke sini?”
“Ngga ada, ma. Aku pergi dulu.”
Bergegas Yulita meninggalkan kedua orang tuanya. Dia harus segera pergi sebelum kedua orang suruhannya menyebut namanya. Wanita itu masuk ke dalam mobil lalu mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu, asisten rumah tangga di kediaman orang tua Yulita melaporkan kalau dia mencium bau busuk di sekitar gudang. Ayah dan ibu Yulita bergegas menuju ke belakang rumah. Indra penciuman mereka langsung menangkap bau busuk yang berasal dari dalam gudang.
Sambil menutup hidungnya dengan masker, ayah Yulita mencoba mendobrak pintu gudang yang terkunci. Bau semakin terasa menusuk setelah pintu gudang terbuka. Pria itu melihat kabel freezer yang tercolok ke stop kontak, tanda ada orang yang memasang freezer. Namun ternyata bagian bawah kabel digigiti oleh tikus hingga lemari pendingin itu mati. Dengan perasaan berdebar, ayah Yulita membuka penutup freezer.
“Aaaaaa!!!!” teriak ayah Yulita kencang sambil berjalan mundur.
“LEO!!!”
Teriak ibu Yulita. Wanita itu menangis meraung-raung melihat adiknya sudah menjadi mayat dengan kepala dipenuhi darah. Selain mayat Leo, di sana juga terdapat piala yang digunakan Yulita untuk membunuh pria itu. Ayah Yulita segera menghubungi polisi, melaporkan mayat Leo yang ditemukan di freezer miliknya.
🌸🌸🌸
**Nah kejawab kan pembunuhnya siapa🙈
POV deretan tersangka
Mahes : Aku emang jahat, tukang nyelup tapi aku bukan psikopat😏
Indira : Aku di sini korban Mahes, kenapa kalian nuduh aku🤧
Ara : Di otakku memang hanya uang. Tapi ngga gila kaya Yulita😤
Bayu : Aku ini dokter. Tugasku menyelamatkan nyawa, bukan mencabut nyawa😌
Jose : Kontrakku di NR udah habis sejak dipindah tugas. Kenapa aku dibawa² terus🙄
Nah loh... Pada protes tuh🏃🏃🏃**
__ADS_1