Naik Ranjang

Naik Ranjang
Bimbang


__ADS_3

Tak lebih dari 10 menit Aditya berada di hotel. Begitu dirinya tiba, rapat tim kitchen sudah selesai. Mereka hanya membahas pergantian shift dan penambahan jumlah personil saat akhir pekan nanti. Pihak owner secara mendadak mengadakan event, dan jelas membuat tim kitchen kelabakan. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak meliburkan semua staf dan penambahan personil serta jam kerja.


Tanpa banyak protes, Aditya menerima saja keputusan yang mengharuskan dirinya bekerja extend dari Sabtu sampai Senin. Itu memang resiko yang harus diterima jika keadaan hotel ramai. Apalagi hotel sekelas bintang lima yang menuntut profesionalitas tinggi dan pelayanan maksimal.


Aditya menambah kecepatan motornya setelah mendapatkan pesan dari Dewi kalau sudah selesai dengan urusan pembayaran dan administrasi. Pemuda itu menghentikan motornya di depan gerbang. Saat akan menghubungi Dewi, dia melihat gadis itu tengah berjalan dengan temannya menuju arah belakang gedung kampus. Baru saja Aditya hendak menyusul, ketika sebuah suara menahannya.


“Dit..”


“Eh bang Doni, apa kabar?” jawab Aditya, masih berada di atas motornya seraya menyalami Doni.


“Baik. Sekarang kerja atau lanjut kuliah?"


“Kerja, bang. Di hotel Amarta.”


“Wah lumayan ya. Tapi nge band masih lanjut kan?”


“Masih. In Syaa Allah bulan depan udah mulai main di Red Kingdom café. Nanti pas grand opening, datang ya.”


“Ok, deh. Aku usahain. Kamu kenapa ngga latihan lagi?”


“Males, bang. Hehehe..”


“Kalau ada waktu mainlah ke dojang. Kita sparing partner.”


“Ok, bang. Aku pergi dulu.”


“Ok.”


Aditya melajukan kembali kendaraan roda duanya. Dia mengikuti arah yang diambil Dewi tadi. Pemuda itu sedikit melambatkan laju motornya.


Sementara itu Dewi masih bersusah payah melawan dua orang preman yang tengah mengeroyoknya. Melihat Sheila yang tertangkap oleh salah satu preman, membuat Dewi kehilangan konsentrasinya. Dia lengah dan salah seorang preman berhasil memukul perutnya dengan cukup keras. Tubuh Dewi terjatuh ke aspal.


“Dewi!!” pekik Sheila.


Dewi memegangi perutnya yang terasa nyeri akibat pukulan yang didapatnya. Sheila sudah mulai menangis, selain takut dia juga khawatir terjadi sesuatu dengan temannya. Dia menjadi merasa bersalah sudah mengajak Dewi bersamanya.


Melihat Sheila yang menangis, Dewi mencoba untuk bangkit. Susah payah gadis itu berdiri. Dia tak ingin menyerah, namun dari belakangnya salah seorang preman mengunci tangannya. Dewi mencoba melepaskan diri namun sulit. Preman yang tadi memukul Dewi datang mendekat.


Sementara itu Aditya yang semakin mendekati lokasi di mana Dewi berada, melajukan kendaraan lebih kencang ketika melihat sesuatu yang mencurigakan di depan sana. Matanya membulat ketika melihat dua orang preman tengah menyerang Dewi.


Dengan sisa tenaga yang dimiliki Dewi meloncat lalu dengan kedua kakinya menendang pria yang tadi memukulnya. Tak siap dengan serangan Dewi, pria itu jatuh terduduk.


“Brengsek!” umpatnya.


Dengan cepat pria bertato tersebut berdiri kemudian kembali menghampiri Dewi. Dengan sorot penuh amarah dia mendekat hendak menghajar Dewi kembali. Aditya dengan cepat turun dari motornya. Tangan sang preman yang sudah terkepal siap melayang menuju perut Dewi.


BUGH


Tubuh preman itu terjatuh ketika sebuah tendangan menghantamnya. Belum sempat pria itu bangun, sebuah tendangan kembali mengenai dirinya. Pria tersebut kembali terkapar dan sulit untuk bangkit. Preman yang tengah memegangi Dewi dan Sheila sontak langsung melepaskan korbannya dan kini menyerang Aditya.


Sheila segera menghampiri Dewi. Kedua gadis itu hanya diam terpaku menyaksikan Aditya menghajar kedua preman tersebut. Sambil melompat dia melepaskan tendangan langsung pada salah satu preman yang tadi memegangi Sheila. Kemudian melepaskan pukulan dan tendangan bertubi pada pria yang memegangi Dewi.


“Aampun bos.. ampun,” ujar preman tersebut sambil menangkupkan kedua tangannya.


“Berani-beraninya lo nyakitin cewek gue. Pergi lo!! Kalau ngga bikin patah tulang lo semua!!”


“Aampun bos..”


Sambil terseok ketiga preman tersebut berlari meninggalkan TKP. Aditya menghampiri Dewi dan Sheila yang masih terpaku di tempatnya.


“De.. kamu ngga apa-apa?” tanya Aditya.


“Itu.. tadi perutnya ketendang,” jelas Sheila.


“Brengsek tuh orang!!” maki Aditya.


Aditya memapah Dewi ke motornya kemudian mendudukkan gadis tersebut. Terlihat beberapa kali wajah Dewi meringis menahan sakit. Pukulan pria tadi telak mengenai ulu hatinya, hingga meninggalkan rasa nyeri.


“Kamu pulang sama siapa?” tanya Aditya.


“Eung.. aku pesen ojol aja.”


Sheila segera memesan ojek online lewat aplikasi di ponselnya. Beruntung tanpa harus menunggu lama, pesanan ojolnya tiba. Setelah Sheila berlalu, Aditya pun bersiap membawa Dewi pulang.


“Pegangan sayang.”


Dewi melingkarkan tangannya ke perut Aditya kemudian menyandarkan kepalanya ke punggung pemuda itu. Perutnya masih terasa nyeri. Ternyata begini rasanya berkelahi. Saat berlatih, dia selalu memakai pelindung dada dan perut jadi tidak terasa sakit seperti ini.


Kurang dari lima belas menit, Aditya telah sampai di kontrakan haji Soleh. Seturunnya dari motor dia langsung membopong Dewi masuk ke dalam rumah. Nenden dibuat terkejut melihat wajah Dewi yang terlihat sedikit pucat. Pelan-pelan Aditya membaringkan Dewi di kasur.


“Ya Allah, neng. Kamu kenapa?”


“Tadi Dewi dicegat preman, bu. Dia kena pukulan salah satu preman.”


“Ya Allah, neng. Sakit neng?” Nenden terlihat panik.


“Bu.. bisa minta es batu sama handuk kecil? Perut Dewi harus dikompres, terus kalau ada obat pereda nyerinya sekalian bu.”


“I.. iya. Sebentar.”


Nenden bergegas ke dapur untuk mengambilkan apa yang diminta Aditya. Perlahan Aditya mendudukkan diri di dekat Dewi lalu melepas sepatu yang dikenakan gadis itu. Dewi yang tengah berbaring menatap haru pada Aditya yang begitu perhatian padanya. Tak lama Nenden masuk membawa baskon, es batu dan juga handuk kecil.


Aditya memasukkan beberapa potong es batu ke dalam handuk kecil kemudian menggulungnya. Dia memberikannya pada Nenden, meminta wanita itu mengompres perut Dewi. Aditya memalingkan wajahnya ke samping saat Nenden menyingkap sedikit pakaian Dewi untuk menempelkan handuk berisi es batu.


“Dipegang neng kompresannya,” ujar Nenden.


Nenden menarik selimut kemudian menutupi tubuh Dewi sebatas dada, agar Dewi lebih leluasa memegang kompresan. Aditya baru berani melihat pada Dewi setelah tubuh gadis itu tertutup selimut.


“Obatnya ada bu?” tanya Adit.


“Sebentar ibu cari dulu.”


Nenden keluar kamar. Aditya membuka lebar pintu kamar, kemudian mendudukkan diri di sisi Dewi. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala gadis yang sangat disayanginya itu.


“Gimana? Masih sakit?”

__ADS_1


“Iya.”


“Lain kali kamu harus hati-hati. Hindari jalanan sepi kaya tadi karena rawan kejahatan.”


“Iya, maaf.”


“Untung aku cepat datang. Coba kalau ngga…”


Aditya tidak melanjutkan kata-katanya. Dia tidak berani membayangkan apa yang terjadi pada gadisnya itu jika tadi dia terlambat sedikit saja. Mengingat para preman tersebut Aditya jadi geram sendiri. Harusnya tadi sekalian saja dipatahkan tulang-tulang mereka.


“Dit.. kamu belajar taekwondo juga ya? Tadi aku lihat kamu pake jurus tendangan gitu.”


“Iya, tapi cuma sampe ban merah aja sih.”


“Tapi keren loh. Gaya kamu tadi tuh kaya oppa-oppa yang lagi tarung sama musuhnya.”


“Bisa aja kamu,” Aditya mengusak puncak kepala Dewi.


Nenden masuk ke dalam kamar dengan membawa obat pereda nyeri dan segelas air. Aditya membantu Dewi bangun, posisinya setengah tegak, dengan tangan pemuda itu sebagai penahan punggung. Dewi mengambil obat dari tangan Nenden kemudian meminumnya. Aditya kembali membaringkan Dewi.


“Masih sakit, Wi? Mau ke dokter ngga?”


“Ngga usah, bu.”


“Beneran?”


“Iya, bu. Habis dikompres dan minum obat, nanti juga membaik. Tapi kalau perutnya masih sakit, baru cek ke dokter.”


Kepala Nenden mengangguk mendengar penjelasan Aditya. Wanita itu bergegas keluar kamar ketika mendengar seseorang memanggilnya. Ternyata ada yang mau membeli loteknya. Dewi mengeluarkan tangannya dari balik selimut lalu memberikan kompresan pada Aditya.


“Udah dikompresnya? Atau mau ganti es batu?”


“Udah.”


Aditya menaruh kompresan ke dalam baskom. Dia masih bertahan duduk di samping Dewi seraya memegangi tangannya.


“Kamu istirahat aja dulu. Jangan banyak gerak.”


Dewi menganggukkan kepalanya pelan. Aditya masih setia duduk di sisinya, pemuda itu tak melepaskan pegangannya. Mata Dewi mulai memberat, mungkin efek obat yang diminumnya. Melihat Dewi mulai mengantuk, Aditya mengusap pelan kepala Dewi, membantu gadis itu tertidur.


🌸🌸🌸


Sebelum berangkat kerja, Aditya menyempatkan waktu membelikan sarapan untuk Dewi. Khawatir masih merasakan sakit di perutnya, Aditya membelikan bubur ayam mang Juhana untuk gadis itu. Dia langsung mendatangi Dewi di rumahnya. Dewi sendiri tengah berbaring santai di ruang depan sambil menonton televisi.


“Gimana perutnya, De? Udah baikan?” tanya Aditya seraya mendudukkan diri.


“Udah baikan sih. Cuma kalau banyak gerak atau ngangkat yang agak berat masih sakit.”


“Jangan banyak gerak dulu. Udah sarapan belum?”


“Belum. Belum laper.”


“Jangan nunda-nunda makan. Ini aku beliin bubur mang Juhana.”


Aditya berdiri kemudian menuju dapur lalu kembali dengan membawa mangkok, sendok dan gelas berisi air putih. Di saat yang bersamaan Roxas datang kemudian mendudukkan diri di dekat sahabatnya.


“Mendingan.”


“Makanya nanti lebih hati-hati. Untung ada Adit kemarin, coba kalau ngga. Lagian si Sheila, udah tau jalanan sepi gitu masih aja ngotot ke sana.”


“Bukan salah Sheila, aku yang mau nemenin dia. Adeknya lagi sakit terus minta dibeliin lomie.”


“Ya terus kalau ada apa-apa sama elo, dia mau tanggung jawab gitu?”


“Lo udah kaya emak-emak aja ngomel mulu. Yang penting gue selamat, udah ngga usah dibahas. Lo jangan omelin Sheila, ya.”


Roxas hanya diam saja. Sebenarnya dia sudah berniat menghubungi Sheila dan hendak memarahi gadis itu. Tapi mendengar ucapan Dewi, dia mengurungkannya. Aditya memindahkan bubur ke dalam mangkok lalu menyuapi Dewi.


“Aku bisa makan sendiri, yang sakit kan perutku, bukan tanganku,” tolak Dewi.


“Sekali-kali nyuapin kamu ngga apa-apa kali. Kan aku mau jadi cowok berguna buat kamu.”


Aditya melemparkan senyum manisnya. Dewi tersenyum mendengar perkataan Adit, kemudian membuka mulutnya. Membiarkan Aditya menyuapinya. Perasaan Dewi semakin dihantam kebimbangan. Melihat perhatian dan kebaikan Aditya, dia tak tega kalau harus menyakiti pemuda itu. Tapi kalau boleh jujur, perasaannya saat ini lebih condong pada Adrian.


“Aku terusin aja makannya sendiri. Kamu berangkat aja gih. Udah hampir jam setengah tujuh, nanti kamu terlambat,” Dewi mengambil mangkok bubur dari tangan Aditya.


“Dihabisin buburnya. Kalau masih sakit, minum lagi obatnya. Ingat, jangan banyak gerak. Kompres lagi perut kamu pake es batu.”


“Iya, dokter cerewet.”


Aditya terkekeh mendengarnya, tangannya mengusap puncak kepala Dewi dengan lembut. Roxas hanya mampu melihat pemandangan di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Aku berangkat dulu, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Yang semangat kerjanya, Dit.”


Aditya bangun dari duduknya kemudian keluar dari rumah disusul oleh Roxas. Sepeninggal kedua pemuda itu, Dewi melanjutkan kembali sarapannya. Tak lama terdengar ponselnya berdenting, sebuah pesan dari Sheila masuk menanyakan keadaannya. Ternyata Sheila bukan hanya mengiriminya pesan secara pribadi, gadis itu mengumumkan di grup kalau Dewi baru terkena musibah.


Banyak pesan masuk menanyakan keadaan Dewi, dan Sheila menceritakannya. Ucapan doa dan juga pujian untuk Dewi berdatangan. Bahkan Sheila, Micky, Bobi, Sandra, Mila dan Budi bermaksud datang untuk menjenguknya.


Dewi cukup senang membaca pesan-pesan yang masuk ke grup WA IPS 3, walaupun sudah tidak bersama, tapi kekompakan dan kepedulian mereka tetap besar. Namun dia kecewa karena tak ada tanggapan dari Adrian. Gadis itu bertanya-tanya, apakah Adrian belum membaca pesan tersebut ataukah pria itu tak peduli padanya. Baru saja Dewi hendak menyuapkan bubur ke mulutnya, terdengar ponselnya berdering.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Bagaimana keadanmu?” terdengar suara Adrian dari sebrang. Jangan ditanya bagaimana perasaan Dewi saat ini.


“Alhamdulillah udah baikan, tapi perut masih sedikit sakit.”


“Sudah dikompres dengan es batu?”


“Udah.”


“Minum pereda nyeri?”


“Udah juga.”

__ADS_1


“Istirahat aja dulu, jangan banyak gerak.”


“Iya, a.”


“Lain kali lebih hati-hati, jangan bertindak gegabah, jangan sok jagoan. Sebelum melawan kamu harus memperhitungkan kekuatan lawan. Lari menghindar bukan berarti kamu penakut.”


“Aku juga udah lari, tapi kekejar sama mereka.”


“Emang berapa orang yang lawan kamu?”


“Tiga orang. Mana badannya gede-gede, mukanya jelek bin serem, aku jadinya takut duluan.”


Nada suara Dewi terdengar seperti anak kecil yang tengah mengadu. Adrian terus mendengarkan cerita Dewi bagaimana kronologi kejadiannya. Andai gadis itu bisa melihat, saat ini wajah Adrian sudah merah menahan marah, mendengar gadis yang disayanginya dilukai.


“Aku kayanya ngga bisa latihan hari ini,” ujar Dewi mengakhiri ceritanya.


“Ngga usah latihan, nanti aku yang kasih tau sabeum Fajar. Kamu istirahat aja, jangan banyak gerak, ngerti?”


“Iya, a.”


“Ok, aku pergi dulu. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Panggilan pun berakhir, namun begitu, kebahagiaan Dewi belum berakhir. Gadis itu masih senyum-senyum seraya memegangi ponselnya. Rasa sakit di perutnya seperti menghilang begitu mendengar suara Adrian. Dia semakin tidak sabar ingin segera berjumpa dengan hari Senin. I love Monday sepertinya akan menjadi jargonnya saat ini.


🌸🌸🌸


Setelah dihubungi oleh Adrian, kebahagiaan Dewi bertambah karena teman-temannya benar datang mengunjunginya. Sheila yang merasa bersalah pada Dewi datang dengan membawa aneka camilan, begitu pula dengan Mila dan Sandra. Hanya trio bukan coboy junior yang datang dengan tangan dan perut kosong. Alhasil, oleh-oleh untuk Dewi digasak oleh mereka bertiga.


“Wi.. ini kuenya enak banget loh. Mau gue suapin ngga?” tanya Budi seraya mengasongkan kue di tangannya.


“Mending Dewi makan sendiri. Kalo disuapin elo malah jatohnya jadi ngga enak rasanya,” celetuk Sandra.


Sontak saja perkataan gadis itu langsung disambut tawa lainnya. Budi hanya mendengus kesal. Tapi dia akan tetap berusaha mendapatkan hati Dewi sebelum janur kuning melengkung. Siapa tahu hati akhirnya akan luluh dengan semua perhatian dan cintanya. Dan Dewi sadar kalau cintanya lebih besar dari Aditya.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Dewi terbengong melihat tamu yang datang. Melihat Dewi hanya bengong saja, Sheila langsung mempersilahkan dua orang pria bertubuh tegap itu untuk masuk dan duduk bersama mereka. Dewi masih tidak percaya dua sabeum di tempat latihannya kini sudah berada ke rumahnya.


“Sabeum Doni, sabeum Fajar..” panggil Dewi dengan suara pelan.


“Bagaimana keadaanmu, Dew?” tanya Fajar.


“Udah baikan.”


Teman-teman Dewi hanya saling berpandangan saja, mereka tidak tahu siapa pria yang baru saja datang. Budi semakin bersikap waspada, takut kalau kedua pria tersebut termasuk dalam jajaran pengagum gadis pujaannya.


Sheila berbisik pada Sandra mengatakan tentang Fajar dan Doni, dan Sandra berbisik ke Mila, dilanjut Mila pada Micky, kemudian Micky mengatakan pada Bobi. Tapi Bobi tak melanjutkan informasi pada Budi. Pemuda gempal itu tak ada niat memberitahu Budi.


“Hari ini kamu ngga usah latihan dulu. Tunggu sampai kondisi kamu benar-benar fit, baru latihan lagi,” ujar Fajar.


“Iya, sabeum.”


“Bang.. kita kalau mau belajar taekwondo juga bisa kan?” tanya Micky.


“Bisa. Datang aja ke Dojang Hero, tanya sama Dewi di mana alamatnya,” jawab Doni antusias. Lumayan kalau murid mereka bertambah, berarti pendapatan mereka juga bertambah.


“Aku mau lah, bang latihan taekwondo. Aku kan juga pengen bisa beladiri buat melindungi pasanganku.”


“Emang lo udah punya pacar?” tanya Mila.


“Belum. Tapi ngga ada salahnya kan mempersiapkan diri sampe punya pacar beneran hehehe…”


“Bud.. lo ikut latihan juga tuh. Mayan kan, biar kata muka lo amburadul tapi kalo bisa beladiri, jadi ada nilai plus nya,” seru Sandra.


“Sue lo!” rutuk Budi.


“Jangan gitu, San. Kalo lo ngeledek Budi mulu, lama-lama bucin jadi bahaya,” timpal Bobi.


“Dih… jangan sampe deh.”


“Kalo si Budi oplas mukanya mirip Angga Yunanda atau Cha Eun Woo, lo mau pasti,” sahut Mila.


“Tetap ogah, casingnya doang yang ganti, dalemnya tetap si Budi.”


“Hahahaha…”


Fajar dan Doni ikut terpingkal mendengarnya sambil menggelengkan kepala. Pantas Adrian betah menjadi wali kelas mereka, setidaknya tingkah konyol mereka bisa menghilangkan penat juga.


“Ok.. Dew, saya sama Doni pamit dulu. Cepat sembuh ya.”


“Makasih sabeum.”


Fajar melarang Dewi untuk bangun. Dia dan Doni segera beranjak dari duduknya, Sheila berinisiatif mengantarkan kedua pria tersebut sampai ke depan pintu. Setelah berpamitan dengan Nenden, Fajar dan Doni menuju motor mereka yang terparkir di depan rumah Dewi.


“Si Ad kayanya beneran suka sama Dewi. Spesial banget kayanya tuh anak. Kemarin dia ngomel-ngomel sama gue, katanya gue galak ngelatih si Dewi. Tadi dia nyuruh gue nengok si Dewi. Kampret emang tuh orang,” ujar Fajar seraya memakai helmnya.


“Gue udah curiga dari awal waktu dia kasih diskon plus free iuran tiga bulan. Cuma emang kaga mau ngaku aja tuh orang. Tapi masih mending lo cuma disuruh nengokin Dewi doang. Gimana kalo lo diminta nyari tuh preman yang udah ngeroyok Dewi, hahaha…” timpal Doni.


“Kaya gue kaga ada kerjaan aja. Preman di Bandung bertebaran di mana-mana, belum lagi anak buahnya kang Mus. Bisa dapet SP gue dari kantor kalo disuruh nyari tuh preman,” jawab Fajar sambil tertawa.


“Tapi siap-siap aja, Jar. Si Ad kan ngga bisa ditebak jalan pikirannya, hahaha…”


“Beuh jangan sampe.”


Kedua pria itu segera menaiki kendaraan roda duanya. Beriringan kedua motor tersebut meninggalkan kontrakan haji Soleh. Di perempatan lampu merah kedua berpisah, mengambil jalur yang berbeda. Fajar menuju kantornya di jalan Jawa, sedang Doni menuju clothingnya di daerah Buah Batu.


🌸🌸🌸


**Udah pada nunggu ya? Maaf ya gaaeess, kemarin full aku spend time sama keluarga dan hari ini very² mengriweuh day, jadi telat up. Mohon maaf kalau besok ngga bisa up, masih ada keperluan🙏


Kemarin ada yg minta visual IPS 3. Nih mamake kasih gerombolan yang satu fakultas sama Dewi**.

__ADS_1




__ADS_2