
Dalam waktu singkat, rombongan sudah tiba di kediaman Toni. Kedatangan mereka disambut oleh Iis. Wanita itu selain menjaga Arkhan, juga membantu bi Parmi menyiapkan hidangan untuk para tamu. Pertama-tama tentu saja Iis mengucapkan selamat pada pasangan pengantin. Tak lupa Amir juga ikutan hadir.
“Selamat ya, Roxas, Pipit.. semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah,” ujar Iis.
“Aamiin.. makasih, bi.”
“Selamat ya, Xas.. eta belah durenna tong ditunda,” bisik Amir. Roxas hanya melemparkan cengiran saja.
Ida segera mempersilahkan para tamu untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Setelah itu dia menarik tangan Pipit masuk ke kamar yang selama ini ditempati oleh adik bungsunya itu.
“Pit.. bukan mba ngusir. Tapi kamu kan sudah nikah sama Roxas, malam ini kamu nginap di kontrakan Roxas aja, ya. Soalnya bi Iis tidur di sini.”
“Dih mba ngusir. Aku bisa tidur sama bi Iis di sini.”
“Kalo kamu tidur di sini sama bi Iis, terus suamimu gimana? Masa Roxas mau tidurnya diapit kamu sama bi Iis, ngaco aja. Bawa seperlunya pakaianmu ke kontrakan Roxas. Kamu tinggal di sana sampai bi Iis pulang ke Tasik. Kalau nda betah di sana, kamu sama Roxas bisa tinggal di sini.”
Setelah menyampaikan apa yang perlu disampaikan, Ida keluar dari kamar. Pipit menghempaskan bokongnya ke sisi ranjang seraya menghela nafas panjang. sudah dipaksa menikah secara dadakan, dia juga diusir dari kediaman sang kakak. Wanita itu jadi curiga, apakah kejadian tiga hari lalu merupakan sebuah rencana dari keluarganya yang ingin segera melihatnya menikah.
“Duh nasib-nasib.. udah dapet suami bocil, diusir juga dari rumah kakak. Ya Allah, tega banget sama hamba.”
Nelangsanya Pipit berbanding terbalik dengan suasana di luar kamar. Walau dadakan dan terkesan dipaksa, namun Roxas bahagia akhirnya bisa menikahi Pipit juga. Dewi yang sejak kemarin menahan diri, akhirnya tidak bisa menyembunyikan kecurigaannya lagi.
“Mas.. soal kejadian Roxas sama tante Pit, udah direncanain kan sama kalian?”
“Iya, hehehe.. sssttt.. kamu diam aja,” Aditya menaruh telunjuknya di bibirnya sendiri.
“Ya ampun, mas. Ekstrim banget itu, kalau sampe enin sama mbah beneran jantungan gimana?”
“Tenang aja, mbah udah tahu rencana ini sebelumnya. Enin juga, jadi semua aman.”
“Ya ampun, mas. Kamu kok bisa sih kepikiran cara itu?”
“Bukan aku, tapi bang Ad. Ini idenya bang Ad. Aku mah kebagian lobi pak haji Soleh, enin, kang Amir sama kang Salim. Kalo mbah udah dikasih tau sama bang Ad, hehehe..”
“Astaga.”
Dewi menepuk keningnya. Wanita itu sungguh tidak menyangka, sosok Adrian yang pendiam dan dingin ternyata bisa mempunyai ide gila seperti itu. Dan suaminya yang menjadi kaki tangan. Dia melihat pada Adrian yang tengah mengobrol dengan Amir. Dewi menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya Adrian bersikap biasa padahal dialah otak dibalik pernikahan dadakan Pipit dan Roxas.
“Roxas.. enin uih heula nya (enin pulang dulu, ya),” ujar enin.
“Muhun enin, ku Aep bade dipangmesenkeun taksi ayeuna (sama Aep mau dipesenin taksi sekarang).”
“Biar bapak aja yang antar eninmu,” ujar haji Soleh.
“Ngga usah pak haji, nanti ngerepotin.”
“Ngerepotin apa. Kita kan searah.”
“Hatur nuhun pak haji (makasih pak haji).”
Roxas membantu enin naik ke mobil pak haji Soleh bersama dengan Lisa dan Karta. Hanya adik bungsu mamanya saja yang ikut mengantar ke pernikahan Roxas, sedang Tirta dan Rani sengaja tidak diundang. Lagi pula pasangan tersebut belum tentu mau datang ke pernikahannya. Setelah mobil haji Soleh berlalu, Roxas kembali masuk ke dalam rumah.
Sedikit banyak pria itu canggung juga dengan statusnya yang sekarang. Cahyadi melambaikan tangannya, meminta pria itu untuk duduk di sisinya. Toni yang tengah duduk bersama bapak mertuanya, tak bisa menahan senyumnya setiap melihat Roxas. Adik iparnya seumuran dengan anak bungsunya.
“Kamu bawa Pipit ke kontrakan kamu malam ini, supaya kalian bisa cepat akrab lagi. Kalau tinggal di sini bersama kami, nanti malah canggung,” ujar Cahyadi bijak.
“Iya, pak.”
“Bapak titip Pipit padamu. Walau masih muda, tapi bapak yakin kamu bisa membimbing Pipit menjadi lebih baik lagi. Jaga dia dan sayangi dia seperti kami menyayanginya.”
“Aamiin.. In Syaa Allah, pak.”
“Kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan bilang saja pada Adit atau Ad,” sambung Toni.
“Iya, om eh.. aduh panggil apa ya, masa akang, ngga sopan, hehehe..”
“Hahaha…”
Toni dan Cahyadi tidak bisa menahan tawanya. Toni paham dengan kebingungan yang dirasakan Roxas, selama ini pria itu sudah nyaman memanggil dirinya dengan sebutan om. Dan sekarang panggilan harus berganti karena status mereka juga berubah.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Pipit dan Roxas masih berada di kediaman Toni, Wardani memang meminta pasangan tersebut tinggal sampai makan malam. Pipit hanya menuruti saja, tanpa ada keinginan untuk berdebat. Raga dan batinnya sudah lelah menghadapi pernikahan dadakannya. Sejak mengikat janji suci dengan Roxas, wanita itu belum mengajak suaminya bicara lagi.
Acara makan malam diselingi perbincangan ringan. Roxas banyak mendapatkan nasehat seputar pernikahan dari Cahyadi juga Toni. Wardani dan Ida juga tak ketinggalan memberikan nasehatnya pada Pipit. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya saja, tanpa ada keinginan untuk membuka suaranya.
Makan malam berakhir, Roxas dan Pipit bersiap untuk pulang ke kontrakan. Sambil menggeret kopernya, Pipit keluar dari kamar. Adrian berinisiatif untuk mengantar pengantin baru ke kontrakannya, tapi Pipit menolak. Roxas mengalah, mereka pulang menggunakan taksi online.
Adrian dan Aditya mengantar pasangan pengantin tersebut sampai ke depan pintu mobil. Setelah koper Pipit masuk ke dalam bagasi, mobil berjenis SUV itu segera meluncur pergi. Kedua kakak beradik itu masih berada di tempatnya, sampai mobil yang membawa Pipit dan Roxas tak terlihat lagi.
“Bang.. kita udah bener kan ngelakuin ini? Tante Pit kayanya masih belum rela. Dari tadi dia diam aja.”
“Selama ini kan Roxas selalu berusaha meyakinkan tante kalau dia sudah siap menjadi suami. Biarkan saja dia membuktikan ucapannya secara langsung. Dia juga bisa semakin dewasa nantinya. Begitu juga tante. Tante itu kan orangnya realistis banget, jadi dia perlu melihat dan membuktikan sendiri seperti apa Roxas.”
“Menurut abang, tante cinta ngga sih sama Roxas?”
“Kalau menurut abang sih, udah. Cuma tante masih gengsi aja, mungkin karena umur Roxas masih muda. Tapi abang yakin, dengan mereka bersama, tante akan menunjukkan perasaan yang sebenarnya. Tante itu udah nyaman sama Roxas, kemana-mana minta dianter sama dia dari pada abang atau kamu. Yakin kalau dia ngga cinta?” Adrian melihat pada Aditya.
“Ngga mungkin, pasti udah lope-lope si tante. Cuma kan si Roxas modelannya petakilan gitu, jadi ya gitu deh tante nyangkal mulu bawaannya.”
PLETAK
“Adaw!! Sakit bang!!” Aditya mengusap keningnya yang disentil oleh Adrian.
“Yang sopan. Sekarang Roxas udah jadi om kamu, hahaha…”
“Oh iya, lupa. Panggil apa enaknya?”
“Mang Aep, hahaha..”
Sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, Adrian terus saja tertawa. Sepertinya mulai sekarang dia harus membiasakan diri memanggil Roxas dengan sebutan om atau mamang. Aditya menyusul masuk ke dalam rumah. Pria itu juga tak bisa berhenti tertawa, membayangkan dirinya memanggil sang sahabat dengan sebutan orox, oxas atau mang Aep.
🌸🌸🌸
Roxas menatap tak percaya, kontrakannya terlihat begitu rapih. Kamarnya juga sudah disulap menjadi kamar pengantin. Seprai warna merah jambu menutupi kasur yang sayangnya belum berukuran king size. Di dalam kamar juga sudah dibakar lilin beraroma therapy lengkap dengan suasana remang. Pas sekali untuk pasangan pengantin baru.
“Eh tante,” sambut Roxas pada Amel.
“Gimana? Kamu suka sama kamar pengantinnya?”
“Oh tante yang ngehias sama ngerapihin kontrakan aku?”
“Bukan tante sendiri, dibantu sama yang lain juga.”
“Aduh, jadi ngerepotin. Makasih banyak ya, tan.”
“Sama-sama. Besok malam kita bikin syukuran yuk, buat warga di kontrakan pak haji aja. Adit sama Dewi juga mau datang besok.”
“Oh, boleh tante. Butuh berapa buat masak-masaknya?”
“Ngga usah, biar dari kita-kita aja.”
“Eh jangan tante.”
Roxas buru-buru mengambil dompet dari saku celananya. Kemudian dia mengeluarkan semua uang yang ada di dompetnya, mungkin sekitar delapan ratus ribuan. Lalu memberikannya pada Amel.
“Aku belum ambil uang lagi, tan. Cuma sisa segitu di dompet, kalau kurang bilang aja ke aku, ya.”
“Cukup atuh segini mah. Besok malam ya, jangan lupa. Bada isya kita langsung kumpul. Makan bareng di depan kontrakan kamu aja, kita gelar karpet.”
“Iya, tan. Atur aja deh sama tante. Makasih banyak ya, tan.”
Baru saja Amel hendak pergi, ketika suami Amel datang. Pria itu menyalami Roxas sambil memberikan sesuatu di tangannya. Kening Roxas berkerut melihat bungkusan kecil warna hitam di tangannya. Di bungkusan tersebut tertera tulisan Magic Power Tissue. Dia membolak-balik bungkusan di tangannya.
“Ini buat apa om?”
“Biar kamu mainnya lama, hahahaha…”
“Iiihh mas, jail banget sih. Roxas masih muda, ngga perlu yang gituan, hihihi..”
__ADS_1
“Ya kali aja, ma. Hahaha..”
Wajah Roxas memerah mendengar perkataan pasangan di depannya. Amel buru-buru mengajak suaminya pulang. Sedang Roxas masih terpaku di teras sambil memandangi bungkusan di tangannya.
Kumaha rek belah duren, ditoel oge embung. Mun diajak malam pertama, nu aya urang dibere tajongan Beckham (gimana mau belah duren, disentuh aja ngga mau. Kalo diajak malam pertama, yang ad ague dikasih tendangan Beckham).
Roxas segera masuk ke dalam rumah, kemudian mengunci pintu dan mematikan lampu ruang depan. Dia masuk ke dalam kamar, Pipit yang sudah berganti baju tidur terlihat sedang memakai krim malam di wajahnya.
“Kamu ngapain di sini?”
“Mau tidur.”
“Ngga ada. Tidur aja di ruang depan. Minggu depan aja kalo mau tidur di sini, kalau udah beli kasur yang besaran. Kasurnya kecil, ngga muat berdua.”
“Cukup itu. Badan kita bukan ukuran jumbo,” sanggah Roxas.
“Ngga mau. Kamu pokoknya tidur di depan.”
Pipit mendorong Roxas keluar dari kamar, kemudian menutup pintunya. Roxas menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Dia harus mencari cara, bagaimana pun juga dia harus tidur bersama dengan Pipit. Pria itu berdiri tepat di depan pintu, kemudian mengangkat kedua tangannya seperti orang tengah berdoa.
“Gusti ya Allah… abi ridho teu tiasa ibadah sareng pamajikan. Abi ridho diusir tinu kamar, tong nyalahkeun pamajikan abi, da abi nu salah, teu tiasa ngadidik pamajikan. Ya Allah, sing dibere kasabaran ka abi, da abi teh nyaah pisan ka pamajikan (Ya Allah… aku ridho ngga bisa ibadah sama istri. Aku ridho diusir dari kamar, jangan menyalahkan istriku, yang salah itu aku, ngga bisa mendidik istri. Ya Allah, tolong beri kesabaran untukku, aku sayang banget sama istriku).”
Mata Pipit mendelik mendengar doa Roxas. Sebenarnya hatinya tersentil juga mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suaminya. Bagaimana pun juga sekarang Roxas sudah menjadi suaminya. Ridho Allah tergantung dari Ridho suaminya. Wanita itu tersadar dari lamunannya ketika mendengar nyanyian Roxas.
“Masak, masak sendiri. Makan, makan sendiri. Cuci baju sendiri. Tidur pun sendiri. Cinta aku tak punya. Padahal istri mah ada. Tapi dia ngga mau dekat-dekat aku. Hidup terasa kaku seperti angka satu. Meranalah kini merana.”
Roxas menyanyikan lagu angka satu yang dipopulerkan oleh Caca Handika, namun di beberapa bagian dirubah sesuai dengan keadaannya saat ini. Pipit menutup telinga dengan kedua tangannya, tapi Roxas tetap melanjutkan nyanyiannya. Dengan kesal dia membuka pintu kamar.
“Masuk!”
Senyum terbit di wajah Roxas. Dalam hatinya bersorak, usahanya berhasil membuat pintu kamar terbuka. Ditutup dan dikuncinya pintu kamar lalu mengambil kunci tersebut dan memasukkan ke celana trainingnya. Kemudian dengan cepat dia berbaring di atas kasur. Pipit masih berdiri di depan kasur.
“Kamu tidurnya di pinggir.”
Roxas menurut saja, apa yang dikatakan istrinya itu. Pipit naik ke atas kasur lalu merapatkan tubuhnya ke dinding. Keduanya tidur dengan posisi saling membelakangi. Roxas tak bisa menghilangkan senyum dari wajahnya. Jantungnya berdebar kencang bisa tidur satu kasur dengan wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
Setali tiga uang, jantung Pipit pun terus berdendang. Dia tak berani membalikkan tubuhnya. Rasa canggung dan malu berbaur jadi satu. Wanita itu mencoba memejamkan matanya, namun kantuk masih belum menyapa. Untuk beberapa saat pasangan itu masih berada di posisinya masing-masing.
Satu jam berlalu dan keduanya masih berada dalam posisi yang sama. Tidak ada yang berani mengambil inisiatif lebih dulu. Roxas belum mau memulai lebih dulu, dia takut bokongnya terkena tendangan. Pipit apalagi, tak ada keinginan untuk membalikkan tubuh. Akhirnya keduanya tidur dengan posisi saling membelakangi.
🌸🌸🌸
Waktu di jam dinding menunjukkan pukul empat shubuh. Keadaan di luar juga masih gelap. Udara dingin makin menggigit saja. Di dalam kamar, pasangan pengantin masih tertidur lelap. Hanya saja posisi keduanya sudah berubah. Jika awalnya mereka tidur dengan posisi saling membelakangi dan ada jarak di antara keduanya. Kini keduanya berada dalam posisi berhadapan. Tubuh mereka pun berdekatan.
Udara dingin dirasakan semakin menusuk tulang. Pipit yang tidak menggunakan selimut berusaha mencari kehangatan. Dia mendekatkan tubuhnya pada Roxas. Roxas yang masih terpejam, menganggap Pipit adalah guling, dia langsung memeluk tubuh wanita itu. Dengan nyaman pasangan tersebut tidur sambil berpelukan.
Roxas terbangun dari tidurnya ketika mendengar alarm dari ponselnya. Tangannya meraba ponsel yang ada di lantai kemudian mematikannya. Dia kembali memeluk guling hidupnya. Matanya langsung terbuka ketika menyadari kalau yang dipeluknya sekarang bukanlah guling kesayangannya.
Wajah Pipit yang masih tertidur pulas langsung tertangkap oleh matanya. Jantungnya langsung berdegup kencang berada dalam posisi sedekat dan seintim ini dengan istrinya. Jarinya bergerak menyingkirkan anak rambut dari kening Pipit kemudian mendaratkan ciuman lembut di sana.
Tidur Pipit terusik ketika merasakan sentuhan di wajahnya. Dia segera membuka matanya. Roxas kembali berpura-pura tidur. Pipit terkejut mendapati dirinya berada dalam pelukan suaminya. Dia berusaha melepaskan diri, namun Roxas memeluknya begitu erat. Akhirnya wanita itu pasrah saja. Lagi pula yang memeluknya adalah suaminya sendiri.
Beberapa kali wanita itu menarik nafas untuk menetralkan degup jantungnya yang berdetak cepat. Matanya memandangi wajah Roxas. Baru kali ini dia benar-benar memperhatikan Roxas dari jarak dekat. Ternyata suami yang usianya tujuh tahun lebih muda darinya memang tampan.
Pipit terkejut ketika tiba-tiba Roxas membuka matanya. Pandangan keduanya terus beradu dan saling mengunci. Perlahan Roxas mendekatkan wajahnya. Jantung Pipit semakin tak karuan detaknya. Kemudian dia merasakan bibir Roxas sudah menempel di bibirnya. Matanya membulat, namun begitu dia hanya mampu diam tanpa dapat menolak.
🌸🌸🌸
**Mohon maaf, MP belum ya, pengantin cewek masih mode macan🤣🤣🤣
Nih mamake kasih penampakan pengantin.
Pipit**
Roxas
__ADS_1