
Sehabis shift malam, Roxas bukannya tidur malah membongkar si hejo. Semalam sepulang kerja, si hejo kembali mogok, padahal bensinnya sudah diisi. Entah apa yang membuat motor bututnya itu kembali ngadat. Bersamanya ada Jono, dia sebenarnya yang akan membenarkan motor Roxas. Jono, salah satu penghuni kontrakan haji Soleh bekerja di salah satu bengkel motor dengan merk dagang terbesar di Indonesia.
“Banyak yang harus diganti ngga, mas?” tanya Roxas.
“Kayanya banyak. Ini spare partnya udah harus diganti semua.”
Roxas hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Menghitung kira-kira berapa yang akan dikeluarkan olehnya. Benar-benar motor yang merogoh kocek dalam. Mau dijual juga sayang karena banyak kenangan sang ibu di sana. Selain itu, siapa yang mau beli motor butut itu.
Dari dalam rumah, Aditya keluar seraya membawa dua cangkir kopi di tangannya. Dia memberikan kopi di tangannya pada Roxas. Pemuda itu kemudian duduk di lantai. Memperhatikan Jono yang tengah membersihkan beberapa onderdil si hejo.
“Harus diganti spare partnya?” tanya Aditya.
“Hooh.. gantinya dikit-dikit dulu aja.”
“Ganti aja napa.”
“Pengennya sih. Tapi nanti lah. Belum ada duitnya juga buat ambil kreditan.”
Aditya menganggukkan kepalanya. Serba salah kalau beli motor sekarang. Beli kredit harganya dua kali lipat, beli cash, uangnya juga belum ada. Akhirnya memilih memakai yang ada saja. Dia cukup beruntung Adrian memberikan motor miliknya, jadi Aditya tak perlu pusing memikirkan.
Saat masih menikmati kopinya, tanpa sengaja mata Aditya melihat ke rumah Dewi. Nampak gadis itu sedang membantu ibunya memasukkan perabotan yang dipakai berdagang. Jualan Nenden hari ini juga laris manis, dia sudah punya banyak pelanggan di luar penghuni kontrakan haji Soleh.
Sejak dirinya memperkenalkan Adrian di café dua minggu lalu, sampai sekarang mereka belum bertegur sapa lagi. Entah apa yang membuat Dewi seperti menjaga jarak darinya. Pemuda itu hanya berpikir kalau Dewi tidak ingin memberi harapan lagi padanya. Jika memang keputusannya seperti itu, maka tak ada pilihan lain bagi Aditya selain mengikuti permainan Dewi.
“Lo sama Dewi belum ngobrol lagi?” tanya Roxas yang menyadari arah pandang Aditya.
“Belum.”
“Emang pas terakhir ketemu kalian ngobrol apa?”
“Ngga ada. Gue cuma bilang hubungan gue sana dia dimulai dari nol lagi. Gue ngga mau bikin dia ngga nyaman dengan sebutan calon makmum atau apapun itu. Gue cuma nawarin persahabatan aja. Tapi kayanya dia ngga nyaman dan berusaha hindarin gue.”
“Kasih dia waktu, Dit.”
“Iya. Kayanya mulai malam ini gue ngga balik dulu ke sini deh. Biar Dewi nyaman.”
“Lah kok gitu? Terus lo mau tidur di mana?”
“Balik ke rumah.”
“Serius lo mau balik ke rumah?”
“Iya. Kalo gue nyungsep di tempat lain terus ketahuan sama abang gue, bisa berabe. Jadi mending gue balik ke rumah. Terserah ajalah nanti bokap bilang apa ke gue.”
“Gue yakin bokap lo ngga akan ngomong apa-apa. Mudah-mudahan masalah lo sama bokap bisa cepat selesai.”
“Thanks, bro. Gue cabut sekarang.”
Tanpa menunggu jawaban dari Roxas, Aditya bangun dari duduknya seraya membawa gelas kopinya yang sudah kosong. Tak lama dia keluar dengan mengenakan jaket dan helm. Setelah berpamitan pada Roxas dan Jono, pemuda itu segera pergi.
Melihat kepergian Aditya, Dewi yang mengintip dari balik jendela segera keluar dari rumahnya. Dia menghampiri Roxas yang masih duduk mengawasi Jono yang tengah menservis si hejo. Gadis itu mendudukkan dirinya di sisi Roxas.
“Lo kemarin pas ke Tasik berdua aja sama Sheila?” tanya Roxas.
“Huum.. dia patah hati noh gara-gara elo.”
“Lah kenapa gara-gara gue?”
“Kan dia naksir elo, dongo. Lo jadi cowok kaga peka amat.”
“Masa?”
Roxas menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia sungguh tidak tahu kalau Sheila memendam perasaan padanya. Baginya Sheila sama saja seperti teman perempuan yang lain.
“Terus lo sendiri kenapa? Lo kenapa jauhin Adit? Apa salah Adit sama elo?”
“Adit emang ngga salah. Cuma sayangnya dia adek dari cowok yang gue benci. Gue juga kesal sama elo. Kenapa lo ngga bilang kalo si brengsek sama Adit adik kakak?”
“Buset, Wi. Bacot lo beneran dah.”
“Emang dia brengsek.”
“Apa gue kasih tau aja ke Adit kelakukan kakaknya yang kaya gitu. Tukang PHP, udah bikin orang melayang malah dijatuhin ke bumi. Brengsek bener emang tuh orang. Dasar rese! Benci banget gue sama dia, aaarrgghhhh!!”
Jono sampai terkejut mendengar teriakan Dewi. Dia terpaksa mengejar mur yang menggelinding karena jatuh saat dirinya terkejut. Roxas mengajak Dewi masuk ke dalam kontrakan.
“Adit ngga salah apa-apa, Wi. Gue rasa dia ngga tau kalo bang Rian ngelakuin itu.”
“Makanya mau gue kasih tau.”
“Pikirin lagi, apa tindakan elo ini tepat? Apa pantas Adit kena sasaran kemarahan elo? Dia ngga tau apa-apa loh. Jangan bikin masalah antara dia sama bang Rian.”
“Bodo! Emang gue pikirin.”
Roxas menghela nafas panjang. Ingin rasanya dia mengatakan alasan Adrian melakukan itu semua. Tapi dia takut masalahnya malah akan bertambah rumit. Melihat Dewi yang masih emosi, bisa jadi dia akan memberitahu Aditya. Roxas tak berani membayangkan jika hal itu terjadi. Pemuda itu sudah bertanya pada Roxas apa yang terjadi pada Dewi. Kalau dia tahu kakaknya sendiri yang sudah membuat Dewi patah hati dan kecewa, entah apa yang akan dilakukannya.
“Lo tau ngga Wi, apa yang terjadi sama Adit?”
“Apa? Emang Adit kenapa?”
“Kenapa Adit sampai keluar dari rumah.”
“Tau. Karena bokapnya ngga ngedukung impiannya.”
__ADS_1
“Apa lo tau kalo dari kecil Adit selalu dipandang sebelah mata sama bokapnya? Dia selalu dibandingkan dengan bang Rian. Dari kecil dia ngga pernah dikasih barang bermerk dengan alasan prestasi akademiknya ngga sebaik bang Rian. Dia selalu dianggap angin lalu sama bokapnya. Itu juga yang bikin bang Rian sayang banget sama Adit. Dia bakal lakuin apa aja buat adiknya itu. Apa lo tega ngehancurin hubungannya dengan bang Rian? Kalo lo benci dengan kelakuan bang Rian, benci aja dirinya, jangan Adit. Udah cukup lo nolak cintanya, apa ngga terlalu kejam kalo lo juga membuat dia ribut sama abangnya?”
Dewi nampak termenung. Apa yang dikatakan Roxas ada benarnya, namun dia masih merasa kesal dan marah pada Adrian. Gadis itu ingin Adrian merasakan sakit seperti yang dirasakannya. Tapi kalau harus mengorbankan Aditya rasanya tak benar juga. Hatinya mulai berperang.
“Tau ah pusing gue.”
Dengan kesal Dewi meninggalkan kontrakan Aditya. Dia kembali ke rumahnya dan langsung masuk ke dalam kamar. Dirinya hanya gulang-guling di dalam kamar, memikirkan cara bagaimana membalas Adrian.
🌸🌸🌸
“Mama..” panggil Aditya ketika memasuki rumah.
“Ya ampun anak mama.”
Dengan senang Ida menyambut anak bungsunya. Sebuah kejutan anaknya ini datang ke rumah tanpa pemberitahuan. Dipeluknya Aditya, kemudian membawanya ke ruang tengah.
“Ada apa anak mama tumben ke sini.”
“Aku ngga boleh nengok mama?”
“Bukan begitu. Cuma mama heran aja.”
“Ma.. aku boleh ya tinggal sementara di sini,” wajah Aditya nampak memelas.
“Kenapa harus minta ijin? Ini rumahmu juga. Kapan pun kamu kembali, rumah ini selalu terbuka untukmu. Kalau perlu kamu jangan keluar lagi. Ini rumahmu.”
“Makasih, ma.”
Aditya memeluk Ida. Yang dibutuhkannya saat ini adalah pelukan sang ibu. Hatinya rapuh, wanita yang dicintainya tidak membalas cintanya. Kini bahkan gadis itu menjauhinya, padahal dia sudah mengatakan hanya ingin menjalin persahabatan saja. Aditya membaringkan kepalanya di pangkuan sang mama, lalu memejamkan matanya.
Ida mengusap pelan kepala anak bungsunya ini. Walau tidak mengatakannya secara langsung, namun dia tahu kalau sang anak tengah dirundung masalah. Apapun itu, Ida hanya berharap Aditya mampu melewati semuanya.
Wanita itu terjengit ketika melihat suaminya pulang. Tak biasanya sang suami pulang lebih cepat. Toni hanya melihat sekilas pada Aditya yang tengah tertidur di atas pangkuan sang istri. Pria itu segera masuk ke dalam kamar. Perlahan Ida menaruh kepala Aditya di bantal. Anak bungsunya itu ternyata sudah tertidur pulas. Dia segera menuju kamar untuk menghampiri suaminya.
Betapa terkejutnya Ida melihat suaminya yang tengah mengepak koper. Wanita itu mendekat, kemudian membantu sang suami memilihkan pakaian lalu menaruhnya ke dalam koper.
“Mas mau kemana?” tanya Ida.
“Ada pelatihan di luar kota. Tugasnya mendadak, makanya mas pulang cepat.”
“Kapan mas pergi?”
“Sekarang.”
“Kenapa mendadak? Biasanya ada surat tugas dua hari sebelum keberangkatan.”
“Namanya juga tugas dadakan. Teman mas yang harusnya pergi ngga bisa, makanya mas yang diminta gantiin.”
Ida mempercayai begitu saja perkataan Toni. Memang suaminya itu selalu dikirim keluar kota akhir-akhir ini. Pikirnya bagus juga kalau suaminya pergi, Aditya akan lebih leluasa tanpa kehadiran dirinya.
Toni mencium kening Ida kemudian keluar dari kamar. Dia berhenti sebentar di ruang tengah. Menatap anak bungsunya yang masih terlelap. Ida yang keluar dari kamar, menghentikan langkahnya ketika melihat Toni mendekati Aditya. Dia memilih bersembunyi dibalik tembok sambil mengintip.
Cukup lama pria itu berdiam diri di dekat anaknya. Tangannya lalu terulur mengusap puncak kepala Aditya. Tak ada pergerakan dari anak bungsunya itu. Sepertinya Aditya begitu pulas dalam tidurnya. Setelah puas memandangi anaknya, Toni segera keluar dari rumah. Ida pun keluar dari tempat persembunyiannya.
“Kenapa kamu begitu gengsi, mas. Aku tahu kamu pun mengharapkan Adit kembali. Kalian berdua benar-benar keras kepala.”
🌸🌸🌸
Mata Adrian langsung tertuju pada Honda Vario yang terparkir di garasi rumah. Pria itu turun dari mobilnya, kemudian masuk ke dalam rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Keadaan rumah sendiri sudah sepi. Pria itu melangkah menuju kamarnya. Sayup-sayup dia mendengar seseorang tengah memainkan gitar. Suaranya berasal dari kamar sang adik.
TOK
TOK
TOK
Tanpa menunggu jawaban dari dalam, Adrian langsung masuk ke dalam kamar. Nampak Aditya tengah duduk santai di atas kasur sambil memainkan gitarnya. Pria itu menaruh tas kerjanya di atas meja kemudian bergabung dengan adiknya.
“Kapan pulang?” tanya Adrian.
“Siang tadi.”
“Tumben pulang. Ada apa?”
“Ngga ada apa-apa.”
“Ada masalah sama Dewi?”
Petikan gitar Aditya terhenti ketika Adrian menyebut nama itu. Alasan terbesarnya pulang memang karena Dewi. Lebih tepatnya menghindari gadis itu. Sepertinya tidak bertemu sementara dengan Dewi adalah pilihan yang tepat saat ini. Adrian melirik Aditya yang masih belum menjawab pertanyaannya.
“Dit..”
“Mungkin. Aku sengaja ngga mau ketemu dia dulu. Eh bukan, kayanya dia yang ngga nyaman ketemu sama aku. Lebih baik aku menghindar. Dia kayanya benci lihat aku.”
Aditya kembali memetik gitarnya. Adrian kembali dihantam perasaan bersalah. Bukan seperti ini yang diinginkannya. Salah satu alasannya melepas Dewi, agar mereka bisa bersama lagi.
“Maaf..” ujar Adrian pelan.
“Maaf kenapa, bang?”
“Karena abang, kamu jadi seperti ini.”
“Ck.. abang ngga usah ikutan lebay deh. Emang salah abang apa? Dari awal Dewi emang ngga ada perasaan apa-apa sama aku. Akunya aja yang kegeeran. Lupain aja, bang. Aku juga mau buka lembaran baru. Kalau emang Dewi jodohku, kita pasti bakal bersama. Tapi kalau ngga, akan ada perempuan lain buatku. Iya ngga?”
__ADS_1
Aditya menolehkan wajahnya pada Adrian. Kakaknya itu hanya menganggukkan kepalanya saja. Aditya kembali memainkan gitarnya, kali ini dia juga ikut bernyanyi. Lagu yang dinyanyikannya menggambarkan perasaan pemuda itu.
“Terus melangkah, melupakanmu. Lelah hati perhatikan sikapmu. Jalan pikiranmu buatku ragu. Tak mungkin ini tetap bertahan. Perlahan mimpi terasa mengganggu. Kucoba untuk terus menjauh. Perlahan hati ku terbelenggu, kucoba untuk lanjutkan hidup. Engkau bukanlah segalaku, bukan tempat tuk hentikan langkahku. Usai sudah semua berlalu, biar hujan menghapus jejakmu.”
Adrian merebahkan tubuhnya ke kasur dengan kedua tangan sebagai penopangnya. Matanya menatap lurus ke atas. Lagu yang dinyanyikan sang adik seperti sebuah sindiran untuknya. Dirinya yang tak layak untuk diingat dan seharusnya dilupakan. Semoga saja Dewi bisa melupakan dirinya, walau sulit baginya untuk melupakan Dewi.
🌸🌸🌸
Paginya, seluruh keluarga sarapan bersama, kecuali Toni. Aditya nampak menikmati sarapannya dengan santai. Kemarin Ida sudah memberitahunya kalau Toni ada urusan keluar kota. Berbeda dengan Adrian yang tidak tahu menahu perihal kepergian ayah mereka.
“Papa mana ma?” tanya Adrian.
“Papamu ada dinas luar kota. Temannya tiba-tiba ngga bisa berangkat dan minta papamu yang menggantikan.”
“Tugas kemana?”
“Mama ngga nanya.”
“Tumben, biasanya papa selalu bilang kalau tugas keluar kota.”
Ida termenung dibuatnya. Memang benar, biasanya Toni selalu bilang hendak pergi kemana, tapi kemarin pria itu tak mengatakan apa-apa. Ditambah dirinya yang masih senang dengan kedatangan Aditya, jadi tak menanyakan apa pun.
“Kamu kerja pagi?” kali ini Adrian bertanya pada Aditya.
“Iya, bang. Biasa kalau Sabtu sama Minggu aku masuk pagi.”
“Nanti malam kamu nge-band lagi?”
“Iya. Abang mau datang ngga?”
“In Syaa Allah. Nanti abang ajak Ikmal sama yang lain.”
“Gitu, dong. Biar aku semangat.”
Aditya tersenyum memamerkan lesung pipinya. Adrian pun ikut tersenyum. Senang rasanya melihat sang adik sudah kembali bersemangat. Jika memang Dewi tidak berjodoh dengannya atau Aditya, tidak masalah. Yang penting adiknya itu tetap bahagia dan menjalani hidup seperti biasanya.
Aditya berangkat lebih dulu, sedang Adrian masih bersiap. Sabtu ini dia hanya akan melakukan presentasi di hotel. Presentasi tentang proyek yang mereka kerjakan kemarin. Pria itu memeriksa kembali persiapan presentasinya. Setelah dirasa tidak ada yang kurang, dia segera bersiap untuk pergi.
🌸🌸🌸
Acara presentasi berjalan lancar. Masing-masing pihak merasa puas dengan apa yang dikerjakan Adrian dan tim. Mereka akan segera merealisasikan proyek tersebut dan menjadikan Adrian dan tim sebagai konsultan. Tentu saja hal tersebut disambut baik oleh Adrian dan kawan-kawan.
“Kalian mau langsung pulang atau bagaimana?” tanya Rudi.
“Iyalah, kita istirahat minggu ini,” ujar Ikmal.
“Kalian mau ke café ngga malam ini?” tanya Adrian.
“Jadi, dong. Nanti aku bisa request lagu ya?” ujar Rudi.
“Bisa, mas. Asal lagunya mereka tahu pasti dinyanyiin.”
“Okelah kalau gitu. Aku balik duluan.”
Rudi melambaikan tangan pada yang lain kemudian segera keluar dari hotel Flamboyan, tempat mereka melakukan meeting. Setelah kepergian Rudi, Ikmal pun menyusul. Kini hanya tinggal Adrian dan Jaya saja. Keduanya memutuskan untuk menikmati kopi di restoran yang ada di sana.
Jaya banyak menceritakan keluh kesahnya selama ditinggal istri tercinta. Ternyata sang istri selama ini ada di rumah mertuanya. Namun wanita itu masih enggan bertemu dengannya. Dia masih sakit hati dengan sikap keluarganya yang selalu memojokkan wanita itu, menuduhnya mandul.
“Terus mas Jaya sendiri maunya gimana sekarang?”
“Aku bakalan terus bujuk dia. Aku yakin sebentar lagi juga ngambeknya hilang.”
“Pasti mba Mini tertekan ya, mas.”
“Ya gitulah. Makanya nanti kalau kamu nikah, harus jadiin pelajaran masalahku ini. Kamu harus pintar menempatkan diri, antara ibumu atau istrimu.”
“Hahaha.. iya, mas.”
Keduanya terus melanjutkan perbincangan, sampai mata Adrian menangkap sosok ayahnya. Menurut Ida, Toni ada tugas dinas keluar kota. Tapi nyatanya pria itu malah ada di hotel. Kecurigaan dalam diri Adrian muncul.
“Mas.. aku pergi dulu, ya. Ngga apa-apa mas?”
“Iya, ngga apa-apa. Aku juga bentar lagi pergi. Kopinya biar aku yang bayar.”
“Makasih, mas.”
Adrian segera bangun dari duduknya. Dia mengejar Toni yang masuk ke dalam lift. Terlambat, pintu lift sudah tertutup saat dirinya sampai. Pria itu kemudian segera menuju resepsionis untuk menanyakan di mana kamar sang ayah.
“Maaf.. kalau pak Toni Irawan ada di kamar berapa? Saya anaknya.”
“Sebentar, pak,” resepsionis tersebut melihat daftar tamu.
“Kamar 912.”
“Ok, makasih.”
Adrian segera meninggalkan meja resepsionis. Dia langsung masuk ke lift yang sudah terbuka pintunya. Selama benda kotak persegi itu naik, hatinya terus berdoa, semoga kecurigaannya tidak menjadi kenyataan. Semoga ada alasan lain ayahnya menginap di sini.
TING
Pintu lift terbuka. Dengan cepat Adrian melangkah keluar. Kakinya menyusuri deretan kamar. Kemudian langkahnya terhenti di depan kamar 912. Pria itu mengambil nafas sejenak sebelum memencet bel yang ada di sisi pintu. Tangannya kemudian bergerak memencet bel. Tak berapa lama pintu terbuka.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Nah loh bokapnya Adrian ngapain di hotel?