Naik Ranjang

Naik Ranjang
Hari Kelulusan


__ADS_3

Hari yang ditunggu para siswa kelas 12 datang juga, yaitu hari di mana mereka terbebas dari statusnya sebagai pelajar, atau hari kelulusan. Semua siswa 12 dinyatakan lulus oleh pihak sekolah. Bahkan nilai rata-rata kelulusan mereka di atas dari sekolah negeri yang ada di kota Bandung.


Tapi pihak sekolah melarang keras para siswa merayakan kelulusan dengan mencorat-coret pakaian dan konvoi di jalanan. Mereka tidak mau insiden saat perayaan kelulusan kembali terjadi. Setahun yang lalu, pada saat hari kelulusan, setelah merayakan dengan mencorat-coret seragam yang mereka kenakan, anak-anak melanjutkannya dengan berkonvoi di jalan menggunakan kendaraan.


Saat sedang konvoi, tanpa sengaja mereka bersinggungan dengan gank motor. Ketegangan di antara kedua pihak tidak dapat terelakkan, hingga memicu tawuran. Sebanyak dua puluh lebih siswa mengalami luka-luka dan tiga orang meninggal dunia. Euphoria kelulusan harus berakhir dengan tragedi berdarah.


Tak ingin mengulang sejarah kelam, oleh karenanya pihak sekolah mengeluarkan maklumat. Jika ada siswanya yang melanggar aturan tersebut, maka kelulusannya akan dicabut dan harus mengulang kembali masa sekolah selama setahun penuh. Mendengar ancaman tersebut, tentu saja membuat anak kelas 12 tidak punya nyali untuk melanggar. Mereka tidak mau mengulang pelajaran bersama dengan adik kelas.


Sebagai gantinya, pihak sekolah menyelenggerakan kegiatan lain untuk merayakan kelulusan anak didiknya. Sekolah menggelar bazaar dan juga mengadakan lomba adu bakat, yang pesertanya khusus diperuntukkan kelas 12. Masing-masing kelas diwajibkan mengirimkan perwakilan untuk kategori lomba adu bakat yang digelar.


Adapun lomba adu bakat yang diadakan adalah lomba murrotal, karaoke, peragawan dan peragawati, baca puisi dan dance. Kelas IPS 3 tentu saja menyambut lomba tersebut dengan antusias. Mereka berunding untuk menentukan siapa yang akan dikirim sebagai perwakilan. Setelah berembuk selama setengah jam lamanya, akhirnya mereka berhasil mendapatkan keputusan.


Untuk lomba murrotal, mereka memutuskan untuk mengirim Fathir. Mereka yakin Fathir akan memenangkan lomba tersebut karena pernah menang lomba MTQ tingkat kelurahan. Lalu untuk lomba karaoke, mereka mengirim Dewi. Lomba peragawan dan peragawati diwakili oleh Roxas dan Sheila. Selanjutya Mila ditunjuk sebagai wakil lomba baca puisi dan terakhir, Micky dikirim untuk lomba dance. Mereka sangat yakin akan menjadi juara umum di acara lomba adu bakat tersebut.


Begitu mendengar pengumuman kalau kegiatan adu bakat akan dimulai, semua anak IPS 3 berkumpul. Mereka membentuk lingkaran kemudian menumpukkan tangan mereka untuk menyemangati diri mereka sendiri.


“IPS 3!!!” teriak Hardi.


“YESS!! YESS!! YESS!!”


Seketika tangan mereka terangkat ke atas setelah menjawab ucapan Hardi. Setelahnya mereka keluar kelas dan berjalan bersama menuju lapangan tempat di mana lomba akan di selenggarakan. Selain lomba adu bakat, pihak sekolah juga akan memberikan penghargaan untuk supporter terbaik. Murid yang tidak terpilih bertekad untuk menjadikan IPS 3 sebagai supporter terbaik dengan Hardi sebagai komandannya.


Adrian yang baru keluar dari ruangan guru, segera menuju tempat di mana anak didiknya berkumpul. Para wali kelas sepakat untuk tidak ikut campur dan menyerahkan semuanya pada anak muridnya. Kedatangan Adrian hanya untuk menyemangati mereka semua.


“Bagaimana? Sudah siap?”


“Siap, pak.”


“Saya doakan kalian bisa memenangkan beberapa kategori.”


“Aamiin…”


“Menang atau kalah tidak masalah. Yang penting kebersamaan dan kekompakan kalian.”


“Siap, pak!!”


“Selesai acara ini, kita akan makan bersama.”


“Asyiiikkkk…”


Adrian melihat pada Dewi sekilas. Dia yakin sekali kalau gadis itu yang akan dikirimkan sebagai wakil untuk lomba karaoke, walau Hardi tidak mengatakan apapun padanya. Dada Dewi berdebar melihat pandangan Adrian padanya. Pria itu kemudian kembali berkumpul dengan guru yang lain.


Lomba adu bakat pun dimulai. Yang pertama adalah lomba murrotal. Para peserta diwajibkan berwudhu lebih dulu sebelum memperdengarkan suara merdunya dalam melantunkan ayat suci. Jumlah keseluruhan kelas 12 adalah 10 kelas. IPA 4 kelas, IPS 4 kelas dan bahasa 2 kelas. Maka jumlah peserta lomba tiap kategori sebanyak 10 orang. Para juri yang ditunjuk pun mulai bersiap. Seluruh wali kelas 12 tidak diperbolehkan menjadi juri demi menjaga objektivitas.


Masing-masing peserta mulai mempedengarkan suara merdunya melantunkan ayat suci. Fathir memiliki suara yang merdu dan enak didengar. Namun secara jujur para pendukungnya harus mengakui kalau perwakilan dari IPA 2 dan bahasa 1 lebih unggul. Namun mereka berharap Fathir bisa masuk 3 besar.


Usai lomba murrotal, dilanjutkan dengan lomba puisi. Semua peserta bersiap mengambil nomor undian, Mila mendapat nomor terakhir. Gadis itu duduk bersama teman-temannya yang lain. Hingga akhirnya tibalah gilirannya untuk maju. Untuk lomba kali ini pun anak IPS 3 tidak banyak berharap. Terpilihnya Mila sebagai perwakilan bukan karena gadis itu memilik bakat, tapi karena kenekadannya saja karena tidak ada yang mau maju. Ditambah suaranya yang cempreng dan gayanya yang lebay, membuat harapan untuk menang semakin menjauh.


Lomba berikutnya adalah peragaan catwalk. Untuk lomba kali ini, harapan kelas IPS 3 mulai terbit. Mereka yakin baik Roxas maupun Sheila mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Setelah berganti pakaian yang telah disediakan oleh panitia, semua perserta bersiap di dekat arena catwalk. Mereka harus berjalan berlenggak lenggok, memamerkan pakaian yang dikenakan di atas karpet merah.

__ADS_1


Satu per satu peragawati dadakan mulai berjalan di atas karpet panjang berwarna merah, mengenakan pakaian dan sepatu yang diendorse salah satu sponsor. Sheila yang sudah terbiasa mengenakan high heels tidak menemui kesulitan ketika berjalan di atas catwalk. Gadis itu terlihat cantik dalam balutan dress dengan corak batik modern. Dengan langkah satu jalur dia berjalan ke depan, dan saat berbalik, tak lupa dia mengibaskan rambut panjangnya.


Teriakan kekaguman dan sorakan penuh semangat dari kelas IPS 3 langsung terdengar begitu temannya itu tampil. Beberapa dari mereka mengabadikan gambar Sheila dengan ponselnya. Melihat gaya Sheila, Hardi yakin sekali kalau temannya itu akan menjadi juaranya.


Setelah pada gadis, kini giliran para perjakanya yang tampil. Roxas terlihat semakin tampan dengan pakaian yang di kenakannya. Dia mengenakan kaos yang dibalut jaket kulit berwarna hitam dan bawahnya juga mengenakan celana kulit dengan warna senada. Sepatu yang dikenakannya semakin menunjang penampilan pria tersebut.


Roxas berjalan dengan gagahnya di atas karpet merah dengan wajah coolnya. Teriakan para gadis pemuja Roxas langsung terdengar begitu pria itu melangkahkan kakinya menuju ujung karpet. Melihat penampilannya saat ini, Roxas terlihat seperti model professional saja. Tidak akan ada yang mengira kalau dia adalah bule kere, penghuni klasemen bawah dan tidak bisa berbahasa Inggris.


Para juru foto dadakan langsung berkerumun di sekitar catwalk saat Roxas tampil. Jepretan kamera ponsel dari berbagai merk dan bermacam pemilik terus mengabadikan wajah tampan Roxas. Bisa dipastikan untuk kategori kali ini pasti Roxas yang menjadi juaranya. Sebelum kembali ke belakang, Roxas menyempatkan diri melihat pada para pengagumnya sambil membentuk ibu jari dan telunjuknya menjadi tanda love ala oppa-oppa Korea. Sontak saja jeritan para fans langsung terdengar.


"Aa Roxas!! Aku padamu!!"


"Sarange Roxas oppa!!"


"Lope-lope sekebon pete, aa Rox!"


“Dasar leker narsis,” desis Dewi yang langsung disambut gelak tawa Micky yang duduk di sebelahnya.


Panitia segera menggulung kembali karpet merah begitu lomba peragaan busana berakhir. Sebelum melanjutkan ke kategori selanjutnya, panitia menghentikan acara selama satu jam. Mereka mempersilahkan semua yang hadir untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur dan makan siang.


Setelah beristirahat selama satu jam, lomba kembali digelar. Micky bersiap menampilkan kemampuannya nge-dance. Dia sengaja tidak makan siang dulu, supaya bisa bebas bergerak nantinya. Micky menggulung celana abunya, sebelah kanan digulung sampai selutut sedang sebelah kiri hanya sampai sebatas betis. Kemejanya dikeluarkan sebelah, sebelahnya lagi dibiarkan terselip dibalik celananya.


Pemuda itu maju ke depan begitu namanya dipanggil. Terdengar teman-temannya mengelu-elukan namanya untuk memberi semangat. Dia menghubungkan ponsel ke speaker untuk memutar lagu yang akan mengiringinya menari. Micky bersiap begitu suara musik terdengar. Tubuhnya mulai bergerak mengikuti irama lagu My Lecon dari JTL.


“Whooaaahhh go Micky.. go!!”


“Tariiiikkk mang,” celetuk Roxas yang ikutan menari entah dengan gaya apa.


Rangkaian lomba adu bakat ditutup dengan perlombaan karaoke. Semua peserta yang akan tampil bersiap untuk memperdengarkan suara merdunya. Sebelum tampil Roxas mengingatkan bukan hanya suara merdu yang harus diperdengarkan, tapi performance pun harus diperlihatkan. Dewi harus bisa menarik para penonton untuk larut dalam nyanyiannya. Oleh karenanya pemilihan lagu yang akan dinyanyikan sangat penting. Kepala Dewi mengangguk mendengar kuliah siang sahabatnya.


Dewi menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian menghembuskan perlahan sebelum maju setelah mendengar namanya dianggil. Roxas berinisiatif untuk membantu sahabatnya. Dia maju kemudian menguhubungkan ponsel Dewi ke speaker. Dewi telah mengatakan lagu apa yang akan dinyanyikannya.


Lagu dengan alunan musik dangdut koplo langsung terdengar ketika Roxas menekan tombol play. Dewi sengaja memilih lagu yang familiar agar para penonton bisa ikut bergoyang bersama. Suara merdunya langsung terdengar ketika dia menyanyikan bait pertama.


“Bimbang, ragu, sementara malam mulai datang. Hasratku ingin bercermin, tapi. Cerminku pecah seribu, pecah seribu.”


Pilihan Dewi menyanyikan lagu ini memanglah tepat. Semua langsung bergoyang begitu mendengar lagu lawas yang banyak dibuat cover dengan berbagai versi akhir-akhir ini. Dia sendiri memilih versi dangdut koplo. Micky bahkan ikut maju dan kembali memperagakan kepiawaiannya menari, begitu pula dengan Roxas dan Hardi. Bukan hanya itu, para guru pun ikut bergoyang. Mereka tak tahan untuk tidak ikut bergoyang.


Berbeda dengan Adrian yang nampak asik merekam pertunjukkan anak didiknya itu. Dia terus mengarahkan kameranya pada Dewi, sesekali dia menzoomnya, hingga wajah cantik muridnya itu terpampang di layar ponselnya. Sepanjang lagu yang dinyanyikan Dewi, wajahnya terus menyunggingkan senyuman.


“Hanya dia. Yang ada di antara jantung hati. Tempat bermanja, tempatnya rindu. Tempat curahan hati yang damai.”


Jantung Adrian berdebar tak karuan ketika Dewi menyanyikan part refrain sambil melihat ke arahnya. Seakan lirik tersebut memang diperuntukkan untuknya. Mata keduanya beradu dan saling mengunci untuk beberapa saat. Hingga akhirnya Dewi memutus pandangan lebih dulu dan kembali melihat pada para penontonnya.


🌸🌸🌸


Selepas ashar panitia mulai mengumumkan siapa saja yang memenangkan lomba adu bakat. Semua murid, khususnya kelas 12 sudah berkumpul di lapangan. Mereka menantikan detik-detik kelas mana yang menjadi juara di kompetisi kali ini.


Pembacaan pemenang untuk pertama diberikan pada kategori lomba murrotal. Sesuai prediksi, kelas bahasa 1 keluar menjadi juara pertama, disusul IPA 2 sebagai juara kedua. IPS 3 masih berbangga hati karena Fathir berhasil menyabet juara ketiga. Kategori kedua adalah lomba baca puisi. Untuk kategori ini, IPS 3 hanya dapat zonk saja. Juara pertama kembali disabet bahasa 1. Sepertinya kelas itu diam-diam menjadi saingan terberat.

__ADS_1


Angin segar mulai muncul ketika Roxas dan Sheila terpilih menjadi peragawan dan peragawati terbaik. Wajah dan gaya mereka berlenggak-lenggok di atas catwalk sudah tidak terbantahkan lagi. Asa IPS 3 menjadi juara umum semakin terlihat ketika Micky juga didapuk sebagai juara pertama. Kini tinggal menunggu kategori terakhir diumumkan.


Dengan dada berdebar mereka menunggu siapa yang menjadi pemenang juara karaoke. Jujur saja, lawan Dewi tadi cukup berat, terutama dari kelas bahasa 1. Juara ketiga jatuh pada kelas IPS 1, juara kedua diraih oleh bahasa 1 dan juara pertama berhasil didapatkan oleh Dewi, yang berasal dari IPS 3.


Sorak bahagia langsung terdengar dari warga IPS 3. Kebahagiaan mereka semakin bertambah ketika kelas mereka juga berhasil menyabet predikat supporter terheboh. Yang semakin mengukuhkan mereka sebagai juara umum. Adrian tersenyum bangga, anak didiknya keluar sebagai juara umum.


🌸🌸🌸


Sesuai janjinya, setelah acara di sekolah berakhir, Adrian mengajak semua anak muridnya untuk makan bersama. Dia mengajak ke 23 muridnya makan di salah satu fast food terkenal yang ada di Indonesia. Ternyata sebelumnya pria itu telah membooking tempat khusus untuk anak didiknya.


Suasana lantai dua fast food terkenal itu ramai dengan celotehan anak IPS 3. Mereka makan sambil berbincang. Kebahagiaan begitu nampak di wajah mereka. Perayaan kelulusan tahun ini memang tanpa corat-coret dan konvoi, namun sangat berbekas di hati mereka.


“Selamat untuk kalian semua. Ternyata selain terkenal kelas paling onar, kalian juga sangat berbakat,” ujar Adrian.


“Yoi.. IPS 3 gitu loh,” bangga Micky yang diamini oleh lainnya.


“Sebuah kebanggaan untuk saya bisa bertemu dan mengajar kalian semua. Kebersamaan kita saat ini anggap saja sebagai pesta perpisahan.”


Perkataan Adrian barusan terdengar seperti alunan lagu sedih di telinga para muridnya. Walau wali kelasnya itu galak, tegas dan tidak segan-segan memberi hukuman berat, namun tak dapat dipungkiri perhatian Adrian begitu besar. Pria itu punya cara tersendiri dalam menjalin kedekatan dengan anak didiknya. Walau kebersamaan mereka hanya empat bulan, namun berhasil memberikan kesan mendalam.


“Bapak jangan lupain kita-kita, ya. Walau udah ada kelas IPS lain sebagai penggantinya,” ucap Sandra.


“Saya tidak akan bisa melupakan kalian. Kalian adalah murid pertama dan terakhir saya di sekolah.”


“Bapak ngga akan ngajar lagi?”


“Saya hanya guru pengganti sementara sampai tahun ajaran ini saja.”


“Oh begitu. Terus bapak ngajar di mana?”


“Saya sudah diterima mengajar di salah satu universitas swasta.”


“Kampus mana pak?” tanya Sandra antusias. Siapa tahu saja dia bisa kembali bertemu saat kuliah nanti.


Adrian hanya mengulum senyum saja. Tak ada niatan menjawab pertanyaan siswi yang begitu tergila-gila padanya. Kalau memang mereka dipertemukan, biarkan itu menjadi sebuah kejutan saja.


“Kita foto bareng yuk,” usul Hardi.


“iya, ayo..ayo.. buat kenang-kenangan.”


Hardi memanggil seorang pegawai yang baru saja naik ke lantai dua. Dia meminta bantuan pegawai pria itu untuk mengambil gambar. Kemudian pemuda itu memberi aba-aba pada semuanya untuk berpose. Di berdiri sambil mengatur posisi.


Postur Adrian yang tinggi membuat Hardi menempatkan wali kelasnya itu berdiri di bagian belakang, diapit oleh Roxas dan Fathir yang memiliki tinggi badan hampir setara. Sementara itu, Dewi berdiri tepat di depan Adrian. Tinggi badan gadis itu yang hanya sebatas dada Adrian, tidak akan menghalangi wajah tampan sang wali kelas.


Setelah posisi dianggap pas, Hardi segera bergabung. Dia berada di barisan depan dengan mengambil posisi setengah berbaring. Dia tidak sendiri, melainkan ditemani oleh Micky. Sang fotografer dadakan memberi aba-aba sebelum mengabadikan gambar. Dada Dewi berdebar kencang ketika tangan Adrian menyentuh bahunya. Beberapa kali pegawai fast food tersebut mengabadikan gambar warga IPS 3 beserta ketua sukunya.


🌸🌸🌸


**Sebentar lagi Dewi masuk kuliah dan Roxas mulai bekerja. Perjalanan naik ranjang masih cukup jauh, harap bersabar. Nikmati aja dulu prosesnya😉

__ADS_1


Ini penampakan Roxas waktu ikut lomba peragawan. Bayangin dengan wajah ganteng gini, dia ngomong pake logat Sunda yang kental atau bahasa Kang Hari🤣**



__ADS_2