Naik Ranjang

Naik Ranjang
Mencari Sebuah Jawaban


__ADS_3

Sambil bersiul, Roxas berjalan memasuki loker. Jam kerjanya hari ini sudah berakhir. Ternyata pekerjaan yang harus dilakukan tidak terlalu sulit, hanya saja kakinya terasa pegal karena lebih banyak berdiri di dekat pintu maksud sambil menyunggingkan senyuman. Tak lupa juga menyambut tamu yang datang.


Di hari keduanya bekerja, dia sudah mempunyai banyak teman. Mungkin lebih tepatnya para fans barunya. Bukan hanya di bagian FO tapi juga Service dan Housekeeping. Berita tentang DW baru yang berwajah blasteran menyebar cepat di hotel tersebut. Pada jam istirahat ada saja perempuan yang mengajaknya berkenalan.


Roxas yang selalu ramah dibarengi dengan aksi tebar pesona tentu saja selalu menyambut baik siapa saja yang berkenalan dengannya. Apalagi saat perkenalan itu, ada saja yang memberikannya sesuatu seperti minuman atau camilan. Lumayan juga, bisa mengirit pengeluaran.


Setelah berganti pakaian, dia langsung menuju basement, tempat di mana dia memarkirkan motornya. Hari ini adalah jadwalnya berlatih taekwondo. Untung saja dia mulai bekerja mendapat shift pagi, jadi masih sempat untuk berlatih bela diri. Sebelum menuju dojang Hero, dia lebih dulu menghubungi Dewi. Ternyata gadis itu sudah dalam perjalanan menuju tempat bela diri tersebut. Roxas pun segera menyusul ke sana.


Latihan hari ini, mereka tidak dilatih oleh Adrian, melainkan oleh Fajar. Pria yang sehari-harinya bekerja di kepolisian bagian reserse kriminal. Di awal latihan, dia meminta kedua murid Adrian itu untuk memperagakan jurus-jurus yang sudah dikuasainya. Sekilas Roxas melirik pada Dewi yang nampak tak bergairah saat latihan. Bahkan beberapa kali gadis itu salah memeragakan jurus hingga terkena teguran Fajar.


“Konsentrasi, Dewi!”


Dewi tersentak ketika suara kencang Fajar menegurnya. Gadis itu mencoba kembali berkonsentrasi, karena sedari tadi pikirannya melayang, memikirkan di mana keberadaan Adrian sekarang. Dojang Hero terlihat seperti digelayuti awan hitam tebal tanpa kehadiran Adrian di sana.


Setelah berlatih selama satu jam lebih, akhirnya Fajar mengakhiri latihan hari ini. Tanpa banyak bicara, pria itu segera meninggalkan Dewi dan Roxas. Sambil menunggu keringat kering, Roxas mengajak Dewi berbicara. Dia kasihan juga karena sedari tadi sang sahabat terus terkena semprotan Fajar.


“Wi.. lo kenapa sih? Dari tadi kaya ngga konsen gitu.”


“Ngga apa-apa. Lagi ngga mood aja.”


“Ngga mood kenapa? Gara-gara ngga ada pak Rian, ya,” goda Roxas.


“Mana ada!” Dewi membelalakkan matanya.


“Heleh geus tong api-api. Urang mah geus nyaho maneh ti leuleutik. Maneh bogoh nya ka pak Rian? (Heleh ngga usah pura-pura. Gue tau elo dari kecil. Lo suka ya sama pak Rian?).”


“Sok tau!”


Dewi membuang pandangannya ke arah lain, tak ingin kebohongannya diketahui oleh Roxas. Sejatinya sebuah perasaan memang sudah tumbuh dalam hatinya untuk sang wali kelas. Bahkan foto-foto yang dikirimkan Adrian ke ponselnya terus saja dipandanginya menjelang tidur.


Melihat sikap Dewi yang seperti itu, Roxas semakin yakin kalau sahabatnya memang memiliki perasaan pada Adrian. Dewi bukan gadis yang mudah jatuh cinta pada laki-laki, walaupun banyak yang menyukai dan menyatakan perasaan secara terang-terangan. Baru pada Aditya gadis itu bersikap welcome dan menanggapi perasaannya. Tapi ternyata di sisi lain, kebenciannya pada Adrian justru menumbuhkan benih-benih cinta pada pria itu.


“Wi.. gue mau ngomong serius sama elo. Kita sobatan udah lama. Please lo jujur sama gue. Lo suka kan sama pak Rian? Jujur, Wi..” Roxas menatap lekat pada sahabatnya.


“Gue ngga tau, Rox. Akhir-akhir ini gue selalu kepikiran pak Rian. Gue senang aja gitu kalo dekat sama dia. Senang aja kalo dia bikin gue marah. Dan setelah kita lulus, gue malah pengen terus ketemu dia. Itu tandanya gue udah fallin in love ya?”


“Ya iya dudul. Hadeuh.. lo lemot banget sih soal beginian. Nah terus soal Adit gimana? Dia juga serius sama elo, Wi. Dia bela-belain pindah kontrakan deket rumah lo biar bisa deketan mulu sama elo. Dia juga bilang sama gue punya rencana nikah muda dan elo calonnya.”


“Iya, Rox. Dia juga bilang gitu ama gue. Bahkan ATM yang isinya gaji dari hotel suruh gue yang pegang, dia juga udah kasih tau pin-nya. Malah bilang kalau gue perlu buat beli apa-apa suruh pake aja uang yang di ATM. Huaaaa… gue berasa udah jadi bininya aja.”


“Gue tanya.. perasaan lo sama Adit gimana?”


“Ya gue seneng, dia baik, lucu dan selalu buat gue ketawa sekaligus nyaman. Enak aja ngobrol sama dia.”


“Kalo pak Rian?”


“Jujur gue juga seneng. Pak Rian dewasa banget orangnya, dia ngemong gue banget, dia selalu ada saat gue lagi susah, terpuruk dan selalu bisa semangatin gue. Gue juga nyaman sama pak Rian. Sumpah gue bingung, Rox.”


Lo bakalan tambah bingung kalau tau mereka adek kakak. Tapi gue ngga akan kasih tau sekarang. Biar lo tau sendiri.


“Saran gue, mending lo tenangin hati dulu. Coba pikirin, di antara Adit atau pak Rian, mana yang paling ingin lo temuin.”


“Kalau sekarang pasti pak Rian. Kalau Adit kan tiap hari juga ketemu.”


“Iya juga, salah nanya nih. Ok, gini… saat lo lagi sama Adit, lo mikirin pak Rian ngga? Atau saat lo lagi sama pak Rian, lo mikirin Adit ngga? Atau di antara Adit sama pak Rian, siapa yang paling lo takutin kalau salah satunya pergi dari hidup lo? Pikirin baik-baik sebelum lo jauh melangkah. Jangan sampai lo kasih perhatian dan harapan ke dua-duanya. Adit sahabat gue, pak Rian juga udah gue anggap kaya kakak sendiri. Dan elo juga sahabat terbaik gue, jujur gue juga bingung dengan situasi ini. Tapi tetap gue akan dukung elo. Jangan salah pilih, karena kalau ngga, kalian bertiga yang akan sakit.”


“Lo ngomong kaya gitu kaya pak Rian punya perasaan aja ama gue. Kalo Adit emang udah nyatain perasaannya, tapi kalo pak Rian kan belum.”


“Menurut lo, ngapain juga kemarin pak Rian ngajakin elo ke curug Maribaya duaan aja kalo ngga ada feeling sama elo. Terus pak Rian juga perhatian banget sama elo, buka mata dan hati lo. Pak Rian lakuin itu cuma ke elo, bukan ke yang lain. Ada alasan dia ngelakuin itu. Pikirin baik-baik, deh.”


Roxas berdiri kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai tiga untuk membersihakn diri. Dia sungguh berharap Dewi bisa memahami perasaannya sendiri. Setidaknya dia sudah memberikan gambaran pada sahabatnya itu. Tinggal bagaimana nanti Dewi mengambil keputusan. Siapa pun yang dipilih Dewi nantinya, dia akan tetap mendukung. Walau mungkin salah satu dari mereka akan terluka. Tapi bukankah patah hati adalah resiko orang yang jatuh cinta? Sama seperti dirinya yang mencoba serius mendekati Yulita.


🌸🌸🌸


Dewi terkejut ketika melihat Aditya sudah berada di depan Dojang Hero. Gadis itu mendekati Aditya yang tengah duduk di atas motornya. Roxas yang muncul dari belakang Dewi juga terkejut melihat kedatangan Aditya. Tapi kemudian dia sadar, pasti Aditya tahu di mana dirinya dan Dewi berlatih taekwondo begitu mengatakan kalau Adrian juga yang menjadi sabeumnya.

__ADS_1


“Dit.. kok tau kalau aku di sini?”


“Dari Roxas.”


Aditya melihat pada Roxas seraya mengedipkan mata. Dia dan Roxas memang sudah sepakat menyembunyikan perihal Adrian adalah kakaknya. Pemuda itu sengaja melakukannya karena ingin memberikan kejutan pada Dewi saat mengenalkan gadis itu pada sang kakak.


“Jalan dulu, yuk,” ajak Aditya.


“Euung.. boleh. Emang kamu ngga cape?”


“Kalau buat kamu, tenagaku selalu terisi penuh.”


“Gombal.”


“Hahaha.. bro.. gue duluan ya.”


Adit melambaikan tangannya pada Roxas kemudian memutar kendaraannya. Sambil menaiki tunggangannya, mata Roxas terus menatap pada Aditya dan Dewi yang sudah bergerak menjauh. Tak lama, dia pun menyusul pergi dari tempat latihan bela diri tersebut.


“De.. mau langsung pulang apa mau jalan-jalan dulu?!” tanya Aditya setengah berteriak.


“Jalan-jalan dulu aja, cari tempat nongkrong yang enak!” jawab Dewi setengah berteriak juga.


Kepala Aditya hanya mengangguk-anggak saja. Kemudian dia melajukan kendaraannya menuju arah jalan Siliwangi. Rencananya dia akan mengajak Dewi nongkrong di salah satu warung lesehan yang ada di daerah punclut, sambil menikmati pemandangan Bandung di malam hati.


Deru kendaraan yang bergerak semakin cepat membuat angin yang menghantam pun semakin kuat. Aditya menarik tangan Dewi agar memeluk pinggangnya. Motornya melintasi jalan Siliwangi yang banyak ditumbuhi pohon besar, kemudian berbelok ke kanan, menuju arah ciumbuleuit. Setelah melewati rumah sakit TNI AL, tak lama kemudian motor yang ditunggangi mulai memasuki daerah punclut. Pemuda itu memilih warung lesehan yang memiliki pemandangan indah.


Sambil menenteng helmnya, Dewi dan Aditya memasuki walah satu warung lesehan. Mereka mendudukkan diri di salah satu bale bambu yang ada di sana. Di belakang bale, mereka bisa melihat kelap kelip lampu perkotaan. Semilir angin yang berhembus membuat udara semakin terasa dingin, padahal waktu masih jam tujuh malam.


“Mau pesan apa, De?”


“Pisang bakar keju sama lemon tea hangat.”


“Lemon tea hangatnya dua sama roti bakar coklat keju satu, kang,” ujar Aditya pada pelayan yang mendatangi mereka.


Dewi memandangi bale-bale yang ada di sekelilingnya, karena malam ini bukan weekend, hanya tiga atau empat bale saja yang terisi. Tujuannya mengajak Aditya nongkrong karena ingin membicarakan sesuatu. Seperti yang dikatakan Roxas. Dia harus menyelami lebih dulu perasaannya pada Aditya.


“Belum. Rencananya sih besok.”


“Kamu mau daftar kemana?”


“Universitas Nusantara.”


“Serius mau daftar di sana?”


“Iya, emangnya kenapa?”


“Abangku kan ngajar di sana.”


“Oh abang kamu dosen.”


“Iya. Besok aku libur. Aku antar aja ke sana.”


“Boleh.”


Suasana kembali hening. Dewi masih menyiapkan hati untuk berbicara dengan Aditya. Kepalanya mencoba merangkai kata, bagaimana baiknya mengutarakan apa yang ingin dikatakannya. Dia lalu melihat Aditya yang tengah berbalas pesan entah dengan siapa.


“Dit.. sebenarnya ada yang mau aku omongin.”


Aditya mengangkat kepalanya, kemudian memasukkan ponsel ke saku jaketnya. Dia kembali fokus pada Dewi. Sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan, melihat wajah Dewi yang nampak serius.


“Mau ngomong apa?”


“Euung.. soal kita.”


“Ada apa sama kita?”

__ADS_1


“Jujur ya, Dit. Aku masih bingung dengan hubungan kita. Maksudnya status kita maksudnya gimana sih?”


“Kamu maunya gimana? Aku mah ikutin kamu aja. Mau sekarang ketemu penghulu juga hayu aja aku mah.”


“Serius, Dit,” Aditya terkekeh melihat wajah Dewi yang terlihat kesal.


“Kamu emang beneran serius sama aku? Kita kan baru kenal berapa bulan. Masa iya kamu udah seyakin itu mau nikah sama aku,” lanjut Dewi.


“Emang ada batas waktu minimum ya buat seseorang untuk ngajak nikah? Ada yang baru kenal seminggu langsung nikah, ada juga yang udah pacaran tujuh tahun akhirnya gagal nikah. Jadi, menurutku sebentar atau lamanya waktu berkenalan bukan jadi patokan seseorang untuk serius menjalani hubungan. Tergantung pada pribadi masing-masing, apa dia sudah siap berkomitmen atau belum.”


“Jadi beneran kamu teh serius sama aku?”


Aditya tertawa melihat ekspresi Dewi yang terlihat menggemaskan di matanya. Dia sudah berbicara blak-blakan, bahkan mengutarakan keinginannya di depan Nenden dan juga penghuni kontrakan lainnya, namun masih belum bisa meyakinkan hati sang pujaan hati.


Dewi masih menunggu jawaban dari Aditya, tapi pemuda itu belum berniat menjawab. Dibiarkannya pelayan menata pesanan di meja lebih dulu. Setelah pelayan tersebut pergi, barulah dia menjawab pertanyaan Dewi.


“Ya seriuslah sayang. Kalau aku ngga serius, ngga mungkin juga aku nembak kamu di halte pas hujan-hujan. Aku juga ngga akan bilang aku calon imam kamu sama emak-emak di kontrakan haji Soleh. Apalagi aku bilangnya di depan ibu, masa aku bercanda.”


“Seyakin itu kamu sama aku?”


“Iya. Kenapa? Kok kamu ngga percaya gitu.”


“Bukan ngga percaya. Tapi, baru kali ini ada cowok nekad kaya kamu. Biasanya yang nembak aku kan iseng, ngajak aku pacaran doang. Tapi kamu udah serius kaya gini. Ya jujur aja, aku kaget dan belum siap juga dengan jawabannya. Masih banyak yang mau aku lakuin, Dit.”


“Aku ngerti, De. Aku juga ngga maksa kamu harus jawab sekarang. Cuma yang perlu kamu tahu, aku serius dan akan nunggu sampai kamu siap nerima lamaran aku.”


“Jadi aku boleh mikir-mikir dulu, kan?”


“Ya boleh, De. Please jangan anggap apa yang aku bilang ke kamu sebagai beban. Kita nikmati aja hubungan kita sekarang. Aku akan nunggu sampai kamu siap kasih jawaban.”


“Tapi gimana kalau ternyata aku nolak karena aku kepincut cowok lain?”


Dada Dewi berdebar saat mengatakan itu. Dia ingin tahu bagaimana reaksi Aditya. Kemungkinan dia bersama atau berpisah dengan Aditya peluangnya sama besar. Dewi ingin tahu bagaimana pandangan Aditya.


“Cinta kan ngga bisa dipaksakan, De. Kalau ternyata kamu sukanya sama cowok lain, aku bisa apa. Yang penting aku udah mengutarakan perasaan aku, dan berjuang mendapatkanmu. Aku emang tipe yang ngga bisa menahan perasaan, aku akan langsung bilang suka kalau memang aku suka. Aku bukan orang yang kuat memendam perasaan. Sekali lagi, ngga usah merasa terbebani. Ambil waktu selama yang kamu butuhkan untuk menyelami perasaanmu.”


Di satu sisi Dewi merasa lega mendengar penuturan Aditya, namun di sisi lain dia juga tak tega kalau sampai menyakiti perasaannya. Dilihat dari sudut manapun, Aditya adalah pria idaman semua wanita, tak terkecuali dirinya yang merasa senang dan nyaman saat bersamanya. Dewi juga takut kalau melabuhkan pada pilihan yang salah hingga membuatnya kehilangan lelaki seperti Aditya.


“Emangnya ada cowok yang kamu suka?”


Uhuk.. uhuk..


Pertanyaan Aditya sukses membuat gadis itu tersedak. Aditya segera mengambilkan gelas berisi minuman lalu memberikannya pada Dewi. Untuk beberapa saat Dewi mencoba menenangkan diri. Dia takut Aditya sampai tahu kalau dirinya tengah memendam perasaan pada mantan wali kelasnya.


“Selain Roxas, kamu ada dekat sama siapa lagi?” Aditya melanjutkan pertanyaannya.


“Ngga ada. Seperti yang aku bilang, yang nembak aku ada beberapa tapi aku tolak semua.”


“Kenapa?”


“Ya ngga suka aja.”


“Kamu udah pernah pacaran?”


“Belum. Selain ngga minat, ibu sama almarhum bapak juga ngelarang. Kamu sendiri udah pernah pacaran?”


“Udah, dua kali. Pertama waktu kelas tiga SMP, biasa cinta monyet gitu. Ngga lama, cuma lima bulan, pas lulus kita putus. Terus pas kelas dua SMA aku juga punya pacar. Lumayan lama, setahun. Tapi pas lulus kita putus. Dia kuliah di Surabaya dan kita ngga mau yang namanya LDR, akhirnya putus deh. Begitu lulus aku ngga mikir pacaran lagi. Fokus ngejar cita-cita dan sibuk kerja juga sih. Sampai aku ketemu kamu dan yakin kalau kamu jodoh yang dikirimkan Tuhan buat aku.”


“Hilih mulai gombalnya.”


“Hahahaha…”


Keduanya kembali melanjutkan percakapan. Sesekali Aditya menyuapi Dewi roti bakar miliknya. Begitu pula Dewi menyuapi Aditya pisang bakar pesanannya. Setelah berbicara dengan Aditya, Dewi menjadi lebih santai menjalani hubungannya dengan Aditya. Berarti dia masih punya waktu menyelami perasaan yang sesungguhnya. Sambil mencari tahu, apakah Adrian juga memiliki perasaan yang sama sepertinya.


🌸🌸🌸

__ADS_1


**Aditya santuy kasih waktu buat Dewi mikir. Dewi masih bingung perasaan Adrian buat dia karena Adrian belum ngomong apa². Terus iki piye?🤣


Yang pada nanya proses naik ranjangnya Dewi gimana sih? Coba kalau kalian mau tidur perhatiin gimana cara kalian naik ranjang, kurang lebih samalah kaya Dewi😜**


__ADS_2