
Waktu pernikahan Aditya dan Dewi hanya menyisakan satu minggu lagi. Kesibukan sudah mulai nampak di kediaman haji Soleh. Ratna dibantu dengan ibu-ibu penghuni kontrakannya mempersiapkan pernikahan anak dari Herman dan Nenden, yang dulu pernah menjadi tetangga terbaik mereka.
Aditya, ditambah dengan Pipit, Adrian dan Roxas memberikan sejumlah uang pada Ratna dan menyerahkan urusan pernikahan pada wanita itu. Aditya berharap pak Soleh dan bu Ratna tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk pernikahan ini. Ratna mengatur keuangan dengan sangat baik. Tidak semua uang yang diberikan keluarga Aditya dan Roxas digunakan untuk pernikahan. Tapi disisihkan juga untuk bekal hidup mereka nantinya.
Ida juga mulai sibuk menyiapkan hantaran untuk anak bungsunya. Wardani dan Cahyadi memutuskan tetap tinggal di Bandung sampai pernikahan Aditya dan Dewi digelar. Selain untuk melihat pernikahan cucu bungsunya, mereka juga ingin mengawasi hubungan Pipit dan Roxas. Jujur saja, walau masih muda, tapi mereka sudah kepincut dengan sikap Roxas.
Hubungan Roxas dan Amanda menggantung tanpa kejelasan karena pria itu lagi-lagi urung menyatakan perasaannya. Karena Wardani dan Cahyadi tetap berada di Bandung, intensitasnya bertemu dengan Amanda di luar pemotretan dan tugas mereka sebagai BA sudah pasti berkurang. Roxas lebih sering berkunjung ke kediaman Adrian untuk menyapa orang tua Pipit.
Hari ini Aditya baru saja mengucapkan perpisahan dengan tim kitchen. Pemuda itu sudah resmi mengundurkan diri dari Amarta hotel setelah kontraknya berakhir kemarin. Dia tidak melanjutkan kontrak dengan pihak hotel karena setelah menikah akan langsung disibukkan dengan urusan rekaman. Tak lupa dia mengundang semua mantan rekan kerjanya untuk datang di pernikahannya.
Selesai berpamitan dengan semua rekan kerjanya, Aditya menjemput Dewi di kampus. Hari ini mereka akan mencari cincin pernikahan. Mereka akan bertemu dengan Ida, Pipit dan Roxas di mall yang tengah berburu hantaran pernikahan.
Setelah memarkirkan kendaraannya, Aditya dan Dewi masuk ke dalam mall. Mereka langsung menuju departemen store yang berada di lantai 3 sampai 5. Di sana Ida, Pipit dan Roxas sedang membeli pernak-pernik hantaran. Tangan Roxas melambai ketika melihat calon pengantin memasuki departemen store.
“Belum beres juga?” tanya Aditya.
“Belum, buset nyokap lo ribet beud,” bisik Roxas di telinga Aditya. Pria itu hanya terkekeh saja. Ibunya memang paling rewel jika urusan membeli barang.
“Wi.. warna kesukaan kamu apa? Kata Roxas hijau,” tanya Pipit.
Tadi Roxas sempat berdebat dengan Ida. Ibu dari Aditya itu bersikukuh hendak membelikan pakaian dalam, gamis dan juga mukena berwarna pink. Sedang Roxas mengatakan kalau warna kesukaan Dewi adalah hijau. Ida tidak setuju karena gamis yang hendak dibelinya tidak ada yang berwarna hijau.
“Iya, kenapa tante?”
“Mba.. hijau kesukaannya Dewi,” Pipit melihat pada kakaknya.
“Ya nambah gamis warna pink nda akan bikin dia kena ayan kan? Ini gamisnya lucu, cocok buat seumuran dia. Benar kan, Dit?” Ida memperlihatkan gamis di tangannya.
“Iya, ma. Lucu.”
“Tuh kata Adit lucu.”
“Tapi yang mau pake kan Dewi bukan Adit,” ceplos Pipit yang sukses membuat Dewi dan Roxas terpingkal.
“Ngga apa-apa tante, itu juga bagus kok. Aku terserah tante aja.”
“Dewinya juga nda ribet kenapa kalian yang ribet.”
“Ma.. aku sama Dewi mau ke toko perhiasan dulu, ya.”
Ida hanya menjawab dengan anggukan. Aditya segera menggandeng tangan Dewi. Keduanya menuju lantai 2, tempat di mana toko perhiasan berada. Mereka akan membeli cincin pernikahan.
Mata Dewi terus memandangi etalase yang menampilkan cincin pernikahan. Dia mencari cincin dengan model sederhana saja. Telunjuknya kemudian menunjuk pada cincin dengan sebuah mata di tengahnya. Cincin terbuat dari emas putih. Sang pramuniaga mengambilkan cincin yang dimaksud kemudian mencobanya.
“Bagus ngga, Dit?” Dewi memamerkan cincin yang dikenakannya.
“Bagus. Tapi itu matanya ngga kekecilan?”
“Ngga ah. Aku lebih suka yang begini.”
“Ya udah ambil aja.”
Dewi menyerahkan cincin pada pramuniaga toko. Dia kemudian mendekati Aditya yang tengah memilih cincin berbahan perak untuk dirinya. Tangannya kemudian menunjuk sebuah cincin yang bentuknya hampir mirip dengan yang dipilih oleh Dewi. Setelah mencoba dan dirasa pas, dia meminta kedua cincin tersebut dimasukkan ke dalam kotak beludru.
Aditya segera melakukan pembayaran, kemudian menyusul ibu dan tantenya yang juga sudah selesai berbelanja. Aditya mengajak semuanya menuju food court yang ada di lantai atas. Sebelum menuju ke sana, Roxas menarik tangan Pipit lalu berbisik pelan pada wanita itu.
“Tan.. temenin aku sebentar.”
“Kemana?”
“Ke toko perhiasan. Aku mau beli hadiah pernikahan buat Dewi.”
“Oh.. ok.”
“Mba, Dit, Dewi.. kalian duluan aja ya. Nanti kita nyusul,” ujar Pipit lagi.
“Mau kemana?” tanya Ida.
“Mau beli sesuatu.”
Pipit segera menarik tangan Roxas keluar dari departemen store. Keduanya menuju toko perhiasan yang tadi dikunjungi Aditya dan Dewi. Mata Roxas memandangi deretan kalung beserta liontinnya yang terpajang di etalase. Dia bermaksud membelikan kalung emas sebagai hadiah pernikahan untuk sahabatnya.
“Tan.. bagusnya yang mana kalungnya?” Roxas melihat pada Pipit.
“Kamu mau beli yang berapa gram?”
“10 gram kekecilan ngga?”
“Cukup kok. Yang ini bagus. Kamu mau liontinnya model apa?”
“Yang mana ya…”
Roxas terus memperhatikan deretan liontin yang ada di sana. Sang pramuniaga juga mengeluarkan liontin koleksi terbaru mereka. Akhirnya tangan Roxas menunjuk pada liontin dengan bentuk matahari yang di tengahnya terdapat bulan sabit.
__ADS_1
“Yang ini, mba.”
“Bentuk apa tuh?” tanya Pipit.
“Matahari sama bulan. Adit mataharinya, Dewi bulannya. Pas kan?”
“Iyalah dipas-pasin aja, hahaha..”
“Dih si tante ngga ada romantisnya.”
“Rokok makan gratis maksudnya, hahaha..”
“Beneran si tante mah, susah diajak romantis apalagi ngegombal. Yakin ngga ada laki yang kuat sama modelan tante, hahaha. Awas jadi perawan tua, tan.”
“Gampang, kalau ngga ada yang mau sama aku, tinggal geret kamu aja ke depan penghulu hahaha..”
“Buset, emang kambing main geret aja, hahaha…”
Pramuniaga toko segera membungkus kalung pilihan Roxas. Pria itu lalu melakukan pembayaran, kemudian keluar dari sana. Dia menitipkan kalung pada Pipit karena tak mau Dewi curiga kalau dirinya membawa paper bag berisi hadiah pernikahan untuknya. Keduanya segera menyusul sang sahabat ke food court.
🌸🌸🌸
Matahari sudah muncul dari peraduannya. Sinarnya mulai menerangi bumi, walau masih terhalang awan. Aditya berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi pepohonan di depan kamarnya. Sisa-sisa embun masih terlihat di ujung daun, namun sebentar lagi akan menghilang terkena paparan matahari.
Adrian mengetuk pintu kamar kemudian masuk ke dalamnya. Aditya masih bergeming di tempatnya. Sang adik sudah siap mengenakan beskap berwarna putih. Perlahan Adrian datang mendekat kemudian berdiri bersisian dengan adiknya.
“Kamu sudah siap?” tanya Adrian.
“Aku.. takut bang.”
“Takut kenapa?”
“Takut ngga bisa mengucapkan ijab kabul dengan lancar, hehehe..”
“Tenang aja, kamu pasti bisa. Semalam kita sudah latihan kan.”
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Aditya. Pria itu kemudian membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Adrian. Sejenak dia memandangi kakak yang begitu disayanginya itu, kemudian melemparkan senyuman padanya.
“Bang.. makasih selama ini sudah banyak membantuku. Maaf kalau aku sudah terlalu sering merepotkanmu. Hari ini aku akan menempuh hidup baru, aku akan menjadi suami dari perempuan yang aku cintai. Aku harap aku bisa membuatnya bahagia.”
“Kamu pasti bisa melakukannya. Abang yakin itu,” Adrian memegang sebelah bahu Aditya dengan erat.
“Doakan aku ya, bang.”
Kedua pria itu berpelukan. Aditya sungguh bersyukur memiliki kakak yang begitu sayang dan perhatian padanya. Dirinya yang kekurangan perhatian dan kasih sayang sang ayah sejak kecil, tidak begitu merasakannya karena Adrian sudah menggantikan peran papanya itu dengan sangat baik, sampai sekarang. Pelukan keduanya terurai ketika Pipit datang dan mengajak mereka keluar.
“Udahan dulu peluk-pelukkannya, sekarang kita berangkat. Udah pada siap tuh.”
Sambil merangkul bahu Aditya, Adrian keluar dari kamar. Di ruang depan, Toni, Ida, Wardani dan Cahyani sudah menunggu. Semuanya langsung keluar dari rumah begitu melihat pengantin pria sudah siap untuk pergi. Toni, Ida, Wardani dan Cahyadi berada di mobil Toni. Sedang Pipit dan Aditya berada di mobil Adrian. Keduan kendaraan tersebut segera berjalan menuju kontrakan haji Soleh.
Selain keluarga kecil mereka, kakak dan adik Ida yang lain juga turut datang. Mereka sudah sejak semalam tiba di Bandung dan menginap di hotel. Adrian mengirimkan lokasi tempat acara pernikahan berlangsung, dan mereka langsung menuju ke sana. Begitu pula dengan adik Toni yang tinggal di Bandung. Rani dan keluarga kecilnya segera menuju tempat acara. Toni hanya memiliki satu adik perempuan saja, sedang orang tuanya sudah meninggal.
Iringan kendaraan berhenti di lapangan yang sudah disewa menjadi lahan parkir khusus untuk acara hari ini. Pipit langsung membagikan hantaran pada anggota keluarga yang lain sebelum mereka menuju kediaman haji Soleh. Ida dan Toni berjalan mengapit Aditya, Wardani dan Cahyadi berjalan di belakang mereka, disusul oleh Adrian, Pipit dan yang lainnya.
Seorang pria mengenakan pakaian adat Sunda menyambut kedatangan mereka. Dia ditugaskan sebagai pembuka pintu yang menyambut keluarga mempelai pria. Di belakangnya sudah berdiri beberapa penari yang menyambut keluarga pengantin dengan tarian mapag panganten.
Aditya terus memperhatikan para penari yang dengan lemah gemulai memperagakan tariannya. Jantungnya berdegup dengan kencang karena sebentar lagi akan berhadapan dengan penghulu untuk membayar tunai kekasihnya. Setelah tarian selesai, mereka melanjutkan perjalanan sampai ke depan keluarga Dewi yang diwakili oleh Nandang.
Nandang menerima kedatangan Aditya beserta keluarga dengan hangat dan mempersilahkan pria itu menuju meja akad. Di sana sudah menunggu penghulu dan haji Soleh yang akan menjadi saksi dari pihak wanita. Sedang dari pihak laki-laki, kakak dari Ida yang akan menjadi saksi.
Semua yang berkepentingan sudah duduk di meja akad. Aditya duduk berhadapan dengan Nandang. Dewi belum ada di sana. Gadis itu masih berada di kamar, dia baru akan keluar setelah ijab kabul selesai diucapkan. Petugas KUA memeriksa lebih dulu kelengkapan dokumen kedua mempelai. Setelah semuanya lengkap, sang penghulu mempersilahkan Nandang memulai prosesi akad.
Nandang melihat sebentar pada Aditya kemudian menggenggam tangan pria itu yang terasa dingin. Dia memberi waktu pada Aditya untuk menarik nafas panjang beberapa kali sebelum memulai akad.
“Bismillahirrahmanirrahiim…” Nandang memulai prosesi akad.
“Ananda Aditya Bramasta, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya, Dewi Mantili binti Herman Suherman dengan mas kawin uang tunai sebesar dua juta dua puluh tiga ribu rupiah dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Mantili binti Herman Suherman dengan mas kawin tersebut tunai!”
Dengan suara lantang dan satu helaan nafas Aditya menjawab ijab yang dikatakan oleh Nandang. Dadanya berdebar menunggu satu kata yang terlontar dari dua pria yang menjadi saksi pernikahan.
“SAH!”
“Alhamdulillahirrabbil ‘aalamiin..”
Semua yang menyaksikan acara akad tersebut mengusap wajah dengan kedua tangan seraya mengucapkan hamdalah. Aditya memejamkan matanya, bersyukur ketengangan yang begitu sangat berhasil dilewati dengan selamat. Adrian tersenyum tipis melihat sang adik akhirnya resmi menjadikan Dewi sebagai makmum hidupnya.
Dari arah dalam rumah, Dewi keluar ditemani oleh Ratna dan juga Amel. Mereka membimbing Dewi menuju meja akad kemudian mendudukkan Dewi di samping Aditya. Jantung Dewi berdegup kencang ketika melihat pria di sebalahnya yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya.
Aditya mengambil kotak beludru berisikan cincin pernikahan kemudian menyematkannya di jari manis Dewi. Demikian Dewi yang memasangkan cincin di jari Aditya. Selanjutnya gadis itu meraih tangan Aditya kemudian mencium punggung tangannya. Sang suami membalasnya dengan ciuman di kening.
Petugas KUA menyerahkan dokumen pernikahan yang harus ditanda tangani. Setelah itu kedua pengantin mendengarkan nasehat seputar pernikahan dengan sungguh-sungguh. Usai memberikan wejangan tentang hak dan kewajiban suami istri, sang penghulu mempersilahkan kedua pengantin menerima wejangan dari para orang tua.
__ADS_1
Tak ada kata-kata yang mampu Nandang ucapkan. Pria itu hanya menitipkan Dewi pada Aditya sebagai pengganti kedua orang tuanya. Dia juga berpesan supaya Aditya dan Dewi sering-sering mengunjungi dirinya juga Iis di kampung. Di akhir nasehatnya Nandang memeluk Aditya dan Dewi bergantian.
Selesai dengan Nandang, Dewi menghambur pada Iis. Gadis itu tak kuasa menahan tangisnya dalam pelukan adik bungsu bapaknya. Iis juga tidak bisa menahan airmatanya. Sambil mengusap punggung keponakannya, Iis memberikan sedikit nasehat untuk keduanya.
“Sekarang kamu sudah jadi istri, jadilah istri yang baik. Patuhi suamimu selama mengajakmu dalam kebenaran. Bibi akan selalu mendoakan kebahagiaan untuk kalian. Adit.. bibi titip Dewi, tolong sayangi dan jaga dia.”
“In Syaa Allah, bi.”
Dewi dan Aditya kemudian bersalaman dengan Karta yang juga mendoakan kebahagiaannya. Lalu pada Tita, kedua pengantin itu hanya bersalaman saja. Tak ada kata-kata atau doa yang diberikan oleh istri Nandang tersebut. Mereka langsung menuju Toni dan Ida.
“Jadilah suami dan imam yang baik untuk istrimu. Papa akan selalu mendoakanmu. Dewi.. sekarang kami adalah orang tuamu juga, jangan sungkan untuk datang pada kami kalau kamu membutuhkan sesuatu.”
“Terima kasih, pa.”
“Mama percaya kamu sudah sanggup untuk membimbing istrimu. Mama sayang kamu,” Ida mencium kening Aditya.
“Dewi.. jadilah istri yang baik untuk suamimu. Mama akan mendoakan kebahagiaan kalian,” Ida memeluk Dewi.
“Terima kasih, ma.”
Setelah menemui kedua orang tuanya, Aditya mengajak Dewi bertemu dengan kakek neneknya. Sama seperti Toni dan Ida, pasangan tersebut juga mendoakan kebaikan untuk cucu dan cucu menantunya. Mereka berharap Aditya segera memberikan cicit untuk mereka.
“Bang..” Aditya memeluk Adrian begitu berhadapan dengan kakaknya itu.
“Selamat, Dit. Akhirnya salah satu impianmu terwujud. Abang akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Abang percaya kamu mampu membahagiakan Dewi dan melindunginya.”
“Terima kasih, bang.”
Aditya menyusut air di sudut matanya. Kemudian dia mempersilahkan Dewi berbicara dengan Adrian. Mata Dewi berkaca-kaca ketika berhadapan dengan pria yang menjadi cinta pertamanya. Kerongkongannya serasa tercekat, tak ada kata-kata yang mampu terucap dari bibirnya.
“Boleh aku memelukmu?” tanya Adrian dan hanya dijawab anggukan oleh Dewi.
Tangan Adrian merengkuh bahu Dewi kemudian memeluknya dengan erat. Sekuat mungkin Adrian menahan airmatanya yang rasanya mendesak hendak keluar. Toni memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tahu bagaimana terlukanya perasaan Adrian saat ini. Namun dirinya tidak bisa melakukan apapun.
“Terima kasih sudah menerima Adit menjadi bagian hidupmu. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu juga Adit. Aku menyayangimu seperti aku menyayangi Adit. Mulai sekarang, kamu adalah adikku.”
Akhirnya Adrian mampu juga mengeluarkan kata-kata bijak yang sebenarnya justru begitu menyakitkan baginya. Kata adik yang diucapkan seperti sembilu tajam yang menusuk hatinya dan meninggalkan luka menganga yang begitu dalam. Perlahan pria itu melepaskan pelukannya.
“Dewi.. selamat ya, tante senang kamu menjadi bagian keluarga kami. Kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan bilang ke tante.”
“Iya, tante. Makasih.”
“Dit..” Pipit menghampiri Aditya kemudian memeluknya.
“Tante..” Aditya tak sanggup melanjutkan kata-katanya saking terharunya.
“Jadilah suami yang baik. Jangan lupa pake kond*m, kalian masih terlalu muda buat punya anak,” bisik Pipit yang sukses membuat mata Aditya melotot.
“Tante please deh..”
“Hahaha…”
Pelukan keduanya terurai kemudian pria itu menuju sahabatnya, Roxas. Keduanya langsung berpelukan. Roxas tahu betul bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan Dewi. Dia bersyukur memiliki sahabat baik seperti Roxas dalam hidupnya.
“Thanks, bro. Selama ini lo selalu ada di samping gue.”
“Selamat, bro. Gue titip Dewi.”
“Siap, mang.”
“Mau gue hajar lo?”
“Hahaha…”
Aditya melepaskan pelukannya masih dengan tawa yang mengiringi. Dia selalu tak bisa menahan tawanya kalau mengingat bagaimana hubungan sahabatnya itu dengan Pipit. Dia terpaksa berpura-pura menjadi kekasih sang tante.
“Mang..”
Dewi meraih tangan Roxas dan berusaha mencium punggung tangannya. Dengan cepat Roxas menarik tangannya kemudian melepaskan jitakan di kepala Dewi.
“Sakit monyong,” ujar Dewi pelan.
“Bodo.”
“Ada camer lo. Masa iya gue manggil lo, Rox doang,” Dewi masih berkata dengan suara berbisik.
“Ya kaga usah cium tangan juga keles. Geli gue.”
Pipit menundukkan kepalanya, sebisa mungkin menahan tawa yang hendak keluar. Di acara sakral seperti ini pun keponakannya masih bisa bergurau. Adrian yang masih berada dalam suasana mellow pun tak bisa menahan senyumnya. Melihat Roxas dan Pipit merupakan hiburan tersendiri untuknya.
🌸🌸🌸
**Selamat ya Adit & Dewi semoga menjadi keluarga samawa🤗
__ADS_1
Yang kecewa akhirnya Dewi nikah juga sama Adit, maaf ya.. Jalannya sudah begini. Kalau yang bayar tunai Adrian, judulnya jadi Menikahi Calon Kakak Ipar dong🤭**