
Aku up novel jam setengah 8 pagi. Dari semalem NT nge bug, entah jam berapa novel ini nongol di notif kalian. **Happy Readimg gaeessss...
🌸🌸🌸**
Tepat jam sepuluh pagi, Aditya beserta keluarga sudah datang ke kediaman Nandang untuk melamar Dewi secara resmi. Selain mereka, haji Soleh dan istrinya juga ikut datang didampingi oleh Roxas. Mereka juga ingin menjadi bagian keluarga Dewi. Seperti yang pernah dikatakan haji Soleh, kedua orang tua Dewi memang sudah mempercayakan gadis itu pada mereka.
Nandang, Iis dan Karta menyambut kedatangan mereka dengan ramah dan senyum tersungging di bibir. Tapi tidak dengan Tita, wajah wanita itu terlihat masam dan enggan untuk memberikan senyumnya. Ida yang memang belum sepenuhnya menyetujui pernikahan ini begitu kesal melihat Tita.
“Itu siapa sih?” tanya Ida pada Pipit.
“Itu bibinya Dewi, istrinya pak Nandang.”
“Asem banget mukanya.”
“Dia emang ngga setuju Dewi sama Adit. Dia maunya Dewi nikah sama si Basoka, anak juragan tanah di desa ini.”
“Memangnya apa kurangnya anakku? Sembarangan ngga kasih restu, memangnya dia siapa? Sudah jelek, muka ditekuk begitu tambah jelek aja.”
“Hahahaha…”
Pipit tak bisa menahan tawanya mendengar kelutusan sang kakak. Dia memang sengaja mengungkit masalah perjodohan Dewi dengan Soka, untuk melihat reaksi Ida. Sesuai prediksi, wanita itu langsung mengaum ketika merasakan sang anak direndahkan oleh Tita.
Toni yang mendengarkan percakapan kedua wanita di dekatnya hanya menggelengkan kepalanya saja. Pipit pandai sekali memancing sang kakak. Sepertinya Ida akan menjadi tameng anaknya jika Tita macam-macam.
“Selamat datang untuk pak Toni dan keluarga. Mohon maaf kalau sambutan kami hanya seperti ini,” Nandang membuka pembicaraan.
“Terima kasih pak Nandang. Alhamdulillah, ini sudah lebih dari cukup. Perkenalkan ini Ida, istri saya, mamanya Adit. Ini Pipit, tante Adit dan ini Adrian, kakaknya.”
Nandang melayangkan senyuman pada orang-orang yang dikenalkan Toni. Dia sudah mengenal Adrian dan Pipit, tapi belum mengenal Ida. Tita melihat sinis pada Ida, tapi wanita itu balas menatap Tita tak kalah sinisnya.
“Selamat datang juga untuk pak haji Soleh dan istri yang sudah bersedia datang. Terima kasih, pak.”
Haji Soleh hanya menganggukkan kepalanya seraya melemparkan senyuman. Begitu pula dengan Ratna. Wanita itu tersenyum pada semua yang ada di sana, termasuk pada Ida dan Tita. Ida membalas senyum wanita itu, namun wajahnya kembali sinis ketika melihat pada Tita.
“Kedatangan kami untuk mengantar anak bungsu saya, Aditya yang memiliki niat baik untuk melamar nak Dewi. Saya tahu usia mereka masih muda, tapi jika keduanya sudah merasa siap dan bertanggung jawab dengan keputusan yang diambil, maka saya hanya bisa merestui dan memberikan dukungan. Kiranya, apakah pak Nandang dan keluarga mau menerima lamaran ini?”
“Secara pribadi, saya tidak keberatan dengan lamaran ini. Tapi karena Dewi yang akan menjalaninya, maka jawaban lamaran sudah sepantasnya kalau Dewi yang menjawabnya.”
Nandang melihat pada Dewi yang duduk di samping Iis. Sedari tadi gadis itu hanya menundukkan kepalanya. Iis menyenggol lengan Dewi hingga membuat gadis itu mengangkat kepalanya.
“Dewi.. apa jawabanmu?” tanya Nandang.
Dewi tak langsung menjawab. Dia melihat pada Iis lebih dahulu. Wanita itu menganggukkan kepalanya, pertanda menyerahkan semua keputusan pada gadis itu. dewi menarik nafas panjang sebelum memberi jawabannya.
“In Syaa Allah, aku terima.”
Pandangan Dewi dan Aditya bertemu ketika gadis itu memberikan jawabannya. Wajah Aditya langsung menyunggingkan senyuman. Lesung pipi yang begitu disukai Dewi terlihat saat pria itu tersenyum. Semua langsung mengucapkan hamdallah ketika Dewi selesai dengan jawabannya.
“Alhamdulillah kalau Dewi setuju. Selanjutnya kita akan membicarakan kapan baiknya pernikahan dilakukan,” lanjut Toni.
“Kalau Dewi berkenan, aku ingin melaksanakan pernikahan bulan depan. Sebelum aku masuk dapur rekaman,” mata Aditya menatap lurus pada Dewi.
Ida cukup terkejut mendengar jawaban anaknya. Dia tak menyangka Aditya akan secepat ini melepas masa lajangnya. Serta merta wanita itu melihat pada Toni. Tapi nampaknya Toni sudah tahu perihal tersebut. Suaminya itu terlihat tenang-tenang saja.
“Apa ngga terburu-buru? Sebulan itu waktu yang singkat untuk mempersiapkan pernikahan,” terdengar suara Tita. Sontak semua mata melihat padanya.
“Membuat pesta pernikahan itu bukan seperti buat pesta ulang tahun. Perlu persiapan, perlu waktu,” lanjut Tita.
“Saya mengerti, bi. Tapi saya dan Dewi sudah memutuskan untuk menggelar pesta sederhana saja. Hanya akad nikah dan perayaan sederhana dengan mengundang saudara, tetangga teman-teman dekat saja,” jawab Aditya tenang.
“Dewi itu anak tunggal. Masa pernikahannya biasa-biasa saja? Kalau acaranya biasa-biasa saja, nanti sidangkanya Dewi udah di DP duluan.”
Mata Nandang membulat mendengar ucapan Tita. Sepertinya istrinya itu masih berusaha menggagalkan pernikahan Dewi. Ida karuan meradang mendengar ucapan Tita. Dia sudah tidak bisa menahan mulutnya lagi untuk tidak berkomentar.
“Maksudnya apa? Anakku itu anak baik-baik, dia nda mungkin macam-macam kalau belum halal. Mulutmu nda disekolahin ya? Anakku juga mampu menggelar pesta besar untuk keponakanmu,” mata Ida melotot melihat pada Tita.
__ADS_1
“Mba.. sabar, mba..” Pipit berusaha menangkan kakaknya sebelum suasana bertambah panas.
“Ya wajar kan kalau dibuat pesta besar. Dewi anak satu-satunya kang Herman. Masa nikahnya cuma akad aja sama pesta seadanya.”
“Bibi mau pesta seperti apa? Katakan saja, kami akan mengabulkannya. Tapi saya ngga mau bibi yang menghandle acara pernikahan. Biar bi Iis yang melakukannya.”
Semua orang langsung menolehkan kepalanya pada Adrian. Pria yang sedari tadi duduk tenang kini mulai mengeluarkan tanduknya. Matanya menatap tajam pada Tita, sampai-sampai wanita itu bersembuyi dibalik punggung Nandang.
“Maaf, bi. Bukannya aku ngga menghargai maksud baik bibi. Tapi ini adalah pernikahanku. Aku dan Adit memang hanya menginginkan pesta yangs sederhana saja. Bagi kami, kehidupan setelah pernikahan lebih penting. Uang untuk pesta lebih baik digunakan untuk hidup kami nantinya,” jawab Dewi berusaha meredakan ketegangan.
“Ini kan cuma usul. Lagian saya heran, kalau belum mampu secara ekonomi kenapa maksa nikah sih,” lanjut Tita.
“Bi.. Adit itu sudah lebih dari mampu untuk menghidupi Dewi, termasuk membiayai kuliahnya. Bibi ngga usah khawatir mereka minta bantuan bibi setelah menikah nanti. Lagi pula keluarga Adit juga tidak akan membiarkan mereka kesusahan. Kenapa bibi kesannya mau menghalangi pernikahan mereka? Apa karena calon yang bibi jodohkan? Yang istrinya udah dua tapi masih mau nambah?” emosi Roxas ikut terpancing mendengar kata-kata Tita.
“Roxas.. tenang, nak.”
Soleh menepuk paha Roxas pelan. Acara lamaran yang awalnya berjalan lancar jadi penuh perdebatan ketika Tita mulai membuka suaranya. Wajah Nandang sudah memerah menahan rasa malu dan marah atas tingkah istrinya.
“Maaf atas kelancangan istri saya. Pada intinya saya setuju dan mengikuti saja apa keinginan Aditya dan Dewi. Pernikahan akan dilangsungkan bulan depan,” lanjut Nandang.
“Alhamdulillah,” seru haji Soleh yang sedari tadi hanya menjadi penyimak saja.
“Tapi pernikahan tidak bisa dilakukan di rumah ini. Kalian tahu saya masih punya anak gadis yang belum menikah. Pamali kalau kata orang Sunda, menikahkan orang lain di rumah yang masih punya anak gadis yang belum menikah. Bisa-bisa Nita jadi jomblo seumur hidup.”
Wajah Nandang mengeras, dia sudah cukup malu dengan tingkah istrinya ini. Begitu pula dengan Iis, wanita itu menatap kakak iparnya tanpa berkedip. Tangannya sedari tadi sudah gatal ingin menampar mulut Tita. Dewi hanya mampu menundukkan kepalanya, dia sangat malu dengan sikap Tita di depan keluarga Aditya.
“Ibu Tita tidak usah khawatir. Dewi tidak akan menikah di sini. Dia akan menikah di kediaman saya.”
Dewi mengangkat kepalanya kemudian melihat pada Ratna. Istri dari haji Soleh itu sudah tidak bisa menahan diri lagi. Sedari tadi dia sudah sangat bersabar mendengar ocehan Tita yang tidak jelas.
“Kalian juga tidak perlu memikirkan biaya pernikahan Dewi. Saya dan suami yang akan menanggungnya. Maaf, bukannya saya mengecilkan pak Nandang beserta keluarga, tapi sekali lagi, orang tua Dewi menitipkan Dewi pada kami. Jadi biar kami yang bertanggung jawab atas pernikahannya. Kalian cukup datang dan memberikan restu saja,” tegas Ratna.
Mata Dewi berkaca-kaca mendengar penuturan Ratna. Kerongkongan gadis itu terasa tercekat, tak bisa mengatakan apapun. Buliran bening mulai berjatuhan dari kedua matanya. Iis menarik keponakannya ini ke dalam pelukannya. Begitu pula dengan Nandang yang sangat malu dengan kelakuan istrinya.
“Baiklah waktu pernikahan sudah disepakati. Soal mas kawin dan hantaran pernikahan, kita serahkan saja pada pasangan pengantin. Kami hanya tinggal mengeksekusinya jika sudah ada kata sepakat,” tutup Toni yang diangguki semua orang.
🌸🌸🌸
Nandang beserta Iis dan Karta mengantarkan Toni sekeluarga yang hendak pulang ke Bandung. Pria itu berjalan bersisian dengan Toni sambil berbincang ringan. Nandang berhenti di dekat mobil Toni.
“Terima kasih pak Toni atas semuanya. Mohon maaf kalau istri saya menyinggung perasaan bapak sekeluarga.”
“Sama-sama pak Nandang. Terima kasih sudah menerima keluarga kami dengan baik.”
“Atas nama istri saya, sekali lagi saya ucapkan maaf.”
“Kita saling memaafkan saja, pak.”
Nandang menyalami tangan Toni kemudian membukakan pintu mobil untuk pria itu. Adrian naik ke belakang kemudi, disusul oleh Aditya, Pipit dan Ida. Toni membuka kaca jendela mobil kemudian melambaikan tangannya saat kendaraan bergerak maju. Selesai mengantarkan keluarga Aditya, kini pria itu menghampiri haji Soleh beserta istri.
“Pak haji.. terima kasih atas segalanya. Mohon dimaafkan kelancangan istri saya.”
“Sama-sama pak Nandang. Soal pernikahan Dewi, seperti yang istri saya bilang, kalian tidak usah khawatir. Biar itu menjadi urusan kami.”
“Terima kasih pak haji, terima kasih.”
“Pak Nandang itu seorang suami, pemimpin untuk keluarganya. Jika ada anggota keluarga yang menyimpang, tentunya pak Nandang berkewajiban untuk meluruskannya. Benar pak?”
“Iya, pak. Sekali lagi, mohon maafkan istri saya.”
“Saya sudah dengar soal istrimu yang mencoba menikahkan Dewi dengan pria beristri, keterlaluan sekali! Kalau tidak lihat pak Nandang, sudah habis istrimu itu,” kelutus Ratna yang masih kesal pada Tita.
“Sekali lagi saya mohon maaf.”
“Didik istrimu lebih baik lagi, kalau kamu tidak mau diseret masuk ke dalam neraka,” tutup Ratna.
__ADS_1
Ratna segera meninggalkan suaminya juga Nandang. Dia memilih menghampiri Dewi yang masih berbicara dengan Iis. Tita hanya memperhatikan mereka semua dari dekat pintu. Dia tak ada kebaranian mendekat melihat sikap Ratna yang terkesan tak menyukainya.
“Wi.. ayo kamu pulang sama kami. Kamu kan masih harus kuliah,” ujar Ratna.
“Iya, bu. Bi.. aku pulang dulu, ya.”
“Iya, hati-hati. Titip Dewi bu haji.”
“Iya, tenang aja.”
Dewi mencium punggung tangan Iis dan Karta bergantian. Ratna merangkul Dewi dan membawanya pergi. Gadis itu terlebih dulu berpamitan dengan Nandang seraya mencium punggung tangannya. Haji soleh naik ke atas mobil, lalu duduk di samping Roxas yang sudah siap di belakang kemudi. Dewi dan Ratna menyusul masuk, duduk di kursi penumpang. Setelah membunyikan klakson, Roxas menekan pedal gas dan membawa pergi kendaraan milik haji Soleh tersebut meninggalkan kediaman Nandang.
Iis segera mengajak Karta pulang ke rumahnya. Dia malas harus berhadapan dengan Tita lagi. Perabotan kotor yang tadi dipakai untuk menjamu tamu juga sudah dicuci bersih olehnya. Jadi dia bisa langsung pulang ke rumah. Wanita itu hanya berpamitan saja pada Nandang, tidak pada Tita.
“Keterlaluan kamu,” ujar Nandang pada Tita begitu sudah berada di dalam rumah.
“Yang aku bilang benar,” elak Tita yang tetap tidak mau mengakui kesalahannya.
“DIAM!! Selama ini akang diam bukan berarti takut padamu. Tutup mulutmu dan berhenti melakukan hal memalukan! Kalau kamu tidak berubah, bersiaplah untuk kupulangkan pada kedua orang tuamu!”
“Kang…”
BLAM!!
Tita terkejut ketika Nandang membanting pintu tepat di depan wajahnya. Baru saja wanita itu hendak masuk ke dalam kamar, terdengar suara orang mengetuk pintu. Tita bergegas membukakan pintu. Dia terkejut melihat Badra, anak buah Wahyu berdiri di depan pintu.
“Kang Badra..”
“Saya diutus juragan untuk menagih uang juragan. Sudah ada?”
“Aduh, maaf belum ada kang,” wajah Tita langsung pucat pasi.
“Saya ngga mau berbuat kasar padamu mengingat Nandang itu teman saya. Saya kasih waktu sampai lusa. Kalau kamu belum bisa mengembalikan uang tersebut, maka siapkan Nita untuk menikahi den Soka.”
“Sa.. saya akan siapkan uangnya. Tolong berikan waktu pada saya. Tolong, kang.”
Kedua tangan Tita menangkup di depan Badra, memohon lelaki tersebut mau memberinya waktu lebih lama. Namun pria itu bergeming, dan hanya memberi waktu dua hari saja untuk wanita itu mengganti uang yang diterimanya dari Wahyu.
Begitu Wahyu pergi, Tita bergegas menyusul suaminya di dalam kamar. Nandang sebenarnya mendengarkan pembicaraan antara Badra dan istrinya tadi. Dia juga sudah berunding dengan Iis. Namun adiknya itu tidak bisa membantunya sama sekali. Pria itu hanya bisa pasrah dengan keadaan. Semua memang kesalahan istrinya. Dia juga salah, sudah membiarkan istrinya salah jalan selama ini.
“Kang..” panggil Tita.
Tak ada jawaban dari Nandang. Pria itu hanya diam berdiri di depan jendela, menatap pepohonan yang ada di depan jendela kamarnya. Tita mendekati suaminya, kemudian menepuk punggungnya pelan.
“Kang.. tadi kang Badra ke sini. Gimana kang?”
“Akang sudah ke bank, mau menggadaikan rumah ini lagi. Tapi ternyata pihak bank ngga mau memberikan pinjaman. Kamu pasti tahu kan sebabnya?”
Mulut Tita terbungkam. Wahyu adalah orang yang berpengaruh di sini. Dia pasti sudah menggunakan pengaruhnya, menekan pimpinan cabang bank untuk tidak memberikan pinjaman pada suaminya. Sepertinya pria itu memang berniat menjadikan Nita sebagai calon menantunya.
“Terus bagaimana, kang?”
“Bagaimana lagi? Jelas-jelas juragan Wahyu menutup akses buat kita mendapatkan pinjaman. Tujuannya cuma satu, supaya kita menikahkan Nita dengan den Soka. Ini semua salahmu yang terlalu rakus.”
“Lalu kita harus bagaimana kang? Aku ngga mau Nita jadi istri ketiga,” Tita mulai menangis.
“Kamu tidak mau Nita jadi istri ketiga, tapi kamu maksa Dewi supaya mau menikah dengannya.”
“Kang…” Tita mengguncang lengan Nandang.
“Sudahlah, kita pasrah saja. Mungkin sudah takdir Nita harus menjadi istri ketiga den Soka.”
Nandang melepaskan tangan Tita dari tangannya kemudian meninggalkan kamar. hatinya sakit harus melepas anak sulungnya pada pria yang sudah beristri dua. Tapi dia juga tidak berdaya. Dirinya tak punya uang untuk membayar kembali uang Wahyu yang diterima oleh Tita. Meminta bantuan Dewi atau Aditya pun sungkan. Nandang hanya bisa berdoa, walau hanya menjadi istri ketiga, Soka akan memperlakukan anaknya itu dengan kasih sayang.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Boleh ngakak ngga sih?🤭