
Pipit terus memeriksa berkas yang diberikan anak buahnya. Waktu liburnya hanya dua hari, karena pernikahannya yang dadakan, dia tak bisa mengambil cuti lama. Matanya melirik jam di pergelangan tangannya. Sebentar lagi, jam kerjanya akan usai. Roxas sudah mengirimkan pesan akan menjempunya di hotel.
Setelah menandatangi dokumen terakhir, Pipit segera membereskan barang-barangnya. Wanita itu berdiri kemudian meninggalkan meja kerjanya. Dia melangkah keluar dari pintu khusus karyawan. Pipit terkejut melihat Bayu sudah berdiri di hadapannya.
“Mas Bayu..”
“Pit.. temani aku makan, yuk.”
“Maaf mas, aku ngga bisa.”
Pipit segera berlalu dari Bayu. Dia mempercepat langkahnya menuju gerbang hotel. Namun Bayu yang tidak tahu soal pernikahan Pipit dan Roxas, tanpa menyerah terus menyusulnya. Dia memegang tangan Pipit, menahan pergerakan tangan wanita itu. Pipit berusaha melepaskan pegangan bayu, namun tenaga pria itu lebih besar darinya.
“Mas, lepas."
“Aku akan lepas kalau kamu janji ngga akan pergi.”
“Mas, jangan gini. Aku udah nikah.”
“Apa?”
Terkejut mendengar perkataan Pipit, refleks Bayu melepaskan pegangannya. Matanya kemudian melihat pada jari manis wanita itu. Sebuah cincin pernikahan sudah bertengger manis di jarinya.
“Kamu bohong kan, Pit? Kamu nikah sama siapa?”
“Aku..”
Pandangan Bayu langsung beralih pada suara yang menyambar percakapannya. Roxas datang mendekat lalu memeluk pingang istrinya dengan mesra. Bayu melihat kemesraan keduanya dengan tatapan tak percaya. Seminggu yang lalu saat bertemu dengan Pipit, wanita itu belum menikah.
“Kapan kalian menikah?”
“Dua hari yang lalu. Maaf kalau kami tidak mengundang. Nanti saja saat resepsi di Magelang. Sekalian om Bayu pulang kampung,” jawab Roxas sambil menatap pria di depannya tanpa berkedip.
“Pit.. ini bohong kan?”
“Benar, mas. Aku dan Roxas sudah menikah. Aku sudah pernah bilang kalau hubungan di antara kita tidak mungkin terjalin lagi. Kamu hanya masa laluku, sedang masa depanku adalah Roxas. Dia adalah suamiku sekarang. Aku harap mas tidak mengejarku lagi. Ayo, Xas.”
Roxas segera membawa Pipit menjauh dari Bayu, menuju tempatnya memarkir si hejo. Setelah memakaikan helm pada Pipit, Roxas segera naik ke tunggangannya. Si hejo segera meluncur pergi. Pipit memeluk pinggang Roxas sambil menyandarkan kepala ke punggung suaminya.
Tak ada perbincangan selama perjalanan pulang. Mereka langsung menuju kontrakan. Perasaan Roxas sendiri campur aduk, antara senang dan juga cemburu. Dia senang karena Pipit sudah mengakuinya sebagai suami di depan Bayu. Tapi pria itu tak bisa menepis rasa cemburunya saat melihat Pipit hanya diam saja sejak meninggalkan hotel. Sepertinya wanita itu masih memikirkan Bayu.
“Apa kamu masih mencintai Bayu?” tanya Roxas ketika mereka sudah berada di kontrakan.
“Itu sudah tidak penting lagi.”
“Tapi itu penting bagiku.”
“Berhentilah bersikap seperti anak kecil. Kita sudah menikah. Hal seperti itu sudah tidak penting lagi.”
“Jawab saja, apa kamu masih mencintainya?”
“Kalau aku jawab iya. Apa yang mau kamu lakukan?”
“Maka aku akan menghilangkan namanya dari hati dan pikiranmu. Aku akan memastikan hanya aku yang ada dalam hatimu dan juga pikiranmu.”
“Oh ya? Bagaimana caranya? Dengan sikap kekanakkanmu?”
Tak ada jawaban dari Roxas. Pria itu mendekati sang istri, menangkup wajah dengan kedua tangannya kemudian menyatukan bibir mereka. Roxas memberikan pagutan lembut pada istrinya itu, kemudian melepaskannya. Mata Pipit menatap dalam pada pria di depannya yang sudah sah menjadi suaminya.
“Sudah tidak ada Bayu di hatiku. Berhentilah bersikap kekanakkan. Apa kamu tidak percaya padaku?”
“Aku percaya.”
Kembali Roxas menyatukan bibir mereka. Kali ini ciuman mereka lebih lama dan menuntut. Pipit mulai menerima dan menikmati pertautan bibir mereka. Dia sudah tidak malu-malu lagi membalas ciuman suaminya.
🌸🌸🌸
Dua bulan kemudian
Kesibukan terlihat di kediaman Wardani. Semua penghuni rumah sudah bersiap menuju hotel, tempat pesta resepsi akan dilaksanakan. Semua kakak Pipit juga sudah datang. Begitu pula dengan Ida, Toni, Adrian, Dewi dan tak lupa si kecil Arkhan. Aditya sudah lebih dulu berangkat, karena mereka ada jadwal manggung di Solo dan Yogyakarta.
Keluarga Roxas juga sudah berada di Magelang. Roxas menyewakan vila untuk enin dan yang lainnya. Untuk acara resepsi kali ini, Tirta dan Rina ikut ke Magelang bersama anak-anak mereka. Tak lupa Roxas juga mengundang teman-teman dekatnya di sekolah dulu. Dia menyediakan tiket kereta eksekutif pulang pergi untuk Micky, Bobi, Budi, Mila dan Sandra. Hardi juga ikut datang, dia bergabung dengan yang lainnya di Bandung. Sedang Sheila ikut bersama rombongan The Soul. Mereka juga disewakan vila selama tinggal di Magelang.
Suasana ballroom salah satu hotel ternama di kota ini sudah didekor sedemian rupa, sesuai dengan keinginan pengantin. Pasangan pengantin sudah berada di atas panggung pelaminan. Di kanan kiri mereka, duduk Wardani bersama Cahyadi dan enin bersama dengan Tirta.
Tamu yang datang kebanyakan tetangga dan juga teman-teman Pipit semasa sekolah dan kuliah. Tak lupa juga dia mengundang Bayu dan keluarga. Sedang dari tempat kerjanya, hanya perwakilan saja yang datang. Mahes dan Indira juga menyempatkan datang ke pesta pernikahan Pipit. Begitu pula dengan Rendi dan Adel.
Pipit dan Roxas sibuk menerima ucapan selamat dari tamu yang datang. Di panggung hiburan, nampak The Soul tengah menghibur para tamu. Untuk sementara peran Roxas digantikan oleh personil lain. Ida dan Toni duduk di meja bersama kakak-kakak Ida. Sedang Dewi berkumpul bersama teman-temannya semasa sekolah dulu. Dia juga menarik Adrian agar kumpul bersama mereka.
“Ya ampun pak Rian, kok tambah ganteng aja sih?” goda Mila.
Gadis itu bukan melemparkan gombalan palsu, tapi memang Adrian nampak tampan dalam balutan kemeja batik yang dominan dengan warna hitam dan emas. Pria itu hanya menanggapi dengan santai ucapan mantan muridnya, yang sekarang menjadi mahasiswinya.
Budi terus menatap Dewi yang tengah asik menikmati penampilan sang suami, dengan Arkhan dalam gendongannya. Pria itu berandai-andai, bayi yang ada dalam gendongan wanita itu adalah anaknya. Budi mengela nafas panjang, menyadari khayalannya tadi hanyalah mimpi di siang bolong.
Sheila datang dengan piring berisi kambing guling, kemudian memberikannya pada Dewi. Gadis itu sengaja mengambilkan makanan untuk sahabatnya itu, karena baru saja Dewi keluar dari ruangan kecil setelah menyusui Arkhan.
“Makasih, Shei.."
Hanya senyuman saja yang diberikan Sheila pada Dewi. Dia duduk di samping Budi yang masih menatap Dewi tanpa berkedip. Melihat itu, Sheila segera mengusap wajah Budi dengan telapak tangannya, membuat sang empu gelagapan.
“Apaan sih lo,” Budi menepis tangan Sheila.
“Jaga tuh mata. Bini orang yang lo liatin, hahaha..”
“Jiaaah si Budi belum mup on, Wi,” celetuk Sandra.
“Emang di jurusan lo ngga ada cewek yang selevel sama muka lo, Bud?” tanya Mila sarkas.
“Bhuahaha… tega loh, Mil. Elo aja kali yang jadi pasangan Budi. Kan selevel wajah kalian,” timpal Bobi sambil tertawa.
“Najis!” jawab Mila dan Budi bersamaan.
Adrian tak bisa menahan tawa melihat kelakuan mantan muridnya. Walau sudah bertatus mahasiswa, kesomplakan tetap tidak hilang dari mereka. Micky melihat pada Hardi yang nampak sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
“Lo wa-an ama siapa? Serius beud. Cewek lo?”
“No kepo, tar panuan lo,” jawab Hardi tanpa melepas pandangan dari ponselnya.
“Lo udah punya cewek, Har?” tanya Budi.
“Udah, dong.”
“Wah kasihan si Sandra. Sokooorrr, hahaha..” Budi puas sekali meledek Sandra.
“Dih apa hubungannya sama gue? Bodo amir gue mah, Hardi punya pacar atau ngga. Kaga usah mikirin gue. Pikirin aja nasib lo sendiri, buruan mup on jangan ngarep Dewi mulu, hahaha..”
Budi hanya mendengus kesal mendengar ucapan Sandra. Tapi yang dikatakan gadis itu memang benar. Dirinya masih belum bisa melupakan Dewi. Andai saja boleh, dia pasti akan mengatakan ‘kutunggu jandamu, Wi’. Gelak tawa mereka langsung terhenti ketika Arkhan terbangun dari tidurnya. Anak itu menangis dengan kencang, membuat Dewi harus bangun dari duduknya untuk menenangkan anaknya itu.
“Lo sih ribut mulu, jadi bangun kan, Arkhan,” seru Sheila pada Sandra.
“Arkhan nangis bukan denger ketawa gue. Tapi dia ngga rela emaknya diliatin mulu sama si Budi, hahaha…”
Lagi-lagi suara tawa terdengar. Dewi juga tak bisa menahan senyumnya, sambil terus menenangkan Arkhan. Adrian segera berdiri kemudian mendekati Dewi. Dia bermaksud menggendong keponakannya itu.
“Sini sama ayah.”
Semua yang ada di meja makan, menatap tanpa berkedip ketika Adrian mengambil Arkhan dari Dewi. Ajaibnya anak itu langsung berhenti menangis setelah berada dalam gendongan Adrian.
“Iih langsung diem,” seru Dewi.
“Arkhan mau sama ayahnya. Iya, sayang?” Adrian melihat pada Arkhan.
“Lihat papa tuh. Papa keren ya kalau lagi di panggung. Arkhan nanti mau kaya papa? jadi vocalis band?” lanjut Adrian.
Adrian terus mengajak bicara keponakannya. Walau tak mengerti apa yang dikatakan ayahnya itu, namun Arkhan terlihat anteng saja dalam gendongannya. Pria itu menyuruh Dewi melanjutkan makannya. Sedang dirinya membawa Arkhan pada mamanya. Ida melambaikan tangan, meminta Adrian membawa Arkhan padanya.
“Oh ya ampun pak Rian, bikin meleleh hatiku. Mau ngga ya, bapak jadi masa depanku,” celetuk Mila.
“Mimpi!” Micky mengusap wajah Mila, disambung dengan tawanya.
“Pak Rian sayang banget sama Arkhan ya, Wi,” ujar Hardi.
“Iya. Dari masih di perut, dia kan yang sering direpotin Arkhan sampe mau brojol, dia juga yang nganter ke rumah sakit. Makanya bang Ad minta dipanggil ayah aja, ngga mau uwa.”
“Duh suami idaman banget sih.”
Dalam hati Dewi membenarkan apa yang dikatakan Mila. Adrian memang sosok suami idaman. Pada dirinya saja yang notabene hanya adik ipar saja, dia rela menjaga dan memenuhi keinginan ngidamnya saat Aditya tak bersamanya. Bahkan selama masa kehamilan, kebersamaannya bersama dengan Adrian, lebih banyak dibanding bersama Aditya.
Pandangan Dewi langsung beralih ke atas panggung ketika Aditya mengatakan mempersembahkan sebuah lagu untuknya. Wanita itu mendudukkan kembali dirinya ke kursi. Menatap pada Aditya yang tengah menyanyikan lagu cinta untuknya.
Lekuk indah hadirkan pesona
Kemuliaan bagi yang memandang
Setiamu simbol keanggunan khas perawan yang kau miliki
Akulah pengagum ragamu
Lindungi dari sengat dunia yang mengancam nodai sucinya lahirmu
Karena wanita ingin dimengerti
Lewat tutur lembut dan laku agung
Karena wanita ingin dimengerti
Manjakan dia dengan kasih sayang
Ingin kuajak engkau menari
Bermandi hangat cahaya bulan
Sebagai tanda kebahagiaan
Bagi semesta cinta kita
🌸🌸🌸
Adrian mengangkat kepalanya ketika mendengar suara ketua prodi masuk ke dalam ruang dosen. Bersamanya masuk seorang wanita yang usianya satu tahun di bawahnya. Kehadiran ketua prodi bersama dengan wanita cantik, sontak menarik perhatian semua yang ada di ruangan tersebut.
“Perkenalkan semuanya, ini Dita Maharani. Dia akan menjadi dosen jurusan komunikasi, menggantikan pak Heri yang sudah pensiun,” ucap ketua prodi.
“Pagi semua,” sapa Dita.
“Bu Dita, perkenalkan ini pak Adrian, bu Jiya, pak Ahmad, pak Deden, dan itu ibu Imas.”
Sang ketua prodi menyebutkan satu per satu nama orang yang ada di ruangan. Setelah memperkenalkan Dita, dia pun keluar dari ruangan tersebut. Dita segera menuju meja yang dulu ditempati oleh Heri. Letak mejanya selang satu meja dari meja Adrian atau tepat di samping meja Jiya.
“Bu Dita nanti ngajar mata kuliah pak Heri?” tanya pak Ahmad.
“Iya, pak.”
“Semangat ya, bu.”
Dita membalas perkataan Ahmad dengan senyuman. Dia merasa beruntung di hari pertamanya mengajar, sudah mendapat sambutan hangat dari para dosen senior. Wanita itu segera menyiapkan bahan mata kuliahnya.
“Bu Jiya, maaf.. kalau yang pegang mata kuliah komunikasi budaya siapa ya?”
“Pak Adrian.”
“Oh, iya. Makasih.”
Wanita itu bangun dari duduknya, kemudian berjalan mendekati meja Adrian. Adrian terpaksa menghentikan pekerjaannya saat Dita mendekat.
“Maaf, pak. Bapak pegang mata kuliah komunikasi budaya?”
“Iya, kenapa?”
__ADS_1
“Boleh ngga saya pinjam kurikulum yang bapak buat? Eeung.. saya jadi dosen luar biasa juga di kampus lain. Saya cuma mau membandingkan aja, pak. Soalnya ini mata kuliah baru untuk saya.”
“Boleh. Tapi filenya ada di rumah. Ibu butuh cepat?”
“Besok, pak.”
“Nanti pulang mampir ke rumah dulu, bagaimana?”
“Ngga ngerepotin kan, pak?”
“Ngga, kok.”
“Makasih sebelumnya ya, pak.”
“Sama-sama.”
Dengan senang Dita kembali ke tempatnya. Wanita itu bersyukur mendapatkan rekan kerja baik dan tidak pelit berbagi ilmu. Dia tersenyum pada Jiya yang masih melihat padanya. Sikap Adrian sebelumnya tidak pernah seramah dan sebaik ini padanya saat awal bertemu. Tapi dengan Dita, Adrian langsung bersikap baik. Ada sedikit rasa cemburu menyergapnya.
🌸🌸🌸
“Bu Dita mau ikut saya atau gimana?” tanya Adrian saat mereka bersiap untuk pulang.
“Saya bawa motor, pak. Saya ikutin bapak aja.”
“Boleh.”
Bersama-sama keduanya menuju parkiran. Jiya terus memandangi kedua orang tersebut sampai hilang dari pandangannya. Belum juga dirinya berhasil mendapatkan perhatian Adrian, kini sudah ada pesaing baru yang masuk dalam permainan. Walau dia belum tahu apakah Dita menaruh perasaan pada Adrian, namun tetap saja dia merasa tak nyaman melihat kedekatan Adrian dan Dita.
Perlahan kendaraan Adrian bergerak meninggalkan area kampus. Dari belakang, Dita terus mengikuti dengan motor maticnya. Adrian sengaja melajukan mobil dengan kecepatan sedang agar Dita tak kehilangan jejaknya.
Mobil yang dikendarai Adrian berhenti di depan rumahnya. Pria itu langsung turun dan menunggu Dita sampai di dekatnya. Setelah memarkirkan motornya, Dita mengikuti langkah Adrian masuk ke dalam rumah. Kepulangan Adrian disambut oleh Aditya yang kebetulan ada di rumah.
“Tumben jam segini udah pulang,” tegur Aditya.
“Ngga ada kelas lagi. Kamu sama Arkhan ke sini?”
“Iya. Lagi di kamar sama Dewi.”
Mata Aditya langsung tertuju pada Dita yang berada di belakang Adrian. Menyadari arah pandang adiknya, pria itu langsung mengenalkan Dita pada Aditya. Dia mempersilahkan Dita untuk duduk dan meminta Aditya menemaninya.
“Kak Dita dosen juga?” tanya Aditya basa-basi.
“Iya. Ini hari pertamaku kerja. Aku butuh bantuan buat bikin kurikulum dan Alhamdulillah, kakakmu mau bantu.”
“Tumben bang Ad langsung mau bantu. Aduh..”
Aditya mengaduh ketika Adrian menepak kepalanya dengan buku di tangannya. Pria itu duduk di samping Aditya seraya menyerahkan lembaran kertas di tangannya pada Dita. Untuk beberapa saat Dita membaca kertas yang dibawa oleh Adrian.
“Kalau untuk yang ini, sumbernya dari mana ya, pak?”
“Saya ambil dari dua buku ini.”
Adrian memberikan dua buku yang tadi dibawanya. Dita hanya menganggukkan kepalanya saja. Kurikulum yang dibuat Adrian lebih lengkap dari miliknya. Rasanya tidak salah kalau dia inginmenyamakannya dengan milik Adrian.
“Besok kalau bapak ngga keberatan, saya mau diskusi soal kurikulum yang saya buat. Kali aja bapak bisa kasih masukan.”
“Boleh. Besok setelah jam ajar saya berakhir aja.”
“Siap, pak. Makasih banyak loh. Ini boleh saya pinjam dulu? Sekalian bukunya kalau boleh, hehehe..”
“Silahkan.”
Dita tersenyum senang, dia segera memasukkan buku dan kertas pemberian Adrian ke dalam tasnya. Aditya terus memandangi interaksi antara Adrian dan Dita. Sikap Adrian sudah tidak sekaku dulu. Apakah abangnya sudah berubah atau perlakuan itu hanya ditujukan pada Dita saja. Aditya jadi penasaran.
“Kalau gitu saya pulang dulu, pak. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya.”
“Minum dulu, bu. Maaf saya lupa,” Adrian berdiri hendak ke dapur.
“Ngga usah, pak. Perut saya masih kembung tadi kebanyakan minum di kampus, hehe..”
“Yakin nih? Atau nyikat-nyikat WC dulu boleh deh,” celetuk Aditya seraya tertawa.
“Saya ngga bisa nyikat WC, tapi kalau betulin genteng bocor bisa lah, hahaha..”
“Hahaha.. boleh.. boleh… nanti kalau rumahku ada yang bocor, panggil kakak aja ya.”
“Boleh, asal sanggup aja sama bayarannya.”
Aditya dan Dita tertawa mendengar percakapan mereka yang absurd. Adrian hanya menggelengkan kepalanya saja. Dengan cepat Aditya dan Dita bisa akrab, mungkin saja karena mereka satu frekuensi. Adrian bangun dari duduknya, kemudian mengantarkan Dita sampai ke dekat motornya.
“Makasih ya, pak. Jangan bosen ya direcokin sama saya, hehehe..”
“Sama-sama bu Dita, hati-hati di jalan.”
“Tenang aja, pak. Saya ini mantan preman. Saya cuma takut sama emak saya yang suka bawa centong buat getok kepala saya, hahaha… Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Motor matic yang ditunggangi Dita segera melaju meninggalkan kediaman Adrian. Pria itu segera masuk ke dalam rumah. Di teras dia dicegah oleh Aditya yang memang sudah menunggunya.
“Bang.. cantik tuh,” Aditya menaik turunkan alisnya.
“Ya cantik, namanya juga cewek.”
“Pepet, bang. Dari pada jomblo mulu. Kalo sama bu Jiya, abang ngga akan berwarna hidupnya. Tapi kalau sama Dita, boleh juga lah,” Aditya tersenyum setelahnya.
“Berisik!”
Aditya hanya tertawa saja melihat reaksi sang kakak. Tak ingin berlama-lama dengan Aditya yang sudah kumat mode jahilnya, Adrian memilih masuk ke dalam kamarnya. Melihat interaksi Adrian dan Dita tadi, Aditya jadi punya harapan kalau sang kakak akan segera mengakhiri masa jomblonya.
🌸🌸🌸
Wah ada cewek baru nih🤭
__ADS_1