
Hola readers tercintaku, salam Jum'at berkah.
Kemarin mamake ngga ada niatan 2x up, tapi sebagai gantinya mamake up di hari ini. Happy reading everybody🤗
🌸🌸🌸
Tiga hari setelah hari kelulusan, pesta perpisahan digelar, tepatnya di hari sabtu. Pesta perpisahan memang diselenggarakan sebelum pembagian raport. Pesta untuk melepas murid kelas 12 ini dilangsungkan di auditorium hall salah satu kampus negeri terbesar se-Asia Tenggara, atau yang kenal dengan sebutan sabuga.
Sebuah panggung berukuran cukup besar berdiri di bagian depan, tepat di posisi tengah. Deretan kursi sudah diberi tanda siapa-siapa saja yang berhak menempatinya. Barisan paling depan tentunya nanti akan dihuni oleh kepala sekolah, jajaran guru dan staf. Tidak lupa pada pesta perpisahan kali ini, pihak sekolah juga turut mengundang penjabat diknas.
Supaya lebih teratur panitia juga memberikan deretan yang akan ditempati para lulusan sesuai jurusan mereka. Sedang untuk kelas 10 dan 11 yang juga diundang untuk datang, menempati kursi di bagian atas. Mereka bebas menempati deretan mana saja. Rangkaian acara yang ditampilkan, selain sambutan dari pihak diknas dan juga sekolah, akan diumumkan pula siapa pelajar yang menjadi lulusan terbaik tahun ini. Lulusan terbaik tersebut yang akan memberi sambutan sebagai perwakilan teman-temannya.
Selain acara formal, panitia juga sudah menyiapkan berbagai acara hiburan yang semuanya berasal dari kreativitas para pelajar. Namun begitu, mereka tetap mengundang salah satu band ternama sebagai bintang tamu. Di dekat pintu masuk, sudah terdapat dua meja yang saling berhadapan lengkap dengan empat orang yang bertugas sebagai penerima tamu.
Pelajar yang menghadiri acara perpisahan ini wajib membawa undangan yang sudah diberikan pihak sekolah. Undangan tersebut nantinya akan ditukar dengan merchandise yang disediakan pihak sponsor. Sang kepala sekolah, pak Nurman memang memiliki jaringan yang luas. Dia berhasil menggaet beberapa sponsor untuk mendanai pesta perpisahan ini. Tak heran kalau perhelatan pelepasan siswa 12 tahun ini digelar secara mewah.
Para lulusan pun mempunyai ide yang tak kalah cetar. Masing-masing jurusan memiliki dress code yang berbeda, untuk lebih mudah untuk mengenali mereka berasal dari kelas IPA, IPS atau Bahasa. Kelas IPA memilih warna putih sebagai dress code-nya, kelas bahasa memilih warna merah, sedang IPS memakai warna biru.
Dewi datang bersama dengan Roxas menggunakan si hejo. Awalnya Aditya yang akan mengantarnya, namun perubahan shift membuat pemuda itu tak bisa mengantarkan sang pujaan hati. Roxas terlihat keren dengan celana jeans warna biru navy dan atasnya terbalut kemeja denim dengan warna biru yang lebih terang. Sedangkan Dewi mengenakan skinny jeans warna blue black dipadu dengan tunic shirt warna biru muda. Bagian kepalanya terbalut kerudung segi empat warna putih dengan corak biru.
Mereka berjalan menuju gedung yang berdiri megah beberapa meter di depan. Saat melintasi exhibition hall, mereka berpapasan dengan Adrian yang juga baru sampai. Sesaat Dewi terpana melihat Adrian yang mengenakan celana chinos warna hitam dan atasan kemeja lengan pendek press body berwarna senada dengan pakaian yang dikenakannya. Adrian terlihat tampan dan juga gagah.
“Baru datang juga, pak,” tegur Roxas.
“Hmm..”
Ketiganya kemudian berjalan bersama menuju auditorium hall. Dewi berada di tengah-tengah, diapit oleh dua pria ganteng. Sesekali dia mencuri lihat pada Adrian yang berjalan di sisi kanannya. Harum tubuhnya yang begitu maskulin membuat dada Dewi berdesir tak karuan. Namun dalam hati gadis itu merasa sedikit kecewa, karena Adrian sepertinya tidak memperhatikan penampilannya sama sekali.
Setelah menukarkan undangan dengan merchandise, Adrian berpisah dengan kedua muridnya. Dia berjalan menuju kursi di deretan depan, tempat di mana rekan-rekannya berada. Nampak bu Murni melambaikan tangannya pada Adrian, meminta pria itu duduk di dekatnya.
Tanpa sadar wajah Dewi berubah cemberut begitu melihat Adrian duduk di dekat guru wanita yang terlihat jelas menyukai Adrian. Tiba-tiba saja gadis itu dilanda perasaan cemburu. Rasanya tak rela melihat wali kelas gantengnya duduk berdekatan dengan Murni. Dengan kesal Dewi menghempaskan bokong di salah satu kursi.
“Kenapa lo?” tanya Roxas.
“Ngga apa-apa.”
Tak lama setelah mereka datang, sang pembawa acara langsung membuka acara. Dia mempersilahkan pada ketua diknas kota Bandung yang diwakili oleh asistennya untuk naik ke atas panggung memberikan sambutannya. Setelahnya disusul oleh pak Nurman, selaku ketua sekolah.
“Pada kesempatan kali ini, ijinkan saya memanggil salah satu tenaga pengajar kami. Walau hanya bergabung selama empat bulan sebagai guru pengganti, namun dedikasinya begitu luar biasa. Kepada bapak Adrian Pratama, silahkan naik ke atas panggung,” ujar Nurman sebelum mengakhiri pidatonya.
Adrian cukup terkejut saat namanya dipanggil sang kepala sekolah. Pria itu bangun dari duduknya kemudian naik ke atas panggung. Suara tepuk tangan mengiringi langkah pria itu, tepukan paling keras tentu saja datang dari kelas IPS 3. Sesampainya di atas panggung, dia berdiri di samping Nurman.
“Pak Adrian, atas nama pribadi dan instansi, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan bapak. Walau kebersamaan kita begitu singkat, namun banyak kenangan indah yang tercipta. Terima kasih sudah bersedia kami tumbalkan sebagai wali kelas pengganti IPS 3 yang luar biasa.”
Gelak tawa langsung terdengar menyambut ucapan kepala sekolah tersebut. Tepukan, sorakan dan yel-yel yang menyeru nama Adrian terdengar dari kelas yang terkenal paling onar dan heboh seantero sekolah. Gemuruh tepuk tangan kembali terdengar ketika Nurman memberikan souvenir sebagai kenang-kenangn kepada Adrian.
“Silahkan kalau ada yang ingin disampaikan,” Nurman memberikan mic di tangannya.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam semua.”
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”
“Terima kasih sebelumnya saya ucapkan pada pak Nurman dan juga rekan-rekan kerja saya. Terima kasih karena sudah menerima kehadiran saya dan memberikan bimbingan pada selama menjalankan tugas sebagai wali kelas pengganti. Kepada anak-anakku di kelas 12 IPS 3, bertemu dan mengenal kalian adalah salah satu hal terbaik yang terjadi dalam hidup saya,” Adrian melihat ke deretan di mana anak didiknya berada.
“Selepas ini masih banyak hal yang akan kalian lalui. Tetaplah menjadi diri sendiri, tetap kuat menghadapi semua rintangan yang menghadang, jangan patah semangat, teruslah maju mengejar impian kalian. Semoga kita bisa bertemu kembali di kemudian hari,” lanjutnya.
__ADS_1
Tepukan tangan kembali terdengar ketika Adrian mengakhiri sambutannya. Pria itu kembali ke tempatnya, sedang Nurman masih bertahan di atas panggung untuk mengumumkan siapa lulusan terbaik tahun ini.
“Lulusan terbaik tahun ini jatuh pada Hardiansayh Afriyanto dari kelas 12 IPS 3.”
“Whoooaaa!!! Hardi!! Hardi!! Hardi!!”
Terdengar suara warga IPS 3 meneriakkan nama ketua kelas mereka yang berhasil terpilih sebagai lulusan terbaik tahun ini. Dengan wajah sumringah, pemuda dengan tinggi badan 168 cm itu berjalan ke depan kemudian naik ke atas panggung. Dia tersenyum saat menerima plakat penghargaan dari Nurman. Sang kepala sekolah lalu mempersilahkan padanya untuk memberikan sepatah dua patah kata.
“Malam semua. IPS 3!!!” Hardi mengangkat plakat di tangannya seraya melihat pada teman-temannya. Ucapan Hardi langsung dibalas dengan teriakan teman-temannya.
“Alhamdulillah. Benar-benar ngga nyangka dapat penghargaan seperti ini. Puji syukur pada Allah SWT telah memberikanku otak yang encer.”
“Huuuuuu…”
“Narsis!! Narsis!!”
“Hehehe… sirik aja lo pade. Terima kasih untuk kedua orang tuaku. Terima kasih juga buat semua teman-temanku di IPS 3, tanpa kalian mungkin gue hanya akan menjadi anak cupu yang cuma tau berteman dengan buku-buku saja. Terima kasih juga buat wali kelas tercinta kita, pak Adrian. Terima kasih sudah menjadi guru, orang tua dan sahabat bagi kami semua. Dan buat Sandra… tunggu gue ngelamar elo!!!”
“OGAH!!!” jawab Sandra yang langsung disambut gelak tawa lainnya.
Hardi segera turun dari panggung begitu selesai dengan sambutan singkatnya. Acara kembali dilanjutkan dengan pentas seni kreativitas dari perwakilan kelas 12 dari tiap jurusan. Perwakilan kelas IPA yang pertama maju menampilkan nyanyian merdu dari kelompok paduan suara yang mereka bentuk secara dadakan.
Penampilan kedua diseling dengan penampilan Meteor band. Irama menghentak dari musik yang mereka tampilkan langsung terdengar ke seantero ruangan. Penampilan mereka tentu disambut gembira oleh teman-teman seangkatannya. Acara kemudian berlanjut dengan penampilan tradisonal dance yang dikolaborasi dengan modern dance, hasil kreativitas kelas bahasa.
Kini giliran black Eagles yang dipersilahkan untuk memberikan hiburan. Calon band inti yang akan menggantikan tugas The Dream nantinya, segera menampilkan kemampuan terbaik mereka. Kepiawaian gabungan anak kelas 10 tersebut dalam memainkan alat musik ditambah suara sang vocalis yang merdu, membuat mereka layak dijadikan penerus band inti sekolah.
Setelah penampilan Black Eagles, kini waktunya Hardi dan kawan-kawan menampilkan hasil kreativitas mereka dalam bentuk kabaret. Para penonton dibuat terpingkal dengan alur cerita yang disuguhkan. Akting Micky dan kawan-kawan patut diacungi jempol, tak sia-sia mereka berlatih keras selama ini. Berbagai pujian langsung menyapa mereka karena suguhan ciamik tersebut.
Pesta terus berlangsung, kini band inti sekolah yang baru saja memenangkan festival band tingkat provinsi tampil di atas panggung. Banyak fans mereka yang berasal dari kelas 10 dan 11 berkumpul di depan panggung saat mereka tampil. Sementara itu para personil Ngadadak band tengah bersiap di samping panggung. Mereka akan tampil setelah performance dari kelas IPA 3 dan bahasa 2.
“Selanjutnya kita panggilkan Ngadadak band!!” panggil sang pembawa acara yang langsung disambut tepuk tangan semua warga IPS.
“Aa Roxas I love you!!” teriak salah seorang fans bule leker tersebut.
Teriakan para fans terdengar ketika Roxas memainkan bassnya sebentar. Anto memutar bola matanya, si bule Sunda itu malah caper pada para penggemarnya. Adrian hanya bisa tertawa melihat tingkah anak muridnya itu. Usai memperlihatkan kemampuannya memainkan bass, Roxas melihat pada yang lainnya, memberi tanda untuk segera memulai pertunjukkan.
Anto maju ke depan kemudian mulai memainkan melodi gitarnya. Gemuruh tepuk tangan langsung terdengar. Tak lama terdengar tabuhan drum dari Mufid yang disusul dengan suara keyboard Deski dan bass Roxas yang masuk bersamaan. Cahaya terang berpendar di sekitar panggung saat musik mengalun. Suara sorakan langsung terdengar mengiringi suara musik yang menghentak.
Namun kemudian cahaya dipanggung menghilang saat hanya terdengar suara drum yang terdengar dominan dan satu spot cahaya menyorot Mufid yang tengah menabuh drum. Di depannya berdiri Dewi yang sudah bersiap dengan mic di tangannya. Dewi mulai menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh salah satu band ternama di Indonesia.
Usai menyanyikan bait pertama, Dewi maju ke depan seiring dengan cahaya terang yang muncul menerangi panggung. Gadis itu berdiri sejajar dengan Roxas dan Anto. Sungguh penampilan Dewi terlihat seperti vocalis band professional saja. Gadis itu pun menyanyikan bait kedua.
“Penindasan kekerasaan gak jaman. Kami datang membawa perdamaian. Ciptakan suasana tak terlupakan. Lantangkan suaramu dan teriakkan. Alunan distorsi, IPS beraksi!!”
Dewi sengaja mengganti kata kotak menjadi IPS dan sontak menggerakkan semua warga IPS untuk maju ke depan panggung. Mereka ikut bernyanyi sambil meloncat-loncat layaknya tengah menonton konser. Para guru juga dibuat terkejut melihat penampilan Ngadadak band yang tak kalah cetar di banding band inti sekolah. Adrian tersenyum bangga, dia sudah menduga kalau Aditya mampu membimbing Roxas dan kawan-kawan bisa tampil sehebat ini.
“Hey, yang ada di sana. Semua bernyanyi.”
“HEY!!” lanjut para penonton.
“Yang ada di sini. Semua happy.”
"HEY!!"
“Hey, yang ada di sana, yang ada di sini. Semua ikut bernyanyi. Hey, yang datang di sini
__ADS_1
Jangan bikin keki. Bikin suasana happy,” Dewi melanjutkan nyanyiannya.
“BERAKSI!!” para penonton ikut menyanyikan lagu tersebut.
“BERAKSI!!!”
Suara tepuk tangan langsung terdengar ketika lagu pertama berakhir. Mereka masih bertahan di depan panggung, menunggu Ngadadak band menyanyikan lagu kedua. Mereka sudah diberi tahu kalau band gabungan kelas IPS itu akan menyanyikan empat buah lagu. Dewi kembali bersiap berdiri di sisi depan panggung dengan mic di tangannya. Terdengar Deski memainkan tuts keyboard memulai nada pertama dari lagu kedua mereka.
“How can you see into my eyes like open doors? Leading you down into my core. Where I've become so numb. Without a soul. My spirit's sleeping somewhere cold. Until you find it there and lead it back home.”
Usai Dewi menyanyikan bait pertama, terdengar irama gitar dan bass mulai mengalun. Gadis itu lanjut menyanyikan bait kedua. Roxas berjalan mendekati stand mic bersiap untuk menjadi backing vocal. Begitu Mufid menabuh drumnya, irama mulai terdengar menghentak. Adrenalin mereka kembali terpacu ketika Dewi mulai memasuki refrain.
“Hudangkeun (bangunkan),” Roxas.
“Wake me up inside,” Dewi.
“Teu bisa hudang (ngga bisa bangun),” Roxas.
“Wake me up inside,” Dewi.
“Tulung-tulung.”
“Call my name and save me from the dark.”
“Hudangkeun.”
“Bid my blood to run.”
“Teu bisa hudang.”
“Before I come undone.”
“Tulung-tulung.”
“Save me from the nothing I’ve become.”
Adrian tak bisa menahan tawanya mendengar Roxas mengganti partnya bernyanyi dengan bahasa Sunda. Dia sudah bisa menebak, pasti Aditya yang mengusulkannya. Bukan hanya Adrian, tapi para penonton pun terkejut. Hardi sampai terbengong, lirik Bring Me To Life ditranslate seenak jidatnya oleh Roxas ke dalam bahasa Sunda.
Tawa Adrian semakin kencang ketika mendengar Roxas nge-rap juga dengan menggunakan bahasa Sunda. Murni yang duduk di sebelahnya menatap tak percaya, pria yang biasanya selalu berwajah tenang dan irit senyum bisa tertawa terbahak seperti itu. Andai dia punya keberanian, mungkin sudah diabadikan tawa Adrian dalam bentuk video.
“Salila ieu.. urang teu percaya.. teu bisa ningali. Kajebak dina gelap, bet maneh aya di hareupeun (selama ini.. aku tidak percaya.. tidak bisa melihat.. terjebak dalam gelap, tapi kamu ada di hadapan)," Roxas.
“I’ve been sleeping a thousand years, it seems. Got to open my eyes for everything,” sambung Dewi.
“Teu boga cedo.. teu boga sora.. teu boga jiwa.. (tidak punya pikiran.. tidak punya suara.. tidak punya jiwa).”
“Don’t live me die here.”
“Pasti aya nu lainna (pasti ada yang lainnya).”
“Bring me to life.”
Sahut menyahut lirik antara Dewi dan Roxas dengan menggunakan bahasa berbeda membuat lagu tersebut terkesan unik dan menarik. Bahkan bintang tamu utama acara malam ini sampai ikut terpingkal mendengarnya. Mereka mengintip penampilan Ngadadak band dari samping panggung. Ingin tahu siapa yang menyanyikan part berbahasa Sunda. Sungguh mereka tak percaya, ternyata logat Sunda yang begitu fasih berasal dari cowok ganteng bertampang blasteran.
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Gimana penampilan Ngadadak Band? Keren ngga? Mamake berusaha menggambarkan performance mereka di atas panggung, semoga kalian bisa menangkap maksudnya ya😁
Keseruan masih berlanjut, penampilan Ngadadak Band masih belum berakhir. Harap bersabar sampai besok ya**.