
Kelegaan nampak jelas di raut wajah para pelajar kelas 12. Akhirnya ujian akhir yang mendebarkan berakhir sudah. Mereka hanya tinggal menunggu hasilnya saja. Baik atau jelek, pasrah saja. Yang penting sudah berusaha dan berdoa.
Hari terakhir ujian ini juga disambut penuh suka cita oleh seluruh penghuni kelas 12 IPS 3. Sebentar lagi mereka akan melepas status pelajar, dan harus mulai lebih serius memikirkan masa depannya. Sebelum kembali ke rumah mereka semua memutuskan tinggal lebih lama di dalam kelas untuk membicarakan perihal perpisahan.
“Buat kostum kabaret udah siap, Di?” tanya Micky.
“Beres semua. Kemarin pak Adrian juga nyumbang dana buat beli perlengkapan lain.”
“Asik deh punya walas pengertian kaya pak Adrian,” celetuk Bobi.
“Iya, biar galak, tegas, tapi perhatian dan ngga pelit sama anak didiknya,” jawab Hardi yang langsung diiyakan yang lainnya, termasuk Dewi. Namun gadis itu hanya menyetujui dalam hati saja.
“Ngadadak band gimana?” Hardi melihat pada Roxas dan Dewi.
“Tambah solid, tenang aja.”
“Kalian jadinya mau bawain lagu apa aja?” Budi cukup penasaran karena belum pernah melihat Ngadadak Band latihan.
“Bring me to life, beraksi, terlalu sadis sama runtah,” jelas Dewi.
“Wuihh mantul. Jadi ngga sabar gue pengen lihat Ngadadak band konser,” celetuk Bobi.
“Gue yakin bakal lebih keren dari The Dream and Meteor Band,” timpal Micky.
The Dream adalah band inti sekolah ini. Sekolah memang selalu memilih band inti setiap tahunnya yang dikirim sebagai perwakilan untuk tampil di acara pensi sekolah lain atau mengikuti festival musik pelajar. Personil The Dream berasal dari angkatan kelas 11. Setiap tahun band inti selalu berganti demi regenerasi. Pada angkatan Dewi, band intinya adalah Meteor band.
“Meteor band bakalan tampil juga ya?” tanya Mila yang menjadi fans berat band inti angkatannya.
“So pasti. Jadi band yang bakalan tampil tuh, The Dream, Meteor band, Ngadadak band sama Black Eagles,” terang Roxas yang memang paling tahu perkembangan band di sekolah.
“Black Eagles tuh calon pengganti The Dream ya?” tanya Dewi.
“Yoi.. mainnya ngga kalah bagus dari seniornya. Pastinya sekolah kita bakalan langganan juara festival band pelajar se-Bandung Raya,” bangga Roxas. Karena sudah tiga tahun berturut-turut sekolah mereka meraih gelar bergengsi itu.
“Malah The Dream kemarin juara tingkat provinsi ya,” lanjut Sandra.
“Iya. Mereka bakal diadu lagi di tingkat nasional. Tapi saingannya berat, tau sendiri Jakarta sama Surabaya keren-keren tuh,” jawab Roxas.
“Ya mudah-mudahan aja ya bisa menang.”
“Aamiin..”
Walau tidak tergabung dalam The Dream, namun mereka senang dan bangga kalau band inti itu berhasil menyabet gelar juara tingkat nasional. Pembicaraan soal penampilan di malam perpisahan selesai. Mereka melanjutkan pembicaraan mengenai perpisahan kelas yang akan mereka gelar setelah pengumuman kelulusan dan pembagian raport.
“Soal perpisahan kelas gimana nih? Jadi ngga?” tanya Sandra yang ditunjuk sebagai panitia bersama dengan Hardi.
“Jadi. Gue udah bilang sama bokap. Jadi vilanya ngga akan disewain pas hari itu,” jawab Hardi.
“Terus soal transportasi gimana? Kita mau nyewa bis kecil atau elf?”
“Ngga usah. Pake mobil yang bisa dipake aja. Mobil gue sedia satu, lo bisa bawa kan San?”
“Bisa, tapi gue ngga mau nyetir. Ada yang bisa bawa ngga?”
“Noh si Roxas aja. Bisa kan?” Micky melihat pada Roxas.
“Bisa dong. Tenang aja.”
“Lo udah punya SIM kan?”
“Ngeledek lo. Lupa apa kalo gue sering jadi supir tembak?”
“Oh iya,” Micky menepuk keningnya.
Salah satu pekerjaan sambilan Roxas adalah menjadi supir tembak. Banyak supir angkot yang menggunakan jasanya untuk menggantikan menarik angkot saat mereka berhalangan. Setelah setoran pada pemilik angkot, pendapatan dibagi dua. Roxas sebagai supir tembak mendapat 60% penghasilan, sedang sang supir trayek mendapat 40%.
“Selain mobil gue sama Sandra, mobil siapa lagi yang bisa dipake?” tanya Hardi.
“Mobil Willy sama Sadam bisa kayanya,” celetuk Usep.
“Bisa aja, asal bensin ditanggung kalian,” jawab Sadam.
“Tenang aja soal itu. Berarti soal transportasi udah beres, ya. Terus soal konsumsi gimana? Mau masak apa pesan aja?”
“Pesan aja, ribet kalo kita masak. Kecuali kalo mau bakar-bakaran, baru buat sendiri,” usul Sheila yang disetujui oleh lainnya.
__ADS_1
“Nah soal bakar-bakaran kita mau beli apa aja nih, biar dilist dari sekarang. Jadi jelas nanti patungannya berapa.”
“Jagung, ayam, ikan sama bumbu cukup kan?” ujar Dewi.
“Cukuplah. Jagung 5 kg, ayam 5 kg sama ikan juga 5 kg.”
Hardi menganggukkan kepalanya. Dia terus mencatat apa saja yang dibutuhkan saat perpisahan kelas nanti, agar persiapannya matang. Hardi memang orang yang cermat dan terperinci dalam menyusun rencana.
“Pak Adrian diajakan moal (pak Adrian diajak ngga?),” tanya Roxas.
“Ajak dong. Perpisahan tanpa pak Rian, udah kaya sayur tanpa garam, hambar gaaeeesss,” ucapan Sandra langsung disetujui oleh para siswi lainnya.
“Ya diajak dong, pak Adriannya. Biar kita full tim. Kita bisa lancar dan sukses menghadapi ujian akhir kan berkat bantuan pak Adrian juga.”
Semua mengangguk setuju mendengar ucapan sang ketua kelas. Mereka merasa beruntung memiliki Adrian sebagai wali kelas pengganti, karena pria itu benar-benar total menjalankan tugasnya sebagai guru yang bertanggung jawab pada kelas 12 IPS 3 ini. Dia tak segan meluangkan waktunya membantu para muridnya untuk mendapatkan nilai maksimal.
“Rapat udah beres kan? Gue ama Dewi harus latihan nih sekarang. Soalnya Adit kerja jam tiga,” ujar Roxas.
“Udah beres, Xas,” jawab Hardi.
“Eh gue ikut dong, mau lihat kalian latihan,” celetuk Micky.
“Jangan.. pokoknya jangan ada yang lihat kita latihan, biar surprise nanti penampilan kita pas perpisahan,” usul Dewi.
“Setubuh,” timpal Roxas.
Akhirnya Micky dan yang lainnya pasrah saja saat Dewi melarang semuanya melihat Ngadadak band latihan. Mereka harus bisa menahan rasa penasaran untuk melihat penampilan di panggung nanti. Roxas dan Dewi pulang lebih dulu, karena harus kembali ke rumah masing-masing sebelum pergi ke studio.
“Gue anterin lo pulang dulu,” tawar Roxas.
“Ngga usah, kelamaan. Nanti lo capek harus bolak-balik. Lo langsung pulang aja, nanti jemput gue pas mo latihan. Gue pulang naik angkot aja.”
“Ya udah. Nanti jam setengah satu gue jemput ya.”
Dewi menganggukkan kepalanya kemudian berjalan menuju gerbang sekolah. Sedang Roxas langsung menuju tempat parkir untuk mengambil si hejo.
🌸🌸🌸
Roxas menghentikan kendaraannya di depan rumah enin. Tak jauh dari motornya, nampak motor mang Tirta terparkir. Sambil menenteng helmnya, pemuda itu masuk ke dalam rumah yang pintunya terbuka.
Roxas tak melanjutkan ucapan salamnya ketika mendengar suara mang Tirta tengah berdebat dengan enin di dalam kamar. Dengan mengendap, pemuda itu berjalan mendekati kamar enin yang terhalang gorden tipis. Dia merapatkan tubuhnya ke dinding agar bisa mendengar lebih jelas apa yang mereka perdebatkan.
“Kunaon atuh kudu nyalahkeun Aep wae. Sing karunya atuh, budak eta teh teu boga sasaha deui. Teu inget maneh? Lanceuk maneh, Sinta, kurang kumaha ngabantuan Saumur hirupna? Meni teunteungeun pisan, kacida (kenapa selalu menyalahkan Aep? Kasihan, dia tidak punya siapa-siapa lagi. Kamu ngga ingat? Kakakmu, Sinta, kurang apa selalu membantu seumur hidupnya. Lupa kamu? Tega sekali, keterlaluan),” nada enin terdengar kesal sampai wanita itu terbatuk.
“Ema ngan nyaah ka euceu jeung Aep hungkul. Ema teh boga incu lain Aep hungkul, aya Tari jeung Ahsan. Tapi nu dipikiran ku ema ngan Aep hungkul. Tirta teh butuh duit keur modal, matakna rek ngajual imah ieu. Ema cicing jeung Tirta, tapi si Aep ulah milu (Ema cuma sayang ke kakak dan Aep aja. Cucu ema bukan Aep saja, ada Tari dan Ahsan. Tapi yang dipikirkan ema cuma Aep. Tirta butuh uang untuk modal, makanya mau ngejual rumah ini. Ema tinggal sama Tirta, tapi Aep ngga usah ikut).”
“Terus Aep rek cicing di mana? (terus Aep mau tinggal di mana?).”
Enin semakin emosi, nafasnya tersengal dan mulai terbatuk. Dia sungguh tak menyangka anak bungsunya tak mau menerima keponakannya sendiri. Wanita tua itu mulai menangis. Roxas yang tak tahan melihat nenek tersayangnya menangis, langsung menerobos masuk. Dia segera mengambil gelas minuman lalu memberikannya pada enin.
“Enin eeut heula (enin minum dulu).”
Dengan tangan bergetar, enin menerima gelas pemberian Roxas lalu meminum isinya. Tirta hanya berdiri menyaksikan itu semua. Entah apa yang membuat pria itu tak menyukai anak dari kakak tertuanya. Bisa jadi karena pengaruh sang istri yang ketakutan kalau warisan ibu mertuanya akan jatuh ke tangan Roxas. Padahal uang untuk membeli rumah ini setengahnya berasal dari Sinta, ibunya.
“Mun mamang bade ngajual bumi, Aep mah ikhlas. Aep mah ngan nitip enin, ulah hilap obatna kedah ditebus saminggu sakali. Enin teu kenging emam nu asin, kedah seeur sayur, mandi kedah ku ci haneut, unggal wengi tonggong sareng talapak kaki kedah dibalur ku minyak tawon atanapi nu haneut (kalau om mau jual rumah, Aep ikhlas. Aep cuma nitip enin, jangan lupa obatnya harus ditebus seminggu sekali. Enin ngga boleh makan yang asin, harus banyak sayur, mandi harus pake air hangat, tiap malam punggung dan telapak kaki dioles minyak tawon atau yang hangat).”
Tirta tak menggubris ucapan keponakannya itu. Dia memilih keluar dari kamar. Dengan atau tanpa persetujuan Roxas, dia akan tetap menjual rumah orang tuanya ini. Sertifikat juga sudah ada di tangannya, pembeli juga sudah ada, hanya tinggal menunggu hari yang pas untuk bertransaksi.
“Aep..” panggil enin pelan.
“Enin teu kedah mikiran Aep. Sekolah Aep tos beres, pak Rian oge janji bade milarian damel keur Aep. Upami enin tinggal sareng mamang, Aep tenang, aya nu ngajagi enin. (enin jangan pikirin Aep. Sekolah Aep udah selesai, pak Rian juga janji mau cariin kerjaan buat Aep. Kalau enin tinggal sama mang Tirta, Aep tenang, ada yang jaga enin).”
Wanita yang usianya sudah menginjak enam puluh tahun lebih itu hanya bisa menangis. Cucu pertama, anak dari putri tertuanya memang begitu menyayanginya. Dia tahu Roxas rela bekerja apapun demi dirinya.
“Aep bade cicing di mana? (Aep mau tinggal di mana?).”
“Rerencangan Aep ngontrak bumi, kamari nawaran Aep tinggal sareng anjeunna (teman Aep ngontrak rumah, kemarin dia nawarin tinggal bareng).”
“Aep..”
Enin kembali menangis, Roxas segera memeluk orang yang begitu disayanginya itu. Dalam hati dia meminta maaf harus terpaksa berbohong agar wanita itu tidak merasa cemas. Baginya kebahagiaan enin adalah segalanya. Jika mang Tirta memang tak menginginkan kehadirannya, dia rela pergi asalkan ada yang mengurus enin.
Setelah berhasil membujuk enin untuk makan dan meminum obatnya, Roxas menemani enin sampai tertidur. Kemudian pemuda itu keluar dari kamar dan menghampiri Tirta yang masih duduk di ruang tamu.
“Mang, Aep menta waktu keur pindahan (Mang, Aep minta waktu untuk pindahan),” ujar Roxas.
__ADS_1
“Dua hari.”
“Muhun mang. Tapi omat, ka bi Rani pang nguruskeun enin (iya mang. Tapi ingat, ke bi Rani tolong urus enin).”
“Hem..”
Hanya itu jawaban yang terlontar dari mulut Tirta. Dalam hatinya senang berhasil menyingkirkan keponakannya itu. Roxas masuk ke dalam kamarnya, dia segera berganti pakaian dan bersiap untuk latihan. Pikirannya masih melayang memikirkan di mana akan tinggal nanti.
🌸🌸🌸
“Bro..”
Aditya menepuk bahu Roxas yang masih terpaku di studio usai latihan. Sedari tadi dia memperhatikan kalau Roxas nampak tak bersemangat dan juga kurang konsentrasi saat latihan. Pemuda itu lalu mendudukkan diri di sisi Roxas. Dewi yang juga curiga dengan sikap sahabatnya ikut bergabung ketika yang lainnya sudah pulang.
“Lo kenapa Rox? Enin sakit lagi?”
“Ngga.”
“Terus?”
“Mang Tirta mau jual rumah enin, katanya buat modal usaha.”
“Lah kalau dijual enin terus tinggal di mana?”
“Di rumahnya. Tapi dia ngga mau gue ikut tinggal di sana.”
“Kok gitu? Emangnya dia ngga tau setengah dari rumah itu punya nyokap lo. Lo berhak juga atas uang penjualannya,” sewot Dewi.
“Gue ngga mikirin soal itu. Gue cuma mikirin enin.”
Mata Roxas nampak menerawang memikirkan nasib enin tersayangnya jika dirinya tak tinggal lagi bersamanya. Aditya tak berkomentar apapun, dia masih ingin menyimak pembicaraan kedua orang di sampingnya. Pemuda itu memang pernah mendengar kisah hidup Roxas dari Dewi.
“Terus lo setuju rumah itu dijual?”
“Iya.”
“Nah kalo dijual terus si mamang ngga ngijinin elo tinggal di rumahnya, lo mau tinggal di mana?”
“Makanya gue mau minta tolong, lo ngomong ke haji Soleh, bisa ngga kontrakan yang kosong gue sewa tapi bayarnya nanti, gue mau kumpulin uang dulu.”
“Ya bisa aja, sih. Tapi kontrakan yang kosong itu yang dua kamar. Biaya sewanya satu juta sebulan. Emang lo yakin bisa ngumpulin uang segitu dalam waktu dekat? Terus buat ke depannya lo ada uang gitu buat bayar sewanya?”
Tak ada jawaban dari Roxas. Sejujurnya dia pesimis bisa mendapatkan uang untuk membayar sewa. Gajinya dari mengajar anak-anak mengaji hanya tiga ratus ribu rupiah, mungkin hanya cukup untuk makan saja. Aditya melihat pada Roxas, keadaannya saat ini sama seperti dirinya waktu pertama kali keluar rumah. Beruntungnya dia masih memiliki kakak yang begitu peduli padanya.
“Gini aja. Gimana kalo lo tinggal sama gue?” tawar Aditya.
Roxas dan Dewi menolehkan kepalanya bersamaan pada Aditya. Demi meyakinkan kedua orang itu, Aditya menganggukkan kepala untuk menguatkan pernyataannya tadi.
“Nah iya, lo tinggal aja dulu sama Adit sementara.”
“Selamanya juga ngga apa-apa.”
“Tapi gue belum punya uang buat bayar sewanya.”
“Ngga usah dipikirin soal itu. Selama tiga bulan uang sewanya udah dibayarin abang gue.”
“Serius Dit? Gue boleh tinggal di kontrakan elo?”
“Iya. Kapan lo mau pindah? Tapi kayanya harus beli kasur satu lagi. Masa iya gue satu kasur ama elo,” Aditya bergidik yang disusul tawa Dewi dan Roxas.
“Tapi kasur kan mahal Dit,” ujar Dewi.
“Beli kasur lipat aja. Paling harganya di bawah tiga ratus ribu. Gue masih punya tabungan, pake aja dulu uangnya. Nanti kalo lo udah kerja baru ganti.”
“Makasih Dit, makasih.”
Saking senangnya Roxas langsung memeluk sahabat barunya itu. Aditya hanya tersenyum melihat reaksi Roxas. Pemuda itu melihat pada Dewi seraya mengedipkan matanya. Senyum kebahagiaan juga tercetak di wajah Dewi. Dia bersyukur Aditya mau membantu sahabat baiknya itu.
🌸🌸🌸
**Epsiode kali ini kalau komennya tembus sampai 300 sebelum jam 2 siang, mamake bakalan up lagi.
Ayo komen yang banyak, tapi jangan next, up, lanjut, semangat🤣
Komennya harus sesuai dengan isi cerita eps kali ini ya😉**
__ADS_1