Naik Ranjang

Naik Ranjang
Liburan Keluarga


__ADS_3

Dewi membereskan pakaian miliknya, Adrian dan Arkhan lalu memasukkannya ke dalam koper. Untuk perlengkapan Arkhan yang lain, wanita itu memasukkannya ke dalam traveling bag. Dia tengah bersiap berangkat menuju Pulau Umang, tempat yang dipilihnya untuk menghabiskan waktu bersama anak dan suaminya.


Di ruang tengah, Adrian tengah memakaikan sepatu pada Arkhan. Anak itu baru saja selesai sarapan dan tengah bersiap untuk berangkat. Ida datang membawa tote bag berisikan makanan buatannya sebagai bekal perjalanan mereka. Ida mendudukkan diri di dekat anaknya.


“Kalian yakin mau bawa Arkhan? Padahal tinggal aja di sini sama mama.”


“Arkhan kan masih ASI, ma. Kasihan kalau ditinggal lama. Kita rencananya di sana empat sampai lima hari.”


“Ya ngga apa-apa. Kan Arkhan udah bisa minum susu formula. Gimana kalian mau bulan madu kalau ada Arkhan, nanti gagal terus mau produksi anak.”


Adrian hanya tersenyum mendengar ucapan sang mama. Dia tahu alasan sang mama tak mengijinkan Arkhan ikut karena tak mau berpisah dari cucunya terlalu lama. Tapi dirinya dan Dewi juga tidak bisa pergi jika tidak membawa Arkhan. Mereka pasti tidak akan merasa tenang pergi tanpa sang anak.


“Kita bukan bulan madu, ma. Tapi liburan keluarga.”


“Memang kalian belum ada rencana punya anak dalam waktu dekat? Cepat kasih Arkhan adik, biar dia punya teman main.”


“Nanti kalau Arkhan sudah lepas ASI, baru kita promil. Kasihan Arkhan kalau Dewi hamil sekarang, perhatiannya pasti terbagi.”


Ida hanya mampu terdiam mendengar ucapan anaknya. Namun dalam hati dia benar-benar bahagia. Adrian menjadikan Arkhan prioritas dalam setiap keputusan yang diambilnya. Aditya pasti bahagia melihat sang kakak yang begitu menyayangi anaknya.


Dari arah kamar Dewi keluar dengan menggeret koper dan membawa traveling bag. Adrian memberikan Arkhan pada Ida kemudian membantu istrinya itu mengangkat barang-barang. Pria itu memasukkan semua barang ke dalam bagasi. Setelah semua barang yang dibutuhkan sudah masuk ke dalam mobil, mereka memutuskan untuk segera berangkat agar tidak terlalu sore tiba di Pandeglang.


“Ma.. kita berangkat sekarang. Papa mana?”


“Sebentar. Papamu masih di kamar kayanya.”


Ida beranjak dari tempatnya kemudian menuju kamarnya. Tak lama dia kembali bersama dengan Toni. Dewi mencium punggung tangan mertuanya untuk berpamitan, begitu pula dengan Adrian. Toni dan Ida bergantian menggendong dan mencium Arkhan.


“Jangan lupa pamitan sama mbahmu,” ujar Ida.


“Iya, ma. Kita mampir sebentar ke rumah tante.”


Hanya anggukan saja yang diberikan oleh Ida. Wanita itu meminta Dewi segera masuk ke dalam mobil baru kemudian menaruh Arkhan ke pangkuan sang menantu. Adrian segera masuk dan duduk di belakang kemudi. Pria itu segera melajukan mobilnya seraya membunyikan klakson.


Kendaraan roda empat milik Adrian terus meluncur membelah jalanan kota Bandung yang masih belum banyak aktivitas di hari libur ini. Mereka menuju kediaman Roxas lebih dulu, berpamitan pada Wardhani, Cahyadi, enin serta Pipit dan Roxas.


🌸🌸🌸


Setelah menempuh perjalanan panjang, mobil yang dikemudikan oleh Adrian akhirnya sampai juga di Desa Sumur tempat di mana dermaga untuk mereka menyebrang menuju pulau Umang berada. Dikarenakan hari sudah sangat sore, Adrian memutuskan untuk menginap di salah satu hotel yang ada di sana dan baru esok pagi menuju pulau Umang.


Pria itu mengarahkan mobilnya menuju salah satu hotel yang letaknya tidak jauh dari dermaga. Di hotel ini pula dia akan menitipkan kendaraan selama mereka berada di pulau Umang. Setelah melakukan reservasi, ketiganya segera masuk ke kamar hotel. Dewi membaringkan Arkhan yang tertidur di atas kasur.


Adrian merebahkan tubuhnya di samping Arkhan, tubuhnya lumayan lelah berkendara hampir delapan jam lamanya karena kemacetan yang melanda di beberapa titik. Dewi memilih mandi untuk membersihkan dirinya yang lengket oleh keringat. Sehabis mandi dan menunaikan ibadah shalat ashar, dia mendekati Adrian.


“Aa mandi dulu biar segar. Kan belum shalat juga.”


Dengan cepat Adrian mengangkat tubuhnya kemudian menuju kamar mandi. Baru saja setengah jalan, terdengar ketukan di pintu. Adrian membilas wajahnya dari sabun baru kemudian membukakan pintu, nampak di depan pintu Dewi berdiri sambil menggendong Arkhan.


“Arkhan mau mandi sama ayah.”


“Sini sayang, kita mandi bareng,” Adrian mengulurkan tangannya mengambil Arkhan dari gendongan Dewi.


“Mamanya ngga sekalian mandi lagi?” Adrian melihat pada Dewi dengan tatapan menggoda.


“Ngga usah ngarep ya, ayah. Sana mandi.”

__ADS_1


Dewi membalikkan tubuh Adrian kemudian menutup pintu kamar mandi. Adrian menaruh Arkhan yang sudah tak mengenakan apapun lagi ke dalam bath tub, lalu mengisinya dengan air. Anak itu nampak senang bermain dalam bath tub. Sesekali tangannya menepuk-nepuk air yang mulai naik.


Hampir setengah jam lamanya Adrian dan Arkhan berada di kamar mandi, sampai akhirnya keduanya keluar. Dewi langsung memakaikan pakaian pada sang anak, sedang Adrian yang sudah berpakaian segera menunaikan shalat ashar. Pria itu mengahampiri sang istri dan anak yang berada di balkon usai menunaikan kewajibannya.


“Mau makan di hotel atau cari makanan di luar?”


“Mending cari makanan di luar, lebih banyak variannya.”


“Bada maghrib aja ya kita keluarnya.”


“Iya, a.”


Arkhan mulai rewel, anak itu sepertinya lapar. Dewi segera memberikan susu murni dari sumbernya untuk sang anak. Adrian bangun untuk mengambilkan biscuit untuk anaknya lalu kembali ke tempatnya semula. Nampak Arkhan begitu bersemangat menyedot susu di tempat yang belum bisa Adrian miliki sepenuhnya.


Adrian menggeser duduknya menjadi di belakang Dewi. Pria itu memeluk sang istri dari belakang seraya meletakkan dagunya di bahu sang istri. Dilihatnya Arkhan yang masih anteng menyusu.


“Enak banget kayanya ya, de. Ayah juga mau dong, sisain ya,” celetuk Adrian.


“Ish.. jangan dengerin ayah, sayang. Ayah lagi mode omesh.”


“Ngga apa-apa ya kalau omesh sama mama, asal bukan sama mama orang lain.”


“Awas aja kalau berani.”


Terdengar tawa Adrian menanggapi ucapan sang istri. Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Dewi termasuk tipe pencemburu. Jangankan wanita muda dan cantik, istrinya itu akan cemburu melihat Adrian terlalu lama berbicara dengan dosen wanita yang usianya lebih tua darinya.


Kekhusyuan Arkhan menyusu terganggu oleh gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Dewi. Wanita itu nampak kegelian ketika Adrian menciumi lehernya beberapa kali. Akibatnya sang anak memilih mengakhiri sesi menyusunya.


“Aa sih.. lihat tuh Arkhannya berhenti nyusu.”


“Udah kenyang Arkhannya. Iya kan, sayang?”


“Lusa Arkhan ulang tahun ya?” tanya Adrian.


“Iya, ayah. Ayah mau kasih apa buat Arkhan?” ujar Dewi dengan suara dibuat seperti anak kecil.


“Ada aja. Mama jangan dikasih tau.”


Dewi menyebikkan bibirnya mendengar ucapan suaminya. Hal tersebut tentu saja dimanfaatkan Adrian untuk mencium kembali bibir sang istri. Kali ini Dewi tak menolak dan membalas ciuman Adrian. Arkhan sendiri nampak tak peduli. Dia masih asik menikmati biskuitnya.


🌸🌸🌸


Pagi harinya, Adrian bersama dengan Arkhan segera menuju dermaga untuk melakukan penyebrangan menuju pulau Umang. Wajah Arkhan nampak berseri ketika Adrian menggendongnya untuk naik ke atas speed boat. Binar matanya menampakkan antusias yang tinggi.


Ketika kapal mulai berjalan, terdengar teriakan anak itu. Matanya terus melihat pada air laut yang membentang. Tangannya terangkat dan mulutnya tak henti mengeluarkan kata-kata yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri dan Tuhan. Dewi mengabadikan gambar suami dan anaknya dengan ponsel di tangannya.


Rambut Arkhan bergerak-gerak tertiup angin. Senyum tak lepas dari wajahnya. Kebahagiaan begitu terpancar dari wajah tampannya. Adrian memandangi anaknya yang terlihat begitu senang. Pilihannya membawa Arkhan liburan bersama adalah hal yang tepat. Apalagi mereka akan merayakan ulang tahun pertama anak itu di pulau Umang.


Setelah menaruh barang-barang di dalam kamar resort, Adrian dan Dewi langsung berjalan-jalan di seputar pantai. Arkhan dengan bebas bergerak ke sana sini di atas pasir putih. Tangan dan kakinya sudah dipenuhi pasir, namun anak itu belum mau berhenti. Adrian mengajaknya membuat bangunan dari pasir.


Tawa Dewi pecah ketika Adrian berhasil membuat bangunan dan dengan santainya Arkhan menghancurkan bangunan tersebut. Adrian menangkap Arkhan kemudian menciumi anak itu sampai kegelian. Tawanya terdengar menahan rasa geli dari ciuman sang ayah. Dewi tak bisa berhenti tertawa melihat aksi dua pria yang begitu disayanginya.


🌸🌸🌸


Untuk merayakan ulang tahun Arkhan yang pertama, Adrian meminta dibuatkan tenda di pantai hanya untuk mereka bertiga. Sebuah kue ulang tahun dengan lilin angka satu sudah siap di atas meja. Aneka makanan juga sudah tersedia di sana. Tak lupa dua buah kado untuk Arkhan juga ada di sana.

__ADS_1


Sambil menggendong Arkhan, Adrian membawa anak itu ke depan kue yang bentuknya seperti mobil balap Lightning Mc.Queen, salah satu film kesukaan Arkhan yang selalu diputar berulang-ulang olehnya. Dia berteriak senang melihat replika mobil berwarna merah yang terbuat dari kue.


“Happy birthday Arkhan, happy birthday Arkhan, happy birthday dear Arkhan, happy birthday Arkhan..”


Dewi dan Adrian menyanyikan lagu ulang tahun untuk sang anak bersama-sama. Setelah menyanyikan lagu, Adrian meminta Arkhan meniup lilin berbentuk angka satu. Percobaan pertama gagal, percobaan kedua gagal dan di usahanya yang ketiga Arkhan berhasil memadamkan lilin tersebut.


“Yeaaaayy.. selamat ya Arkhan. Semoga menjadi anak yang soleh, sayang mama dan ayah. Jadi anak pintar dan berbakti pada kedua orang tua, mmmuuuaacchhh..”


Dewi mengucapkan doa untuk sang anak yang diakhiri ciuman di kedua pipi gembul anaknya. Adrian juga tak lupa mengucapkan doa terbaik untuk anaknya itu.


“Ayah doakan Arkhan selalu menjadi anak yang soleh. Anak yang berakhlak mulia, sayang pada orang tua, saudara dan teman. Selalu membanggakan mama, ayah dan juga papa. Ayah selalu mendoakan yang terbaik untukmu sayang.”


Adrian mengakhiri doanya dengan memberikan ciuman di pipi Arkhan. Selanjutnya dia menghubungi Ida dan Toni. Kedua orang tuanya itu juga mengucapkan doa-doa baik untuk sang cucu. Mereka menunjukkan kado yang sudah disiapkan untuk Arkhan. Tangan Arkhan terjulur, seperti hendak mengambil kado tersebut.


“Ini kado dari mama.”


“Ini dari ayah.”


Dengan tak sabar Arkhan berusaha membuka kado yang diberikan untuknya. Anak tersebut duduk di atas pasir. Matanya terus menatap tangan Adrian yang tengah membukakan kado untuknya. Terdengar teriakan bahagia dari mulutnya ketika melihat sebuah mobil berwarna merah untuknya.


“Arkhan suka?” tanya Adrian.


Kepala Arkhan hanya mengangguk-angguk saja. Tangannya langsung bergerak memainkan mobil mainan tersebut. Dewi tersenyum bahagia melihat kebahagiaan sang anak. Ditatapnya Adrian yang tengah mengajak anaknya bermain mobil-mobilan.


“Terima kasih, a. Berkat aa, Arkhan ngga kehilangan kasih sayang papanya,” ujar Dewi dengan mata berkaca-kaca.


“Kamu tidak perlu berterima kasih, sayang. Sejak dalam kandungan, aku sudah menganggap Arkhan sebagai anakku sendiri. Membuatmu dan Arkhan bahagia, adalah prioritasku.”


“Mas Adit pasti sangat bahagia, Arkhan mendapatkan banyak kasih sayang dari aa.”


Adrian merengkuh tubuh Dewi kemudian mendaratkan ciuman di puncak kepala wanita itu. Kemudian Adrian mencium puncak kepala Arkhan yang masih asik bermain dengan mobil-mobilannya.


🌸🌸🌸


Setelah merayakan ulang tahunnya dan lelah bermain seharian, Arkhan tertidur dengan damainya di atas kasur. Posisinya berada tepat di tengah-tengah kasur dengan kedua kaki terbuka dan jempolnya berada di dalam mulut. Adrian hanya tersenyum melihat anaknya yang begitu lelap dalam tidurnya.


Dewi mendekat kemudian memeluk pria itu dari belakang. Dia menyandarkan kepalanya ke punggung sang suami. Adrian memegang kedua tangan Dewi yang bertumpu di atas perutnya. Perlahan dia melepaskan pelukan Dewi kemudian membalikkan tubuhnya. Kedua tangannya menangkup wajah Dewi.


“I love you, sayang..” ujar Adrian pelan.


“I love you too, a.”


Senyum mengembang di wajah Dewi ketika membalas ucapan cinta suaminya. Adrian mendekatkan wajahnya kemudian mencium dengan mesra bibir sang istri. Untuk sesaat keduanya hanyut dalam ciuman yang sarat akan cinta dari keduanya.


“Sayang.. ibadah yuk,” ajak Adrian.


“Di mana? Itu kasunya di monopoli Arkhan.”


“Di sofa aja.”


Kepala Dewi terangguk. Dia memekik pelan ketika Adrian mengangkat tubuhnya. Pria itu berjalan menuju sofa kemudian mendudukkan diri di sana. Perlahan Adrian merebahkan tubuh Dewi di atas sofa. Untuk sesaat pandangan keduanya bertemu dan saling mengunci. Dewi meraba wajah Adrian dengan tangannya. Adrian meraih tangan Dewi kemudian mengecup punggung tangannya beberapa kali.


Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Dewi kemudian merapalkan doa di dekat telinga sang istri. Usai membaca doa, Adrian mulai melakukan kegiatannya. Mengajak sang istri untuk mendayung nirwana di saat sang anak sudah tertidur lelap. Dan semoga saja mereka bisa sukses mencapai puncak surgawi tanpa adanya interupsi dari Arkhan.


🌸🌸🌸

__ADS_1


**Bahagianya ya lihat Dewi, Adrian dan Arkhan udah hidup bahagia. Itu tandanya sebentar lagi kebersamaan kita menyaksikan pasangan tersebut akan segera berakhir.


Tapi sebelum mereka mengucapkan kata² perpisahan masih ada episode² akhir yang ngga kalah menariknya ya😉**


__ADS_2