
Tidak terasa masa iddah Dewi akhirnya selesai juga. itu artinya Aditya sudah meninggalkan semua orang yang mencintainya selama empat bulan lebih. Janda muda dari Aditya sendiri sudah terlihat ikhlas melepaskan kepergian sang suami. Hidup Dewi sudah tidak muram lagi. Apalagi ketika dirinya tahu kalau Adrian ternyata sangat mencintainya.
Setelah masa iddah Dewi selesai, Adrian mengusulkan semua keluarga untuk berlibur bersama. Dia ingin memberikan hiburan untuk mantan adik iparnya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Selama menjalani masa iddah, Dewi lebih banyak tinggal di rumah dan hanya pergi satu atau dua kali karena sebuah urusan penting. Untuk menghilangkan kejenuhan Dewi, Adrian mengajaknya dan anggota keluarga yang lain pergi berlibur.
Adrian memilih Tasikmalaya sebagai tempat liburan. Selain banyak objek wisata yang memiliki keindahan panorama, di sana juga keluarga Dewi dari pihak bapak tinggal. Setelah Aditya meninggal, Dewi belum mengunjungi mereka lagi. Mereka berangkat pagi-pagi menggunakan dua kendaraan. Mobil milik Toni dikendarai oleh Roxas, sedang Adrian menggunakan mobilnya sendiri bersama dengan Dewi, Arkhan dan bi Parmi yang juga diajak serta.
Dewi tentu saja senang mendengar Adrian mengajaknya berlibur ke Tasikmalaya. Dia juga sudah rindu pada paman dan bibinya. Roxas juga senang bisa berlibur bersama istri dan juga enin. Secara beriringan, kedua kendaraan tersebut meninggalkan kota Bandung pukul setengah enam. Di perjalanan mereka mampir sebentar untuk sarapan, baru kemudian melanjutkan kendaraan.
Sebelum menuju destinasi wisata, Adrian lebih dulu mampir ke kediaman Nandang dan Iis. Kini Nandang hanya tinggal berdua dengan anak bungsunya yang masih sekolah. Nita yang sudah menikah, diboyong tinggal di rumah suaminya. Sedang Tita kembali ke rumah orang tuanya setelah mereka bercerai.
Kedatangan Dewi dan keluarga Adrian tentu saja disambut gembira oleh Nandang dan Iis. Mendengar Dewi akan mampir, Iis sengaja memasak banyak makanan. Mereka semua menikmati makan siang di kediaman Nandang. Iis senang melihat Dewi yang sudah kembali seperti semual. Dia juga sudah mendengar rencana Adrian untuk menikahi Dewi.
“Jadi kapan nak Rian akan menikahi Dewi?” tanya Iis saat sedang berbincang dengan Adrian, Ida dan Toni, bersama dengan sang kakak.
“In Syaa Allah akhir bulan ini. Tapi hanya akad dulu saja. Untuk resepsinya menyusul dua bulan kemudian,” jelas Adrian.
“Kenapa ngga sekalian?”
“Demi nama baik Dewi. Saya khawatir orang-orang akan membicarakan dia karena langsung menikah setelah masa iddahnya selesai. Terkadang mereka yang tidak tahu apa yang terjadi dengan keluarga kita, tapi suka seenaknya men-judge dengan persepsi mereka sendiri.”
“Iya juga, sih,” timpal Iis.
“Jadi saya memutuskan menggelar resepsi dua bulan setelahnya.”
“Papa setuju. Dan untuk acara akad biar keluarga, keluarga dan teman dekat saja yang datang. Untuk menjadi saksi dan supaya tidak menimbulkan fitnah nantinya.”
Nandang hanya menganggukkan kepalanya saja. Tidak ada protesan dari mulut pria itu. di matanya memang tidak ada lelaki lain yang layak menjaga dan melindungi Dewi serta Arkhan selain Adrian.
“Rencananya akad akan dilaksanakan di mana?” tanya Nandang.
“Kalau di rumah kami, pak Nandang tidak keberatan kan?” jawab Ida.
“Sama sekali tidak. Di mana saja yang penting sah.”
“Aamiin..”
“Katanya kalian mau liburan. Mau liburan ke mana?” tanya Iis.
“Ke pantai Karang Tawulan,” jawab Adrian.
__ADS_1
“Oh dekat itu dari sini.”
“Iya, bi. Saya sengaja pilih pantai itu karena dekat dari sini. Mamang sama bibi mau ikut liburan sekalian?”
“Ngga ah, kalian saja. Suami bibi banyak pekerjaan di kebun, otomatis bibi juga sibuk,” jawab Iis.
“Sama, mamang juga banyak pekerjaan. Apalagi sekarang mamang dipercaya mengurus ternak ayam. Alhamdulillah suaminya Nita yang memberi modal untuk usaha,” ujar Nandang.
“Alhamdulillah. Semoga lancar-lancar semuanya.”
“Aamiin..”
“Kalau begitu kami mau melanjutkan perjalanan lagi. Terima kasih untuk makan siangnya,” ujar Ida.
“Sama-sama, bu. Maaf hanya menu seadanya.”
“Alhamdulillah ini sudah lebih dari cukup. Rasa makanannya enak,” Ida mengangkat ibu jarinya yang dijawab senyuman oleh Iis.
Iis dan Nandang segera berdiri untuk mengantarkan tamunya menuju kendaraan. Dewi berpamitan pada Nandang dan juga Iis. Iis mengambil Arkhan dari gendongan Dewi lalu membawanya menuju mobil Adrian. Beberapa kali wanita itu mencium pipi gembul cucunya itu.
“Kita berangkat dulu, bi, mang. Assalamu’alaikum.”
Dewi membuka kaca jendela, kemudian melambaikan tangannya ketika roda kendaraan mulai bergerak. Tangan Arkhan juga ikut melambai. Senyum Iis mengembang melihat anak menggemaskan itu.
Perjalanan berlanjut menuju destinasi selanjutnya, yakni pantai Karang Tawulan. Adrian memilih bungalows sebagai tempat mereka tinggal. Sesampainya di bungalows, semua keluarga memutuskan untuk beristirahat sebentar. Bada ashar baru mereka menuju pantai Karang Tawulan. Di sana Adrian sudah menyiapkan kejutan untuk Dewi. Dia sudah menyiapkan lamaran romantis yang diusulkan Roxas padanya.
🌸🌸🌸
Sore harinya, semua segera bersiap menuju pantai Karang Tawulan. Selain untuk menikmati keindahan pantai, mereka juga berencana makan malam di tempat makan yang ada di sana. Tawa ceria Arkhan langsung terdengar ketika melihat hamparan air diserta deburan ombak.
Pantai Karang Tawulan beradai di kawasan Cimanuk, Kalapagenep, Cikalong, Tasikmalaya. Wisata pantai ini bisa diakses dari dua kabupaten tersebut, yakni Tasik dan Ciamis karena lokasinya yang berbatasan dengan kabupaten Ciamis. Di pantai ini terdapat tebing yang bentuknya menjorok ke tengah laut, dengan pasir indah yang dan sedikit tersembunyi di bagian bawah kanan dan kiri tebing.
Deburan ombak dan batu karang yang ada di pantai ini, tak kalah cantik dari Tanah Lot yang ada di Bali. Pantai Karang Tawulan juga merupakan tempat yang cocok untuk melihat sunrise dan sunset. Di saat nanti, Adrian berencana memberikan kejutan untuk Dewi yang tidak akan bisa dilupakannya.
Saat keluarganya sedang menikmati keindahan pantai dari atas tebing. Adrian diam-diam menuju ke bawah tebing. Dia akan menyiapkan lamaran indah untuk sang kekasih di sana. Rencananya menjelang sunset, pria itu akan mengajak Dewi ke sana dan melamar wanita tersebut.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih dua puluh menit. Matahari mulai menuju peraduannya. Adrian juga sudah selesai membuat kejutan untuk calon istrinya itu. Pria itu kembali menemui keluarganya. Dia menghampiri Dewi yang sedang berbincang dengan Pipit.
“Wi.. ikut aku sebentar.”
__ADS_1
“Kemana?”
“Ikut aja.”
Pipit yang sudah tahu rencana Adrian untuk melamar Dewi, meminta wanita itu untuk mengikuti Adrian. Arkhan yang sedang anteng bersama Roxas ditinggalkan dalam pengawasan kakeknya itu. Adrian berjalan di depan, memandu Dewi ke tempat yang sudah disiapkan untuknya.
“Aku ngajak kamu ke sini untuk memperlihatkan sesuatu untukmu,” ujar Adrian ketika mereka hampir sampai di tempat tujuan.
“Lihat apa?”
Adrian tak menjawab pertanyaan Dewi. Dia terus berjalan menuju tempat yang sudah disiapkan olehnya. Pria itu berhenti kemudian menghadap pada Dewi.
“Wi.. kamu lihat di sana, langitnya indah ya warnanya.”
Mengikuti apa yang dikatakan Adrian, Dewi menolehkan kepalanya ke samping. Langit sudah berwarna keemasan. Sang mentari sudah bersiap menuju peraduannya. Kemudian dia kembali melihat pada Adrian.
“Wi..”
Adrian kemudian berpindah tempat hingga Dewi bisa melihat tulisan di atas pasir yang tadi disiapkan oleh pria itu. Dewi membaca tulisan yang ada di atas pasir.
Tapi baru sebentar, datang ombak dan menghapus tulisan tersebut sampai hilang setengahnya. Adrian hanya terbengong saja melihat hasil kerja kerasnya musnah karena kedatangan ombak tanpa permisi. Awalnya Dewi hanya terbengong, namun kemudian terdengar suara tawanya.
“Hahaha… lamaran apa ini? Hahaha…”
Adrian hanya menggaruk kepalanya saja. Niatnya memberikan lamaran romantis di saat sunset, berantakan gara-gara ombak. Dewi masih terus tertawa, untung saja dia berhasil melihat apa yang ditulis Adrian di atas pasir.
Wanita itu melihat sekeliling, kemudian dia melihat sebilah ranting di dekat tebing. Dewi berlari mengambil ranting tersebut. Menggunakan ranting tersebut, Dewi menuliskan sesuatu di atas pasir.
“Itu jawabanku,” Dewi menunjuk tulisan yang tadi dibuatnya.
Senyum Adrian terbit melihatnya. Walau lamaran romantisnya tidak tereksekusi sesuai harapan, setidaknya maksudnya sudah tersampaikan.
🌸🌸🌸
Akhirnya bisa up juga walau sedikit. Ga apa² ya, soalnya masih capek badanku. Moga aja puas🙏
__ADS_1