
Sesuai rencana, perikahan Hardi dan kekasihnya digelar tiga bulan setelah syukuran kelahiran anak kedua Dewi. Acara diselenggarakan di salah satu hotel bintang empat yang ada di kota Bandung. Hardi mengundang semua murid IPS tiga, termasuk guru-guru yang pernah mengajarnya.
Selain teman sekolahnya, dia juga mengundang teman-teman kuliahnya dulu dan juga rekan kerjanya. Ayah dari istrinya yang merupakan salah satu pejabat di BUMN juga mengundang relasinya untuk datang. Orang tua Hardi sangat bangga sang anak bisa mempersunting anak salah satu pejabat penting di BUMN.
Dewi datang bersama Adrian dan Arkhan. Davira dititipkan di rumah Ida. Kasihan anak itu pasti tidak nyaman berada di keramaian, apalagi usianya baru tiga bulan. Pasangan tersebut naik ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat. Raut bahagia nampak di wajah pasangan pengantin baru.
Setelah mengucapkan selamat, keduanya turun dari panggung pelaminan. Anak-anak IPS tiga berkumpul di satu tempat dan membuat kehebohan sendiri. Banyak dari mereka yang sudah melepas masa lajang, namun tak sedikit yang masih menjomblo. Melihat Dewi datang bersama Adrian, tentu saja membuat mereka heboh dan bertanya-tanya. Wulan yang dulu menjadi fans garis keras Adrian langsung mencari tahu hubungan keduanya.
“Kok pak Rian bisa dateng bareng Dewi, sih? Itu yang cowok anak mereka?” tanya Wulan kepo.
“Pak Rian emang udah nikah ama Dewi. Iya, yang cowok itu anaknya,” jawab Mila.
“Sumpah lo! Dewi sama pak Rian? Astaga beruntungnya Dewi.”
“Kaga usah ngiri sama rejeki orang lain. Lo sendiri kenapa belum nikah? Kaga laku ya?”
“Sekate-kate, lo. Gue kan lagi nunggu pak Rian.”
“Ya susah, lo nunggu di perempatan Gedebage, pak Rian lewatnya perempatan Dago. Sampe kiamat juga ngga akan ketemu, dodol.”
Suara tawa terdengar menanggapi ucapan Mila. Wulan hanya mencebikkan bibirnya saja. Wulan sebenarnya sudah menikah tiga bulan lalu, namun baru sebulan dia sudah bercerai. Itu karena wanita itu tahu kalau ternyata suaminya adalah pria beristri. Itu sebabnya wanita itu hanya dinikahi secara sirri dengan alasan masih terikat kontrak dengan tempat kerjanya, yang melarangnya menikah sebelum kontrak berakhir.
“Mending lo sama Bobi aja. Dia juga masih jomblo. Tapi biar jomblo, dia udah mapan. Kan dia sekarang dipercaya ngurus cabang AdRox yang baru.”
Wulan menolehkan kepalanya, melihat pada Bobi. Pria itu nampak tengah berbincang dengan teman lainnya. Ada yang sedikit berbeda dengan tampilan Bobi. Walau tubuhnya masih berisi, namun tidak bergelambir seperti dulu saat sekolah. Melihat tatapan Wulan, Mila kembali menyambung ucapannya.
“Sekarang si Bobi rajin fitness. Jadi udah ngga kaya bola lagi. Biar makannya masih banyak, tapi badannya berisi, ngga lembek yang isinya lemak doang.”
“Emang Bobi mau sama gue?”
“Coba aja dulu.”
Wulan agak sedikit ragu mengingat statusnya yang tidak jelas. Jadi janda tapi tidak banyak orang yang tahu, hanya orang tua dan tetangga dekat saja. Kembali dia melihat pada Bobi. Di saat bersamaan pria itu menoleh padanya. Refleks Wulan membuang wajahnya ke arah lain.
“Lan..”
Wulan terjengit ketika Bobi memanggilnya. Dia langsung menolehkan kepalanya. Bobi yang awalanya duduk sedikit jauh darinya, meminta Heri untuk pindah, jadi dia bisa duduk di samping Wulan.
“Kenapa?” tanya Wulan.
“Lo udah kerja?”
“Belum. Tempat kerja gue yang lama bagkrut, semua karyawannya dipecat, termasuk gue.”
“Gue lagi butuh pegawai di AdRox. Lo mau ngga? Gajinya sih emang ngga terlalu besar. Masih di bawah UMK Bandung, tapi makan ditanggung, biaya transport juga dapet.”
“Kerjanya apa?”
“Bantuin gue ngurus admin. Mau ngga?”
“Ehmm.. boleh deh.”
“Nanti gue share lokasinya.”
“Ok, deh.”
Senyum terbit di wajah Wulan. Ternyata datang ke resepsi pernikahan Hardi menjadi berkah untuknya. Dia yang pengangguran bisa mendapat pekerjaan berkat tawaran Bobi. Yang paling tidak disangka, pemilik AdRox adalah Roxas. Pria yang terkenal kere saat jaman sekolah dulu, ternyata sekarang sudah menjadi pengusaha.
Dewi datang sambil membawa Arkhan lalu duduk di samping Mila. Mata Arkhan terus memandangi perut Mila yang sudah membuncit. Kemudian tangannya meraba perut tersebut. Mila senang sekali pada Arkhan. Sejak kecil anak itu sudah terkenal ramah dan tidak sulit bergaul dengan orang lain.
“Tante.. dedenya masih tidul ya?”
“Iya. Coba Arkhan ajak ngomong, siapa tau mau gerak.”
“Dede.. bangun dong. Cini main ama abang.”
Mata anak itu membelalak ketika merasakan tendangan di perut Mila. Refleks dia melihat pada Dewi dan mengatakan apa yang dirasakannya. Mila tersenyum senang karena sang anak mau berinteraksi dengan Arkhan.
“Wi.. anak gue kan katanya perempuan. Kayanya kita bakal besanan nih,” Mila terkikik sendiri.
“Yaleah Mil, anak lo masih di dalem perut udah niat besanan aja,” sela Bobi.
“Namanya juga usaha. Kan gue pengen punya mantu ganteng kaya Arkhan.”
“Si Arkhan bengek punya ibu mertua model elo, hahaha..”
“Kampret! Lo kalo ngomong kaga enak mulu. Pantesan jomblo mulu.”
“Jomblo itu pilihan bukan takdir.”
“Hilih bilang aja kaga laku. Mending lo sama Wulan aja, sama-sama jomblo.”
__ADS_1
Hampir saja Wulan tersedak mendengar ucapan Mila. Dewi dan Bobi sontak melihat pada Wulan yang nampak salah tingkah. Wanita itu berdehem beberapa kali untuk mengusir rasa groginya.
“Lo masih jomblo, Lan?” tanya Bobi.
“Iya, hehehe..”
“Nah cocok tuh. Gasskeunlah,” seru Dewi.
Hanya senyum tipis tersungging di wajah Bobi. Pria itu terkejut sekaligus senang mendengar Wulan masih jomblo. Dulu saat sekolah, dia sempat ngeceng Wulan, walau tidak pernah diungkapkan. Rasanya tidak salah kalau sekarang mencobanya. Apalagi dirinya sudah bekerja dan punya penghasilan.
Di lain tempat, Adrian tengah bereuni dengan guru-guru tempat mengajarnya dulu. Pak Nurman senang sekali bisa bertemu kembali dengan Adrian, begitu juga dengan guru-guru yang lain. Para fans Adrian yang sekarang sudah memiliki pasangan juga ikut senang bisa bertemu dengan guru tampan itu lagi.
“Saya ngga nyangka pak Rian ternyata berjodoh dengan Dewi,” ujar pak Syarif.
“Iya, pak. Alhamdulillah.”
“Kalau yang kalian bawa itu anaknya Adit, ya?” tanya Nurman.
“Iya, pak.”
“Kalau darimu sudah ada anak?”
Nurman adalah teman dari Toni, jadi wajar saja kalau pria itu tahu tentang hubungan Adrian, Aditya dan Dewi. Dia juga tahu kalau Adrian menikahi Dewi setelah Aditya meninggal karena kecelakaan yang menimpanya. Pria itu juga datang saat pernikahan Adrian dengan Dewi.
“Alhamdulillah udah ada, pak. Tapi ngga dibawa, masih tiga bulan.”
“Perempuan atau laki-laki?”
“Perempuan.”
“Wah bisa dong besanan dengan saya. Anak saya laki-laki pak,” timpal Murni, yang dulu sempat tergila-gila pada Adrian.
“Harus banyak-banyak doa, bu. Biar diijabah.”
Gelak tawa langsung terdengar menanggapi ucapan Syarif. Pernikahan Hardi benar-benar dijadikan ajang reuni, tidak hanya untuk kelas IPS 3. Tapi juga untuk para guru yang mengajar kelas IPS. Selain memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin. Mereka juga bisa melakukan temu kangen.
🌸🌸🌸
Setahun kemudian
Dewi tengah sibuk mendandani kedua anaknya. Rencananya hari ini mereka akan menghadiri resepsi pernikahan Bobi dan Wulan. Ternyata sejak pertemuan di resepsi Hardi, Wulan bekerja di AdRox. Benih-benih cinta keduanya pun mulai tumbuh. Dan hari ini mereka sepakat untuk mengikat janji suci.
Bobi tidak mempermasalahkan status Wulan yang sudah menjadi janda, di usia pernikahannya yang baru satu bulan. Wulan juga senang akhirnya bisa berjodoh dengan Bobi. Ternyata pria bertubuh gempal itu adalah pria yang bertanggung jawab, dan mencintainya dengan sepenuh hati.
“Sudah siap?” tanya Adrian.
“Sudah, ayah. Lihat, Avi cantik kan?”
“Cantik, anak siapa dulu,” Adrian menggendong Davira.
“Kalau aku gimana, yah?” tanya Arkhan tak mau kalah.
“Arkhan juga ganteng.”
“Aku mirip papa ya.”
“Iya, ganteng kaya papa.”
Senyum Arkhan terbit mendengarnya. Sedikit demi sedikit Arkhan mulai diberi tahu tentang Aditya. Foto pria itu juga dipajang di kamar Arkhan. Sebelum pergi keluar rumah, anak itu selalu berpamitan pada sang papa.
“Arkhan udah pamit sama papa?” tanya Adrian.
“Udah ayah.”
“Kalau gitu kita berangkat sekarang.”
Sambil bersorak Arkhan berjalan keluar mengikuti sang ayah. Seperti biasa, anak itu memilih duduk di depan. Dewi mengalah duduk di belakang bersama dengan Davira. Tak berapa lama kemudian kendaraan tersebut mulai berjalan.
Mobil yang dikendarai Adrian memasuki sebuah lapang yang disewa sebagai tempat parkir. Acara resepsi diadakan di gedung serbaguna kelurahan tempat Wulan tinggal. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka turun dan segera menuju lokasi resepsi. Sudah banyak undangan yang datang.
Pasangan pengantin sibuk menerima ucapan dari semua undangan yang datang. Teman-teman Dewi juga sudah banyak yang datang. Setelah memberikan ucapan selamat, Dewi segera bergabung dengan teman-temannya. Sedang Adrian dan Arkhan berburu makanan.
“Jadi gimana nih, Mick? Bud? Kalian disalip Bobi noh,” Hardi mulai mengompori.
“Gue cuma kesalip sebulan doang. Noh si Budi yang belum jelas nasibnya. Khayra udah sadar kali terus batalin lamaran si Budi, hahaha…” seru Micky.
“Rese lo! Khayra nunggu setahun abis kakaknya nikah, baru dia.”
“Terus kapan?”
“Kalau ngga ada halangan empat bulan lagi. Pas setahun abis kakaknya nikah.”
__ADS_1
“Kira-kira anak-anak kita bisa akrab kaya kita ngga ya? Kita kan dulu satu sekolah, jadinya dimulai dari sana. Nah anak kita, beda umur, beda sekolah, rumah juga jauhan,” seru Hardi.
“Bisa aja, kalau kita sering adain reuni sambil bawa anak masing-masing. Jadi mereka udah mulai kenal dari sekarang,” usul Roxas.
“Nah boleh juga tuh usulan lo.”
“Reuninya di AdRox, ya.”
“Beuuhh.. bisnis mulu di otak lo.”
“Ya jelas, bini ama anak gue kan perlu diempanin.”
“Buset empan, udah kaya ikan aja. Hahaha…”
Di lain tempat, Dewi juga tengah berkumpul dengan sahabat perempuannya. Mila dan Sheila datang dengan membawa anak mereka. Sandra yang masih berstatus lajang, hanya bisa iri melihat sahabatnya yang sudah memiliki momongan.
“Ngga usah sedih kaya gitu. Bulan depan kan elo ama Micky yang mejeng.”
“Iya, sih. Tapi akhir-akhir ini gue gedeg banget sama Micky. Tuh orang keras kepala banget. Ngga keitung gue ama dia ribut gara-gara masalah sepele. Kemarin aja ribut soal souvenir. Gue pesen apa eh diganti ama dia ngga bilang-bilang.”
“Sabar, drama sebelum pernikahan emang kaya gitu. Kalau ngga kuat-kuat iman bisa bubar jalan duluan,” Sheila mengusap punggung sahabatnya.
“Gue malah ngga nyangka Bobi bisa sama Wulan,” ujar Dewi.
“Berkat gue tuh. Harusnya mereka kasih anak gue angpaw sebagai tanda terima kasih.”
“Elah kaya lo kurang duit aja dari laki lo.”
“Kalo dari bang Ikmal Alhamdulillah tercukupi. Tapi kalau gue bisa dapet dari sumber lain ya Alhamdulillah juga.”
“Hahaha.. bener juga sih. Secara kita kalau udah nikah pasti fokusnya ke duit ya.”
“Iya. Ngga jaman rayuan gombal lagi. Realistis aja kita, butuh duit buat susu, diapers, kosmetik, dapur, bayar tagihan listrik, air, jalan-jalan. Kaga kenyang makan gombalan doang. Makanya kaga mempan gue sama gombalan Dilan sekarang, hahaha…”
Di bagian depan aula, Adrian dan Ikmal berbincang santai. Arkhan masih anteng ikut dengannya. Anaknya itu tengah asik memakan es krim. Kini tubuh Ikmal lebih besar dari Adrian. Bobotnya terus bertambah sejak menikah dengan Mila.
“Buat proyek yang di Semarang mau diambil ngga?” tanya Ikmal.
“Boleh aja. Siapa yang siap ke sana? Aku sama mas Rudi ngga bisa kayanya, di kampus lagi sibuk.”
“Aku atau mas Jaya bisa. Tapi lebih baik kita rekrut orang lagi. Lumayan sekarang orderan proyek banyak.”
“Boleh. Kamu ada calonnya ngga?”
“Aku sih ngga ada. Tapi kalau mas Jaya ada katanya.”
“Besok aja kita obrolin di kantor.”
“Oke, deh.”
Kantor yang dirintis oleh Adrian dan teman-temannya juga terus mengalami kemajuan. Proyek mereka mulai bertambah. Selain membuat proposal, Adrian mengembangkan sayap ke arah konsultan. Sudah ada beberapa perusahaan baru yang memakai jasa mereka sebagai konsultan. Untuk masalah humas dan marketing, menjadi bagian Adrian. Sedang untuk keuangan pada Rudi. Untuk masalah teknis, dipegang oleh Jaya.
“Eh gue duluan ya. Avi mulai rewel nih.”
Melihat Avi yang sudah tak enak diam, Dewi berpamitan pada teman-temannya. Bukan hanya Dewi, Mila juga memutuskan untuk pulang juga. Dia sudah terlalu lama meninggalkan anaknya di rumah mamanya. Keduanya langsung mencari suami mereka yang ternyata tidak ada di dalam ruangan.
Mata Dewi menangkap Adrian berada di depan aula. Wanita itu menarik tangan Mila kemudian keluar dari aula. Melihat kedatangan istri-istri mereka, Adrian dan Ikmal kompak langsung mendekatinya.
“A.. Avi udah rewel. Udah ngga betah kayanya.”
“Mau pulang sekarang?”
“Iya.”
“Kita pulang juga, bang. Kasihan Ayu ditinggal lama-lama, ujar Mila.
“Ok.”
“Besok kumpul jam tigaan aja, Mal,” seru Adrian.
Ikmal membalas perkataan Adrian dengan mengangkat jempolnya. Bersama dengan Dewi, Adrian kembali ke lapangan tempatnya memarkir mobil sambil menggandeng Arkhan. Udara sejuk perlahan mulai terasa ketika air conditioner mobil menyala. Davira yang awalnya rewel, sudah mulai tenang.
“Gimana kalau kita makan es krim dulu?” tawar Adrian.
“Mau.. mau.. yeaaaayy!! Es klim,” seru Arkhan dengan senang.
“Avi mau es krim?” Adrian melihat ke belakang.
Kepala anak perempuannya itu mengangguk-angguk tanda setuju. Pria itu mulai menjalankan kendaraannya. Dia menuju tempat menjual es krim yang terdapat arena bermain untuk anak-anak.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Selamat buat Bobi sama Hardi. Ngga nyangka ya Bobi langsung nyalip dua orang🤣 Tinggal Micky sama Budi nih. Siapin amplop lagi ya buat dua kondangan tersisa.