Naik Ranjang

Naik Ranjang
Reuni Dadakan web


__ADS_3

“De.. aku tunggu di kantin, ya. kalau ujiannya udah beres, telepon aja.”


“Ok, Dit. Doain ya mudah-mudahan lancar.”


“Aamiin.. kamu kan pinter. Ujian saringan masuk mah cetek,” Aditya mengusap puncak kepala Dewi.


Keluar dari area parkiran motor, Aditya dan Dewi berpisah tujuan. Aditya menuju kantin yang lokasinya di belakang gedung fakultas teknik, sedang Dewi melangkah menuju gedung FISIP, tempat di mana ujian saringan masuk universitas Nusantara dilaksanakan. Tempat ujian saringan dilakukan sesuai dengan fakultas yang dipilih. Di kampus ini komunikasi belumlah menjadi fakultas, melainkan masih tergabung dalam fakultas ilmu sosial dan politik.


Saat tengah melihat-lihat nomor bangku ujian, Dewi dikagetkan dengan tepukan di bahunya. Di sebelah kanannya berdiri Micky sedang di sebelah kirinya berdiri Bobi. Gadis itu sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan teman sekelasnya dulu.


“Lo berdua daftar ke sini juga?” tanya Dewi.


“Iya, bukan cuma kita berdua, ada Sheila, Sandra, Mila sama pemuja lo, si Budi.”


“Serius? Mana mereka?”


“Udah masuk ke ruangan. Lo di ruangan mana?”


“203.”


“Berarti seruangan ama kita. Ayo.”


Micky menarik kerudung Dewi, membawa gadis itu ke ruang 203. Ketiganya langsung menuju kursinya masing-masing. Mereka langsung tenggelam dalam lembaran soal yang lumayan memeras otak.


Satu jam berlalu, akhirnya ujian selesai. Setelah mengumpulkan lembar jawaban, Dewi bersama dengan Bobi keluar ruangan. Dewi meminta Micky mengajaknya menemui teman-temannya yang lain.


“Dewi!” panggil Sheila.


Gadis cantik bertubuh semampai itu segera berlari menghampiri Dewi. Keduanya berpelukan erat seraya bercipika-cipiki. Di belakangnya Sandra dan Mila sudah ikut mengantri untuk berpelukan juga. Usai berpelukan dengan Mila, Budi maju dan hendak memeluk Dewi tapi tangan besar Bobi langsung menahan kening Budi kemudian mendorong tubuh pemuda itu ke belakang.


“Cari mati lo mau peluk-peluk Dewi,” seru Bobi.


“Ah elo mah, namanya juga orang usaha.”


“Pen ngerasain ditampol si Roxas kali,” celetuk Micky.


“Heleh si Roxas juga kaga ada.”


“Kaga perlu Roxas, gue bisa ngegibeng elo kalo berani peluk gue.”


“Hehehe…” dikit doang Wi.. masa ngga boleh.”


“Peluk aja si Bobi, lebih empuk,” jawab Dewi asal yang langsung mengundang tawa lainnya.


“Eh.. kita ngobrol dulu yuk, sambil nyemil apa minum gitu,” usul Sandra. Dia senang bisa bertemu dengan teman-temannya lagi.


“Boleh-boleh. Kita ke kantin aja,” ajak Dewi.


Semua langsung menyetujuinya. Alumni IPS 3 itu kemudian berjalan menuju kantin yang ada di belakang gedung fakultas teknik. Sambil berjalan, mereka bercerita jurusan apa yang diambilnya. Ternyata Dewi, Micky, Bobi, Sheila dan Mila sama-sama mengambil jurusan komunikasi. Sandra mengambil jurusan hubungan internasional dan Budi mengambil jurusan kesejahteraan sosial.


“Lo kenapa ambil jurusan KS?’” tanya Dewi pada Budi.


“Itu jurusan paling gampang menurut gue. Lo tau sendiri, kan. Otak gue tuh pas-pasan, bisa lulus ujian saringan masuk aja udah beruntung banget.”


“Selain itu, itu satu-satunya jurusan yang pas dengan mukanya,” timpal Bobi.


“Emang kenapa muka gue?”


“Mengenaskan huahahaha…”


“Sue lo,” rutuk Budi seraya mendendang bokong Bobi.


“Tapi emang bener sih. Om gue kan dosen KS, nah gue kalo main ke rumahnya ada aja mahasiswa yang datang buat bimbingan skripsi, dan rata-rata mukanya itu di bawah standar hahaha…”


Mila, Sheila, termasuk Dewi tak bisa menahan tawa mendengar penuturan Sandra. Budi semakin keki mendengar ucapan temannya itu. Dengan santai Micky merangkul bahu Budi, dia hendak membesarkan hati temannya yang menciut seperti balon terkena udara dingin.


“Jangan diambil hati omongan Sandra. Justru lo harusnya bersyukur, dengan masuknya elo ke jurusan KS, siapa tau lo bisa jadi mahasiswa terganteng di sana,” ujar Micky seraya menepuk-nepuk bahu Budi.


“Buset kalo si Budi yang paling ganteng terus yang paling parah kaya gimana bentukannya.”


Celetukan Sandra kembali mengundang gelak tawa. Saking kerasnya tawa mereka sampai mengundang perhatian orang-orang di sekeliling. Tanpa mempedulikan tatapan sekitarnya, ketujuh alumni IPS itu terus melangkah menuju kantin.


Sesampainya di kantin, mata Bobi mengedar, mencari meja yang kosong. Kemudian matanya tertuju pada Aditya yang duduk sendiri tengah memainkan ponselnya. Bobi yang mengenali Aditya langsung mencolek Dewi.


“Wi.. itu bukannya pacar lo?” Bobi menunjuk pada Aditya.


“Ya ampun gue lupa kalau dia nunggu di sini. Ya udah kita duduk di sana aja,” ajak Dewi.


“Wah, Bud. Tabahkan hati lo, ya,” Sandra menepuk pundak Budi kemudian mengikuti langkah Dewi.


“Dit..”


Aditya mengalihkan pandangannya dari ponsel ketika mendengar suara Dewi. Dia mengakhiri permainan game onlinenya lalu memasukkan ponsel ke dalam saku jaketnya.


“Udah beres?”


“Udah.”


“Mau langsung pulang?”


“Mau nongkrong bentar sama teman-teman. Ngga apa-apa kan?”


“Ngga apa-apa.”


Bersamaan dengan itu, Sandra dan yang lainnya datang menghampiri. Dewi langsung mengenalkan Aditya pada yang lainnya. Mila menyebutkan namanya sambil mesam mesem, Sandra melemparkan senyum manisnya, begitu pula Sheila yang bersikap ramah pada pemuda itu. Micky dan Bobi tak lupa ikut berkenalan, dan terakhir Budi. Pemuda itu menatap keki pada Aditya.


Semua segera menduduki kursi yang tersedia di meja. Bobi menarik dua kursi tambahan karena jumlah kursi tak sesuai dengan jumlah mereka. Dewi mendudukkan diri di sisi kanan Aditya, sedang Budi duduk di hadapan mereka berdua. Matanya tak lepas mengawasi interaksi pasangan di depannya.


“Mau minum apa?” tanya Aditya pada Dewi.


“Pengen jus. Enaknya jus apa ya?”


“Jus a friend,” celetuk Budi dengan nada keki. Bobi dan Micky langsung terbahak mendengarnya. begitu pula dengan Sandra, Mila dan Sheila. Aditya yang tak mengerti tak menanggapi ucapan Budi dan semakin membuat pemuda itu keki.


“Jus buah naga enak, Yang. Mau ngga?” tawar Aditya.


Semua terkejut mendengar panggilan Aditya untuk Dewi. Mereka yakin sekali kata 'Yang' yang mereka dengar adalah penggalan dari kata sayang. Wajah Budi semakin tak enak dilihat mendengar panggilan tersebut terlontar untuk Dewi. Yang semakin membuatnya keki, Aditya itu ganteng maksimal, pupus sudah harapannya terseret banjir bandang.


“Euung boleh deh.”


“Bentar ya, aku pesanin. Kalian mau pesan apa? Biar aku pesanin sekalian,” tawar Aditya.


“Bareng aja, bro.”


Micky berdiri kemudian berjalan menuju stand penjual jus, sebelumnya dia menanyakan pesanan teman-temannya. Sepeninggal kedua pemuda itu, pujian dari Sandra dan Mila langsung keluar untuk Aditya.


“Buset ganteng banget. BTW lo udah jadian? Barusan dia manggil Yang gitu, cieee,” celetuk Mila.


“Lo tau sendiri, gue kan bukan penganut aliran pacaran. Ngga lah, gue ngga pacaran sama dia.”

__ADS_1


Wajah Budi nampak lega begitu mendengar penuturan Dewi. Berarti sang pujaan hati belum terikat dengan siapa pun. Dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan Dewi, walau sulit tapi dirinya tidak akan menyerah.


“Masa sih?” desak Sandra tak percaya.


“Iya. Tapi dia emang udah bilang sih mau serius sama gue. Bahkan udah ngelamar gue juga. Tinggal waktu yang jawab, kita berjodoh atau ngga.”


“Gue doain kalian berjodoh,” ujar Mila.


“Aamiin..” sahut Bobi. Dia melirik Budi yang wajahnya kembali tertekuk mendengar Aditya sudah melamar Dewi.


“Seriusan deh, lo ketemu di mana sih?”


“Awalnya gue ketemu di sekolah. Ngga tau juga dia lagi ngapain di sekolah. Terus ketemu lagi di angkot, dan ketemu lagi di studio musik. Pas kita latihan peform buat perpisahan. Ternyata dia mentor yang ditunjuk pak Rian buat ngelatih kita.”


“Wah jodoh itu namanya, Wi. Katanya kalau kita ketemu berturut-turut secara ngga sengaja namanya jodoh.”


“Dia anak band juga?” tanya Sheila.


“Iya. Si Rox sekarang malah jadi personil band-nya. Katanya sih mulai bulan depan ngisi jadi home band di café apa gitu.”


“Dia megang apa?” Sandra semakin penasaran.


“Gitar merangkap vocal. Suaranya bagus banget.”


“Serius?? Wah kalo lo ngga mau sama dia, mending buat gue aja, ikhlas gue terima bekasan elo,” celetuk Mila yang langsung mendapat toyoran dari Bobi.


“Wi.. nanti kasih tau ya, dia perform di café apa. Gue mau ke sana nanti,” ujar Sheila.


“Cieee yang masih ngarep Roxas. Pasti lo mau lihat Roxas kan?” Mila menyenggol Sheila dengan bahunya.


“Siapa yang mau lihat Roxas?” tanya Aditya.


Dia dan Micky baru saja kembali setelah memesan minuman. Aditya berbaik hati mau membayarkan minuman mereka semua. Sheila hanya tertunduk ketika Aditya menanyakan itu.


“Nih Sheila, dia kan fans beratnya Roxas,” celetuk Mila. Sheila mencubit pelan tangan Mila.


“Eh.. nanti kamu nge-band di café apa sih?” tanya Dewi.


“Red Kingdom.”


“Nah itu, Shei. Nanti kalo grand opening dateng ya,” ujar Dewi.


“In Syaa Allah,” jawab Sheila malu-malu.


Aditya yang supel dengan mudah bisa membaur dengan teman-teman calon makmumnya itu. Budi yang awalnya keki berat, pelan-pelan mulai menyukai Aditya. Selain mereka memiliki selera humor yang sama, Aditya juga ramah, membuat semua yang mengobrol dengannya merasa senang. Dewi tentu saja senang Aditya bisa akrab dengan teman-temannya.


🌸🌸🌸


Empat hari setelah ujian saringan masuk, daftar nama-nama calon mahasiswa yang diterima keluar. Mereka bisa mengakses melalui link yang diberikan pihak kampus. Dewi bersyukur dirinya diterima sebagai mahasiswi di sana. Bersama dengan Micky, Bobi, Budi, Sandra, Sheila dan Mila, dirinya sebentar lagi akan menyandang status mahasiswa fakultas ilmu sosial dan ilmu politik. Dan yang membuatnya bertambah senang, kampus membuat kebijakan, mahasiswa yang mendaftar di gelombang pertama, mendapat potongan uang bangunan sebesar 20%.


Hari ini dia akan ke kampus lagi untuk daftar ulang. Semua berkas yang diperlukan sudah dimasukkan ke dalam amplop coklat. Tak lupa dia membawa uang untuk membayar uang bangunan dan biaya per semesternya.


Untuk biaya kuliah, universitas Nusantara menganut sistem paket, bukan SKS. Artinya berapa pun jumlah SKS yang diambil biayanya tetap sama. Sistem paket ini ada untung ruginya. Untungnya di semester-semester awal, mahasiswa bisa mengambil jumlah SKS maksimal dengan bayaran yang sama. Ruginya saat di semester akhir yang hanya menyisakan beberapa SKS, mereka tetap harus membayar dengan harga yang sama.


Saat tengah bersiap, beberapa pesan masuk ke ponsel Dewi. Dengan cepat gadis itu menyambarnya, berharap itu adalah pesan dari Adrian. Sudah beberapa hari ini pria itu tidak memberinya kabar. Ingin mengirim pesan lebih dulu, gengsi. Harapan Dewi langsung pupus ketika melihat isi chat berasal dari wag IPS 3. Hardi mengabarkan sudah diterima di UI, ucapan selamat langsung berdatangan dari yang lain. Dewi pun ikutan mengetik ucapan selamat untuk mantan ketua kelasnya itu.


Tak lama masuk pesan dari Adrian yang juga mengucapkan selamat pada Hardi. Dia memberikan sedikit nasehat untuk mantan anak didiknya itu. Tak lupa dia mendoakan murid lain yang akan mengikuti ujian SNMPTN. Dewi menghembuskan nafas kesal, Adrian sempat membalas pesan di wag, tapi tidak mengiriminya pesan apapun.


Aa Rian nyebelin. Giliran ke wag aja bales, giliran aku ngga di wa. Dih siapa gue, sampe dia harus kasih kabar terus. Huaaaa.. tapi kan gue juga pengen ditanyain kabarnya… hiks.. kayanya gue tepuk tangan sebelah doang. Keegeran banget gue, kali aja perasaan aa Rian ama gue biasa aja. Huaaaaa… nasibmu Wi…


Dewi terjengit ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Matanya membelalak ketika melihat nama pemanggil adalah Adrian. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak tak karuan, sudah seperti barisan marching band saja. Setelah berdehem beberapa kali gadis itu menjawab panggilannya.


“Assalamu’alaikum..”


“Lagi siap-siap.”


“Mau kemana?”


“Ke kampus buat daftar ulang. Aku lulus ujian saringan masuk.”


“Emang kamu daftar ke kampus mana?”


“Universitas Nusantara, ambil jurusan Komunikasi.”


“Ngapain kamu ambil komunikasi? Jangan-jangan kamu mau jadi reporter gossip ya, jadi anak buah Lambe Turah.”


“Enak aja! Aku mau jadi humas dong.”


“Ngga cocok kamu jadi humas. Anak humas itu harus luwes, banyak senyum. Nah kamu ngomong aja ngegas mulu, siapa juga yang mau jadiin kamu humas. Yang ada bangkrut perusahaan kalo humasnya kamu, image-nya langsung turun.”


“Aa nyebelin banget! Pagi-pagi telepon cuma bikin orang darah tinggi aja!”


Terdengar tawa Adrian dari sebrang sana, sudah lama rasanya dia tidak mendengar gadis itu mencak-mencak. Dewi semakin kesal mendengar Adrian menertawakannya. Dia tidak tahu kalau dibalik tawa Adrian, ada kebahagiaan yang membuncah mengetahui Dewi akan menjadi mahasiswinya.


Kesal karena Adrian terus menertawakannya, Dewi langsung memutuskan sambungan. Dengan kesal dilemparnya ponsel ke atas kasur. Dia jadi misah-misuh sendiri, berharap Adrian menghubungi, sekalinya menelpon malah membuatnya gondok setengah hidup.


TING


Terdengar ponselnya berdenting. Dengan malas Dewi menyambar benda pipih tersebut. Sebuah pesan dari Adrian masuk. Isinya adalah beberapa foto dengan caption nama tempatnya.



[Sanghyang Heuleut]



[Sanghyang Tikoro]



[Sanghyang Kenit]


Saat Dewi tengah mengamati foto yang berisikan tempat wisata tersebut, ponselnya kembali berdering.


“Halo..”


“Sudah pernah ke sana?”


“Kemana?”


“Ke tempat yang aku kirim tadi. Sudah pernah?”


“Belum. Emangnya itu di mana?”


“Cipatat.”


“Oh masih daerah Bandung. Kok aku baru tau sih?”


“Apa sih yang kamu tau? Paling cuma sekolah sama mal. Keluar Bandung dikit pasti nyasar.”

__ADS_1


“Jangan mulai deh!” gerutu Dewi yang hanya dibalas kekehan Adrian.


“Nanti aku pulang, kita main ke sana. Mau?”


“Serius?”


“Iya.”


“Kapan aa pulang?”


“In Syaa Allah, Senin depan.”


“Berarti masih tiga hari lagi dong.”


“Hmm.. aku pergi dulu, hari ini masih harus keliling.”


“Jangan lupa kirim fotonya ya, yang bagus.”


“Foto apa?”


“Ya foto tempat yang aa datangi.”


“Oh.. kirain kamu minta foto tukang sate bandeng.”


“Ish..”


“Hati-hati berangkat ke kampusnya. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Panggilan pun berakhir. Dewi langsung loncat-loncat kegirangan begitu Adrian selesai menghubunginya. Kerinduannya akhirnya terobati sudah, begitu mendengar suaranya. Apalagi pria itu berjanji akan mengajaknya jalan-jalan sepulangnya nanti. Dewi semakin tidak sabar. Ingin rasanya langsung loncat ke hari Senin.


🌸🌸🌸


Di hari pertama daftar ulang, banyak juga calon mahasiswa yang datang. Dewi yang datang diantar Aditya langsung menuju loket untuk melakukan pendaftaran ulang. Sedang Aditya langsung menuju hotel, tiba-tiba saja semua kru kitchen diminta berkumpul, termasuk Aditya yang tengah menikmati hari liburnya.


Dewi berjalan menuju kantor bank rekanan kampus untuk membayar uang pendaftaran dan juga semester. Di depan pintu masuk dia berpapasan dengan Sheila yang ternyata juga mendaftar ulang hari ini. Bersama, keduanya masuk ke dalam bank dan menunggu giliran untuk membayar.


Selesai melakukan pembayaran, mereka mampir sebentar ke kantin sambil menunggu Aditya menjemputnya. Sheila yang tidak ada kerjaan memilih menemani Dewi dulu. Sedang asik berbincang, ponsel Sheila berdering. Sambil menunggu Sheila yang tengah bertelepon, Dewi berkirim pesan pada Aditya.


“Wi.. barusan adek gue telepon. Dia nitip beli lomie di tempat langganannya.”


“Di mana?”


“Ngga jauh dari kampus. Tapi gue serem lewat jalan situ, kan sepi. Katanya ada yang pernah dijambret atau dipalak gitu.”


“Masa? Ayo gue anterin deh.”


“Beneran?”


“Iya, ayo.”


Sheila tersenyum senang karena Dewi bersedia mengantarnya. Keduanya lalu keluar dari kantin dan langsung menuju gerbang. Saat tengah berjalan, Dewi merasakan pundaknya ditepuk seseorang. Gadis itu langsung menoleh.


“Sabeum Doni,” panggil Dewi.


“Kamu kuliah di sini?”


“Baru daftar. Sabeum ngapain di sini?”


“Nganter adek daftar ulang.”


“Adeknya sabeum kuliah di sini juga?”


“Iya.”


“Ambil jurusan apa?”


“Siang ambil komputer malamnya di hukum.”


“Hah??”


Sejenak Dewi berpikir, hebat juga adiknya Doni mengambil kuliah pagi dan malam. Tapi kemudian dia merasa ada yang aneh dengan kata-kata sabeumnya ini, apalagi dia melihat Doni malah tertawa.


“Wah sabeum main retorika nih.”


“Hahaha... aku ke sana dulu ya.”


“Ok.”


Doni memisahkan diri dari Dewi begitu melihat sang adik melambai padanya. Dewi dan Sheila kembali melanjutkan perjalanan. Seperti kata Sheila, jalan yang mereka lewati ternyata memang sepi, bukan jalur angkot dan kanan kiri jalan berjejer pepohonan rindang.


“Yang tadi siapa Wi?”


“Sabeum Doni, salah satu pengajar taekwondo di Dojang Hero.”


“Kamu ikut kelas taekwondo?”


“Iya.”


“Wah hebat. Kalau gitu tenang deh jalan sama kamu.”


Baru saja Sheila menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba muncul tiga orang berpenampilan preman menghadang langkah kedua gadis itu. wajah Sheila mendadak pucat. Dia merapatkan tubuhnya pada Dewi.


“Hei cewek.. uang tolnya dulu dong kalau lewat sini,” seru salah satunya.


“Mana ada yang begitu,” sahut Dewi.


“Wi… kabur aja yuk,” bisik Sheila yang ketakutan.


Dewi juga berpikiran sama seperti Sheila. Walau dia sudah berlatih taekwondo, tapi menghadapi tiga orang preman sekaligus, dia ketar-ketir juga. Kedua gadis itu terus berjalan mundur. Sesaat kemudian mereka berbalik kemudian berlari secepat kilat. Sial, ternyata gerakan mereka kalah cepat, kini ketiga pria itu mengepungnya.


Salah satu orang mendekat dan mencoba mengambil tas Sheila. Dewi bergerak cepat menendang pria tersebut hingga mundur beberapa langkah. Melihat Dewi yang melakukan perlawanan, ketiganya langsung menyerang Dewi. Sebisa mungkin gadis itu melawan ketiga preman yang mengeroyoknya.


Sheila yang ketakutan mencoba kabur untuk mencari pertolongan, tapi tertangkap. Melihat Sheila tertangkap, Dewi kehilangan konsentrasi, tubuhnya jatuh tersungkur ketika tangan kekar sang preman menghantam perutnya.


“Dewi!!” pekik Sheila.


Susah payah Dewi mencoba berdiri. Dia tak ingin menyerah, namun dari belakangnya salah seorang preman mengunci tangannya. Dewi mencoba melepaskan diri namun sulit. Preman yang tadi memukul Dewi datang mendekat, dia akan menghajar Dewi kembali. Tangan pria itu sudah terkepal dan melayang menuju perut Dewi.


BUGH


Tubuh preman itu terjatuh ketika sebuah tendangan menghantamnya.


🌸🌸🌸


**Kira² siapa yang nolong Dewi?


BTW ada yang ngeuh ngga dengan kata² sabeum Doni?

__ADS_1


Kira² ada yang penasaran ngga sama wajahnya Budi? Klo ada nanti mamake up😂


Happy Jumat Berkah**


__ADS_2