Naik Ranjang

Naik Ranjang
Launching Mini Album


__ADS_3

Pengunjung mulai berdatangan memenuhi area Red Kingdom café. Malam ini diadakan kegiatan launching mini album The Soul. Launching mini album dilakukan untuk penghormatan pada mendiang Aditya. Album tersebut berisikan enam lagu hasil ciptaan Aditya, sebelum pria itu dipanggil Sang Maha Kuasa.


Para Soulers datang berbondong-bondong, pihak café sampai harus menyiapkan kursi tambahan di bagian luar café dan memasang layar putih yang menampilkan The Soul saat perform. Panggung sendiri didirikan di area belakang café, tepatnya di bagian taman yang sudah diperluas sejak The Soul masih meniti karirnya di café ini.


Di bagian depan panggung, meja sudah terisi oleh pihak keluarga Aditya dan anggota keluarga The Soul, teman-teman Aditya dan juga deretan manajemen. Beberapa penggemar setia The Soul juga ada yang mendapatkan tempat di bagian ini.


Nampak personil The Soul tengah mempersiapkan diri di atas panggung, termasuk Roxas. Pria itu bersedia tampil di launching mini album tersebut setelah mundur secara resmi.


Adrian, Dewi, Pipit, Ida, Toni dan enin duduk bersama di satu meja. Tak lupa mereka juga membawa si kecil Arkhan. Di belakang panggung terdapat background yang menampilkan foto Aditya. Mata Dewi terus memandangi gambar mendiang suaminya. Kerinduan memenuhi relung hatinya saat ini. Begitu pula dengan Adrian yang begitu merindukan adiknya.


Di meja lain, Doni datang bersama dengan Fajar dan juga Dita. Mahes dan Ara ikut datang, sebagai penghormatan akan sosok Aditya. Rekan kerja Aditya saat di hotel juga ikut datang, walau tidak semua karena terbentur jam kerja. Nampak ada Akay, Ponco, Ateng, Rajet dan juga Elang. Kematian Aditya yang mendadak dan tanpa diduga-duga cukup menorehkan kesedihan di hati mereka semua.


Kemudian di bagian lain, hadir juga Sheila, Mila, Sandra, Bobi, Micky dan Budi. Bahkan Hardi menyempatkan diri datang ke acara ini. Walau tidak mengenal Aditya dengan baik, namun dia melakukan itu demi sahabatnya, Dewi dan Roxas. Wira bersama jajaran manajemen juga ikut datang untuk memberikan penghormatan pada Aditya.


Setelah semua persiapan selesai. Sang pembawa acara naik ke atas panggung untuk membuka acara. Pria itu memandangi semua yang sudah hadir di halaman belakang, termasuk pengunjung yang ada di bagian dalam café.


“Selamat malam semua.”


“Malam.”


“Malam ini kita akan menggelar launching mini album The Soul. Selain launching, kami menyelenggarakan ini untuk memberikan penghormatan pada Aditya Bramasta, vocalis pertama The Soul yang telah mendahului kita semua. Ada baiknya sebelum kita memulai acara ini, kita memanjatkan doa pada Sang Maha Kuasa, agar Aditya diterima di sisi-Nya dan diberikan tempat terbaik di surga-Nya, aamiin. Al-Fatihah.”


Semua yang hadir langsung menundukkan kepalanya. Semua berdoa menurut kepercayaannya masing-masing, mendoakan almarhum Aditya. Pria ramah dan tak pernah berhenti membahagiakan orang lain lewat sikap, perbuatan dan lagu ciptaannya. Sang pembawa acara mengangkat kembali kepalanya dan melanjutkan tugasnya.


“Album mini The Soul ini berisikan lagu-lagu terbaru ciptaan almarhum Aditya sebelum beliau menutup mata. Semoga saja karya terakhirnya ini bisa menjadi obat rindu buat kita semua. Sebelum The Soul memperdengarkan lagu tersebut, saya perkenalkan dahulu personil baru The Soul. Kepada saudara Fahri dan Dio, silahkan berdiri di dekat saya.”


Kedua pria yang dipanggil oleh sang pembawa acara langsung maju dan berdiri di samping pria yang sikapnya sedikit gemulai. Terdengar tepukan dari pengunjung yang hadir saat melihat dua personil baru The Soul.


“Perkenalkan ini Fahri yang akan menggantikan Adit dan Dio yang menggantikan Roxas.”


Sang pembawa acara memberikan mic di tangannya pada Fahri. Pria itu dipersilahkan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai salam perkenalan, bergantian dengan Dio.


“Malam semuanya. Pernalkan nama saya Fahri. Alhamdulillah saya dipercaya untuk menggantikan sosok hebat Aditya di band ini. Doakan saya semoga bisa memberikan yang terbaik. Saya tahu kalau tidak mungkin menggeser posisi Aditya di hati kalian. Tapi bolehkan kalau saya meminta sedikit tempat untuk saya duduk di hati kalian. Secuil juga ngga apa-apa deh.”


“Hahaha..”


“Kenalkan nama saya Dio. Saya mungkin ngga seganteng dan sefenomenal akang Roxas. Tapi saya janji akan tetap memberikan yang terbaik untuk The Soul.”


Tepukan tangan terdengar ketika keduanya selesai memperkenalkan diri. Roxas maju dan berdiri di antara keduanya sambil memeluk bahu mereka. Dio mengarahkan mic di tangannya pada Roxas.


“Aku percaya kalian berdua akan memberi warna lain pada band ini. Dan untuk Soulers, tolong ojo dibanding-bandingke. Karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sukses buat kalian berdua.”


Kembali tepukan tangan terdengar. Pipit yang duduk bersama dengan keluarganya melihat bangga pada sang suami. Pria itu sudah lebih dewasa sekarang. Sang pembawa acara mempersilahkan The Soul untuk menghibur pengunjung sekarang juga. Roxas menggendong bassnya seraya melihat pada sang istri dan mengedipkan mata padanya.


“Baiklah… sebelum menyanyikan lagu pertama dari mini album. Ijinkan saya menyanyikan sebuah lagu yang dulu bernilai sejarah untuk Aditya. Sebuah lagu tentang perasaannya pada wanita yang begitu dicintainya, Dewi.”


Senyum mengembang di wajah Dewi mendengar kata-kata Fahri. Pria itu melihat pada teman-temannya. Dia memilih menyanyikan part lebih dulu tanpa iringan musik. Matanya menatap Dewi yang duduk di samping Adrian.


“Ku akan membuktikan cinta di hatimu. Satu rasa menggapai bahagia. Kupinang dirimu s'bagai teman hidupku. Berjanjilah, Kasih, setia bersamaku.”


Ingatan Dewi langsung terlempar mengenang masa ketika Aditya menyanyikan lagu tersebut setelah melamar dirinya. Adrian menggenggam tangan sang istri kemudian menautkan jemari mereka. Wanita itu menyandarkan kepala ke bahu sang suami seraya menikmati suara Fahri walau tak semerdu suara Aditya di telinganya.

__ADS_1


Usai menyanyikan salah satu lagu yang menjadi kenangan Dewi bersama Aditya, Fahri mulai menyanyikan lagu yang terdapat di mini album. Lagu pertama yang dibawakan adalah lagu yang berisikan rasa cinta Aditya pada kedua orang tuanya. Ida dan Toni menyusut airmatanya mendengar lirik demi lirik yang dinyanyikan oleh Fahri. Mereka seakan membayangkan kalau Aditya yang menyanyi untuk mereka.


Selesai dengan lagu pertama, Fahri kembali menyanyikan lagu berikutnya. Lagu yang diciptakan oleh Aditya begitu sarat akan makna tentang perasaannya pada orang-orang yang disayanginya.


“Ok untuk lagu keempat, lagu ini diciptakan Aditya untuk anaknya tersayang, Arkhan.”


Fahri turun dari atas panggung lalu mendekati meja yang ditempati keluarga Aditya. Pria tersebut meminta ijin untuk menggendong Arkhan sambil menyanyikan lagu tersebut. Tak disangka, anak itu langsung mau digendong oleh Fahri. Pria itu kembali naik ke atas panggung dengan Arkhan dalam gendongannya dan mulai bernyanyi.


Wajah Arkhan selalu tersenyum saat Fahri menyanyikan lagu gubahan sang papa. Anak itu seakan mengerti kalau lagu yang dinyanyikan Fahri khusus untuk dirinya. Dewi menyusut airmata yang membasahi pipinya. Dirinya juga dihantam keharuan yang begitu dalam, namun sebisa mungkin menahan tangisnya.


“Untuk lagu terakhir.. lagu yang diciptakan Aditya untuk kakak tersayangnya. Untuk bang Adrian, this song special for you, Malaikat Tak Bersayap.”


Dada Adrian berdebar kencang ketika instrument mulai terdengar. Sebuah lagu berirama lambat mulai diperdengarkan. Matanya menatap lurus ke depan, telinganya terbuka lebar untuk mendengar lirik demi lirik yang diciptakan sang adik untuknya.


Tuhan ciptakan engkau, sebagai malaikat tak bersayap


Kau hadir dalam hidupku yang tak sempurna


Kau buatku tersenyum, di saat dirimu menangis


Kau buatku bahagia, di saat dirimu bersedih


Tuhan ciptakan engkau, sebagai malaikat tak bersayap


Kau memberiku kekuatan, di saat dirimu rapuh


Kau memberiku semangat, di saat dirimu terpuruk


Kau memberiku cinta, di saat dirimu terluka


Satu hal yang harus engkau tahu


Aku pun ingin membuatmu bahagia, di sisa umurku


Wahai malaikat tak bersayapku


Tautan jemari Adrian di jari Dewi semakin erat saat mendengar kalimat demi kalimat dalam lagu yang dinyanyikan. Dewi mengusap lengan sang suami. Dia tahu apa yang dirasakan pria itu saat ini. Jangankan Adrian, dirinya pun tak kuasa menahan tangis mendengar lirik yang dinyanyikan oleh Fahri. Ida, Toni dan Pipit pun tak kuasa menahan airmatanya.


“Pada kesempatan kali ini jikalau boleh, saya meminta pada Dewi sudi naik ke atas panggung untuk menyanyikan sebuah lagu untuk kita semua,” ujar Fahri setelah menyanyikan lagu terakhir dalam mini album.


Gemuruh tepuk tangan dan suara memanggil nama Dewi terdengar. Adrian menolehkan kepala pada Dewi kemudian menganggukkannya tanda setuju dan pemberian dukungan. Dewi melihat pada Ida, Toni dan Pipit yang sama-sama menganggukkan kepalanya. Wanita itu bangun dari duduknya.


Gemuruh tepuk tangan terdengar mengiringi Dewi yang berjalan naik ke atas panggung. Untuk beberapa saat mereka berdiskusi tentang lagu yang akan dibawakan oleh Dewi. Wanita itu juga mengambil nada terlebih dahulu sebelum menyanyi. Setelah siap, wanita itu maju ke depan.


“Selamat malam semua.”


“Malam.”


“Pada kesempatan ini, saya akan membawakan lagu untuk mendiang suamiku tersayang. Sebuah lagu yang menggambarkan perasaanku saat ditinggal pergi olehnya.”


Terdengar Rangga, Roxas dan Dio memainkan alat musiknya disusul oleh Fay dengan keyboradnya dan terakhir Rivan memainkan drumnya. Sebuah lagu bertempo lambat mulai terdengar. Dewi memilih lagu Ada band, Nyawa Hidupku sebagai lagu yang menggambarkan perasaannya saat ditinggal selamanya oleh Aditya.

__ADS_1


“Angin malam berhembus. Lirih dingin menyapa. Coba merasakan. Semilir kehadiran mu. Tuhan ku tanya cinta. Kemana arah dan tujuannya. Bila memang berpisah. Mengapa maut yang pisahkan.”


Dewi terus berusaha menyanyikan lagu tersebut di tengah keharuan yang menyeruak. Wanita itu memejamkan matanya, membayangkan Aditya berada di depannya dan mendengarkan lagu yang dipersembahkan untuknya.


“Kau menelanjangi diri ku slalu lewat indahnya peluk kasih. Merangkul kalbu yang membelenggu dan kini tinggalkan ku. Aku memuji mu hingga jauh. Terdengar syahdu ke angkasa. Rintihan hati ku memanggil mu. Dapatkah kau dengar nyawa hidupku.”


Pertahanan Dewi runtuh, airmatanya mengalir dan isaknya mulai terdengar. Dia tak sanggup melanjutkan sampai ke akhir lagu. Fahri langsung menyambung lagu yang tersisa melihat Dewi yang tak bisa menyelesaikan lagunya.


Melihat Dewi yang mulai menangis, Adrian bangun dari duduknya lalu menghampiri sang istri. Ditariknya Dewi dalam pelukannya. Tangis wanita itu pecah dalam pelukan sang suami diiringi part terakhir yang dinyanyikan oleh Fahri.


“Aku memuji mu hingga jauh. Terdengar syahdu ke angkasa. Rintihan hati ku memanggil mu. Dapatkah kau dengar nyawa hidupku. Aku memuji mu hingga jauh. Terdengar syahdu ke angkasa. Rintihan hati ku memanggil mu. Dapatkah kau dengar nyawa hidupku.”


Adrian melepaskan pelukannya lalu membawa Dewi turun dari panggung setelah nyanyian Fahri berakhir. Suasana menjadi mellow setelah lagu Nyawa Hidupku yang dibawakan Dewi dan diselesaikan oleh Fahri. Roxas juga nampak mengusap air di sudut matanya. Pria itu kemudian maju ke depan. Dia perlu melakukan sesuatu untuk menceriakan suasana.


“Terima kasih untuk Dewi atas persembahan lagunya. Sekarang ijinkan saya menyanyikan lagu untuk istri tercinta yang tengah mengandung anak pertama kami. Boleh kan?”


“Boleeeeehhhh!!” kompak para penonton.


“Untuk istri tercintaku, Pipit. Terima kasih sudah memberiku hadiah terindah dalam hidupku. Ini lagu spesial untukmu.”


Roxas berbincang sebentar dengan para personil The Soul. Nampak semua menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dia juga berbicara pada Fahri yang diminta membantunya bernyanyi di part tertentu.


Setelah Roxas menganggukkan kepalanya, langsung terdengar Rivan menabuh drumnya disambung oleh personil lainnya. Roxas berdiri di depan stand mic, bersiap untuk menyanyikan lagu Mumun milik Doel Sumbang yang liriknya sedikit diganti olehnya.


“Loba nu nganjang ka Pipit. Loba nu resep ka Pipit. Loba nu bogoh ka Pipit. Loba nu gelo Ku Pipit. Rumasa Aep oge suka. Ngadadak ngagaduh rasa cinta. Rumasa ngan Aep rumasa. Rek naon anu di sogrokeun. Rumasa modal ukur cinta. Ditambah nawaitu rek satia (Banyak yang datang ke Pipit. Banyak yang suka ke Pipit. Banyak yang cinta ke Pipit. Banya yang gila ke Pipit. Sadar Aep juga suka. Mendadak tumbuh rasa cinta. Sadar Aep sadar. Apa yang mau diberikan. Sadar hanya modal cinta. Ditambah niat mau setia).”


Senyum terbit di wajah Pipit mendengar sang suami menyanyikan lagu untuknya. Kata Mumun diganti dengan nama dirinya dan Asep menjadi Aep, sesuai nama depan Roxas. Dewi dan Adrian yang tadi bersedih juga terhibur mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Roxas. Bahkan Arkhan tak bisa diam dan terus tersenyum.


“Kuruunyung Bayu jeung mersi. Jol Odoy mawa BMW. Reman Yogi mawa Volvo. Afa mawa Toyota. Rumasa Aep mah teu boga. Rumasa Aep sangsara ku dunya. Rumasa modal ukur cinta. Ditambah nawaetu rek satia (Tiba-tiba datang Bayu dengan Mercy. Odoy muncul bawa BMW. Reman Yogi bawa Volvo. Afa bawa Toyota. Sadar Aep orang tidak punya. Sadar Aep sengsara dunia. Sadar hanya modal cinta. Ditambah niat untuk setia).”


Roxas menyebutkan semua nama lelaki yang pernah mengejar-ngejar Pipit atau menyukai istrinya itu. Pipit hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar nama-nama yang disebutkan oleh Roxas. Sambil terus menatap wajah istrinya, Roxas melanjutkan nyanyiannya.


“Pipit milih mana. Pi.. Pi.. Pi..Pit milih saha (Pipit milih mana. Pi.. Pi.. Pi.. Pit milih siapa).”


“Aep tong cang caya. Pipit pasti milih didinya (Aep jangan minder. Pipit pasti milih kamu).”


Fahri menyanyikan part selanjutnya dengan suara dibuat mirip perempuan. Mendengar suara Fahri, sontak semua yang mendengar tertawa. Roxas melanjutkan lagunya sampai part terakhir.


“Ngagebrai dunya jadi caang. Asa ku garenah pipikiran. Sare tibra dahar mirasa. Nyata cinta teu kabeh ningali dunya (Dunia seketika jadi terang. Pikiran pun tenang. Tidur nyenyak, makan pun enak. Ternyata cinta tidak semua melihat dunia).”


Suara tepukan langsung bergemuruh begitu Roxas selesai menyanyikan lagu spesial untuk istrinya. Roxas turun kemudian menghampiri Pipit. Wanita itu berdiri dan membiarkan sang suami mencium perutnya yang masih rata. Tangan wanita itu mengusap puncak kepala sang suami sambil memandangi dengan penuh cinta.


🌸🌸🌸


**Bisa ae kang Aep, Mumun jadi Pipit, jauh banget🤣


Lirik Malaikat Tak Bersayap jangan dibully ya, aku bukan pencipta lagu, tapi penulis novel😜


Yang kemarin pada bingung panggilan Dewi yg macem² buat Adrian. Sejatinya panggilan Dewi cuma Aa. Kalau dia bilang mas atau abanfg murni kesalahan jempolku, wkwkwk.. Maklum otak rada oleng karena novel sebelah pakenya mas ama abang🤣


Yang nanya visual The Therapist di rumah Paijo, visualnya udah kukasih di IG. Tapi buat yg belum, nih aku kasih lagi visual Aryan dan Anjani**.

__ADS_1




__ADS_2