
Happy Weekend Readers tercintaku😍😍
Terima kasih ya untuk dukungan kalian semua. Alhamdulillah masalah sudah berlalu, semua temanku ikut membantu membasmi oknum meresahkan itu. Setelah membaca komen kalian, moodku yg semula ambyar seperti serpihan rengginang, berkumpul kembali dan bersatu, bertransformasi menjadi Optimus Prime🤭 Anyway.. Thanks to you, all of you😘😘😘
🌸🌸🌸
Kemeriahan di dalam café nyatanya berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Dewi. Setelah mengetahui kalau Adrian adalah kakak kandung dari Aditya, perasaan Dewi jadi tak menentu. Gadis itu nampak melamun, sesekali dia menoleh pada Adrian yang terlihat santai menikmati pertunjukkan sang adik.
Pandangannya kemudian tertuju pada Aditya. Pemuda itu masih bersemangat menghibur para pengunjung café dengan suara merdunya. Mengingat kembali ucapannya tentang hubungan mereka yang kembali dari awal. Murni bersahabat tanpa embel-embel lain, tak ayal membuat Dewi bersedih. Secara tak langsung gadis itu sudah menyakiti perasaan Aditya.
“Gimana semua, masih semangat?” tanya Aditya begitu lagu keempatnya berakhir.
“Masih!”
“Ok.. untuk lagu berikutnya, kita santai dikit, ya. Lebih slow.”
Aditya memposisikan gitar ke belakang punggungnya. Kali ini dia hanya akan bernyanyi tanpa memetik gitar. Pemuda itu bersiap di depan stand mic, lalu melihat ke arah belakang. Rivan mulai menabuh drumnya disusul oleh suara gitar Rangga.
“Bagaimana mestinya. Membuatmu jatuh hati kepadaku? T'lah kutuliskan sejuta puisi. Meyakinkanmu membalas cintaku.”
Mata Aditya tak lepas memandangi Dewi ketika menyanyikan bait pertama lirik lagu Ada Band. Hati Dewi seperti tertusuk sembilu, seakan Aditya tengah menyuarakan isi hatinya yang belum bisa mencintainya.
Bukan hanya Dewi, tapi Adrian pun merasakan kesedihan yang sama. Dapat dirasakan kepedihan sang adik saat menyanyikan lirik di tiap barisnya. Belum lagi pandangan Aditya yang terus teruju pada Dewi. Pria itu menundukkan kepalanya, mengapa situasi rumit menimpa mereka. Mengapa dirinya dan Aditya harus jatuh cinta pada wanita yang sama.
“Haruskah ku mati karenamu? Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu. Haruskah kurelakan hidupku? Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku. Hentikan denyut nadi jantungku. Tanpa kau tahu betapa suci hatiku. Untuk memilikimu.”
Hampir saja Dewi menangis mendengar baris refrain yang dinyanyikan oleh Aditya. Sungguh dirinya tak ingin menyakiti hati pemuda itu. Namun dia juga tak kuasa menahan perasaan yang jatuh dalam pesona Adrian. Tak kuat menahan air yang menggenang di pelupuk matanya, Dewi segera beranjak dari duduknya. Gadis itu menuju toilet untuk menenangkan diri.
Airmata Dewi langsung jatuh bercucuran begitu sampai di toilet. Dia duduk di atas kloset, membekap mulutnya agar suara tangisnya tak keluar. Gadis itu beberapa kali nampak mencoba mengendalikan dirinya. Tangannya terus bergerak mengusap airmata yang meleleh di pipi.
Di tengah tangisannya, terdengar dentingan ponselnya. Matanya memburam akibat airmata yang masih menggenang, namun bisa dia lihat kalau pesan yang masuk berasal dari Adrian.
From Aa :
Bisa kita bicara? Aku tunggu di halaman belakang café.
Sejenak Dewi terdiam, gadis itu masih berusaha menenangkan dirinya. Berat rasanya bertemu dengan Adrian dalam keadaan seperti ini. Tapi jika dirinya tak datang, pasti Adrian akan mencarinya. Dewi akhirnya keluar dari bilik toilet kemudian berdiri di depan wastafel. Matanya terlihat sedikit merah, beberapa kali dibasuhnya wajah dengan air, kemudian mengeringkannya dengan tisu. Gadis itu perlu memoles wajahnya dengan bedak demi menyamarkan bekas tangisan di wajahnya.
Sementara itu, Adrian yang sudah berada di halaman belakang, terus memandangi kotak beludru hitam di tangannya. Beberapa kali dia membuka tutup kotak tersebut. Kondisinya saat ini berada di dalam dilema. Jika dia maju, maka Aditya yang akan tersakiti. Tapi jika dirinya mundur, maka dirinya yang akan merasakan nyeri.
Matanya terpejam membayangkan kembali ekspresi Dewi ketika Aditya memperkenalkan mereka. Rona keterkejutan jelas tergambar di kedua matanya. Dirinya pun tidak tahu bagaimana pasti perasaan Dewi padanya. Tapi melihat sorot mata gadis itu, dia yakin Dewi memiliki perasaan yang sama.
Pikiran Adrian terus berkelana, menimbang-nimbang bagaimana perasaan Dewi nantinya. Perasaan bersalah pada Aditya karena memilih dirinya, atau perasaan kecewa cintanya tak terbalas. Adrian segera memasukkan kotak beludru ke dalam saku celananya saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Dari sudut matanya, Adrian melihat kalau Dewi yang datang. Gadis itu mendudukkan diri di sampingnya.
Adrian masih menundukkan kepalanya. Setelah menarik nafas dalam-dalam, dia mengangkat kepalanya kemudian melihat pada Dewi. Dia terkejut melihat mata Dewi yang memerah. Pasti gadis itu habis menangis. Perasaan Adrian semakin bimbang.
“Kamu baik-baik saja?” Adrian membuka percakapan dan hanya diangguki oleh Dewi.
“Apa kamu terkejut tahu kalau Adit adikku?”
“Kenapa aa ngga pernah bilang?”
“Maaf.. aku.. punya alasan untuk itu.”
“Adit juga ngga bilang apa-apa soal aa. Padahal dia sering cerita soal aa, tapi sekali pun dia ngga pernah menyebut nama aa.”
“Jangan salahkan Adit. Aku yang memintanya.”
“Kenapa?”
Dewi menatap Adrian dengan lekat. Di situasi membingungkan ini, siapakah yang patut dipersalahkan? Adrian kah? Aditya kah? Atau dirinya?
“Waktu Adit cerita kalau dia sedang jatuh cinta pada seseorang, dia begitu bahagia. Dia kelihatan sangat bersemangat dan begitu ceria. Jujur saja, aku sangat penasaran, siapa gadis yang sudah membuatnya seperti itu. Sampai akhirnya aku tahu siapa yang disukainya.”
“Ma.. maksudnya, aa sudah tahu kalau Adit menyukaiku?”
“Iya. Sejak itu, aku berusaha mendekatimu. Mencari tahu lebih jauh tentang dirimu. Dewi… Apa kamu menyukai Adit?”
Nada suara Adrian begitu pelan dan terdengar sedikit bergetar. Detak jantungnya berdetak lebih cepat menunggu jawaban dari Dewi. Namun setelah beberapa saat, tak ada jawaban dari gadis itu.
“Dewi..”
“Jadi… kedekatan aa akhir-akhir ini denganku, karena Adit?”
“Iya... kenapa? Jangan bilang kalau kamu berpikir aku…”
Adrian tak melanjutkan kata-katanya ketika melihat buliran bening mengalir di wajah Dewi. Kerongkongannya seketika terasa tercekat. Apa yang diperkirakan benar adanya, Dewi pun memiliki perasaan yang sama dengannya. Adrian berpindah dari tempatnya kemudian berjongkok di depan Dewi. Diraihnya kedua tangan gadis itu.
“Aku.. minta maaf kalau apa yang sudah kulakukan membuatmu salah tafsir. Sungguh, ngga ada niatku untuk mempermainkanmu. Aku sangat menyayangi Adit. Aku hanya ingin melihatnya bahagia, dan memastikan kalau pilihannya tidak salah. Maaf kalau aku sudah membuatmu salah paham.”
“Aa sayang banget sama Adit. Tapi aa ngga jaga perasaanku. Untuk apa aa bersikap baik padaku? Untuk apa aa perhatian padaku, UNTUK APA??”
Dengan kasar Dewi menepiskan tangan Adrian. Gadis itu berdiri lalu berlari masuk ke dalam café. Sementara Adrian masih terpaku di tempatnya. Pria itu jatuh terduduk di atas rumput. Malam yang disangkanya akan menjadi malam bahagia, ternyata hanyalah malam penuh luka. Sekali lagi dia gagal mendapatkan wanita yang dicintai. Hanya kali ini rasa sakitnya terasa lebih menusuk dan dalam.
Berulang kali Dewi menarik nafas panjang. Diusapnya airmata yang masih membasahi pipi. Gadis itu berjalan kembali ke mejanya. Terlihat temannya yang lain masih menikmati pertunjukkan The Soul yang tengah menyanyikan lagu request pengunjung.
“Gaeess.. gue pulang duluan, ya,” ujar Dewi tanpa berani melihat pada teman-temannya.
“Eh kok pulang duluan, Wi?” tanya Sandra bingung.
“Kepalaku pusing banget. Aku duluan,” tanpa menunggu persetujuan yang lain, Dewi bergegas pergi.
“Wi.. tunggu. Bareng sama gue.”
Sheila menyambar tasnya kemudian berlari menyusul Dewi. Aditya yang posisinya tengah membelakangi panggung, tak menyadari kalau Dewi sudah pergi dari sana.
Dewi terus berjalan keluar dari area café. Airmatanya kembali mengalir deras. Kata-kata Adrian tadi benar-benar menyakiti hatinya. Gadis itu berhenti lalu berjongkok di trotoar depan café. Sheila yang tadi menyusul di belakang, akhirnya sampai juga ke dekat temannya. Dia terkejut melihat Dewi yang tengah menangis.
“Wi.. lo kenapa?” Sheila ikut berjongkok di sisi Dewi sambil merangkul bahunya.
Dewi tak menjawab hanya tangisnya saja yang bertambah kencang. Sheila yang kebingungan hanya bisa memeluk sahabatnya itu. Untuk beberapa saat Dewi masih saja menangis.
“Wi.. kita pulang, ya. Gue pesan taksi online dulu.”
__ADS_1
“Gue ngga mau pulang ke rumah. Gue mau nginep di rumah lo,” jawab Dewi di sela-sela tangisnya.
“Iya, Wi.. iya.”
Sheila segera mengambil ponselnya lalu memesan taksi online. Tak lupa dia juga menghubungi ibu Dewi untuk mengabarkan kalau Dewi akan menginap di rumahnya. Untung saja Nenden mengijinkan. Tak berapa lama taksi pesanannya tiba, Sheila memapah Dewi naik ke dalam mobil.
Di taman belakang café, Adrian masih terpaku di kursi taman. Tak berbeda dengan Dewi, hatinya juga remuk redam. Tak mungkin dirinya merengkuh cinta, di saat sang adik tengah terluka oleh wanita yang sama. Di samping itu, Dewi pun akan merasa berat menerima cintanya, karena Aditya adalah adiknya. Hingga pria itu memutuskan menanggung semuanya sendiri. Walau resikonya, Dewi akan membencinya.
Adrian bangun dari duduknya, kemudian kembali ke dalam café. Sebisa mungkin dia tak memperlihatkan apa yang tengah dirasakannya saat ini. Pria itu kembali ke mejanya dan mendudukkan diri di tempat semula.
“Dari mana?” tanya Yulita.
“Ada sedikit urusan tadi.”
“Aku ngga nyangka bandnya Adit keren kaya gini.”
“Hmm..”
Yulita tak meneruskan ucapannya, melihat sikap Adrian yang nampak enggan bicara dengannya. Wanita itu kembali diam, sambil menikmati performance The Soul. Lagu terakhir yang dinyanyikan Aditya selesai. Bersama dengan personil The Soul yang lain, dia langsung menuju meja yang ditempati Adrian.
“Gimana bang?” tanya Aditya tak sabar.
“Bagus, keren.”
“Eh Dewi mana?” tanya Roxas. Dia menghampiri meja teman-temannya.
“Dewi mana?”
“Udah pulang. Pusing katanya, tadi pulang bareng Sheila,” ujar Sandra.
“Oh..”
Roxas berlalu begitu saja setelah mendengar jawaban Sandra. Pemuda itu mengambil ponsel lalu menghubungi Dewi. Tak kunjung diangkat, dia lalu menghubungi Sheila. Roxas melihat pada Adrian ketika Sheila menceritakan keadaan Dewi saat ini.
Adrian bangun dari duduknya ketika ponselnya berdering. Pria itu berjalan keluar café begitu melihat Ikmal yang menghubungi. Pasti temannya itu akan membicarakan masalah pekerjaan.
Selesai menghubungi Sheila, Roxas menyusul Adrian. Dia menunggu sampai pria itu selesai dengan panggilannya. Pemuda itu langsung mendekat ketika Adrian mengakhiri panggilannya. Dia berdiri di samping Adrian.
“Bang..”
“Hmm..”
“Barusan aku telepon Sheila. Katanya Dewi nangis waktu pulang. Maaf, bang.. sebenarnya ada apa?”
“Bisa kamu ceritakan bagaimana hubungan Dewi dan Adit?”
“Itu..”
Roxas tahu cepat atau lambat, masalah ini akan terjadi. Pemuda itu mulai menceritakan awal pertemuan Dewi dan Aditya. Bagaimana hubungan mereka terjalin dengan cepat, hingga kemudian perasaan Dewi terbelah.
“Jadi… ternyata aku yang masuk di antara mereka.”
“Bang…”
“Dewi belum pernah pacaran. Wajar aja kalau dia tersentuh dengan sikap Adit, apalagi waktu itu bapaknya baru aja meninggal. Tapi mungkin itu cuma perasaan sayang sebagai sahabat, kaya Dewi ke aku. Dan apa yang Dewi rasain ke bang itu beda. Dia sendiri yang bilang ke aku.”
“Kalau kamu jadi aku. Apa yang akan kamu lakukan kalau perempuan yang kamu sukai ternyata juga disukai oleh adikmu?”
Mulut Roxas terbongkar. Dia juga tak bisa menjawab pertanyaan Adrian. Mungkin saja dia akan mengambil sikap seperti pria itu.
“Tolong sembunyikan semua yang kita bicarakan. Jangan sampai Adit tahu soal aku dan Dewi. Dan kalau bisa kamu bantu mereka untuk bersama.”
“Terus abang?”
“Aku akan bersikap seperti biasa. Life must go on, right?”
“Tapi menghilangkan perasaan yang sudah tumbuh, bukan hal yang gampang.”
“Biarkan itu jadi urusanku. Tugasmu memastikan jangan sampai Adit tahu dan yakinkan Dewi kalau kedekatanku padanya kemarin hanya demi Adit.”
“Bang..”
Pembicaraan Adrian dan Roxas terhenti ketika Aditya datang mendekat. Adrian kembali bersikap biasa, seolah tidak ada pembicaraan apapun antara dirinya dan Roxas.
“Abang mau makan dulu?” tawar Aditya.
“Ngga, abang ngga lapar. Abang mau pulang duluan. Kerjaan tadi belum beres. Mau lanjut di rumah.”
“Ok, bang. Makasih udah mau datang dan kasih support aku.”
“Kamu adik abang. Abang akan selalu jadi orang pertama yang mensupportmu,” Adrian menepuk pundak Aditya pelan.
“Oh iya, Xas. Tolong kamu antarkan Yulita pulang. Dit, tolong bilang ke Yulita, abang pulang duluan.”
Tanpa menunggu jawaban dari Aditya dan Roxas, Adrian beranjak pergi menuju tempat di mana kendaraannya terparkir. Roda mobilnya mulai bergerak meninggalkan area café. Pria itu memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Tangannya bergerak menyalakan audio mobil. Mendengarkan musik untuk menemani perjalanannya.
Adrian tidak langsung pulang. Dia mengarahkan mobilnya menuju arah Dago atas. Sejenak dia ingin menenangkan pikiran dan memilih lokasi yang bisa memberikannya ketenangan. Kendaran roda empat itu terus bergerak memasuki kompleks perumahan elit. Dia lalu menepikan kendaraannya di tempat yang cukup sepi.
Dibukanya kaca jendela, membiarkan udara malam menerpa dirinya. Musik dari audio mobil masih terdengar. Adrian menyandarkan kepalanya seraya memejamkan mata. Menikmati alunan lagu Noah yang mewakili perasaannya saat ini.
Aku mencari cinta
Di tempat yang tidak biasa
Tepat di antara luka
Dan kesunyian tak mereda
Telah ku temukan dia
Memelukku dalam sepinya
Dan ku mencintainya
__ADS_1
Dalam ruang yang telah terbatas
Hanya senandung jiwa
Hanya rasa yang seluruhnya
Aku mencintainya
Menjaganya dalam rahasia
Oooo... Oooo...
Cinta ini menutup mataku
Menggenggam nafasku
Membelengguku
Katakan padaku ini tak benar
Sakit.. perih.. terluka.. kecewa.. itu mungkin yang dirasanya saat ini. Di saat dirinya kembali merasakan jatuh cinta, namun kembali situasi dan kondisi tak berpihak padanya. Dia harus merelakan gadis pujaannya pergi darinya, entah Dewi akan bersama dengan Aditya atau tidak. Lebih baik melihat Aditya terluka melihat Dewi bersama orang lain, dari pada bersama dirinya.
🌸🌸🌸
“Kak.. pulangnya diantar Roxas aja, ya,” ujar Aditya dan karuan membuat Yulita terkejut.
“Loh abang kamu mana?”
“Abang udah pulang duluan. Katanya masih ada kerjaan.”
“Aku pulang sama kamu aja.”
“Maaf, kak. Aku ada perlu ke tempat lain dulu. Xas.. gue titip kak Lita. Gue cabut duluan.”
Aditya menepuk lengan sahabatnya, kemudian segera keluar dari café. Dengan cepat Aditya memakai helmnya, kemudian melajukan kendaraannya keluar dari café. Pemuda itu mengarahkan kendaraannya menuju arah Cicaheum. Entah mengapa dia ingin mengunjungi Cartil. Tempat dulu dia biasa menghabiskan waktu jika tengah dilanda kegalauan.
Motor yang dikendarai Aditya terus melaju melewati jalanan menanjak dan berkelok. Hingga kemudian dia sampai di sebuah kedai langganannya. Kedai ini memang buka 24 jam. Setelah menaruh helmnya, dia memesan minuman hangat, kemudian menuju bale yang letaknya langsung menghadap ke arah perkotaan. Sambil duduk menyandar di bale, dia bisa menikmati keindahan kota Bandung di malam hari dari ketinggian.
Pemuda itu menyumbat telinganya dengan earphone, mendengarkan lagu-lagu favoritnya. Perlahan matanya menutup seiring dengan perasaan nyeri yang menghantamnya. Melepas gadis yang dicintainya, ternyata tidak semudah itu. Sanggupkan dirinya menghilangkan perasaan ini di saat jaraknya begitu dekat.
Terbersit keinginan untuk menjauh, menjaga jarak dari Dewi. Akan tetapi Aditya pun tak sanggup melakukannya. Melihat wajah cantik itu dan mendengar suaranya, seakan menjadi candu untuknya. Tak dapat dipungkiri Dewi adalah vitamin hidupnya. Dialah pemicu semangatnya untuk tetap kuat berjuang meraih impiannya yang tak mudah tanpa dukungan orang tua.
🌸🌸🌸
Di sebuah kamar berukuran 4x6, dua orang gadis tengah berbagi luka. Dinding bercat merah muda, dan boneka helo kitty yang berjajar rapih di atas nakas menjadi saksi curahan hati Dewi. Sambil terus terisak, dia menceritakan kisah cintanya yang ternyata harus berakhir dengan cepat.
Sheila yang sejak awal sudah mengira ada sesuatu antara Dewi dan Adrian tidak terlalu terkejut ketika mendengar hubungan mereka berkembang pasca kelulusan. Yang membuatnya terkejut, kenyataan Adrian dan Aditya bersaudara. Keduanya terjebak dalam cinta yang sama pada satu gadis.
Dia hanya bisa menjadi pendengar yang baik, ketika Dewi mencurahkan seluruh isi hatinya. Kekecewaannya pada Adrian, dan kesedihan gadis itu karena telah melukai hati Aditya. Sheila juga tak bisa menahan airmatanya, membayangkan pemuda yang sejak zaman putih abu disukainya, ternyata menyukai wanita lain.
Dewi membaringkan tubuhnya di kasur. Sesekali isaknya masih terdengar. Walau matanya sudah terasa perih, namun bola matanya masih terus memproduksi airmata yang terus mengaliri wajahnya. Kembali terngiang perkataan Adrian, bergantian dengan perkataan Aditya.
Adit… maafin aku. Maaf karena aku ngga bisa melihat ketulusanmu. Maaf aku sudah menyia-nyiakan cintaku hanya demi cinta semu. Aa.. aku membencimu, sangat membencimu.. aku menyesal sudah membukakan hati untukmu. Aku harap suatu saat nanti kamu merasakan sakit seperti yang aku rasakan.
🌸🌸🌸
Pukul sebelas malam Adrian sampai di kediaman orang tuanya. Pria itu langsung menuju kamarnya. Langsung dihempaskan tubuhnya ke atas kasur. Matanya menatap lurus ke langit kamar. Seperti ada yang hilang dalam hatinya, ada rasa nyeri di dada, seperti luka tertusuk namun tak berdarah.
Tangannya mengambil ponsel di saku celananya. Dibukanya galeri dalam ponselnya, dihapusnya semua gambar dirinya bersama dengan Dewi. Tak ada satu pun gambar gadis itu yang tersisa. Kemudian jarinya bergerak mengedit nama Dewi di kontak. Kata My Girl yang disematkan pada gadis itu kini diganti dengan Dewi Mantili.
Kemudian pria itu menegakkan badannya. Dia berjalan menuju lemari. Diambilnya sebuah kotak dari atasnya. Di dalamnya terdapat helm yang dulu dibeli Adrian untuk sang Dewi. Dia lalu menambahkan kotak cincin, album foto, gift box berisi sapu tangan pemberian Dewi dulu, lengkap dengan kartu ucapannya. Terakhir dia memasukkan surat penyesalan yang dulu Dewi buat.
Sejenak Adrian memandangi kotak berisikan barang-barang kenangannya bersama Dewi. Dia hanya akan menaruhnya di sini, tak sanggup untuk membuangnya. Seperti dirinya yang belum sanggup membuang perasaannya. Memilih untuk tetap menyimpannya dalam diam. Menyembunyikannya di relung hati yang terdalam.
Tinggalkan aku cinta
Meski luka kian merebak
Meski duri merajam
Bunga itu tetap mengembang
Oooo... Oooo...
Cinta ini memeluk jiwaku
Menggenggam nafasku
Membelengguku
Katakan padaku ini tak benar
Oooo... Oooo...
Cinta ini mendekap tubuhku
Katakan hatiku
Katakan itu
Katakan padaku ini tak benar
Aku mencari cinta...
Aku mencari cinta...
🌸🌸🌸
**Coba deh, baca ulang part saat Adrian, Aditya dan Dewi merenung sambil dengerin lagu Noah - Mencari Cinta, resapi liriknya, dijamin feelnya bakal dapet banget🥺
Sama seperti kalian, mamake pun sedih saat menulis part ini apalagi sambil dengerin lagu itu🥺**
__ADS_1