
Satu bulan setelah pernikahan Bobi dan Wulan, acara kumpul-kumpul kembali terjadi. Micky dan Sandra akhirnya bisa juga duduk di pelaminan, menyusul teman-temannya yang lebih dulu melepas masa lajang. Kebahagiaan nampak di wajah pasangan tersebut. Pasang surut hubungan mereka yang kerap diwarnai pertengkaran, perdebatan dan saling cemburu dapat mereka lewati dengan baik. Akhirnya mereka bisa bertemu di depan penghulu.
Akad dan resepsi diadakan di halaman vila yang disewa oleh pasangan pengantin. Mereka mengadakan pernikahan di daerah Lembang. Tamu yang diundang juga terbatas, tidak sampai lima ratus orang. Bahkan kakak Micky sampai rela menjemput dan mengantar penghulu yang akan menikahkan adiknya. Nantinya vila tersebut akan dijadikan tempat pasangan pengantin menghabiskan malam pertama.
Selesai melaksanakan acara akad nikah tadi pagi, mereka langsung menggelar resepsi sederhana. Mereka sepakat tidak melangsungkan resepsi dengan mewah, yang penting syukuran dengan mengundang teman dan para tetangga. Uang yang mereka miliki lebih baik digunakan untuk bekal hidup berumah tangga. Apalagi Sandra tidak ada rencana menunda momongan. Dia ingin segera memiliki anak seperti para sahabatnya.
Para tamu yang datang dipersilahkan untuk langsung mencicipi hidangan yang sudah disediakan setelah memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin. Halaman vila yang disewa cukup luas juga. Terdapat panggung kecil di dekat kolam ikan, untuk wedding singer menghibur para undangan.
Arkhan dan Zidan duduk di dekat kolam ikan sambil menikmati baso tahu dan es krim. Tak jauh dari sana, Pipit duduk mengawasi kedua anak tersebut. Tak lama kemudian Roxas datang membawakan pasta untuk sang istri. Sedang di tangan satunya lagi, nasi untuknya. Roxas memang kurang suka makanan western. Baginya yang mengenyangkan tetaplah nasi, makanan pokok orang Indonesia.
Dengan lahap Roxas menikmati nasi dengan lauk sop daging, rendang daging, ayam suir, kentang mustopa, sambel goreng kentang dan kerupuk udang. Menu tersebut memang tidak pernah absen di setiap prasmanan. Di sebelahnya, Pipit menikmati spaghetti bolognese yang di atasnya diberi parutan keju.
“Yang, kamu kenyang gitu makan itu doang?”
“Ngga. Kan nanti mas ambilin aku baso tahu sama puding,” Pipit terkikik setelahnya.
“Mending sekalian makan nasi, kenyang.”
“Itu piring kamu penuh gitu sama lauknya. Nasinya ngumpet ya.”
“Iya, ketimbun, hahaha…”
Zidan datang mendekati sang ayah lalu membuka mulutnya. Melihat ayahnya makan dengan lahap, anak itu jadi ingin makan juga. Roxas menyuapkan makanan ke dalam mulut sang anak. Mata Zidan membulat saat daging rendang yang terasa pedas di lidah masuk ke dalam mulutnya.
“Hah.. hah.. pedes papa,” Zidan mengeluarkan lidahnya.
“Papa lupa, hehehe.. minum dulu nih.”
Anak itu langsung menyambar gelas air mineral kemasan lalu meneguknya sampai habis. Arkhan yang sudah menghabiskan baso tahunya, ikut mendekati Roxas. Dia heran melihat wajah Zidan yang berkeringat.
“Ozid kenapa?”
“Kepedesan dia, abis makan rendang. Mau papa ambilin ngga? Pake sop sama ayam suir aja, mau?”
“Mau.”
“Arkhan mau ngga?”
“Mau.”
Roxas meletakkan piring di kursinya kemudian dia kembali ke meja prasmanan. Adrian dan Dewi yang baru selesai berbincang dengan pasangan pengantin, segera menuju meja prasmanan. Mereka bertemu dengan Roxas yang sedang mengambil makanan. Nampak dua piring di tangannya.
“Ya ampun yang bener aja, makan sampai dua piring. Aji mumpung?” ledek Dewi.
“Buat Zidan ama anak lo.”
“Arkhan mana?”
“Tuh dekat kolam ikan.”
“Tar gue ke sana.”
Dewi langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauknya. Sekarang dia kembali menjadi ibu menyusui, maka porsi makannya pun lebih dari biasanya. Adrian mengikuti dari belakang dengan Iva berada dalam gendongannya. Anak itu nampak nyaman duduk dalam gendongan yang ada di bagian depan sang ayah. Tangannya bergerak-gerak saat Adrian mengambil makanan.
“Anak mama mau mamam? Nanti ya, mama dulu yang mamam, abis itu Iva mamam,” ujar Dewi.
“Makan yang banyak, mama. Sebagian buat Iva, sebagian buat mama. Eh salah sepertiga buat mama, seperempat buat Iva.”
“Ish… ayah nyebelin ya, sayang. Iva bangun terus ya kalau malam, biar ayah ngga bisa dekat-dekat mama.”
“Ngga dong, Iva kan anak solehah. Pasti pulas tidurnya, asal perutnya kenyang. Mama jangan makan buat sendiri ya, tapi buat Iva juga.”
“Ish..”
Adrian tertawa kecil melihat bibir Dewi yang maju beberapa senti. Keduanya kemudian menuju kolam ikan, tempat di mana Roxas dan anaknya berada. Adrian mendudukkan diri di samping Roxas. Pipit yang sudah selesai makan, mengambil Davira dari gendongan keponakannya.
“Iva.. cantik banget sih,” ujar Pipit sambil mengusap pipi gembulnya.
“Yang, kamu mau nambah momongan kapan? Kan Zidan udah ngga nyusu, kita promil lagi, yuk.”
“Kayanya ngga usah promil deh. Aku udah telat seminggu. Nanti kita ke apotik ya, beli test pack. Kali aja udah isi.”
“Yang bener? Alhamdulillah.”
Roxas mengusap wajah dengan kedua tangannya. Wajah pria itu nampak sumringah. Akhirnya keinginannya untuk memiliki anak lagi akan kesampaian. Dia sungguh berharap sudah ada benihnya yang bersemayam di perut sang istri.
“Mudah-mudahan anaknya perempuan,” ujar Roxas.
“Aamiin..”
“Kalian ada niatan nambah momongan ngga?” Roxas melihat pada Adrian juga Dewi.
__ADS_1
“Ya ampun, Iva baru juga brojol udah ditanya mau tambah apa ngga,” seru Dewi.
“In Syaa Allah mau. Tapi nanti tunggu Iva lepas ASI, baru promil lagi.”
“Enak kali ya punya anak kembar.”
“Mau punya anak kembar turunan dari mana? Eh iya, Oxas kan anak kembar.”
“Jangan ngadi-ngadi, kembar sama siapa gue?”
“Sama mbe, hahaha…”
Hampir saja Adrian tersedak mendengarnya. Pipit langsung terpingkal, membayangkan kembaran sang suami adalah kambing jantan milik tetangga rumahnya. Anak tetangganya itu sangat ingin memiliki kambing. Sampai akhirnya sang ayah membelikannya karena tak tahan setiap hari mendengar rengekan anaknya.
Di bagian lain, Mila dan Ikmal sedang berbincang dengan Bobi, Wulan dan Budi. Sejak menikah dengan Mila, Ikmal juga jadi akrab dengan sahabat istrinya. Tingkah mereka yang absurd dan celotehannya yang nyeleneh terkadang membuat pria itu terpingkal.
“Bud.. lo jadi nikahnya?” tanya Bobi.
“Ya jadi, dong.”
“Kapan?”
“Tiga bulan lagi. Nikahnya sederhana aja. Khayra ngga mau ada pesta-pesta. Cuma akad nikah sama syukuran aja.”
“Nikahnya di mana?”
“Di pesantren abahnya. Paling undangan cuma keluarga, tetangga dekat, teman-teman dan anak-anak pesantren.”
“Kan anak pesantren banyak. Sama aja kaya pesta jatuhnya.”
“Kaga banyak, cuma tiga ratus. Kurang lebih lima sampe enam ratus tamu. Kaya si Micky ini.”
“Ada hadroh dong.”
“Pastilah. Paling anak-anak pesantren yang tampil.”
Bobi hanya menganggukkan kepalanya. Budi kembali menikmati makanannya. Di antara para sahabatnya, hanya dirinya yang selalu datang sendirian ke pesta pernikahan. Berhubung dia tidak bisa pergi berdua dengan Khayra, dan tidak ada yang bersedia menjadi setan di antara mereka, akhirnya Budi hanya jadi pemain tunggal.
Setelah puas menikmati hidangan dan bercengkerama dengan undangan yang datang, satu per satu tamu pamit pulang. Adrian dan Dewi kembali menemui pasangan pengantin untuk berpamitan. Arkhan lebih dulu mencium punggung tangan sahabat mamanya ini.
“Om, Arkhan pulang dulu ya. Tante, makasih baso tahunya.”
“Sama-sama, sayang.”
“Motor kali digeber.”
“Pake knalpot racing biar tambah ajib,” celetuk Roxas yang sudah ada di belakang Dewi.
“Kita pulang dulu, ya,” ujar Adrian.
Bersama dengan Dewi dan Arkhan, Adrian meninggalkan vila tersebut. Davira sendiri masih berada dalam gendongannya. Roxas maju lalu menyalami kembali pasangan pengantin sambil berpamitan.
“Awas jangan salah masuk. Lubang depan ya, bukan belakang.”
“Sue lo. Emangnya gue ngga bisa bedain mana lubang depan, mana lubang belakang.”
“Ya kali aja salah masuk. Atau mainnya jangan matiin lampu, biar bisa saling lihat muka sang* kalian, hahaha..”
Memerah wajah Sandra mendengar ucapan Roxas yang tanpa saringan. Pipit menepuk lengan sang suami, mengingatkan kalau ada Zidan bersama mereka. Pria itu hanya melemparkan cengiran. Dia sampai lupa kalau ada Zidan di antara mereka.
“Kasihan gue sama Zidan, bisa dewasa sebelum waktunya punya bapak modelan elo.”
“Gue justru kasihan sama calon anak lo. Dia pasti minder punya bapak Micky monyet, hahaha..”
“Balik sana!”
Dengan kesal Micky menendang bokong sahabatnya itu, namun Roxas dapat menghindar dengan cepat. Pipit bersalaman dengan kedua pengantin lalu menyusul sang suami. Ketiganya segera menuju mobil yang terparkir di pekarangan vila.
🌸🌸🌸
Tiga bulan kemudian Budi menepati janjinya, mengundang para sahabatnya untuk menghadiri pernikahannya dengan Khayra. Gadis cantik anak pak kyai pemilik pesantren. Dari sekian banyak pria yang ingin mempersunting Khayra, akhirnya gadis itu menjatuhkan pilihan pada Budi. Pria dengan wajah sederhana, namun memiliki kepercayaan diri tinggi dan tekad luar biasa.
Sebagai rasa syukur sudah mendapatkan jodoh yang luar biasa, sebelum pernikahan Budi menggelar pengajian bersama anak yatim piatu. Dia memberikan bingkisan dan juga uang saku untuk anak-anak tersebut. Buah kesabarannya akhirnya memberikan hasil yang manis. Berkali-kali ditolak Dewi, akhirnya sang pejuang cinta melabuhkan hatinya pada Khayra.
Pernikahan dilangsungkan di pondok pesantren Mubarokul Ulum, milik ayah Khayra. Tidak banyak yang mereka undang. Hanya para sahabat, tetangga dekat, keluarga dan juga anak pesantren. Mahar yang diminta Khayra pun tidak muluk-muluk, hanya seperangkat alat shalat ditambah emas 5 gram.
Usai melaksanakan akad nikah. Acara dilanjut dengan syukuran. Para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan sambil diiringi hadroh persembahan anak-anak pesantren. Di antara para tamu, hadir pula alumni pesantren Mubarokul Ulum. Para pemuja Khayra yang harus patah hati berjamaah karena sang gadis menjatuhkan pilihan pada Budi. Pria yang tidak pernah berada dalam radar mereka, tiba-tiba menyusup masuk dan mengambil Khayra dari mereka.
Mila dan yang lainnya duduk di kursi yang ada di depan panggung. Di depan mereka, duduk para alumni pesantren, alias barisan sakit hati Khayra. Sambil makan dan menikmati suara merdu adik-adik santrinya, mereka berbincang tentang pasangan pengantin yang masih menerima ucapan selamat dengan wajah berbinar.
“Ngga nyangka dek Khayra dapetnya orang di luar pesantren.”
__ADS_1
“Iya, namanya jodoh, kita ngga tahu di mana akan berlabuh.”
“Beruntung banget Budi dapet neng Khayra. Udah cantik, solehah, pintar, apalagi coba?”
“Khayra ngga lagi sakit mata, kan?”
“Atau jangan-jangan dia pake ajian jaran goyang dia, hahaha…”
“Padahal kalau dibanding Andri, kalah jauh tuh suaminya Khayra.”
“Jangankan dibanding Andri. Dibanding Cepi juga masih kalah. Ibaratnya Andri itu biskuit konde, Cepi itu biskuit khong gue, nah Budi bubuk rangginang.”
“Hahaha..”
Suara gelak tawa langsung terdengar. Mila dan yang lainnya tanpa sengaja mendengar para pria itu membicarakan Budi. Pandangan Mila terarah pada Budi yang tengah menerima ucapan selamat dari Dewi dan Adrian. Kemudian dia melihat pada para pria di depannya.
“Kita kan sering ngebully si Budi, ya. Tapi kenapa gue ngga senang ya mereka ledekin Budi kaya gitu. Minta ditampol tuh para laki,” sembur Mila.
“Iya, juga. Kalau kita kan udah biasa ya ngebully ngga pake hati. Nah kalau mereka kayanya dari hati banget tuh,” sambung Sandra.
“Namanya juga orang iri. Iri karena ngga bisa dapet Khayra. Mungkin gara-gara ngga bisa jaga congornya, makanya Khayra ngga milih mereka.”
Refleks deretan di depan Mila cs menolehkan kepala ke belakang. Mereka juga bisa jelas mendengar apa yang dikatakan Micky tadi. Dengan santai Micky membalas tatapan mereka semua. Suasana menjadi cukup tegang. Bukan hanya Micky, tapi Bobi juga melayangkan tatapan menusuk.
Roxas yang sudah mengucapkan selamat pada sahabatnya langsung menuju kursi di mana teman-temannya berada. Pria itu bingung melihat adu pandang antara para sahabatnya dengan alumni pesantren. Dari mata mereka seolah mengeluarkan sinar laser, dan tidak ada yang mau mengalah.
“Woii.. lagi pada apa? Adu mata nih?” seru Roxas sambil mendudukkan diri.
“Tolong bilang ke teman-teman kamu. Dijaga mulutnya kalau berkata-kata,” ujar salah satu alumni.
“Harusnya kalian yang jaga mulut. Baru segitu aja udah nyolot. Apa kabarnya Budi yang dari tadi kalian bully?” sewot Mila.
“Haaiisshh.. udah kenapa jadi ribut. Pengantinnya aja tenang-tenang aja. Maaf ya, masalah jodoh kan kita ngga ada yang tahu akan kemana arahnya. Kalau memang jodohnya Khayra itu Budi, ya kalian legowo aja. Siapa tahu kalian akan mendapatkan yang lebih baik dari Khayra. Dan kalian juga ngga usah dongkol, anggap aja ucapan mereka itu sebagai ungkapan rasa sakit hati karena kalah telak sama Budi. Santuy aja, peace. Yuk lihat lagi ke depan, jangan ke belakang mulu. Tar otot lehernya kaku loh.”
Kepala para alumni tersebut kembali melihat ke depan. Mereka memilih berpindah tempat, karena tak nyaman berada dekat dengan para sahabat Budi. Tak lama Dewi datang bersama Adrian dan Ikmal. Mereka menempati kursi yang tadi diduduki para alumni.
“Kenapa?” tanya Dewi begitu melihat wajah para sahabatnya yang terlihat kesal.
“Itu, gue gedeg banget sama barisan sakit hati. Sekate-kate kalo ngatain Budi.”
“Ah elah, Mil. Lo juga sering bully Budi. Lagian tenang aja, si Budi mah udah kebal. Kan lo lo pada udah sering bully dia dari jaman sekolah. Kalau omongan mereka mah ngga akan didengar ama Budi. Paling masuk dari kuping keluar dari v*ntat.”
“Kecipirit dong, hahaha..” timpal Bobi.
Suasana mulai mereda. Kedatangan Roxas dan Dewi berhasilkan meredam suasana tegang yang tadi sempat terjadi. Sedangkan orang yang menjadi bahan pembicaraan terlihat anteng saja menerima ucapan selamat dari semua yang datang. Budi sendiri tidak peduli dengan semua omongan orang. Yang penting Khayra sudah memilihnya, dan itu adalah jodoh yang diberikan Tuhan padanya.
“Mudah-mudahan anaknya Budi mirip Khayra semua ya,” celetuk Bobi.
“Jangan sampe mirip si Budi, bahaya, hahaha…” sambung Micky.
“Beuuhh.. tadi aja sewot si Budi dikata-katain, sekarang malah ngeledek dia lagi,” sambar Roxas.
“Kalo kita-kita mah ngga apa-apa. Tapi kalo orang lain ngga rela gue,” seru Mila.
“Betul itu. Budi kan jelek-jelek juga sahabat kita. Makhluk langka itu,” sahut Sandra.
“Buset jeleknya jangan disebut ngapa, hahaha…”
“Hahahaha..”
Adrian dan Ikmal hanya menggelengkan kepalanya saja. Setelah membela Budi, kini para sahabat lanjut meledeknya. Ibaratnya Budi sudah diangkat ke langit kemudian dihujamkan lagi ke bumi. Arkhan dan Zidan yang belum mengerti pembicaraan orang dewasa nampak anteng menikmati puding. Sesekali terdengar suara Arkhan mengikuti hadroh sholawatan.
“Widih Arkhan, suaranya merdu kaya papa,” celetuk Mila.
“Iya dong, tante.”
“Arkhan mau ya jadi mantu tante.”
“Mantu apa, tante?”
“Mantu itu merk tisu basah,” jawab Roxas asal.
“Ah Arkhan ngga mau jadi mantu tante. Nanti dipake ngelap ingus.”
“Hahahaha..”
Mila hanya menepuk keningnya mendengar jawaban Arkhan. Roxas terpingkal sambil memegangi perutnya. Suasana di hajatan Budi, ramai dengan suara hadroh anak pesantren bercampur dengan suara tawa para sahabat Budi. Sekilas Budi melihat pada kumpulan para sahabatnya. Entah mengapa dia yakin sekali kalau mereka sedang membicarakan dirinya.
🌸🌸🌸
**Selamat buat pasangan pengantin. Akhirnya sold out juga ya yg pada jomblo.
__ADS_1
Mila kaga rela Budi dibully. Cukup dia ama teman² yang lain yang bully. Jangan ada personil tambahan🤣**