Naik Ranjang

Naik Ranjang
Suddenly Married


__ADS_3

Ruang perawatan yang dihuni Dewi terlihat ramai oleh kehadiran Ida, Toni, Wardani, Cahyadi, Iis, Adrian, Pipit dan Roxas. Toni memindahkan Dewi yang tadinya berada di ruang perawatan kelas 2 ke kelas 1, agar keluarga yang berkunjung menjadi lebih nyaman.


Gorden yang menghalangi bed Dewi terbuka, ketika wanita itu sudah selesai menyusui Arkhan. Aditya membawa Arkhan dalam gendongannya. Ida segera menghampiri anak bungsunya. Matanya tak lepas memandang Arkhan dalam gendongan Aditya. Wajah Arkhan dangat mirip dengan Aditya, bahkan anak itu juga memiliki lesung pipi di tempat yang sama seperti papanya.


“Anakmu kok ya mirip bener sama kamu, Dit. Persis kaya pinang dibelah dua,” ujar Ida.


“Iya, ma. Padahal aku yang hamil sembilan bulan, aku juga yang bawa kemana-mana, tapi cuma disisain matanya aja.”


“Mungkin Dewi keseringan ditinggal Adit, makanya kangen terus, jadi anaknya mirip Adit,” celetuk Wardani.


“Bukan, mbah. Karena aku cinta banget sama Dewi, makanya anakku mirip aku, biar Dewi tambah cinta sama aku, hahaha…”


“Ngaco,” jawab Wardani sambil tertawa.


Arkhan yang tadinya sudah terpejam membuka matanya. Aditya yang hendak menaruhnya di dalam box mengurungkan niatnya. Dia membawa anaknya ke dekat keluarganya.


“Dede.. kenalin ini mbah putri, ini mbah kakung, ini mbah buyut, ini nenek, dan ini ayah.”


Aditya sedikit mengangkat posisi anaknya, memperlihatkannya pada Ida, Toni, Wardani, Cahyadi dan Iis. Kemudian papa muda itu membawa anaknya mendekati Pipit dan Roxas.


“Kalau ini newan,” Aditya melihat pada Pipit.


“Newan apaan?”


“Nenek perawan, hahaha.”


Dengan kesal Pipit menjitak kepala keponakannya ini. Aditya mengaduh sambil tertawa. Wardani tertawa cukup keras, seperti puas melihat anaknya diledek demikian oleh sang cucu. Kemudian Aditya mendekati Roxas.


“Nah kalau ini, panggil aja Kirox.”


“Apaan Kirox?” tanya Roxas bingung.


“Aki Roxas, hahaha..”


“Dih.. aki, uncle.. enak aja aki.”


“Lah elo kan mau nikah sama tante Pit, jadi wajar kalo dipanggil aki. Kalau mau dipanggil uncle, berarti lo ngga usah nikah sama tante Pit.”


“Ya udah terserah elo deh mau panggil Kirox kek, Kixas kek, terserah.”


“Hahaha…” Aditya tertawa puas melihat muka gondok sahabatnya.


“Kiep aja, aki Aep,” celetuk Adrian.


Suasana di dalam kembali ramai oleh gelak tawa. Roxas hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Diterima secara resmi oleh Pipit belum, tapi dirinya sudah menjadi bulan-bulanan oleh kedua keponakan wanita yang gencar dikejarnya.


“Tan, aku lupa. KTP Dewi ketinggalan di rumah. Aku lupa masukin ke tas tadi. Bisa tolong ambilin ngga? Tadi suster nanyain.”


“Wah beneran ngelunjak nih ponakan.”


“Ya kalau tante ngga mau, ngga apa-apa.”


Aditya menaruh Arkhan ke dalam box, kemudian menghampiri Dewi. Diciumnya kening sang istri. Dengan memasang wajah memelas dia melihat pada Dewi.


“Sayang, aku ke rumah dulu. Kamu tunggu sebentar ya.”


“Haaiisshh.. drama banget. Ya udah aku yang ambil. Xas, ayo anter.”


“Siap sayang.”


Sambil menyeret Roxas, Pipit keluar dari kamar perawatan. Dewi yang bingung, melihat pada suaminya yang terlihat begitu bahagia. Dia menatap curiga pada suaminya.


“Mas.. kamu ngerencanain apa? KTP-ku ada, kok.”


“Ngga rencanain apa-apa kok, sayang. Cuma kasih mereka waktu berdua aja.”


Aditya memeluk Dewi, pandangannya tertuju pada Adrian. Pria itu hanya tersenyum tipis membalas senyum sang adik. Dari sorot keduanya jelas memancarkan sesuatu yang sangat mencurigakan.


🌸🌸🌸


Setelah memarkirkan di hejo di depan kontrakan Dewi, Roxas dan Pipit segera masuk ke dalam rumah. Keduanya segera menuju kamar Dewi dan Aditya untuk mencari KTP Dewi. Awalnya mereka mencari di atas meja belajar Dewi tapi tidak ketemu, Pipit sampai menyasar ke lemari, tapi tak menemukan yang dicarinya.


“Xas, coba telepon Adit. Itu KTP ditaro di mana?”


Roxas mengambil ponselnya, kemudian menghubungi sahabatnya. Sementara Pipit masih mencari keberadaan kartu identitas keponakannya. Usai menghubungi Adit, Roxas mencari di tempat yang dikatakan sahabatnya.


“Di mana?” tanya Pipit.


“Dia lupa. Katanya kalau ngga di kasur, nyelip di pinggir kasur atau di bawah.”


Pipit menyasar kasur, dirabanya permukaan kasur, sampai ke bantal. Kemudian melihat ke pinggiran kasur, tapi wanita itu tak menemukan apa-apa. Roxas terpaksa menutup pintu sedikit rapat agar dirinya bisa leluasa mencari di bawah kasur. Pipit berdiri di pinggir kasur, kepalanya pusing tak bisa menemukan barang yang dicarinya.


Roxas juga tak menemukannya di bawah kasur. Saat pemuda itu akan berdiri, tiba-tiba pintu terbuka. Bokongnya terdorong oleh daun pintu, dan tubuhnya langsung menabrak Pipit yang ada di depannya. Terkejut dan kehilangan keseimbangan, tubuh Pipit jatuh ke kasur disusul oleh Roxas yang jatuh di atasnya. Bibir Roxas sampai menyentuh bibir Pipit.


“Astahfirullah, Roxas!!”


“Ya Allah, Roxas!!”

__ADS_1


Terkejut mendengar dua suara pria di belakangnya, Roxas segera bangun. Nampak Amir dan Salim menatap keduanya dengan wajah terkejut. Sontak pria itu langsung gelagapan. Pipit juga segera bangun dari posisinya.


“Xas… akang ngga nyangka kamu kaya gitu,” Salim menggelengkan kepalanya.


“Keterlaluan kamu, Xas,” sambung Amir.


“Eh.. ngga gitu, kang. Sumpah itu mah kecelakaan. Tadi akang buka pintu tiba-tiba, jadi aku jatuh. Gitu kang,” Roxas berusaha menjelaskan.


“Masa jatuhnya meni pas di atas neng Pipit,” balas Amir.


“Sumpah, kang.”


“Xas, aku ngga suka ya, kamu melakukan hal mesum di kontrakan abi,” lanjut Salim.


“Maaf ya, kang Amir, kang Salim, kejadiannya ngga seperti itu,” Pipit berusaha menengahi spekulasi yang berkembang.


“Jelasin apa lagi, neng? Semuanya sudah jelas. Posisi Roxas di atas posisi neng, mana kalian lagi paanteul biwir (bertemu bibir). Siapa yang ngga curiga coba? Udahlah, kang, kasih tahu aja abi.”


Amir segera keluar dari kamar, menyusul Salim yang sudah keluar lebih dulu. Roxas nampak panik, dia tidak terima dituduh melakukan hal yang bukan-bukan. Dia harus membersihkan namanya bagaimana pun juga. Pipit pun menyusul keluar, dia harus segera meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.


“Kang.. tolong dengar dulu,” Roxas masih mengejar Amir.


“Nanti aja, Xas, kamu jelasin semunya di depan pak haji. Salim lagi telepon abinya. Mending duduk dulu. Aku juga mau telepon Adit.”


Roxas dan Pipit hanya bisa pasrah menunggu kedatangan haji Soleh. Hari ini mereka benar-benar apes. Kenapa juga mereka harus terpergok dalam keadaan seperti tadi. Padahal mereka hanya mencari KTP Dewi sesuai permintaan Aditya.


Setelah menunggu selama sepuluh menit, haji Soleh datang bersama istrinya. mereka segera masuk ke dalam rumah Dewi. Pasangan suami istri pemilik kontrakan tersebut terkejut mendengar laporan dari anaknya. Tentu saja haji Soleh segera meminta penjelasan dari Roxas dan Pipit.


“Begitu ceritanya pak Haji. Sumpah, kita ngga ngapa-ngapain. Kita cuma nyari KTP-nya Dewi. Kata Adit ada di bawah kasur.”


“Kalau cuma cari KTP kenapa pintunya harus ditutup?” sengit Amir.


“Aku lagi nyari di bawah kasur, kang.”


“Tapi kenapa pas akang masuk, kalian malah ada di atas kasur. Kamu jangan ngelak, Xas. Bukti udah jelas, aku sama kang Salim yang jadi saksinya.”


Roxas meremat rambutnya dengan kasar. Dia kesal sekali penjelasannya sama sekali tidak didengar oleh Amir dan juga Salim. Apalagi haji Soleh dan bu hajjah Ratna nampak percaya dengan ucapan keduanya. Di tengah kekalutan, dari arah luar muncul Wardani, Cahyadi, Ida dan Toni. Mendengar kabar dari Amir, mereka memutuskan untuk datang.


“Ada apa ini? Kenapa kalian seperti itu? Kalau kalian sudah nda kuat, kenapa nda nikah aja. Bikin malu saja,” seru Wardani.


“Bu.. ngga gitu ceritanya. Ibu tahu sendiri kalau Adit minta aku ambil KTP Dewi. Kita lagi cari KTP Dewi, bu.”


“Lah kalau cuma cari KTP, kenapa ada insiden kaya tadi? Ngapain kalian berdua ada di atas kasur. Ya ampun, pak.. dosa apa ibu.. anak bungsumu iki, pak.”


Wardani menepuk-nepuk lengan suaminya. Pipit masih berusaha untuk menjelaskan, tapi ibunya tetap tidak mau percaya. Haji Soleh dan Ratna pun tidak mempercayai penjelasan mereka. Wajah Roxas nampak panik, dia tak mau Wardani dan Cahyadi sampai mencabut restunya karena insiden ini.


“Pak.. ngga gitu, pak. Aku sama Roxas ngga ngapa-ngapain,” kesal Pipit.


“Tapi ada saksinya. Ini Amir sama Salim lihat kalian lagi ciuman di atas kasur. Haduuhh.. pusing kepala ibu.”


“Bukan ciuman, bu. Itu kecelakan. Ngga sengaja.”


“Iya, bu. Itu kecelakaan. Saya mana berani cium Pipit kalau belum sah.”


“Lah itu Salim sama Amir saksinya. Mereka ngga mungkin bohong.”


“Sudah.. sudah.. tenang dulu. Roxas.. bapak tahu kamu anak baik. Kamu sepertinya ngga mungkin melakukan hal ini,” ujar haji Soleh. Dengan cepat Roxas menganggukkan kepalanya. Dia melihat secercah harapan dari pria itu.


“Tapi.. Salim dan Amir tidak mungkin salah lihat. Bapak hanya harap kamu mau bertanggung jawab. Atau kamu terpaksa bapak usir dari sini.”


“Roxas.. bapak harap kamu mau tanggung jawab setelah perbuatanmu pada Pipit,” sambung Cahyadi.


“Pak…”


“Sudah.. kalian menikah saja,” ujar Wardani dengan suara lemas.


“Bu.. aku ngga mau nikah. Aku ngga salah.”


“Aduh.. jantung ibu.. aduh.”


Wardani memegangi dada kirinya. Tubuhnya terkulai di lengan suaminya. Ida langsung menghambur ke arah ibunya. Cahyadi menepuk-nepuk wajah istrinya agar jangan sampai pingsan.


“Bu.. bangun.. bu..”


“Ibu.. bangun..”


“Bu.. bangun. Iya aku mau nikah sama Roxas tapi ibu jangan sakit. Aku mau nikah, bu.”


Pipit mulai menangis, dia takut kalau ibunya terkena serangan jantung. Mendengar Pipit setuju untuk menikah, perlahan Wardani membuka matanya. Cahyadi membantu wanita itu untuk duduk.


“Bener, Pit. Kamu mau nikah sama Roxas?” tanya Wardani.


“Iya, bu. Iya.. maaf, bu.”


“Roxas.. kamu siap nikahin Pipit?”


“Sekarang, bu?” tanya Roxas masih dengan wajah bingungnya.

__ADS_1


“Pak haji, boleh ya kasih kami waktu tiga hari sampai Dewi keluar rumah sakit. Mereka akan nikah di KUA, nanti resepsinya di Magelang.”


“Tidak apa-apa, bu. Asal mereka mau menikah saja.”


Roxas hanya melongo saja, dirinya harus menikahi Pipit dalam waktu tiga hari. Di satu sisi hatinya senang, akhirnya bisa menikahi wanita pujaannya. Tapi di sisi lain dia was-was, takut kalau eninnya terkejut mendengar pernikahannya yang dilangsungkan secara dadakan.


🌸🌸🌸


Roxas sedari tadi tak berhenti bergerak. Sikapnya nampak gelisah, enin yang ada di dekatnya masih khusyu melihat tayangan televisi. Roxas mendekati enin, kemudian memegang tangan neneknya itu.


“Kunaon Aep? Titatadi meni teu daek cicing (kenapa Aep? Dari tadi ngga mau diem).”


“Enin.. hampura.. (enin.. maaf).”


“Hampura kunaon? (maaf kenapa?).”


“Aep dua dinteun deui bade nikah sareung pipit (Aep mau nikah sama Pipit dua hari lagi).”


“Naha meni ngadadak? (kenapa mendadak?).”


“Panjang caritana, enin. Enin ulah ambeuk nya (panjang ceritanya, enin. Enin jangan marah ya).”


“Aep tos siap nikah (Aep sudah siap nikah?).”


“In Syaa Allah, enin.”


“Mun Aep tos siap, enin mah satuju wae (kalau Aep sudah siap, enin setuju aja).”


“Hatur nuhun, enin. Hatur nuhun (terima kasih enin, terima kasih).”


Roxas segera memeluk enin, hatinya merasa bahagia enin ternyata tidak terkejut atau shock mendengar rencana pernikahannya dengan Pipit. Bahkan enin meminta Lisa untuk membantu Roxas mempersiapkan hantaran pernikahan. Walau hanya dilakukan di KUA, tetap saja pria itu harus menyiapkan mahar dan hantaran.


🌸🌸🌸


Kesibukan nampak di kediaman Toni. Semua penghuni rumah bersiap untuk pergi ke KUA, mengantar Pipit yang akan menikah dengan Roxas. Wardani tak berhenti tersenyum membayangkan anak bungsunya akhirnya akan menikah juga. Dua bulan setelah pernikahan di KUA, mereka akan menggelar pesta resepsi di Magelang.


Selain butuh waktu untuk menyiapkan resepsi, Wardani juga menunggu cicitnya bisa ikut dibawa ke sana. Wanita itu juga tidak meminta banyak pada Roxas, sesuai kesanggupan saja, berapa biaya yang bisa pria itu siapkan. Tapi sepertinya Roxas memang sudah menyiapkan dana untuk menikahi Pipit.


Pipit keluar dari kamarnya dengan mengenakan kebaya berwarna putih. Mereka tak menggunakan jasa penata rias, cukup Ida saja yang membantu adiknya berdandan. Lagi pula hanya pernikahan di KUA yang dihadiri pihak keluarga saja, plus keluarga haji Soleh. Melihat sang mempelai wanita sudah siap, Toni mengajak yang lain untuk segera berangkat.


Mereka berangkat dengan menggunakan dua mobil. Cahyadi dan Wardani akan ikut bersama mobil Toni, sedang Pipit bersama Adrian, Aditya dan Dewi. Arkhan tidak diajak karena riskan. Dia di rumah saja bersama dengan Iis. Ida memang meminta Iis menginap di rumahnya mulai hari ini.


Sejak mobil yang dikendarai Adrian keluar dari rumah, Pipit hanya menutup mulutnya saja. Dia tak menyangka pernikahannya akan terjadi secepat ini dan dengan cara tidak terduga. Seberapa kuat dirinya menghindar, jika memang jodohnya adalah Roxas, tetap saja mereka akan bertemu di KUA. Wanita itu hanya bisa pasrah menjalani takdir yang dituliskan untuknya. Dia yakin Roxas mampu menjadi imam yang baik untuknya.


Jantungnya berdebar kencang saat mobil yang ditumpanginya berhenti di depan kantor KUA. Dari dalam mobil dia bisa melihat Roxas sudah datang dengan keluarganya. Dengan dibantu Dewi, Pipit keluar dari mobil. Roxas hanya tertegun melihat Pipit yang terlihat cantik dalam balutan kebaya. Dia masih belum percaya, kalau hari ini akan menikahi wanita yang beberapa bulan ini dikejarnya mati-matian.


“Semua dokumen sudah siap. Bisa kita mulai sekarang?” tanya sang penghulu.


Semua hanya menganggukkan kepalanya. Di samping penghulu, Cahyadi sudah duduk, bersiap menjadi wali nikah anak bungsunya. Di depannya duduk Pipit dan Roxas. Haji Soleh akan menjadi saksi dari pihak Pipit, sedang Adrian saksi dari pihak Roxas. Cahyadi memegang erat tangan calon menantunya.


“Ananda Aep Roxas Hidayatullah, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Fitria Handayani binti Cahyadi Nugroho dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Pipit eh..” saking gugupnya Roxas malah menyebut nama Pipit bukan Fitria.


“Fitria, Xas.. Fitria, bukan Pipit. Coba kamu tenang, jangan gugup. Ambil nafas dalam-dalam,” ujar Toni yang berdiri di samping Roxas.


Roxas menuruti apa yang dikatakan Toni. Dia menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya pelan. Otaknya terus mengingat nama Fitria. Jangan sampai dia salah menyebut lagi. Cahyadi kembali menggenggam tangan Roxas setelah melihat pria itu tenang.


“Ananda Aep Roxas Hidayatullah, saya nikahkan dan kawinkan engkan dengan putri saya, Fitria Handayani binti Cahyadi Nugroho dengan mas kawin seperangkat alat shalat dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Fitria Handayani binti Cahyadi Nugroho dengan mas kawin tersebut, tunai!”


“Bagaimana saksi? Sah?”


“SAH!” jawab haji Soleh dan Adrian bersamaan.


“Alhamdulillah ya Allah. Enin, Aep tos nikah,” Roxas membalikkan tubuhnya melihat pada enin yang tengah menyusut airmatanya.


Aditya menyerahkan kotak beludru pada Roxas yang berisi cincin pernikahan. Pria itu dengan cepat memakaikan cincin pernikahan ke jari manis Pipit. Begitu juga dengan Pipit yang memakaikan cincin pernikahan ke jari Roxas. Wanita itu kemudian meraih tangan Roxas lalu mencium punggung tangannya. Jiwa Roxas serasa melayang mendapatkan perlakuan seperti itu.


“Xas.. sssttt.. cium itu tante Pit-nya,” bisik Aditya.


Bule karbitan itu tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Aditya. Dia merengkuh bahu Pipit kemudian mendaratkan ciuman di kening Pipit, membuat pipi sang empu bersemu merah.


“Alhamdulillah si bule nikah juga,” celetuk Aditya yang langsung disambut gelak tawa.


Setelah sang penghulu memberikan nasehat pernikahan dan kedua mempelai menandatangani dokumen pernikahan, pernikahan dianggap selesai. Adrian menjadi fotografer dadakan. Dia mengabadikan pasangan pengantin yang bergaya di depan plang KUA.


“Enin.. kita sekarang ke rumah, ya. Ada hidangan sederhana untuk syukuran kecil-kecilan. Pak haji Soleh sama bu Ratna juga ikut ya,” undang Ida.


“Terima kasih bu Ida.”


Iringan kendaraan mulai meninggalkan kantor urusan agama. Kali ini pasangan pengantin ikut di mobil Adrian. Dewi tak bisa menahan senyumnya melihat Roxas yang berusaha memegang tangan Pipit tapi masih ditepis oleh wanita itu.


🌸🌸🌸


Yeaaay... Roxas sama Pipit akhirnya nikah juga🥳🥳🥳

__ADS_1


__ADS_2