Naik Ranjang

Naik Ranjang
Kembalinya Masa Lalu


__ADS_3

Seorang pria memasuki lobi hotel Amarta. Dia langsung menuju meja resepsionis untuk mengambil kunci kamar. Sebelumnya pria itu sudah melakukan reservasi via online. Resespsionis yang bertugas langsung menyambut kedatangan tamu tersebut.


“Selamat siang, bapak.”


“Siang. Reservasi atas nama Bayu Aji.”


“Sebentar pak.”


Sang resepsionis memeriksa catatan tamu hotel yang melakukan reservasi. Kemudian tangannya mengambil kunci hotel, lalu memberikannya pada pria tersebut. Sambil melayangkan senyuman, pria bernama Bayu Aji itu pergi meninggalkan meja resepsionis. Dia menuju lift yang ada di samping kiri untuk menuju kamar yang dipesannya.


Setelah memasukkan koper ke dalam lemari, Bayu berjalan menuju jendela kamar dan menyibak gorden yang menutupi kaca jendela. Dia berdiri memandangi keramaian jalan raya yang bisa dilihat dari kamarnya. Sudah tujuh tahun lamanya dia meninggalkan tanah air dan baru kembali dua bulan lalu.


Sebelum memulai tugasnya sebagai dokter di salah satu rumah sakit yang ada di kota kembang ini, dia memutuskan untuk menginap di hotel yang katanya memiliki pelayanan bintang enam berbasis internasional. Bayu juga berharap bisa bertemu dengan wanita yang dulu ditinggalkannya demi meraih cita-citanya sebagai dokter spesialis.


Tangannya meraih ponsel di saku celananya, kemudian membuka folder galeri. Matanya terus memandangi deretan foto-foto kebersamaan dirinya dengan wanita yang sampai saat ini masih berada di hatinya, walau sudah ada dua orang perempuan yang pernah menjadi kekasihnya selama berada di Berlin.


🌸🌸🌸


Sambil berlari Pipit memasuki lobi hotel tempatnya bekerja. Di hari liburnya ini dia terpaksa harus datang ke kantor karena owner tiba-tiba saja meminta hasil evaluasi triwulan yang rencananya baru besok akan dilaporkan. Dia terkejut karena salah satu anak buahnya mengatakan kalau ada data yang hilang.


“Bagaimana? Data apa yang hilang?” tanya Pipit begitu sampai ke ruangan.


“Ini, bu. Data pembayaran supplier terbaru kita hilang. Saya udah cari-cari tapi ngga ada.”


“Kamu yakin sudah menyimpannya?”


“Sudah, bu.”


Staf pria itu menggaruk kepalanya, data yang tersimpan rapih dalam komputer bisa raib begitu saja. Dia bahkan sudah mengecek ke control room melihat rekaman cctv yang terpasang di depan ruangan tim auditor. Namun dia tak mendapati apa-apa.


Pipit menyugar rambutnya, seumur-umur baru kali ini dia kehilangan data penting. Apalagi data tersebut hilang tepat sebelum laporan triwulan diberikan. Wanita itu segera menghubungi tim IT, meminta mengembalikan data yang hilang. Mungkin salah satu anak buahnya melakukan kekhilafan dalam bekerja. Tanpa sengaja menghilangkan data penting tersebut.


Setelah tiga jam menunggu, akhirnya mereka bisa mendapatkan data yang sudah terhapus tersebut. Pipit hanya meminta anak buahnya lebih berhati-hati lagi dalam bekerja. Kalau data tadi tak bisa didapatkan kembali, bukan tidak mungkin tim auditor mendapatkan teguran keras. Sebelum Susilo, personil tim IT yang dihubungi keluar ruangan, wanita itu mengajaknya bicara lebih dulu.


“Bisa bapak telusuri lagi, apa ada data lain yang sengaja dihapus atau dihilangkan?”


“Bisa saja, bu. Tapi mungkin butuh waktu. Apa ibu curiga ada data yang hilang selain yang tadi?”


“Saya ngga yakin juga. Tapi ngga ada salahnya dicek dulu. Tolong sekalian diprotek aja. Tidak ada yang bisa mengakses data selain saya dan tim.”


“Baik, bu.”


“Terima kasih, pak. Maaf ya sudah mengganggu di waktu libur.”


“Tidak apa.”


Susilo menganggukkan kepalanya, kemudian keluar dari ruangan Pipit. Untuk sejenak Pipit masih bertahan di tempatnya. Kejadian ini membuatnya curiga, adakah yang melakukan kecurangan dan sengaja menghapus data tersebut. Wanita itu menggelengkan kepalanya, dia mencoba menepis kecurigaannya. Mungkin saja kejadian ini akibat kelalaian anak buahnya.


Setelah tak ada lagi yang harus dikerjakan oleh Pipit, wanita itu memutuskan untuk pulang. Dia sengaja mengambil jalan menuju lobi, sambil melihat keadaan hotel. Beberapa staf yang berada di lobi menganggukkan kepala padanya. Dari arah lift, muncul Roxas yang baru saja selesai melakukan pemotretan.


“Tan..” panggil Roxas. Sambil berlari pria itu menghampiri Pipit.


“Tumben hari Minggu ke kantor.”


“Iya. Ada masalah dikit. Kamu habis ngapain?”


“Pemotretan. Pak Mahes mau buat company profile baru. Aku sama si Aman abis pemotretan.”


“Hahaha… kemarin aja protes aku panggil Aman. Sekarang malah ikut-ikutan.”


“Sebel aku.”


“Kenapa? Ditolak lagi?”


“Bukan. Masa dia ngga mau dorong si hejo.”


“Hahaha… mana ada perempuan yang mau disuruh dorong si hejo. Makanya kubilang juga ganti, musiumin itu si hejo. Tapi bukannya abis beres diopname, kenapa mogok lagi?”


Roxas hanya tersenyum saja menjawab pertanyaan Pipit. Kondisi si hejo sudah sehat walafiat, tidak kekurangan apapun. Apa yang terjadi kemarin akal-akalannya saja untuk melihat apakah Amanda bisa diajak susah mendorong si hejo. Tapi nyatanya perempuan itu langsung meninggalkannya.


“Mau pulang, tan? Aku antar ya.”


“Tar mogok lagi tuh si hejo.”


“Ngga.. aku jamin.”


Baru saja Pipit dan Roxas hendak meninggalkan lobi, tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita ketika melihat seorang tamu keluar dari lift dengan kepala bersimbah darah. Para staf yang berada di lobi langsung mendatangi tamu tersebut dan membawanya duduk di salah satu sofa. Bayu yang kebetulan baru keluar dari restoran segera menghampiri. Dia memeriksa sebentar keadaan tamu tersebut.


“Tekan lukanya, saya akan akan mengambil peralatan di mobil. Hubungi juga ambulans.”


Salah seorang staf langsung melakukan apa yang dikatakan Bayu. Dia langsung menaruh lap putih di kepala tamu yang terluka. Staf yang lain segera menghubungi ambulans. Pipit yang mendekat terkejut melihat keadaan tamu tersebut.


“Bagaimana keadaannya?”


“Kepalanya terluka, bu.”


“Sudah telepon ambulans?”

__ADS_1


“Sudah, bu.”


“Siapa yang melakukannya?”


Pipit melihat tamu yang merupakan seorang wanita. Namun dia hanya menundukkan kepalanya saja, tak menjawab pertanyaan Pipit. Melihat dari penampilannya yang mengenakan pakaian seksi, Pipit langsung mengira kalau tamu tersebut adalah wanita panggilan.


Tak lama Bayu datang dengan tas medis di tangannya. Dia segera mendekati tamu yang terluka. Pria itu membersihkan luka dengan cairan NaCl, lalu menghentikan pendarahan yang terjadi. Dia juga menyiapkan jarum dan benang untuk menjahit luka di kepala wanita di depannya.


“Untuk sementara lukanya sudah diobati, tapi kamu harus tetap ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Takut ada penggumpalan darah di kepala.”


“Iya, dok. Terima kasih,” jawab wanita itu.


“Apa mau lapor ke polisi?” tanya Bayu.


“Ngga usah, dok.”


Salah satu staf mengabarkan kalau ambulans sudah sampai. Dibantu oleh staf lain, wanita tersebut berdiri kemudian berjalan menuju lobi. Mobil ambulans sudah menunggu di depan lobi. Kerumunan langsung bubar setelah korban kekerasan tersebut dibawa oleh ambulans. Pipit dan Roxas pun bermaksud pergi. Namun langkah Pipit tertahan ketika seseorang memanggilnya.


“Pipit…”


Kepala Pipit menoleh ke arah datangnya suara. Dia terkejut melihat seorang lelaki yang sudah tujuh tahun tak ditemui kini berdiri di hadapannya. Bayu melemparkan senyumannya pada wanita yang pernah menjadi bagian hidupnya tujuh tahun lalu.


“Mas Bayu..”


“Apa kabar?”


Tak ada jawaban dari Pipit, hanya matanya saja yang terus memandangi pria di hadapannya. Fisik Bayu sedikit berubah, tubuhnya lebih berisi dan tegap. Wajahnya juga semakin terlihat tampan saja. Namun bukan wajah tampan Bayu yang membuat Pipit terpaku. Wanita itu tak menyangka bisa bertemu kembali dengan pria yang sudah menggoreskan luka begitu dalam padanya.


“Tan..” panggil Roxas dengan suara berbisik, membuyarkan lamunan Pipit.


“Apa kabarmu?” tanya Bayu kembali.


“Baik. Mas Bayu kapan kembali?” Pipit berusaha menetralkan perasaannya.


“Sudah dua bulan lalu. Aku mengambil pekerjaan di sini. Sudah waktunya aku pulang kampung, kan?”


“Semoga sukses. Aku pulang dulu, ya.”


“Apa kita bisa bertemu lagi?”


“We’ll see.”


Pipit menarik tangan Roxas kemudian segera meninggalkan Bayu yang masih berada di tempatnya. Senyum Bayu mengembang melihat wanita yang sangat ingin ditemuinya. Dia mendapat kabar kalau Pipit memang bekerja di hotel ini. Namun dirinya tak menyangka bisa bertemu wanita itu secepat ini.


“Itu siapa tan?”


“Orang ngga penting.”


🌸🌸🌸


Dengan penuh sukacita Ida menyambut kedatangan Aditya dan Dewi. Wanita itu langsung memeluk anak bungsunya. Sambil merangkul pinggang Aditya, dia mengantar Aditya masuk ke dalam kamar. Dewi hanya mengikuti dari belakang. Hatinya sedikit kecewa karena Ida sama sekali tak melihat dirinya.


Kepalanya terangkat ketika sebuah tangan merangkul bahunya. Nampak Pipit sudah berdiri di sampingnya dan tersenyum ke arahnya. Kekecewaannya terobati melihat sikap hangat Pipit padanya.


“Gimana malam pertamanya? Si dudul bisa jebol gawang ngga?” bisik Pipit.


“Tante…”


Pipit tertawa kecil melihat wajah perempuan yang sekarang sudah menjadi keponakannya memerah. Dilihat dari ekspresi gadis itu, sudah bisa ditebak kalau Aditya sudah berhasil mencetak gol. Keduanya masuk ke dalam kamar dan melihat Ida sedang bercengkerama dengan Aditya.


“Mba.. ini menantumu kenapa ditinggal?” tanya Pipit ketika masuk ke dalam kamar.


“Mba lupa kalau Adit sudah nikah,” jawab Ida asal. Pipit hanya memutar bola matanya. Sang kakak sepertinya masih belum bisa menerima Dewi sepenuhnya.


“Ya ampun, ma. Masa lupa sih. Sini sayang… maafin mamaku, ya.”


Aditya mencium pipi Dewi, istrinya itu hanya tersenyum tipis saja. Ida segera bangun dari duduknya lalu mengajak Pipit keluar. Sebelum meninggalkan kamar, wanita itu menoleh pada anaknya.


“Kalian beres-beres dulu terus makan malam bersama.”


“Iya, ma.”


Dewi membuka koper, kemudian mulai memasukkan pakaian ke dalam lemari. Aditya mendekat lalu memeluk istrinya itu dari belakang. walau mencoba menampik, tapi dia tahu kalau sikap mamanya memang sedikit dingin pada Dewi.


“Maafin mama ya, De. Mungkin mama masih belum bisa terima kalau anak bungsunya menikah secepat ini. Mama mungkin takut tersaingi olehmu.”


“Iya, aku ngga apa-apa.”


“Kalau kamu ngga nyaman, kita ngga usah lama-lama tinggal di sini.”


“Jangan, nanti mama malah tambah ngga suka sama aku.”


“Ya udah. Tapi kalau kamu rasa sikap mama udah keterlaluan, kamu bilang ya sama aku.”


Tangan Dewi melepaskan pelukan Aditya di pinggangnya. Wanita itu berbalik kemudian menatap pria di depannya. Kedua tangannya menangkup wajah Aditya, sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


“Aku ngga apa-apa. Kamu ngga usah khawatir. Kalau mama ngga menyukaiku sekarang. Aku akan membuatnya menyukai dan menerimaku. Kamu percaya kan sama aku?”

__ADS_1


“Iya, aku percaya sama kamu. Siapa yang bisa menolak pesona Dewi Mantili?”


“Hihihi.. lebay.”


Aditya menaruh tangannya di pinggang Dewi kemudian sedikit mengangkat tubuh mungil istrinya. Dewi menjerit tertahan saat Aditya tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Tangannya refleks berpegangan pada leher suaminya itu seraya menundukkan kepala. Aditya mencium bibir Dewi yang seperti mempunyai magnet yang terus menariknya memberikan ciuman.


🌸🌸🌸


Dada Dewi berdegup kencang menjelang makan malam bersama dengan keluarga suaminya untuk pertama kali. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan, hanya tinggal menunggu pasangan pengantin baru. Aditya menarik kursi untuk istrinya itu.


Ida memandangi Aditya yang tengah mengambilkan makanan untuk Dewi. Raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Baik Pipit maupun Adrian bisa menangkap ekspresi wanita itu. Dewi yang juga menyadarinya hanya mampu menundukkan kepala.


“Harusnya istri yang mengambilkan makanan untuk suaminya, bukan sebaliknya,” ujar Ida.


“Sesekali ngga apa-apa, ma. Ini kan acara makan malam pertama Dewi sama kita. Dia pasti grogi, apalagi mama lihatnya kaya mau makan dia aja,” Aditya mengedipkan matanya pada Ida.


“Dasar anak nakal.”


“Iya, aku emang nakal. Masih untung Dewi mau terima aku yang nakal ini.”


Ida mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun tak ayal wanita itu menyunggingkan senyuman. Dia memang tidak pernah bisa marah pada Aditya. Anak bungsunya itu selalu saja bisa membujuknya.


Makan malam akhirnya bisa berlangsung dengan tenang. Sebisa mungkin Dewi menelan makanannya walau terasa sulit. Dia sadar betul tatapan tajam yang dilayangkan Ida setiap melihat dirinya.


Selesai makan malam Aditya langsung membawa Dewi ke kamar. Dia tak mau Dewi menjadi lebih terintimidasi dengan sikap sang mama. Adrian memilih tetap di meja makan, menemani mamanya yang tengah membereskan peralatan makan.


“Ma.. apa mama perlu bersikap seperti itu pada Dewi?” Adrian melihat pada Ida.


“Seperti apa?”


“Semua orang juga tahu bagaimana mama melihat dan bersikap pada Dewi. Apa sulitnya bersikap baik padanya?”


“Iya, mama memang nda suka. Mama masih belum ikhlas Adit menikah secepat ini.”


“Suka ngga suka, mereka sudah menikah. Mau tidak mau, mama harus menerima kehadiran Dewi sebagai menantu mama. Semakin mama membenci Dewi, maka bukan hanya Dewi yang terluka, tapi juga Adit. Aku harap mama bisa bersikap bijak.”


Adrian bangun dari duduknya kemudian meninggalkan Ida seorang diri di sana. Ida menjatuhkan bokongnya di kursi makan. Wanita itu bukan tidak berusaha untuk menerima Dewi. Hanya saja dia masih kesal, karena Dewi, Aditya harus memikul tanggung jawab lebih sebagai seorang suami di usianya yang masih muda.


Saat Adrian membuka pintu kamar, dia terkejut melihat Pipit sudah ada di dalam. Wanita itu duduk bersandar ke headboard ranjang. Adrian mendekat kemudian mendudukkan diri di sisi ranjang, dekat dengan sang tante.


“Ad.. kamu baik-baik aja?”


“Apa maksud tante?”


“Dewi.. aku tahu kalau kamu mencintainya. Apa kamu baik-baik aja? Mereka akan tinggal di sini selama seminggu.”


“Aku baik-baik aja. Walau sulit, aku berusaha untuk menerima kenyataan. Aku akan berusaha menyayangi Dewi seperti adikku sendiri.”


“Kalau kamu butuh teman untuk bercerita, jangan segan cerita ke tante.”


Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Adrian. Pipit beringsut mendekati Adrian kemudian memeluk lengan pria itu. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. Pertemuannya dengan Bayu tadi, masih mengganggu pikirannya.


“Tante kenapa?”


“Aku tadi ketemu mas Bayu.”


“Om Bayu? Ketemu di mana?”


“Di hotel. Ternyata dia lagi nginep di sana. Dia sudah kembali dari Berlin.”


Terdengar helaan nafas berat Pipit. Walau sudah tujuh tahun berlalu, namun wanita itu belum benar-benar bisa melupakan pria itu. Dirinya dan Bayu sudah berpacaran selama tiga tahun. Orang tua Bayu memang tinggal di Magelang, dan keduanya sudah saling mengenal sejak kecil.


Begitu Pipit lulus SMA, Bayu menyatakan perasaannya. Mereka resmi berpacaran selama tiga tahun. Namun di tahun keempat, Bayu memutuskan pergi ke Berlin untuk mengambil program residensi. Dia memutuskan hubungan begitu saja dengan Pipit. Pipit yang masih berusia 21 tahun waktu itu tentu saja sangat terluka. Setelah menyelesaikan kuliahnya, dia pindah ke Bandung dan tinggal bersama sang kakak.


Pipit meneruskan kuliah S2-nya di Bandung dan mendapatkan pekerjaan pertamanya di kota ini. Tapi dia kemudian memilih hijrah ke Jepang setelah mendapatkan tawaran pekerjaan di sana. Apalagi Wardani pernah menjodohkannya dengan lelaki yang tidak dicintainya. Membuat wanita itu memutuskan untuk pergi jauh dari keluarga. Dan sampai saat ini, Pipit masib belum bisa membuka hatinya pada siapa pun.


“Om Bayu bilang apa?”


“Ngga bilang apa-apa. Cuma nanya kabar. Tapi sepertinya dia belum nikah.”


“Tante mau balikan lagi sama dia?”


“Ngga tau, Ad. Tante masih sakit hati sama dia. Mutusin hubungan gitu aja, pergi tanpa pesan, ngga pernah kasih kabar dan sekarang dia dateng lagi. Emang dia pikir tante itu pelabuhan apa? Seenaknya aja dia bersandar dan berlayar.”


“Kalau tante udah ngga mau ada hubungan sama dia lagi, tante lebih baik menghindar.”


“Iya. Aku juga maunya begitu.”


“Lagian tante kan udah punya calon.”


“Siapa?” Pipit mengangkat kepalanya kemudian melihat pada Adrian.


“Roxas.. hahaha…”


“Asem..”


Pipit mengusap wajah Adrian dengan tangannya, kemudian menindih keponakannya itu. Namun Adrian tetap tergelak walau sang tante menyiksanya.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Widiiihhhh saingan Roxas dateng nih. Siap² Xas.. Ternyata tante Pit punya mantan..


__ADS_2