Naik Ranjang

Naik Ranjang
Nyaman


__ADS_3

Wah aku terhura, belum jam 12 komen udah tembus 300. Terima kasih semua, komen kalian luar biasa👍


Disarankan saat membaca episode kali ini ditemani teh tawar atau kopi tanpa gula. Takutnya kalian kena diabet🤣


🌸🌸🌸


“Eung.. saya mau mampir ke suatu tempat , pak. Boleh ngga?”


“Kemana? Katanya kamu ngga boleh pulang malam sama ibumu?”


“Tadi sebelum berangkat udah ijin sama ibu.”


“Kamu emang mau kemana? Udah malem ini,” Adrian melihat jam di pergelangan tangannya.


“Ke jalan Asia Afrika.”


“Ngapain ke sana? Kamu mau ikutan jadi kuntilanak di sana?”


“Ish bapak, mah. Aku mau ke pasar malamnya, pak. Kan lagi ada pasar malam di sana.”


“Emang jam segini masih buka?”


“Masih. Tutupnya jam 12-an.”


“Benar sudah ijin ke ibu?”


“Udah, pak.”


Tak ada tanggapan lagi dari Adrian. Pria itu terus melajukan kendaraannya menuju tempat yang diinginkan Dewi. Sekilas dia melihat senyum tipis di wajah muridnya itu. Sebelum pergi ke pesta perpisahan, Dewi memang meminta ijin ingin pergi ke pasar malam sepulangnya. Tiba-tiba saja dia merindukan Herman. Dulu mendiang ayahnya sering mengajaknya berkunjung ke pasar malam.


Adrian memarkirkan kendaraannya di dekat pasar malam. Walau pun waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, namun suasana di sekitar jalan Asia Afrika masih saja ramai. Selain karena ada pasar malam, street food yang digelar di sekitar gedung merdeka masih saja ramai didatangi pengunjung.


Seturunnya dari mobil, Adrian dan Dewi langsung menuju area di mana pasar malam berada. Situasi di sana pun masih cukup ramai. Banyak pasangan muda-mudi yang memilih menghabiskan malam minggu di tempat yang ramah kantong.


“Kamu ke sini mau ngapain?”


“Ya mau naik wahana, pak. Kalo ke dufan jauh, ke Trans Studio mahal. Kalo di sini kan murah meriah.”


“Kirain mau ketemu penjaga komidi puter.”


“Ish…”


Adrian hanya mengulum senyum saja. Dia kemudian melangkah menuju loket yang menjual tiket permainan. Untuk sejenak Dewi berpikir hendak menaiki apa. Kemudian pilihannya jatuh pada bianglala. Dulu Herman suka mengajaknya naik permainan tersebut.


Setelah membeli tiket, keduanya segera menuju bianglala. Sang penjaga membukakan pintu salah satu gondola yang baru saja turun. Adrian mempersilahkan Dewi naik lebih dulu, baru kemudian dia menyusul naik. Keduanya duduk berhadapan.


Mata Dewi terus memandangi pemandangan di sekitarnya ketika gondola mulai bergerak. Sebenarnya dia takut ketinggian. Setiap menaiki bianglala, dia selalu memeluk ayahnya erat. Tapi demi mengenang momen indah itu, Dewi memberanikan diri. Adrian memperhatikan wajah Dewi yang mulai memucat ketika gondola terus bergerak naik.


Saat gondola tepat berada di atas, refleks Dewi memegang tangan Adrian, membuat pria itu terkejut. Gadis itu menangkup tangan Adrian dengan erat. Wajahnya terlihat menegang.


“Ngapain pegang-pegang?” goda Adrian untuk menghilangkan ketegangan Dewi.


“Takut, pak.”


“Kamu takut ketinggian?” Dewi hanya menganggukkan kepalanya saja.


“Udah tau takut, kenapa masih pengen naik?”


“Aku lagi kangen sama bapak. Dulu bapak suka ajak aku ke pasar malam. Kalau naik ini bapak suka meluk aku sambil ajak ngobrol biar aku ngga tegang.”


“Kamu pegang tangan saya, ngga gratis ya,” Adrian kembali menggoda Dewi.


“Iya, nanti saya bayar. Apa yang bapak minta, saya akan usaha penuhin. Asal jangan aneh-aneh aja permintaannya. Pokoknya jangan lepasin tangan banpak, saya…”


Adrian segera berpindah duduk ke samping Dewi kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya, membuat Dewi tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena terkejut.


“Jangan takut.. jangan lihat ke bawah,” Adrian mengusap lembut kepala Dewi yang terbalut kerudung segi empat.


Jantung Dewi seperti berhenti berdetak ketika berada dalam pelukan wali kelasnya. Namun begitu dia merasa begitu nyaman dan terlindungi. Perlahan tangannya bergerak melingkari pinggang Adrian.


“Apa yang membuatmu takut ketinggian?”


“Waktu kecil aku pernah lihat orang jatuh dari jembatan penyebrangan dan tertabrak mobil yang lewat. Dari situ aku takut sama ketinggian,” tanpa sadar Dewi merubah panggilannya dari saya menjadi aku.


“Selama kamu belum bisa mengatasi ketakutanmu, jangan ke tempat yang tinggi sendirian. Jangan naik wahana permainan yang hanya membuatmu takut. Mengerti?” Dewi hanya menganggukkan kepalanya saja.


“Ada aku di sini, jangan takut. Sebentar lagi kita sampai di bawah.”


Adrian mendekap Dewi lebih erat. Membenamkan wajah gadis itu ke dadanya, agar tak melihat ke bawah lagi. Jantung kedua insan itu saling bertalu dan bersahutan.


Pelukan Adrian terurai ketika gondola yang mereka naiki sampai juga di bawah. Keduanya segera keluar dari permainan tersebut.


Melihat kondisi Dewi, Adrian memutuskan untuk membawanya keluar dari area pasar malam. Digenggamnya terus tangan Dewi yang terasa dingin seperti es. Kemudian dia membawa masuk Dewi ke kedai kopi 24 jam yang ada di sana. Pria itu memesan dua cangkir coklat hangat.


Pelan-pelan Dewi mengangkat cangkir dengan kedua tangannya. Perlahan rasa hangat dari wadah keramik itu menjalari telapak tangannya yang dingin. Diseruputnya pelan minuman coklat tersebut. Adrian yang duduk di depannya, terus menatapnya tanpa berkedip.


“Sudah jam setengah dua belas malam. Kita pulang, ya.”


Tak ada jawaban dari Dewi. Di hati kecilnya, gadis itu tak ingin cepat-cepat berpisah dengan sang guru. Dia sadar intensitasnya untuk bertemu dengan Adrian sekarang semakin jarang. Mungkin ke depannya, mereka hanya akan bertemu di Dojang Hero saja.


“Besok kita bisa jalan-jalan lagi. Sekarang kita pulang,” bujuk Adrian dan akhirnya Dewi menganggukkan kepalanya.


Setelah menghabiskan secangkir coklat hangat, Adrian dan Dewi segera kembali ke tempat parkir. Baru saja Dewi menautkan sabuk pengaman, namun segera dibuka kembali oleh Adrian. Tangannya meraih jaket miliknya yang ada di jok belakang kemudian memakaikan ke tubuh Dewi.


“Pakai ini. Biar hangat.”


Adrian membenarkan jaket yang sudah menempel di tubuh Dewi, kemudian menarik tali seat belt dan memasangkannya. Hati Dewi menghangat mendapat perlakuan begitu lembut dari pria yang kerap membuatnya naik darah. Tapi sikapnya malam ini berubah setengah lingkaran.


Dewi melirik pada Adrian yang tengah menyetir dengan sebelah tangannya. Tangan sebelahnya lagi berada di paha. Saat Adrian menggenggam tangannya, Dewi tak menampik kalau menyukainya. Tangan mungilnya terbenam sempurna di telapak tangan Adrian yang ukurannya lebih besar. Dia terjengit ketika tiba-tiba Adrian meraih tangannya.


“Tanganmu masih dingin. Apa AC-nya dimatikan saja?”

__ADS_1


“Eh.. ng.. ngga usah, pak.”


Tangan Adrian bergerak memasukkan tangan Dewi yang ada dalam genggamannya ke dalam saku jaket yang dikenakan gadis itu.


“Biar hangat.”


Adrian melepaskan genggamannya dan meletakkan kembali tangannya ke kemudi. Dewi menundukkan kepalanya, jangan sampai wajah meronanya terlihat oleh Adrian. Untung saja keadaan di dalam mobil cukup gelap, jadi pipi merahnya tidak akan terlihat.


Mobil yang dikendarai Adrian berhenti tepat di depan gerbang kontrakan haji Soleh.dewi melepaskan seat belt-nya dan Adrian membukakan kunci pintu.


“Nanti langsung tidur.”


“Iya, pak. Makasih untuk semuanya. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Dewi membuka pintu mobil kemudian turun. Setelah memastikan Dewi telah melewati gerbang, barulah Adrian memutar balik mobilnya. Dewi membalikkan tubuhnya dan menatap mobil Adrian yang bergerak menjauh.


🌸🌸🌸


Baru saja Dewi tiba di depan rumahnya, ketika dia mendengar suara motor di belakangnya. Rupanya Aditya baru saja pulang bekerja. Pria itu berhenti sebentar di dekat Dewi.


“Baru pulang, De?”


“Iya.”


“Kok malem banget. Ngga bareng Roxas?” Aditya melirik ke si hejo yang sudah terparkir di depan kontrakannya.


“Eung.. tadi pergi ke pasar malam dulu.”


“Pasar malam yang di Asia Afrika? Kenapa ngga telpon aku?”


“Iya. Takutnya kamu masih sibuk.”


“Itu jaket siapa?”


“Teman.”


“Kamu ngga sendirian kan ke pasar malamnya?”


“Ngga kok.”


“Ya udah, masuk sana. Langsung tidur, kamu pasti capek.”


“Iya. Kamu juga langsung tidur.”


“Iya. Sleep tight honey.”


Dewi tersenyum tipis mendengar kata-kata mesra dari Aditya. Gadis itu segera masuk ke dalam rumah. Begitu pula dengan Aditya. Setelah memarkirkan motornya, pemuda itu langsung masuk ke dalam rumah. Nampak Roxas sudah tertidur di ruang depan. Aditya bergerak perlahan karena tak ingin mengusik kepulasan sang sahabat.


🌸🌸🌸


Dewi menyarankan konser tidak berlangsung lama. Selain dirinya yang masih kelelahan, dia juga tahu kalau Aditya sama lelahnya. Lewat tengah malam, pemuda itu baru pulang ke rumah. Apalagi kondisi hotel saat weekend occupancy-nya pastilah tinggi yang artinya beban pekerjaan pun bertambah.


Kebetulan hari ini, Nenden tidak perlu lama berjualan, karena bu Ratna, istri haji Soleh memborong nasi kuning dan uduk untuk diberikan pada pekerja yang tengah merenovasi rumahnya. Jurangan angkot dan kontrakan itu hendak membuka beberapa kios di dekat mini marketnya. Kios itu nantinya akan disewakan.


Selesai membantu sang ibu membereskan barang-barang setelah berdagang, Dewi menuju kontrakan Adit. Nenden baru saja membuat sayur sop dan meminta Dewi mengirimkannya. Gadis itu langsung masuk karena pintunya terbuka. Nampak Aditya tengah duduk menyandar ke tembok di ruang depan sambil memainkan ponselnya.


“Dit.. ini ada sop dari ibu.”


“Wah makasih.”


“Hari ini kerja apa libur?”


“Kerja. Kenapa?”


“Ngga apa-apa sih. Shift siang lagi?”


“Iya.”


Dewi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Aditya menaruh ponselnya dan memilih berbincang dengan Dewi. Sudah beberapa hari ini dia disibukkan dengan pekerjaan dan jarang memiliki kesempatan berduaan saja dengan sang pujaan hati.


“De.. kamu bagi raport kapan?”


“Kamis. Kenapa?”


“Kebetulan, kamis aku libur. Kita jalan yuk, abis bagi raport. Nanti aku jemput di sekolah.”


“Boleh. Sekalian aku mau belanja camilan, kan Jum’atnya mau perpisahan kelas.”


“Di mana nginepnya?”


“Di vila Hardi. Daerah Maribaya.”


“Kalau aku ngga kerja, pengen deh ikut. Kapan-kapan kita liburan ke Lembang. Ajak Roxas, Rivan sama Rangga.”


“Wah boleh tuh, sambil refreshing.”


“Iya. Bosen juga tiap hari ketemunya piring sama panci mulu, hahaha…”


“Sabar, namanya juga lagi ngerintis. Kalau The Soul udah terkenal, dan kamu jadi artis, pasti kangen sama suasana di kerjaan sekarang.”


“Heem.. apalagi teman-teman di kitchen pada gokil semua.”


“Cerita dong, gimana sih kerjaan di sana.”


Aditya mulai menceritakan pengalamannya bekerja di hotel, khususnya di bagian kitchen. Dewi tertawa mendengar nama-nama panggilan personil di dapur. Apalagi ketika dia mendengar kata Poco, kependekan dari pondok cokor.


“Kalau kamu dapat panggilan khusus ngga?”


“Dapet juga hahaha..”

__ADS_1


“Apa?”


“Kempot.”


“Kaya almarhum Didi Kempot dong.”


“Iya, hahaha.. apalagi Akay, kadang manggil aku Apot.”


“Apaan Apot?”


“Adit Kempot hahaha..”


“Hahaha… maksa banget.”


Dewi ikut tertawa mendengar singkatan nama Aditya. Sepertinya teman kerja Aditya satu frekuensi dengan teman-teman sekelasnya. Pantas saja Aditya betah, karena Rangga dan Rivan pun sama somplaknya seperti dirinya dan Roxas. Menurut gadis itu, band Aditya harusnya diganti saja jadi The Somplax.


Dewi berpamitan kembali ke rumahnya, begitu melihat Aditya beberapa kali menguap. Pemuda itu butuh istirahat sebelum bekerja siang nanti. Dia juga ingin membaringkan tubuhnya di kasur, karena masih cukup mengantuk.


🌸🌸🌸


Hampir satu jam lamanya Dewi berbaring, namun dia masih belum bisa menutup matanya. Entah apa yang menghalangi matanya untuk terpejam. Bertemu dan berbincang dengan Aditya, nyatanya masih membuat ada sesuatu yang kurang di hatinya. Iseng, tangannya menscroll layar ponselnya. Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Hardi tengah menayakan kesediaan Adrian untuk ikut dalam acara perpisahan kelas.


Dada Dewi berdebar menanti jawaban apa yang akan diberikan oleh wali kelasnya itu. Dalam hati sungguh berharap Adrian bersedia untuk ikut. Namun dia juga tidak yakin, karena menurut Roxas, Adrian itu sibuk. Bahkan pria itu memiliki kantor sendiri. Lamunan Dewi buyar ketika mendengar notifikasi pesan masuk. Hatinya bersorak ketika melihat jawaban Adrian yang bersedia untuk ikut.


Kira-kira pak Adrian inget ngga ya, kalau semalem dia janji mau ajak gue jalan-jalan lagi. Ish apaan sih, Wi. Kenapa lo kepikiran pak Rian terus sih. Inget Wi, udah ada Adit. Lo kan udah setuju mau jadi calon makmumnya dia. Aaaarrrggghhh au ahhh… pak Rian please jangan mampir ke otak gue lagi.


Dewi meraih bantal lalu menutup wajahnya dengan itu. Berharap hal itu bisa mengusir bayang-bayang Adrian dari pikirannya. Wajah Adrian saat menatap dirinya ketika sedang bernyanyi, suara pria itu ketika menenangkannya di atas gondola, pelukan hangatnya serta janjinya akan membawanya jalan-jalan terus berputar di kepalanya.


Gadis itu melemparkan bantal ke samping kemudian mengambil ponselnya. Dari pada tidak bisa tidur, dia memutuskan untuk mencari hadiah untuk sang wali kelas. Di kolom pencarian google, dia mencari rekomendasi hadiah yang cocok untuk pria. Ada beberapa rekomendasi yang ditemukannya. Akhirnya pilihan Dewi jatuh pada sapu tangan. Dia ingin memberikan sapu tangan untuk wali kelasnya itu. Anggap saja sebagai ganti sapu tangan Adrian yang pernah dibuangnya.


Dewi bangun dari tidurnya ketika mendengar sang ibu baru saja kembali ke rumah. Nenden baru kembali dari rumah haji Soleh, membantu Ratna menyiapkan makan siang untuk para pekerja. Gadis itu menghampiri ibunya yang tengah menyiapkan bahan lotek. Satu jam lagi, dia akan membuka lapaknya.


“Bu.. nanti Dewi mau keluar dulu, ya.”


“Mau kemana neng?”


“Mau cari hadiah buat wali kelas.”


“Pak Adrian?”


“Iya, kan wali kelas Dewi belum berubah.”


“Kamu suka ya sama pak Rian,” goda Nenden.


“Ish ibu sok you know. Ngga lah, orang nyebelin kaya gitu.”


“Jangan gitu, neng. Jangan terlalu membenci seseorang, nanti ujung-ujungnya jatuh cinta gimana?”


“Ibu iihh.. apaan sih.”


“Ibu ngga masalah kamu mau siapa, asal orangnya baik dan menyayangi kamu dengan tulus. Aditya juga baik, ibu lihat dia serius. Pak Adrian juga baik. Siapa pun yang kamu pilih, jangan sampai kamu menyakiti perasaan salah satunya.”


“Ih ibu kok gitu ngomongnya, kaya aku ada apa-apa sama pak Rian. Ngga bu, hubungan kita cuma murid sama guru aja, ngga lebih.”


“Kalau sama Adit?”


“Euung.. au ah ibu kepo.”


Dewi segera berlari masuk ke dalam kamarnya. Dia tak tahan lagi menghadapi cecaran ibunya. Nenden hanya tertawa saja melihat tingkah sang anak. Wanita itu kembali melanjutkan pekerjaannya, memotong sayuran dan merebusnya.


🌸🌸🌸


“Makasih ya, Dit,” ujar Dewi seraya memberikan helm berwarna pink pada pemuda itu. Dewi memutuskan pergi bersama Aditya. Dia minta diturunkan di mall untuk mencari hadiah untuk Adrian.


“Hati-hati, ya. Nanti pulangnya minta jemput Roxas aja. Siapa tau dia udah beres narik.”


“Iya. Hati-hati, jangan ngebut.”


“Iya, sayang. Aku pergi dulu, ya. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Dewi melambaikan tangannya pada Aditya ketika pria itu menjalankan kendaraan roda duanya. Setelah sosok Aditya tak terlihat lagi, Dewi segera masuk ke dalam mall. Semilir udara dingin yang berasal dari air conditioner langsung terasa. Tubuh Dewi terasa sejuk setelah tadi terkena terik matahari saat dalam perjalanan.


Gadis itu segera menuju lantai tiga, di mana departemen store berada. Setelah berkeliling sebentar, akhirnya dia menemukan etalase yang memajang deretan sapu tangan. Dia disambut oleh pramuniaga yang berjaga. Untuk beberapa saat Dewi melihat-lihat deretan sapu tangan yang terpajang.


Pramuniaga tersebut mengeluarkan beberapa sapu tangan dari bermacam merk dan bahan yang berbeda. Dewi memegang sapu tangan tersebut untuk membedakan kehalusan bahannya. Memang harga tidak berbohong, sapu tangan dengan kualitas baik, memiliki harga yang tinggi.


Yang ini bagus, bahannya juga halus, tapi harganya mahal. Yang ini lebih murah. Tapi masa sih gue kasih pak Adrian sapu tangan murahan. Mau taro di mana muka gue. Sapu tangan yang gue buang itu kan kualitasnya bagus.


Dewi terus bermonolog dalam hati, memilih dan menimbang merk apa yang akan dibelinya. Akhirnya pilihannya jatuh pada sapu tangan yang harganya lumayan mahal. Terdapat dua pilihan, isi tiga dan enam. Karena pertimbangan budget, akhirnya Dewi memilih isi tiga saja.


“Mba.. kalau sekalian dibungkus kado bisa ngga?”


“Bisa, tapi ngga di sini. Di dekat kasir ada stand jasa pembungkus kado.”


“Ok. Makasih mba..”


Pramuniaga itu menyerahkan kotak sapu tangan beserta nota pembelian. Sebelum menuju kasir, Dewi lebih dulu membeli kertas kado dan kartu ucapan. Setelah membayar ketiga barang itu, dia segera menuju tempat jasa pembungkusan kado. Dewi menuliskan dulu ucapan terima kasihnya pada kartu ucapan baru memberikannya pada pramuniaga yang bertugas.


“Makasih, ya mba,” ucap Dewi seraya menerima kotak berisi sapu tangan yang sudah terbungkus rapih. Setelah memasukkannya ke dalam tas, gadis itu keluar dari departemen store.


Untuk sesaat dia bingung hendak kemana, karena tujuannya ke mall hanya mencari kado untuk Adrian saja. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk pulang. Dewi melangkahkan kakinya menuju eskalator. Ketika kakinya sampai di lantai dua. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang begitu dikenalnya tengah berbincang dengan seorang wanita cantik, tak jauh darinya.


🌸🌸🌸


**Dewi lihat siapa ya?


Part ini hanya awal mula dari hubungan cinta segitiga mereka. Akan banyak keuwuan dan kegalauan setelahnya. Silahkan berdilema dan berpusing ria🏃🏃🏃


Mamake sengaja up sampai 2500 kata, biar kalian kenyang. Anggap aja bekal buat malmingan. Happy saturday night😎**

__ADS_1


__ADS_2