
Baru sepuluh menit berbaring, Dewi kembali menegakkan tubuhnya. Martabak telor kang Ewok terus saja berseliweran di depan matanya. Wanita itu jadi kesal sendiri, dia menggerak-gerakkan kaki di kasur. Setelah berpikir sebentar, Dewi memutuskan keluar kamar. Lebih baik makan cake yang tadi dibelikan Adrian untuk mengusir bayangan martabak.
Dewi membuka pintu kamar kemudian berjalan menuju dapur. Dibukanya lemari es kemudian mengambil satu buah cup cake dari dalamnya. Ketika wanita itu menutup pintu kulkas, jantungnya hampir copot saat melihat bi Parmi sudah ada di sampingnya.
“Astaghfirullah.. ya ampun bi. Hampir copot jantungku.”
“Hehehe.. maaf mba. Kirain siapa yang buka kulkas malem-malem.”
Mata bi Parmi melihat pada cup cake di tangan Dewi. Wanita itu mengerti kalau ibu hamil ini pasti lapar. Dia mengajak Dewi duduk di kursi makan, lalu membawakan segelas air putih hangat untuknya.
“Mba Dewi laper?”
“Iya, bi. Sebenarnya aku pengen makan martabak kang Ewok. Tapi udah malem, pasti ngga diijinin keluar.”
“Pesan online aja, mba.”
“Aku pengen lihat langsung kang Ewok bikin martabaknya.”
“Oalah.. gimana mba? Bibi nda bisa antar juga. Minta tolong mas Ad aja.”
“Ngga ah, bi. Bang Ad baru pulang dari Subang, pasti cape.”
“Iya, juga. Mba Pipit juga udah tidur kayanya. Kemarin begadang, mungkin ngantuk.”
“Ngga apa-apalah, bi. Makan kue juga cukup kok.”
“Bibi ke belakang dulu, ya.”
Dewi hanya menganggukkan kepalanya saja sambil meneruskan makannya. Pintu kamar Adrian terbuka, pria itu keluar lalu menuju dapur untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Sekilas dia melihat Dewi yang tengah makan kue di meja makan.
“Belum tidur?” tanya Adrian seraya mendudukkan diri di samping Dewi.
“Laper, bang. Hehehe..”
“Kamu mau makan apa?”
“Euung.. makan ini aja.”
Sebenarnya ini kesempatan Dewi mengatakan keinginannya. Tapi melihat wajah lelah Adrian, dia tak tega meminta pria itu mengantarnya. Dengan cepat Dewi menghabiskan kue dan minumannya kemudian masuk ke dalam kamar. Adrian memandangi kepergian Dewi yang tiba-tiba. Dia jadi curiga kalau adik iparnya itu menginginkan sesuatu tapi tidak berani mengatakannya. Lamunan Adrian terhenti ketika bi Parmi datang membereskan gelas bekas Dewi minum.
“Mba Dewi sudah masuk kamar ya, mas?”
“Iya.”
“Kasihan ibu hamil lagi ngidam.”
“Ngidam? Dia ngidam apa?”
“Mau makan martabak telor kang siapa ya, lupa bibi. Tapi dia mau lihat langsung yang dagang martabak buat martabaknya. Mau minta antar mas Ad ngga tega katanya. Kan baru pulang dari Subang.”
Adrian berpikir sejenak, kemudian dia segera meninggalkan meja makan. Pria itu masuk ke dalam kamarnya. Setelah mengambil kunci mobil dan ponsel, dia keluar lagi dari kamarnya. Diketuknya kamar Aditya, tak lama pintu terbuka.
“Ayo,” ajak Adrian.
“Kemana bang?”
“Katanya kamu mau beli martabak.”
“Abang tau dari mana?” mata Dewi nampak berbinar.
“Dari bi Parmi. Ayo.”
“Bentar, aku pake sweater dulu.”
Dengan senang Dewi mengambil sweater yang tergantung dibalik pintu lalu memakainya. Dia mengambil ponselnya kemudian mengikuti Adrian keluar dari rumah. Dengan senyum mengembang di bibirnya dia duduk di samping kursi pengemudi lalu memasang sabuk pengaman.
Adrian hanya tersenyum mendengar Dewi yang bernyanyi mengikuti lagu yang diputarnya. Wanita itu terlihat senang sekali, padahal mereka hanya akan membeli martabak telor saja. Tak memakan waktu lama, Adrian sudah tiba di depan gerobak martabak kang Ewok. Walau sudah malam, tapi orang yang membeli martabak masih cukup banyak.
“Kang martabak spesialnya 1,” ujar Dewi.
“Buat 2, kang,” lanjut Adrian.
“Satu aja, bang. Kenapa beli dua.”
“Kalau beli satu, aku, mama sama papa pasti ngga akan kebagian. Yang satu porsi pasti abis sama kamu.”
“Ish..”
“Woke neng Dewi. Sabar ya, masih ada lima pesanan lagi.”
“Ok, kang.”
Dewi menarik tangan Adrian lalu menuju salah satu meja yang kosong. Mata wanita itu terus memandangi kang Ewok yang sedang melebarkan kulit martabak. Dia senang sekali keinginannya melihat kang Ewok beraksi kesampaian. Di tengah keasyikkannya seseorang menghampiri meja mereka.
“Hai.. Ad. Ketemu lagi kita.”
Mata Dewi langsung teralihkan pada wanita yang tiba-tiba duduk di depannya. Untuk beberapa saat Dewi memandangi wanita yang terlihat dewasa karena make up yang dikenakannya. Kemudian dia ingat siapa wanita di depannya ketika mendengar Adrian memanggil namanya.
“Ara..”
Oohh.. nih cewek gatel yang dibilang Adit.. kan pernah ketemu juga waktu di mall. Ish.. nenek sihir, masih gatel aja lo sama bang Ad.
“Apa kabar? Masih betah sendiri?”
Mendengar pertanyaan Ara, spontan Dewi memeluk lengan Adrian, membuat pria itu terjengit. Dewi memandang sengit pada Ara yang terlihat tak suka melihatnya memeluk lengan Adrian.
“Tante ngga bisa lihat. Ada aku di sini, mana ada mas Rian sendiri.”
“Siapa kamu? Oohh si bocil,” balas Ara.
“Bocil yang udah bisa buat bocil. Nih cebongnya mas Rian udah berkembang biak di perutku.”
Jari Dewi menunjuk perutnya. Adrian langsung melihat pada Dewi, Ara nampak terkejut mendengarnya. menyadari Adrian yang melihat padanya, Dewi malah semakin menjadi. Dia menyandarkan kepala di lengan Adrian.
“Mas.. nih tante siapa sih? Kerjanya gangguin mas mulu, nyebelin banget. Usir dia, mas. Awas aja kalo ngga nanti malem ngga akan aku kasih jatah.”
Uhuk.. uhuk…
Adrian sampai terbatuk mendengar ucapan absurd Dewi. Ara terlihat semakin kesal, dia melihat pada Adrian, seakan meminta penjelasan dari pria itu. Adrian melepas pelukan Dewi di lengannya, kemudian merangkul bahu ibu hamil itu hingga tubuh mereka mendekat. Jantung Dewi langsung berdegup kencang.
__ADS_1
“Iya, dia memang istriku. Kenapa?”
“Kok kamu ngga undang aku kalau nikah,” protes Ara.
“Iihh emang situ siapa minta diundang? Syuuh.. syuuhh.. pergi jauh-jauh,” Dewi mengibaskan tangannya pada Ara.
Melihat tingkah Dewi yang menyebalkan, Ara segera meninggalkan gerobak kang Ewok setelah pesanannya selesai. Adrian langsung melepaskan pelukannya begitu Ara pergi. Dewi yang tiba-tiba merasa canggung memilih berdiri kemudian menghampiri kang Ewok yang bersiap membuat pesanannya.
“Kang.. punya aku udah mau dibuat belum?”
“Udah. 2 kan yang special?”
“Iya. Eh.. aku yang ngocok telurnya boleh ngga?”
“Boleh.”
Kang Ewok memecahkan telur dan memasukkan toping serta seasoning ke dalam gelas kocokan lalu memberikannya pada Dewi. Melihat Dewi yang terlihat tengah merecoki pedagang martabak tersebut, Adrian bangun dari duduknya kemudian mendekati Dewi.
“Kamu ngapain ngerecokin kang Ewok?”
“Ish.. siapa yang ngerecokin? Aku justru bantuin kang Ewok. Iya kan kang?”
“Santai aja, kang. Neng Dewi lagi hamil kan?”
“Kok akang tempe?” tanya Dewi.
“Mas Adit yang bilang waktu itu. Ngomong-ngomong mas Aditnya mana?”
“Lagi promo tur.”
“Wah udah jadi istri artis sekarang ya.”
“Ish apaan sih.”
Penjual martabak itu hanya terkekeh saja melihat Dewi. Dia terus menggerak-gerakkan tangannya melebarkan kulit martabak sambil menampilkan aksinya memutar-mutar kulit dengan jarinya. Dewi berhenti mengocok telur demi bisa melihat atraksi pria itu.
“Banyak ibu hamil yang sudak recokin akang ya?” tanya Adrian.
“Iya, kang. Kemarin ada yang nyuruh suaminya ngelebarin kulit martabak, waduh hampir dua puluh menit baru jadi, hahaha.. Terus ada yang minta difoto sama saya pas lagi atraksi gini. Yang lebih serem, ada yang ngidam peluk saya dari belakang pas lagi bikin martabak, hahaha.."
“Wah rejeki itu, kang. Tapi suaminya ngga marah?”
“Asli tegang, kang. Ngeri-ngeri sedep, mana suaminya lihat sambil melotot.”
“Hahaha..”
Kang Ewok memasukkan kulit lumpia yang sudah lebar ke atas wajan. Dewi menyerahkan kocokan telur pada pria itu. Setelah melipat kulit martabak menjadi segi empat, pria itu kembali menyiapkan bahan untuk martabak kedua. Dewi kembali mengocok telur.
“Nuhun kang,” ujar kang Ewok ketika Adrian memberikan uang untuk membayar martabak.
Dengan bungkusan berisi martabak telor, Dewi berjalan menuju mobil Adrian. Baru saja kendaraan itu melaju, Dewi sudah tak sabar memakannya. Dia membuka penutup kotak martabak. Diambilnya tisu yang ada di dashboar, kemudian mengambil sepotong martabak.
“Bang.. cewek tadi siapa sih? Yang nama Ara-Ara itu. Emang bener ya kalau dia cinta pertama abang? Kok bisa sih naksir modelan tarang kaya gitu?”
“Tarang?”
“Iya, tante girang.”
Adrian menggelengkan kepala sambil tak berhenti tertawa. Ada-ada saja singkatan yang diberikan Dewi. Kepalanya menoleh ketika Dewi memanggilnya. Wanita itu menyodorkan martabak ke mulutnya.
“Enak kan, martabak kang Ewok?”
“Iya.”
“Kenapa pertanyaanku ngga dijawab?”
“Kamu kalau nanya satu-satu. Kalau rombongan gitu pusing jawabnya.”
“Ara siapa?”
“Teman SMA.”
“Dia beneran cinta pertama abang?”
“Kamu tahu dari mana?”
“Mas Adit. Beneran cinta pertamanya abang?”
Dewi menaruh kedua tangan di wajahnya sambil menunjukkan ekspresi terkejut. Adrian hanya terkekeh saja. Memang benar kalau Ara adalah cinta pertamanya, walau sekarang perasaan itu sudah hilang tak bersisa karena kelakuan Ara yang tak pantas di matanya.
“Kok abang bisa sih naksir sama di tarang?”
“Dulu dia ngga gitu. Masih polos.”
“Kalau sekarang senengnya dipolosin yee..”
“Hahaha…”
Celotehan Dewi yang semakin nyeleneh membuat Adrian tak bisa menahan tawanya lagi. Sepanjang jalan mereka terus mengobrol, sambil sesekali Dewi menyuapkan martabak telor padanya. Percakapan mereka terhenti ketika ponsel Adrian berdering. Melihat sang pemanggil adalah Ikmal, Adrian mengambil earphone bluetooth yang ada di pinggiran pintu kemudian memakainya.
Melihat Adrian yang sibuk berbincang dengan seseorang, entah siapa, Dewi meneruskan makannya sendiri. Sisa martabak di dus hanya tinggal dua potong lagi. Dewi menyuapkan martabak di tangannya, kemudian menyandarkan kepala ke jok.
Mobil yang dikendarai Adrian akhirnya berhenti di depan rumah. Pria itu mematikan mesin mobil lalu melihat ke arah samping. Terlihat Dewi sudah tertidur nyenyak dengan kotak martabak yang masih terbuka berada di pangkuannya. Adrian menutup kotak martabak tersebut lalu coba membangunkan Dewi.
“Wi.. bangun.. Dewi..”
Adrian mengguncang pelan pundak adik iparnya itu, namun Dewi bergeming. Adrian melepaskan sabuk pengaman yang dikenakan wanita itu lalu turun dari mobil. Mendengar suara mobil anaknya, Ida keluar lalu menghampiri sang anak.
“Dari mana, Ad?”
“Dewi lagi ngidam martabak telor.”
“Dewinya mana?”
“Nih.. tidur,” Adrian membuka pintu mobil. Ida hanya menggelengkan kepala melihat menantunya yang tidur nyenyak.
“Ini ma, martabaknya.”
“Loh yang satu sisa dua.”
__ADS_1
“Pelakunya menantu mama, hahaha..”
“Ck.. ck.. ck.. dia masih hamil muda tapi udah doyan makan. Gimana nanti pas kandungannya tambah besar. Bangunin, Ad.”
“Ngga bisa, ma. Dia kalau tidur susah dibangunin.”
“Moso? Kamu tahu dari mana?”
“Euung… Adit. Coba mama yang bangunin.”
Pria itu langsung meminta Ida membangunkan Dewi. Dia takut sang mama menyadari perasaannya pada Dewi karena tahu kebiasaan gadis itu. Ida mendekati Dewi, dilihatnya sejenak wajah sang menantu yang tengah tertidur dengan damainya.
“Gendong aja, Ad. Nda tega mama banguninnya.”
Adrian mendekati Dewi kemudian membopong wanita itu. Ida menutup pintu mobil kemudian mengikuti langkah sang anak. Dia menyusul Adrian untuk membantu membukakan pintu. Pelan-pelan Adrian merebahkan Dewi di kasur. Dibenarkannya posisi tidur wanita itu agar nyaman.
Melihat sisa-sisa minyak di sekitar bibir Dewi, Adrian mengambil tisu kemudian mengusap sisa minyak tersebut. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh Dewi hingga sebatas dada. Setelah mengusap puncak kepala adik iparnya, Adrian mematikan lampu kemudian menutup pintu kamar. Ida yang sudah berada di ruang tengah bersama suaminya, memanggil anak sulungnya itu.
“Ad.. sini makan martabak dulu.”
“Buat mama sama papa aja. Aku udah kenyang dari tadi dijejelin martabak sama Dewi.”
Adrian berjalan menuju kamarnya kemudian masuk. Setelah menaruh ponsel dan kunci mobil di atas meja, pria itu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap lurus ke atas. Senyumnya mengembang mengingat apa yang terjadi antara dirinya dengan Dewi tadi. Kemudian senyumnya hilang ketika mengingat sang adik.
Maafin abang, Dit. Maaf karena masih berharap pada istrimu. Abang akan berusaha menyimpan perasaan ini dalam-dalam, demi kamu dan anak kalian.
🌸🌸🌸
Seluruh personil The Soul keluar dari bis yang ditumpanginya kemudian masuk ke dalam hotel. Dengan wajah lelah tapi diliputi kegembiraan, kelima orang tersebut memasuki lift yang akan membawa mereka ke kamar yang ditempati. Aditya satu kamar dengan Roxas, Rangga dengan Rivan, sedang Fay tidur sendiri.
Aditya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kota ketujuh dari rangkaian promo turnya sudah diselesaikan dengan baik. Kini hanya tersisa dua kota lagi, sebelum dia kembali ke Bandung. Bertemu dengan keluarga dan terutama istri tercinta yang tengah mengandung anaknya.
Mata Aditya melirik Roxas yang juga tengah merebahkan tubuhnya. Pria itu terus menatap layar ponselnya. Pesan yang dikirimkan pada Pipit hanya dibaca saja, dan tak mendapat balasan darinya. Roxas mendesis kesal, padahal dia suah mewanti-wanti wanita itu untuk membalas pesannya.
“Kenapa lo?” tanya Aditya.
“Tante lo rese. Udah dua hari gue kirim pesan cuma dibaca doang. Berasa nulis di kolom koran, cuma dibaca doang.”
“Hahaha… segitu sensinya, lo. Tante lagi sibuk kali.”
“Sesibuk-sibuknya, masa ngga bisa bales chat. Ngga sampe lima menit loh.”
Aditya mengangkat tubuhnya. Dia menarik kedua kakinya ke atas kasur kemudian duduk dengan posisi bersila. Melihat sang sahabat, Roxas bangun kemudian melakukan hal sama. Dia melihat pada Aditya yang menunjukkan wajah serius.
“Kita kan punya waktu dua hari di Yogya buat refreshing. Gimana kalo lo ke Magelang, sama gue juga. Ketemu ama camer lo, hahaha..”
“Ide bagus. Hayu..”
“Jiaaah semangat bener. Besok kita beli bakpia dulu. Mbah putri kan suka banget bakpia. Nah terus langsung bilang sama mbah putri dan mbah kakung kalo lo udah siap nikahin tante, hahaha…”
“Wah bener juga.”
“Lo punya jalan tol, rugi kalau ngga digunain. Langsung aja tancap gas.”
“Tapi emang tante lo mau langsung gue ajak nikah?”
“Usaha aja dulu. Taklukin camer, urusan tante belakangan. Yang penting SIM udah keluar.”
“Yess.. bener. Surat Ijin Menikah harus gue dapetin dulu dari camer.”
Roxas mengepalkan tangannya, berusaha menyemangati dirinya sendiri. Kalau dirinya sudah siap untuk menikah, maka tidak ada alasan bagi Pipit untuk menolak menikah dengannya. Bukankah wanita itu yang mengenalkan dirinya sebagai pacar pada kedua orang tuanya. Dengan wajah penuh keyakinan, Roxas siap bertemu dengan calon mertuanya.
Melihat semangat Roxas yang berkobar, Aditya mengambil ponselnya kemudian menghubungi Wardani. Dia ingin mengabarkan kedatangannya esok hari pada mbah putrinya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.. mbah, sehat?”
“Alhamdulillah.. Adit cucu mbah yang ganteng. Kamu di mana sekarang? Katanya lagi promo tur.”
“Iya, mbah. Ini lagi di Yogya, baru aja beres koser.”
“Ayo ke sini. Mbah udah kangen.”
“Iya, mbah. Besok pagi aku sama teman-teman ke sana. Boleh ya mbah, bawa teman?”
“Ya boleh dong. Roxas diajak nda?”
“Kalau itu pasti diajak, mbah. Dia udah ngebet pengen ketemu mbah putri sama mbah kakung.”
“Moso?”
Aditya hanya tertawa saja. Apalagi ketika melihat mata Roxas yang melotot. Entah neneknya itu percaya atau tidak dengan apa yang dikatakan olehnya.
“Mbah mau dibawain apa? Bakpia ya mbah?”
“Iya, bakpia. Kamu jam berapa ke sini. Biar mbah masak banyakan.”
“Masak gudeg, mbah.”
“Sip.”
“Besok kalau udah mau berangkat, aku kabarin ya, mbah. Mau cari kertas kado dulu sama pita.”
“Buat apa?”
“Buat bungkus Roxas, mbah. Hahaha…”
“Weh.. bocah sableng.”
“Udah dulu ya, mbah. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Panggilan antara Aditya dan Wardani berakhir. Aditya melihat pada sahabatnya dengan tatapan menggoda. Roxas melemparkan bantal pada sahabatnya itu, namun tak ayal wajahnya ikut tersenyum. Besok dia akan bertemu dengan orang tua dari wanita yang dicintainya.
🌸🌸🌸
**Yang kangen Roxas, tuh doi nongol. Kalo Pipit, entar yee, lagi aku umpetin dulu wkwkwk..
__ADS_1
Adrian sama Dewi berasa bukan adik sama kakak ipar ya🙈**