
Sudah dua hari lamanya Adrian berada di Tanjung Lesung. Lokasi keberadaannya terletak 95 km dari kota Serang, tepatnya di ujung paling barat Jawa, di kabupaten Pandeglang. Sebenarnya pekerjaan kali ini tidak bisa sepenuhnya dikatakan sebagai penelitian, namun lebih pada liburan. Adrian dan tiga orang temannya memang tengah mengumpulkan data tentang pantai-pantai di sekitar Tanjung Lesung. Ada investor dari luar negeri yang ingin mengembangkan wisata di daerah ini menjadi destinasi internasional.
Pantai ini dinamakan Tanjung Lesung karena bentuknya mirip dengan Lesung. Dalam bahasa Sunda, Lesung sendiri berarti wadah untuk menumbuk nasi. Tanjung Lesung merupakan pantai terintegrasi yang menawarkan tempat rekreasi dan resor yang menghadap ke gunung Anak Krakatau, satu-satunya peninggalan dari gunung Krakatau yang melegenda.
Sebenarnya Tanjung Lesung sendiri sudah dikelola dengan baik oleh PT. Jababeka Tbk. Namun pemerintah setempat ingin lebih mengembangkan lagi destinasi wisata ini hingga terkenal ke mancanegara, karena banyak hal yang bisa dieskplore di daerah ini. Adrian bersama teman-teman bertugas menggali apa saja potensi tersembunyi di daerah ini.
Tanjung Lesung dikenal sebagai kawasan resot pantai terbesar dengan area seluas 1500 hektar. Sampai saat ini, pihak pengelola masih terus berusaha mengembangkan serta membangun berbagai fasilitas penunjang dengan membuka kerjasama dengan berbagai pihak, salah satunya klien Adrian. Mereka bertekad menjadikan Tanjung Lesung menjadi kawasan wisata berkelas internasional seperti Nusa Dua – Bali.
Rencananya Adrian dan kawan-kawan akan berada di Tanjung Lesung kurang lebih dua minggu. Selama berada di sana, dia juga akan mengeksplore tempat-tempat indah lainnya, seperti Kampung Cipanon dan pulau Liwungan. Dari kedua tempat tersebut, masih banyak hal yang bisa digali dan disuguhkan bagi pecinta petualangan di alam bebas.
Adrian berdiri di depan kamarnya yang menghadap langsung ke arah laut. Sepulang berkeliling, dia menyempatkan diri menikmati pemandangan sunset yang begitu indah. Tak lupa pula dia mengabadikan gambar-gambar tersebut. Rencananya dia akan mengirimkannya pada Dewi.
Mengingat Dewi, tak dapat dipungkiri Adrian begitu merindukan gadis pujaannya itu. Baru tiga hari tidak bertemu, rasanya sudah berat sekali. Harusnya hari ini dia melatih Dewi taekwondo. Namun karena pekerjaan, pria itu harus merelakan jadwalnya melatih digantikan oleh temannya.
Senyuman tercetak di wajahnya ketika melihat deretan cantik hasil tangkapannya seharian ini. Ada foto sunrise, keindahan pantai berpasir putih dan juga pemandangan menjelang matahari terbenam. Adrian mengetuk beberapa gambar kemudian mengirimkannya pada Dewi. Dia ingin gadis itu ikut merasakan keindahan pantai yang didatanginya sekarang.
Tak butuh waktu lama centang abu di aplikasi whatsapp-nya berubah menjadi biru. Dewi langsung membuka foto kirimannya tak lama setelah terkirim. Adrian melirik jam digital yang ada di layar bagian atas. Pukul delapan lebih empat puluh lima menit. Tiba-tiba sebuah pesan dari Dewi masuk ke ponselnya.
From My Girl :
Ya ampun bagus banget.. itu di mana?
Wajah Adrian kembali menyunggingkan senyuman. Dia bisa membayangkan kalau dirinya berada di dekat Dewi, gadis itu akan merengek minta dibawa ke pantai yang indah itu. Jari Adrian kemudian bergerak di atas layar, membalas pesan gadis cantik pencuri hatinya.
To My Girl :
Tanjung Lesung, Pandeglang – Banten.
From My Girl :
Katanya kerja, taunya liburan.
To My Girl :
Kerja sambil liburan.
From My Girl :
Huaaaaaa😭😭😭 enak banget. Kapan-kapan aku juga mau ke sana.
To My Girl :
Boleh. Kapan-kapan kita liburan ke sini.
From My Girl :
Asiiikk😀
To My Girl :
Bagaimana latihan hari ini?
From My Girl :
Ngga asik. Sabeum Fajar galak, aku dimarahin terus😭
Belum sempat Adrian membalas pesan, Jaya, salah satu rekan kerja yang pergi bersamanya datang mendekat. Pria itu perlu membahas sebentar jadwal mereka untuk esok hari. Walau tidak diangkat secara formal, namun teman Adrian yang lain menganggap Adrian sebagai tim leader mereka saat melakukan pekerjaan ini. Jadi segala sesuatu akan mereka laporkan terlebih dahulu pada pria tampan itu.
Sementara di sebrang sana, Dewi gulang-guling tidak jelas di atas kasurnya. Berharap balasan pesan Adrian yang tak kunjung muncul. Tadinya dia berinisiatif untuk mengirim pesan kembali, namun ditahannya.
Isshh aa Rian, kenapa ngga bales chat lagi sih? Udah tidur gitu. Huaaa… masa cuma bentar doang chat-nya. Aku kan masih kangen.
Dewi mengambil bantal kemudian menutup wajahnya dengan benda empuk tersebut. Beberapa kali dia melihat ponselnya, namun Adrian tak kunjung mengirimi pesan lagi. Akhirnya dia mengalah, dengan menyingkirkan rasa malunya, Dewi berniat mengirimi pesan lagi. Namun baru saja dia mulai mengetik, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari Adrian masuk.
“Assalamu’alaikum,” Dewi menjawab panggilan dengan dada berdebar.
__ADS_1
“Waalaikumsalam. Belum tidur?”
“Lagi tiduran sih, tapi belum bisa tidur. Belum ngantuk.”
“Kenapa sabeum Fajar marah-marah?”
“Itu… aku salah meragain jurus, jadi dimarahin deh.”
“Hmm.. kamu kurang konsentrasi kali.”
“Abisnya sabeum Fajar galak sih, jadi kan aku grogi duluan,” Dewi berkilah, padahal dia tidak konsentrasi karena terus memikirkan Adrian selama latihan.
“Latihan yang benar, supaya kamu bisa cepat kuasain jurus. Emang kamu mau sabuk putih terus? Ngga mau naik tingkat?”
“Mau…”
“Makanya latihan yang benar.”
“Huum.”
Suasana hening sejenak, keduanya berusaha seperti tengah menyelami keadaan mereka saat ini. Dewi yang senang karena Adrian begitu perhatian padanya. Dan Adrian yang semakin gemas karena kata-kata dan nada suara Dewi terdengar begitu manja di telinganya.
“Euung.. aa di sana berapa lama?”
“Kurang lebih dua minggu.”
“Lama juga, ya. Berarti selama itu juga aku bakalan dilatih sama sabeum Fajar, huaaaa..”
“Sabeum Fajar itu baik. Asal kamu fokus dan konsentrasi selama latihan.”
“Iya.”
“Kamu mau dibawain oleh-oleh apa?”
“Bisa ngga pantainya dibungkus terus dibawa pulang? Kan di Bandung ngga ada pantai.”
“Hahaha… ada-ada aja kamu. Besok aku kirimin foto lebih banyak buat kamu.”
“Foto doang?”
“Ish.. yang ada aku diseruduk sama tanduknya. Tega bener.”
“Hahaha.. nanti aku bawain oleh-oleh kalau pulang. Kamu sekarang istirahat, tidur, pasti capek tadi habis latihan.”
“Iya, a.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Panggilan pun berakhir. Dewi berteriak senang, akhirnya di penghujung hari dia bisa mendapat kabar dari lelaki yang akhir-akhir ini selalu memenuhi hati dan pikirannya. Sekarang dirinya bisa tidur dengan nyenyak. Walau tidak bisa melihat wajahnya, tapi mendengar suaranya pun lebih dari cukup. Sambil memeluk gulingnya, Dewi mulai memejamkan mata, dengan senyum tersungging di wajahnya.
Di tempat lain, Adrian pun merasakan kebahagiaan yang sama. Mendengar suara Dewi cukup mengobati kerinduannya. Hatinya semakin mantap melabuhkan cinta pada gadis belia itu. Dia akan mencari waktu yang tepat untuk mengutarakan isi hatinya. Berharap Dewi pun merasakan apa yang dirasakannya.
Pria itu pun bersiap untuk tidur. Besok ada banyak hal yang harus dilakukannya. Dan perlu untuk mengistirahatkan tubuh sebelum memulai aktivitas yang melelahkan tentunya. Saat memejamkan mata, bayangan wajah Dewi langsung terlintas. Semoga saja gadis cantik nan menggemaskan itu sudi mampir ke dalam mimpi.
🌸🌸🌸
Keesokan paginya, setelah menghabiskan sarapannya, Adrian beserta ketiga temannya bersiap untuk berangkat ke Kampung Cipanon. Kampung Cipanon dikenal juga sebagai kampong nelayan. Untuk sampai ke kampung ini, Adrian dan lainnya harus menaiki speedboat sekitar 20 menit lamanya.
Setelah mengenakan pelampung, speed boat yang mereka naiki mulai bergerak. Semilir angin pagi terasa begitu sejuk. Adrian memilih berdiri di dek, sambil ponselnya mengabadikan perjalanan mereka. Nampak dari kejauhan berdiri kokoh gunung Anak Krakatau. Tangannya langsung saja mengabadikan gunung yang masih terkenal aktif itu.
Berhasil mendapat beberapa gambar yang bagus, Adrian mengirimkan foto-foto tersebut pada Dewi. Dia sengaja ingin membagikan setiap momen yang dilewatkannya di pulau ini pada sang pujaan hati. Agar Dewi bisa turut menikmati keindahan alam bumi Banten ini walau hanya lewat gambar. Sebuah pesan dari Dewi masuk ketika Adrian baru saja mengirimkan foto.
From My Girl :
Bagus pemandangannya😍 Tapi kok ngga ada orangnya ya🤔
Senyum Adrian terkulum membaca pesan dari Dewi. Dia kembali membuka kamera ponselnya, kali ini mengganti tampilan kamera menggunakan kamera depan. Dia mengarahkan ponsel ke wajahnya dengan latar gunung Anak Krakatau. Beberapa kali Adrian mengambil gambar dirinya. Setelah memilih-milih, dia mengirimkan dua gambar yang dirasa paling bagus.
Dewi senang bukan kepalang mendapatkan kiriman foto berikutnya dari Adrian. Mantan wali kelasnya itu nampak keren dalam balutan kaos polo berwarna putih dipadu dengan celana cargo sebatas lutut warna cream. Wajah pria itu bertambah tampan dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.
Ya ampun aa Rian ganteng banget sih. Kalau gue jadi ceweknya, yakin banyak yang ngiri guling-guling ama gue. Ish Dewi apaan sih. Kegeeran banget sih, belum tentu juga a Rian suka sama elo. Tapi ngarep boleh kan, awok.. awok.. awok..
Dewi terus saja senyam-senyum sendiri. Tanpa gadis itu sadari Aditya sudah berada di dekatnya. Pemuda itu pelan-pelan duduk di dekat gadis itu yang masih mesem-mesem melihat ponsel di tangannya.
__ADS_1
“Ehem!”
Hampir saja ponsel di tangan Dewi terlempar ketika mendengar deheman Aditya. Gadis itu buru-buru menutup aplikasi whatsappnya dan mematikan layar ponsel. Dia tak enak hati kalau sampai Aditya tahu dirinya tengah menikmati wajah tampan seseorang. Walau Aditya juga tidak kalah tampan, tapi Adrian punya kelebihan sendiri di matanya.
“Bahagia amat,” celetuk Aditya.
“Itu teman abis kirim foto-foto lucu, bikin ngakak.”
“Foto apa?”
“Ada deh, kepo. Hihihi..”
“Jadi mau ke kampus?”
“Jadi dong.”
“Kamu ke kampus pake baju kaya gitu?”
Aditya menunjuk outfit yang dikenakan Dewi. Gadis itu masih mengenakan piyama tangan panjang warna hijau muda bergambar keropi, kesukaannya.
“Gila aja pake piyama!” seru Dewi yang dibalas kekehan Aditya.
“Pasti belum mandi. Mandi dulu, itu iler masih nempel, mana udah kering lagi.”
“Mana ada!” Dewi bertambah sewot seraya membelalakkan matanya, Aditya semakin terpingkal dibuatnya.
“Aku ganti baju dulu,” lanjut Dewi seraya bangun dari duduknya.
“Ngga mandi dulu?”
“Aku udah mandi, Adiiiiiitttt.”
“Hahahaha…”
Dewi bergegas masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Aditya duduk di ruang depan sambil menonton acara di televisi. Layar datar di depannya tengah menampilkan acara gossip. Seorang artis terkenal kembali menggugat cerai suaminya karena sudah dua tahun tidak memberi nafkah, alias menganggur.
“Buset nambah lagi janda semok bin bohay. Kesukaan si leker ini,” gumam Aditya sambil tertawa.
Tak sampai dua puluh menit, Dewi sudah selesai berdandan. Gadis itu mengenakan tunik motif kotak-kotak selutut yang dipadu dengan slim fit jeans warna hitam. Tak lupa hijab persegi warna cream melekat di kepalanya. Warna hijab disesuaikan dengan salah satu warna di tuniknya. Bisa jadi Dewi memilih warna itu agar sesuai dengan warna outfit yang dikenakan Adrian tadi.
“Cieee cantik bener. Mau daftar kuliah apa tebar pesona?” goda Aditya.
“Dua-duanya wleeee..” Dewi menjulurkan lidah pada Aditya.
“Wah sebelum ke kampus, kayanya harus mampir dulu ke kantor polisi nih.”
“Ngapain?”
“Minjem borgol pak pol buat memborgol cinta kita, eaaaa…”
“Gembelan garing,” ledek Dewi, namun tak ayal senyuman tersungging di bibirnya.
Aditya memang selalu sukses membuat moodnya ceria. Keduanya kemudian keluar dari rumah lalu menuju motor Aditya yang terparkir di depan rumah. Setelah berpamitan pada Nenden, Aditya segera melajukan kendaraan roda duanya.
🌸🌸🌸
Sementara itu, Adrian baru saja sampai di Kampung Cipanon. Ternyata di sini, pemandangannya tidak kalah indah dari resor. Di kampung ini, pengunjung dapat menikmati keindahan biota bawah lautnya. Ternyata penduduk di sini, secara mandiri telah membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat Wahana Anak Pantai (KSM WAP). Kelompok ini didirikan sebagai upaya melestarikan biota dan lingkungan laut Cipanon.
Salah satu hal yang mereka lakukan adalah menanam kembali terumbu karang pada lahan-lahan yang sudah rusak di pulau Liwungan. Dan kegiatan ini dijadikan salah satu daya tarik wisatawan yang berkunjung. Mereka kerap diajak untuk mencoba kegiatan ini. Adrian dan yang lainnya pun rencananya akan melakukan hal tersebut. Namun terlebih dulu mereka akan mengikuti kegiatan para nelayan memanen hasil ikan.
Adrian, Jaya, Rudi dan Ikmal berjalan mengikuti pak Andi, penduduk setempat yang akan menjadi pemandu mereka hari ini. Pak Andi membawa mereka menuju sekumpulan nelayan yang tengah menyiapan kapal motor atau sampan yang akan digunakan tempat di mana sero berada, mereka akan memanen ikan.
Setelah berdiskusi sebentar, Adrian dan yang lainnya memutuskan untuk ikut dengan para nelayan memanen hasil ikan lewat sero yang sudah ditanamnya. Keempat pria itu dibagi dalam dua grup. Adrian bersama dengan Jaya ikut menggunakan sampan. Sedang Ikmal dan Rudi ikut kapal motor.
Alat transportasi air yang berbeda jenis itu segera mengarungi lautan sekitar. Mereka menuju tempat di mana sero atau perangkap ikan terpasang. Sero adalah perangkap yang biasanya terdiri dari susunan pagar-pagar yang akan menuntun ikan menuju perangkap. Sero biasanya ditempatkan di perairan dangkal. Hal ini untuk mempermudah mengambil hasil tangkapan.
Sesampainya di sana, para nelayan bergerak cepat menaiki sero yang terbuat dari bamboo. Ketika sero ditarik ke atas, seketika terlihat kumpulan ikan kerapu menggelepar dan berloncatan. Kampung Cipanon memang terkenal sebagai salah satu pemasok ikan kerapu terbesar se-pulau jawa.
Ikmal yang bertugas untuk mendokumentasikan semua kegiatan mereka, terus mengarahkan handycam di tangannya. Pria itu merekam semua aktivitas para nelayan, termasuk hasil tangkapannya. Setelah mengumpulkan hasil panen, para nelayan bersiap kembali ke daratan untuk menghitung hasil panen.
🌸🌸🌸
Hari ini mamake ajak kalian bertraveling sejenak, mengenal satu tempat indah yang ada di negeri kita tercinta. Nyatanya, masih banyak tempat indah di sekitar kita selain Bali. Mamake berharap tempat² indah ini bisa jadi destinasi wisata baru untuk turis lokal dan manca negara. Walau belum pernah ke sana, mamake berharap suatu saat bisa berkunjung ke Tanjung Lesung atau Kampung Cipanon. Bagaimana dengan kalian?😉
__ADS_1