
Sisa hari menjelang resepsi pernikahan dimanfaatkan Dewi untuk menata rumah barunya. Perabotan yang dipesannya sudah datang. Dibantu beberapa pegawai, Dewi mengarahkan penempatan barang-barang tersebut. Adrian juga ikut membantu. Dia sudah mengambil cuti di kampus.
Sofa di ruang tamu, ruang tengah dan ruang santai di lantai atas sudah tertata dengan apik. Kamar Arkhan juga tertata dengan rapih walau sang anak belum akan tidur di sana. Satu kamar lagi diperuntukkan bagi tamu yang datang, sedang sisanya digunakan untuk kamar bermain bagi sang buah hati.
Dapur juga sudah dilengkapi peralatan memasak. Peralatan elektronik pun sudah tersedia di rumah ini. Dewi nampak puas melihat semua barang sudah tertata dengan rapih. Bi Parmi juga ikut serta untuk membantu membersihkan kotoran di rumah baru tersebut.
Pukul dua siang semua pekerjaan telah selesai, rumah baru yang dibangun Adrian sudah siap untuk ditempati. Rencananya usai resepsi, mereka akan langsung menempati rumah tersebut. Setelah memberi uang lelah pada para pekerja, semuanya berpamitan meninggalkan rumah, termasuk bi Parmi.
Dewi masuk ke dalam kamar utama. Kamar mereka juga sudah tertata dengan rapih. Pakaian mereka sebagian besar sudah dipindahkan, termasuk pakaian Arkhan. Dewi menata peralatan kosmetiknya di atas meja rias. Adrian masuk ke dalam kamar lalu berdiri di belakang Dewi yang tengah duduk menghadap cermin.
“Setelah resepsi kamu mau langsung tinggal di sini?”
“Iya, a. Ngga sabar rasanya pengen cepat-cepat pindah ke sini.”
“Jangan lupa syukuran. Kita undang ibu-ibu pengajian di sini plus ustadzahnya buat mendoakan rumah kita.”
“Iya, a.”
Adrian mendudukkan diri di tepi ranjang. Matanya masih terus memandangi Dewi yang tengah merapihkan alat kosmetiknya. Setelah selesai, wanita itu berbalik. Adrian menepuk pahanya dan meminta sang istri duduk di pangkuannya. Dewi duduk di pangkuan Adrian seraya memeluk leher sang suami.
“Kamu mau bulan madu ke mana, sayang?”
“Ehmm.. kemana ya? Aku mau ke tempat yang waktu itu aa kunjungi, pas ke serang itu loh.”
“Pulau umang?”
“Iya, pulau umang. Aku mau ke sana. Ngebayangin main di sisi pantai sama Arkhan dan aa kayanya asik banget.”
“Ok, kalau gitu ke sana.”
“Aa ngga cape bawa kendaraan sendiri? Atau kita mau pake jasa supir aja?”
“Ngga usah. Biar aa yang nyetir.”
“Beneran ngga cape?”
“Ngga. Kalau pun cape, kan ada kamu yang mijat.”
“Kalau aku yang mijat bahaya, nanti pasti mintanya pijat plus-plus,” Dewi terkikik geli.
Tawa kecil terdengar dari mulut Adrian. Tangannya bergerak mengusap pipi sang istri yang masih terlihat chubby. Kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir Dewi yang sudah menjadi candunya.
“Abang undang semua dosen di kampus?”
“Ngga semua, yang di jurusan aja sama beberapa dosen lain dan jajaran dekanat. Kenapa?”
“Pasti bu Jiya diundang ya?”
“Ya diundang, masa ngga. Nanti disangka diskriminasi.”
“Kira-kira bu Jiya masih suka ngga sama aa?”
“Ngapain pikirin itu. Dia masih suka atau ngga, ngga ngaruh juga. Kita kan udah nikah. Emang kamu masih cemburu sama dia?”
“Iya. Kan bu Jiya cantik.”
“Cantikan juga kamu.”
“Gombal.”
“Cantik menurut tiap orang itu beda-beda. Menurutku, kamu adalah perempuan paling cantik, karena kamu adalah istriku dan calon ibu dari anak-anakku.”
Semburat merah langsung terlihat di pipi Dewi. Walau kata-kata yang dilontarkan sederhana, namun sarat akan makna dan yang pasti sangat membuatnya bahagia. Segurat senyum tercetak di wajah cantik Dewi. Dengan kedua tangannya dia menangkup wajah Adrian kemudian mencium bibirnya. Dengan cepat Adrian menahan tengkuk Dewi untuk memperdalam ciuman mereka.
“Yang.. ibadah yuk.”
“Siang-siang gini.”
“Ngga apa-apa. Habis mandi dan shalat kita langsung pulang ke rumah mama. Gimana?”
“Tapi sekali aja ya. Jatah malam ngga ada, kan besok kita mau resepsi, pasti capek.”
__ADS_1
“Ehmm.. lihat nanti.”
“Ish..”
Dewi memekik pelan ketika tiba-tiba Adrian bangun dan membawanya ke kasur. Pria itu memposisikan diri di atas Dewi. Tangannya sudah bergerak melepaskan hijab instan yang dikenakan sang istri. Selanjutnya dia menurunkan resleting gamis yang berada di bagian depan. Dewi hanya pasrah saja menerima perlakuan suaminya. Kedua tangannya memeluk erat leher Adrian.
🌸🌸🌸
Begitu jam kuliah usai, Mila, Sheila, Sandra, Bobi, Micky dan Budi berkumpul di kantin. Mereka akan membicarakan soal resepsi pernikahan Dewi yang akan digelar esok hari. Dewi mengatakan pada para sahabatnya harus datang dan wajib membawa pasangan masing-masing.
Untuk yang sudah memiliki gandengan seperti Sheila, bukanlah hal sulit. Kekasihnya adalah Rivan, personil The Soul. Apalagi The Soul juga didapuk sebagai pengisi acara dalam pernikahan tersebut. Lain halnya dengan Mila, Bobi dan Budi yang masih masuk kategori jomblo. Sandra dan Micky tidak termasuk, diam-diam mereka menjalin hubungan tanpa sepengetahuan para sahabatnya.
“Shei.. lo dateng bareng Rivan ya?” tanya Mila.
“Iya.”
“Lo, San?”
“Ehm.. gue sama Micky ajalah. Lo mau kan Mick?” Sandra melihat pada Micky sambil mengulum senyum.
“Wokeh, dari pada jadi Jodi. Lumayan pasangan ama Sandra yang caem.”
“Idih geli banget gue denger lo ngomong kaya gitu.”
“Sirik aja lo,” Micky menoyor kepala Mila.
Kini hanya tinggal Mila dan Bobi yang berpikir keras, hendak membawa siapa ke resepsi pernikahan Dewi. Berbeda dengan Budi yang terlihat santai. Pria itu sama sekali tidak terlihat pusing dengan syarat yang diajukan mantan wanita terindahnya.
“Lo anteng-anteng bae. Udah punya pasangan, lo?” tanya Bobi.
“Tenang, gue udah punya pasangan dong,” ujar Budi jumawa.
“Serius???”
Tentu saja yang lain dibuat terkejut mendengar ucapan Budi yang disertai keyakinan seratus persen full. Dia memandangi kelima sahabatnya yang memandangnya tanpa berkedip. Apa yang dikatakan Budi memang bukan isapan jempol belaka. Sudah dua minggu yang lalu dia menjalin hubungan dengan seseorang. Hanya saja dia masih merahasiakannya. Budi sengaja akan memproklamirkan hubungannya saat resepsi pernikahan Dewi. Sekaligus ingin menunjukkan pada Dewi, kalau dirinya sudah move on dari wanita itu.
“Siapa namanya?” Micky.
“Sekelas sama elo?” Sheila.
“Kita-kita kenal ngga?” Sandra.
“Beneran cewek kan? Bukan cewek jadi-jadian?” Mila.
PLETOK
Mila mengusap kepalanya yang terkena getokan sendok dari Budi. Mata gadis itu melotot dan ingin rasanya menuangkan botol sambel ke kepala Budi. Tapi buru-buru Sheila menahan pergerakan sahabatnya itu.
“Kalau kalian mau tau, tunggu aja besok. gue cabut guys.”
Budi mengambil tasnya, kemudian segera beranjak dari meja. Tak lupa dia melemparkan senyuman penuh kemenangan yang dikombinasikan dengan kedipan matanya. Pria itu yakin seribu persen kalau besok para sahabatnya akan dibuat shock begitu melihat kekasihnya, termasuk Dewi.
“Buset tuh anak pedenya ngga habis-habis,” cetus Mila.
“Penasaran gue, kaya apa pacarnya Budi,” sahut Micky.
“Sama, gue juga penasaran,” sambung Bobi.
“Udah lo kaga udah kepo. Mending pikirin aja, besok lo mau bawa siapa?” Sandra melihat pada Bobi.
“Mending lo sama Mila aja. Kan kalian sama-sama jones, hahaha..”
“Sue lo. Biar jones, gue milih-milih pasangan juga kali,” Bobi hendak menoyor kepala Micky, namun pria itu bisa menghindar.
“Lo pikir gue juga mau sama elo? Hellow….”
Dengan kesal Mila bangun dari duduknya, hendak segera pulang. Dia harus segera menemukan pasangan yang bisa dibawanya ke resepsi besok. Sepertinya security di kompleks rumahnya ada yang masih jomblo dan wajahnya juga lumayan. Gadis itu akan coba membujuk satpam ganteng itu agar mau menemaninya datang ke acara resepsi.
🌸🌸🌸
Di sebuah taman, nampak Fajar dan Dita sedang duduk di kursi yang ada di sana. Keduanya tengah menikmati baso tahu dari pedangang yang mangkal di taman. Di sela-sela kesibukannya, Fajar selalu menyempatkan diri bertemu dengan Dita. Malam ini dia sengaja mengajak sang kekasih bertemu untuk membicarakan sesuatu.
__ADS_1
“Besok aku jemput jam setengah satu, ya,” ujar Fajar.
“Iya, bang. Acaranya jam satu, kan?”
“Iya, jam satu. Gimana di kampus? Pada heboh ngga pas tau si Ad nikah.”
“Bukan lagi. Banyak yang patah hati, hihihi… termasuk bu Jiya kayanya. Dia shock banget pas terima undangan pernikahan bang Ad. Padahal setahuku dia lagi penjajagan sama salah satu dosen fakultas teknik. Tapi tetep ya kalau mantan kecengan nikah, rasanya gimana gitu.”
“Hahaha.. bisa aja kamu. Aku malah mikirin Dewi. Aku malah takut banyak yang nyinyirin dia. Kamu tau sendiri kan, orang juga banyak yang tahu kalau dia jandanya Adit. Satu dua orang pasti ada yang berprasangka jelek, kaya ibu warung yang dekat kontrakan haji Soleh.”
“Ya gimana lagi, bang. Kalo kataku sih bomat lah. Terserah orang mau bilang apa, yang menjalani kehidupan kan kita. Mereka cuma bisa komen tanpa tahu kehidupan seperti apa yang kita jalani. Kalau mereka capek juga tar berhenti sendirin nyinyirnya.”
“Iya juga sih.”
Keduanya kembali meneruskan acara makan mereka. Sesekali Fajar melihat ke arah kekasihnya. Dia sungguh beruntung memiliki Dita yang tidak neko-neko pikirannya. Bisa bersikap dewasa juga dan enak dijadikan teman berbagi ketika Fajar memiliki banyak pikiran atau tekanan di tempat kerjaannya.
“Dit.. sebenarnya niat aku ngajak kamu ke sini, ada yang mau aku obrolin.”
“Soal apa, bang?”
“Soal pernikahan.”
Dita menghentikan makannya. Sontak dia langsung melihat pada kekasihnya ini. Sejak awal berhubungan, Fajar memang sudah bilang akan membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, namun dirinya tak menyangka kalau pria itu akan merealisasikannya secepat ini.
“Kalau kamu setuju, bulan depan aku akan datang dengan kedua orang tuaku melamar kamu. Dan akhir tahun ini kita menikah. Mungkin aku ngga bisa kasih pesta besar untukmu, tapi aku janji, setelah menikah, aku ngga akan buat hidupmu kekurangan.”
Untuk sejenak Dita masih terdiam. Selain terkejut, dia juga terharu mendengar ucapan kekasihnya. Jika kedua orang tuanya mendengar rencana Fajar melamarnya, sudah pasti mereka akan senang. Orang tua Dita memang menginginkan anak bungsunya itu segera menikah.
“Kok bengong? Itu kalau kamu setuju. Kalau ngga, ya ngga apa-apa. Kita akan tunda sampai kamu siap.”
“Aku setuju, kok. Abang bisa datang ke rumah bulan depan. Mama dan papa pasti senang.”
“Makasih ya, Dit.”
“Harusnya aku yang makasih. Abang udah sabar banget sama aku. Abang juga ngga menghakimi aku waktu aku bilang menyukai Adit. Terima kasih karena abang sudah mengobati lukaku.”
“Makasih juga karena kamu bisa bertahan dengan sikap kerasku. Kalau perempuan lain mungkin udah kabur.”
“Hahaha.. kan itu kelebihanku, tahan banting.”
“Barang pecah belah kali, tahan banting.”
Tawa terdengar dari keduanya. Bulan dan bintang di langit gelap menjadi saksi dua insan yang dimabuk asmara dan berniat mengakhirinya dalam ikatan suci pernikahan. Dalam hati masing-masing berdoa, semoga saja Tuhan memberikan kemudahan untuk mereka bersatu.
“Bang Doni gimana kabarnya?”
“Dia lagi sibuk.”
“Oh ya? Sibuk ngapain?”
“Sibuk nyari pasangan yang mau diajak ke resepsi besok, hahaha..”
“Ya ampun. Kalian lagian jahat banget. Pasti bang Doni pusing tujuh keliling tuh.”
“Biarin aja. Kali-kali tuh orang harus dikerjain. Gaya aja kaya playboy, nyari cewek yang mau diajak serius ngga bisa.”
“Bang Doninya kali yang ngga mau serius.”
Fajar hanya mengangkat bahunya saja. Doni adalah tipe orang yang santai dalam menghadapi hidup. Tidak terlalu ngoyo tapi bukan berarti tidak memikirkan masa depan. Hanya saja dia tidak terlalu mau pusing jika dihadapkan dengan masalah jodoh. Menurutnya jodoh akan datang di waktu dan orang yang tepat. Dia hanya perlu bersabar saja sampai saat itu tiba.
Merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi, dan mengingat hari sudah semakin malam, Fajar mengajar Dita untuk pulang. Mereka membawa kembali piring bekas mereka makan dan menyerahkan pada sang empu. Setelah membayar makanannya, Fajar segera menuju tunggangannya. Dita segera naik ke belakang Fajar. Tak lama berselang kendaraan roda dua tersebut segera meluncur.
🌸🌸🌸
**Belum bisa up banyak² ya.. Kondisi badan masih belum fit🤧
Episode ini harusnya nongol kemarin. Neneng entun kumat🤧
Minta doanya aja ya supaya aku cepat sehat, dan bisa beraktivitas seperti biasa, aamiin..
Buat yang sedang dalam keadaan tidak sehat, semoga cepat disembuhkan juga, aamiin**..
__ADS_1