Naik Ranjang

Naik Ranjang
Rujak Beubeuk


__ADS_3

Lima belas menit kemudian, dua anak buah Fajar datang dengan membawa dua orang tersangka. Kedua tangan mereka terborgol. Fajar memberi tanda pada anak buahnya untuk melepas borgol. Salah seorang maju lalu membuka borgol di tangan para tersangka. Mereka cukup bingung dibawa ke tempat latihan taekwondo, bukan ke kantor polisi.


Adrian berdiri seraya membunyikan tulang-tulang di tangannya. Kedua tersangka itu sedikit demi sedikit mulai mengerti, kenapa mereka dibawa ke sini. Refleks mereka berjalan mundur. Dita yang baru saja sampai cukup terkejut melihat ada dua orang polisi dan dua orang lain yang tengah berdiri berhadapan dengan Adrian.


Melihat gelagat Adrian, Doni ketar-ketir sendiri. Diam-diam pria itu mengambil ponselnya. sepertinya dia harus meminta Dewi datang. Takut-takut sahabatnya itu kehilangan kontrol. Dia mengirimkan pesan pada Dewi dan menjelaskan situasi yang terjadi di sini.


“Siapa kamu?” tanya salah satu pria tersebut.


“Adit. Kamu ingat dia? Kamu yang berusaha menusuknya bukan?” Adrian menujuk pria dengan rambut gondrong. Pria itu meneguk ludahnya kelat melihat kilatan menyeramkan di wajah Adrian.


“Ka.. kami hanya menjalankan perintah.”


“Siapa yang menyuruh kalian?”


“Kami tidak tahu. Dia hanya memberikan perintah lewat pesan WA dan nomornya sudah tidak aktif sekarang.”


Adrian yang sudah tak ingin berbasa-basi terus mendekati kedua orang tersebut. Walau tubuh kedua tersangka itu lebih besar dibanding Adrian, namun nyali mereka ciut juga melihat Adrian yang terus mengintimidasi mereka dengan ucapan dan juga pandangannya.


“Ayo kita bertarung. Kalau kalian menang, kalian boleh pergi.”


Kedua pria itu saling berpandangan. Mereka terlihat tertarik dengan tawaran Adrian. Keduanya langsung memasang kuda-kuda. Fajar dan yang lain menepi, memberikan ruang lebih untuk ketiga orang tersebut untuk bertarung.


Pria berambut gondrong menyerang lebih dulu. Dia melayangkan pukulan pada Adrian, namun dengan mudah pria itu mengelak dan memberikan pukulan balasan. Tubuh si gondrong jatuh ke lantai. Pria satu lagi yang berkepala botak ikutan menyerang, dia memajukan kakinya untuk menendang. Belum sempat kakinya sampai, Adrian menangkis dengan kakinya lalu melayangkan tendangan ke arah wajah. Si botak juga jatuh tersungkur.


Si gondrong dan si botak kembali bangun. Keduanya kembali bersiap untuk berhadapan dengan Adrian. Kakak dari Aditya itu nampak santai menunggu serangan dari dua orang penjahat yang berusaha melenyapkan adiknya. Sambil berteriak keras, keduanya maju bersamaan. Tubuh Adrian meliuk menghindari serangan keduanya sambil memberikan pukulan balik. Kembali tendangan Adrian mendarat di wajah dan perut dua orang tersebut.


Fajar melihat arloji di tangannya. Lima menit baru saja berlalu, yang artinya Adrian masih memiliki waktu lima menit lagi. Pria itu masih terlihat santai saja menghadapi kedua tersangka yang ditangkap anak buahnya.


“Lima menit lagi, Ad!” teriak Fajar.


Mendengar teriakan Fajar, Adrian merasa waktunya sudah tidak banyak lagi. Kini dia tidak menunggu kedua orang tersebut memulai serangannya, pria itu memilih menjemput bola. Adrian merangsek mendekati si gondrong dan si botak yang baru saja bangun dari posisinya. Dan sebuah tendangan kembali diterima oleh keduanya. Berturut-turut Adrian melayangkan pukulan dan tendangan pada keduanya.


Tubuh si gondrong dan si botak sudah terlempar ke sana ke sini. Belum sempat keduanya menarik nafas, pukulan dan tendangan Adrian kembali menerpanya. Doni semakin terlihat panik melihat Adrian yang sudah mulai kehilangan kontrolnya. Dia memaksa Fajar untuk menghentikan sahabatnya itu.


🌸🌸🌸


Setelah Sheila dan yang lainnya pamit pulang, Roxas mengajak Dewi untuk berbicara. Dia ingin membicarakan soal kedai kopi yang dirintis bersama dengan Aditya. Rencananya kedai kopi tersebut ingin dijadikan kejutan sebagai hadiah ulang tahun Dewi. Tapi rencana hanyalah tinggal rencana.


Bersama dengan Pipit, ketiganya duduk di ruang tengah. Ida datang bergabung, dia juga ingin mendengar apa yang hendak dikatakan adik iparnya itu. wanita tersebut duduk di samping Dewi seraya mengambil sang cucu dari pangkuan ibunya.


“Wi.. sebenarnya aku sama Adit lagi ngerintis usaha bareng. Kita udah sepakat mau buat kedai kopi. Persiapannya juga udah matang, cuma tinggal grand opening aja. Kalau ngga ada halangan akhir bulan ini kita buka.”


Dewi cukup terkejut mendengarnya. Aditya sama sekali tidak pernah membicarakan hal ini dengannya. Roxas tidak terkejut melihat ketidaktahuan Dewi. Mendiang sahabatnya itu memang masih merahasiakan hal tersebut dari sang istri.


“Kok mas Adit ngga pernah bilang?”


“Dia mau bikin kejutan buatmu. Kamu pasti tahu, kalau ngga selamanya kita bisa menggantungkan hidup dari The Soul, makanya aku sama dia sepakat mau buka usaha bersama. Modal kita keluarin 50:50, rencananya nanti yang kelola café, Pipit.”

__ADS_1


“Tante udah ngga kerja lagi di hotel?” tanya Dewi seraya melihat pada sang tante.


“Ngga, Wi. Sebulan yang lalu aku udah ngajuin resign. Kemarin hari terakhirku kerja, dan sekarang aku udah resmi jadi pengangguran, hehehe..”


“Kalau dipikir-pikir, Adit sudah menyiapkan segalanya untuk kamu dan Arkhan. Entahlah, dia kaya tau kalau umurnya ngga akan panjang,” gumam Roxas.


Mata Dewi berkaca-kaca mendengar penuturan Roxas. Tanpa sepengetahuannya sang suami sudah menyiapkan semuanya untuk dirinya juga Arkhan. Andai dia tahu kalau waktunya bersama Aditya tidak akan lama, maka dia akan menghabiskan waktu berdua lebih lama dengannya.


“Mas Adit,” gumam Dewi pelan.


Wanita itu tak bisa menahan airmatanya lagi. Dia menangis mengingat sosok suaminya yang hampir sebulan pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Ida merangkul menantunya ini. Mencoba memberikan kekuatan padanya.


Di tengah keharuan terdengar dentingan ponsel Dewi. Wanita itu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Sebuah pesan dari Doni masuk. Mata Dewi membulat saat membaca pesan dari sahabat Adrian. Dia melihat pada Ida, Roxas dan Pipit dengan wajah paniknya.


“Ma.. a.. aku bo.. boleh keluar sebentar?”


“Kamu mau kemana? Kamu kenapa panik gitu?”


Alih-alih menjawab pertanyaan mertuanya, Dewi memberikan ponselnya pada Ida. Wajah Ida juga menegang membaca pesan dari Doni. Dengan cepat wanita itu menganggukkan kepalanya.


“Ada apa?” tanya Roxas penasaran.


“Xas.. kamu antar Dewi ke dojang. Ad ada di sana, dia lagi menghajar dua orang yang mau mencelakai Adit. Mba takut dia kehilangan kendali.”


Roxas terkejut mendengarnya, dengan cepat dia berdiri. Dewi juga langsung berdiri. Setelah berpamitan dengan Ida, wanita itu bergegas menyusul Roxas yang sudah keluar lebih dulu. Roxas langsung memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dia tak mau kalau terjadi sesuatu yang buruk yang bisa membuat Adrian berada dalam masalah.


🌸🌸🌸


Pria itu langsung menuju Adrian, untuk menghentikan amukan sahabatnya. Fajar menyentuh bahu Adrian, namun justru pria itu mendapat bogeman dari sang sahabat. Doni yang melihat itu segera mendekati Adrian. Ini yang ditakutkan sejak awal kedatangan si gondrong dan si botak.


“Ad! Udah!”


Doni menghalangi Adrian yang masih ingin menghajar kedua preman yang sudah tak berdaya itu. Melihat Doni menghalanginya, Adrian malah melayangkan pukulannya. Perkelahian dua sabeum itu tak bisa terelakkan lagi. Beberapa kali Doni masih bisa mengimbangi Adrian, namun pria itu harus jatuh tersungkur ketika tendangan keras mengenai kepalanya. Doni berusaha bangun sambil menggelengkan kepalanya yang terasa pusing.


Terdengar teriakan Dita melihat Doni yang jatuh terjerembab. Melihat Adrian yang semakin kehilangan kendali, Fajar terus berusaha menenangkan, begitu pula dengan kedua anak buahnya. Ketiganya kini harus berhadapan dengan Adrian yang tengah kalap. Pria itu menghalangi dua anak buah Fajar yang berusaha membawa pergi dua pria tersebut.


Dua tendangan beruntun mengenai anak buah Fajar. Wajah si gondrong dan si botak pucat melihat Adrian yang sudah seperti kerasukan setan. Kembali keduanya mendapatkan pukulan di wajahnya.


Si hejo berhenti di depan dojang. Dewi buru-buru melepaskan helmnya lalu masuk ke dalam tempat latihan taekwondo tersebut. Dia terkejut melihat Adrian yang tengah memukuli dua orang yang tak dikenalinya.


“Abang!!” teriak Dewi kencang.


Telinga Adrian seakan tuli, hingga tak mendengar teriakan kencang Dewi. Melihat itu, Dewi langsung berlari menuju Adrian lalu berdiri menghalangi dua orang pria yang sudah tak berdaya lagi.


“Dewi!!!”


Teriak Roxas, Dita dan Doni bersamaan saat melihat tangan Adrian yang terangkat dan dalam posisi siap untuk memukul. Tangan Adrian tertahan di udara begitu dirinya sadar kalau saat ini yang berdiri di hadapannya adalah Dewi, adik iparnya dan juga wanita yang begitu dicintainya.

__ADS_1


“Dewi..” panggil Adrian pelan. Tangan pria itu terkulai begitu saja.


“Abang udah janji mau jaga aku dan Arkhan. Kalau terjadi sesuatu sama mereka, abang bisa di penjara. Lalu bagaimana denganku dengan Arkhan? Arkhan hanya tinggal punya ayah, kalau abang masuk penjara, bagaimana dengan Arkhan? Bagaimana dengan aku?"


Tangis Dewi pecah setelah mengatakan semuanya. Adrian jatuh dengan posisi berlutut di hadapan Dewi. Kepala pria itu menunduk, buliran keringat yang membasahi keningnya, menitik jatuh ke lantai.


“Maaf..” ujar Adrian pelan.


Semua yang berada di dalam ruangan bisa bernafas lega melihat Adrian yang sudah tenang. Fajar segera memerintahkan anak buahnya untuk membawa pergi dua tersangka, dan menyuruh mereka membawanya ke rumah sakit lebih dulu untuk diobati luka-lukanya.


Fajar mendekat lalu membantu sahabatnya untuk berdiri. Doni mengambilkan sebotol minuman dingin untuk Adrian. Pria itu meneguk minuman untuk membasahi kerongkongannya lalu menyeka keningnya yang basah oleh keringat. Dia duduk sambil menekuk lutut dan kedua tangan berada di atasnya. Kepalanya masih menunduk, berusaha menetralkan nafasnya yang masih terengah.


“Dit.. kamu bawa barang titipan Adit?” tanya Fajar.


“Bawa.”


Dengan cepat Dita membuka tasnya lalu mengambil usb yang dititipkan Aditya padanya. Adrian yang sudah tersadar akan tujuannya datang ke dojang, bangun dari posisinya. Melihat usb yang diberikan oleh Dita, pria itu bergegas keluar dari dojang untuk mengambil laptop yang ada di mobilnya. Tak lama pria itu kembali. Dia segera menyalakan laptop, dikelilingi oleh semua orang yang juga penasaran dengan isi usb tersebut.


Adrian memasangkan usb ke laptop. Hanya ada satu file yang terdapat di sana. Namun ketika Adrian mencoba membuka file tersebut, ternyata Aditya memproteksinya dengan kata sandi. Adrian mencoba memasukkan kata sandi yang terpikir olehnya, namun gagal.


Dewi dan Roxas memberikan saran kata sandi apa yang kira-kira dimasukkan Aditya untuk mencegah orang lain membuka file tersebut. Adrian terdiam sebentar, kemudian dia memasukkan tanggal lahir Arkhan sebagai sandinya dan ternyata berhasil. Jarinya segera mengklik file video yang ada di sana.


Gambar memperlihatkan pemandangan jalanan kota Bandung. Kemudian bergerak mengarah ke arah rooftop hotel Amarta yang cukup gelap. Nampak pintu rooftop terbuka, lalu Amanda berjalan menuju rooftop. Kepala wanita itu melihat ke atas dan wajahnya terekam dengan jelas.


Tiba-tiba tubuh wanita itu ambruk ketika sebuah benda tumpul mengenai belakang kepalanya. Lalu orang yang memukul Amanda menyeret tubuh wanita itu menuju pembatas rooftop. Dengan susah payah dia menegakkan tubuh Amanda lalu melemparkannya ke bawah.


Dewi dan Dita menjerit tertahan ketika melihat tubuh Amanda meluncur jatuh ke bawah. Sang pembunuh terdiam sebentar kemudian menengadahkan kepalanya, melihat pada drone yang tengah melintas. Wajahnya terlihat dengan jelas. Kemudian dia bergegas meninggalkan rooftop.


Tak ada yang mampu berkomentar melihat tayangan yang berdurasi kurang dari sepuluh menit tersebut. Semua nampak shock begitu mengetahui siapa pelaku pembunuhan tersebut. Tangan Adrian nampak mengepal kencang, rahangnya mengeras. Dibanding rasa terkejut, kemarahan dan kebencian lebih menguasai hatinya saat ini.


“Ad..” panggil Fajar.


“Pastiin lo tangkep dia dan buat dia terima hukuman yang setimpal. Atau gue sendiri yang akan kirim dia ke neraka,” ujar Adrian dengan wajah memerah.


Tangis Dewi pecah setelah mengetahui kalau sang pelaku adalah orang yang dikenal oleh dirinya dan juga orang-orang di sekelilingnya, termasuk Aditya. Dia sungguh berharap keadilan bisa ditegakkan dan kematian suaminya tidak sia-sia.


🌸🌸🌸


**Jadi siapa sih pembunuhnya???


Penasaran ya? Wani piro?🤣🤣🤣


Lunas ya janjiku mau double up. Dipikir² kalo aku libur suka ada yang nagih double up. Kalian ini readers apa rentenir😜🏃🏃🏃🏃


Yang nunggu part uwu Dewi sama Ad, sabar ya. Kita tangkep dulu pembunuh Aditya, biar part uwunya tenang tanpa gangguan🤣


POV Aditya :

__ADS_1


Terima kasih buat yang masih mengingatku. Aku titip Dewi ya sama kalian. Kawal terus Dewi sama bang Ad sampe halal. Jangan sampe ditikung Budi di sepertiga malam😎**


__ADS_2