Naik Ranjang

Naik Ranjang
Mimpi Terindah


__ADS_3

“Siapa kamu?”


Wanita yang usianya belum genap dua puluh tahun itu bangun dari posisinya kemudian turun dari ranjang. Pakaian yang dikenakannya bukan hanya memperlihatkan lekuk tubuhnya, tapi beberapa bagian tubuhnya juga tereskpos. Adrian membuang pandangannya ke arah lain. Sebagai pria normal, melihat wanita berpakaian seksi sedikit banyak akan memancing hasratnya sebagai lelaki.


Wanita muda itu menatap lurus pada Adrian. Kaki jenjangnya mulai mendekati pria tampan namun bersikap begitu dingin padanya. Dia berhenti tepat di depan Adrian. Tingginya yang hanya sebatas dagu, membuat Adrian bisa melihat belahan pakaiannya yang rendah jika menunduk.


“Ayo mas..”


“Siapa kamu?”


“Aku hadiah spesial dari Mr. Chan. Malam ini aku adalah milikmu,” wanita itu mengulurkan tangannya, hendak meraba rahang Adrian, namun langsung ditepis kasar oleh pria itu.


“Saya beri waktu lima menit untuk kamu meninggalkan kamar ini.”


“Tapi mas..”


“KELUAR!!”


Wanita itu terkejut mendengar teriakan Adrian disertai ekspresi kemarahan di wajahnya. Tak ingin berlama-lama di dalam kamar, Adrian segera keluar seraya membanting pintu. Hatinya sungguh kesal, tak menyangka hadiah istimewa yang disebutkan Vivian tadi ternyata seorang wanita penghibur. Pria itu memilih turun ke lobi, menunggu sampai wanita tadi keluar dari kamarnya.


Kepalanya menoleh ketika pintu kamar Rudi dan Ikmal terbuka bersamaan. Sama seperti Adrian, kedua pria itu juga kebingungan melihat ada wanita di kamar hotelnya. Adrian mengajak mereka ke lobi, sambil dirinya mencoba menghubungi Vivian. Sesampainya di lantai dasar, sekretaris Mr. Chan itu baru menjawab panggilannya.


“Halo..”


“Vian.. siapa perempuan yang ada di kamar kami?” tanya Adrian tanpa basa-basi.


“Oh.. kalian sudah bertemu? Itu adalah hadiah spesial dari Mr. Chan untuk menghangatkan malam kalian.”


“Katakan pada Mr. Chan, kami tdak membutuhkan hadiah seperti itu.”


“Come on, Adrian. Itu adalah hal lumrah, anggap saja itu hospitality dari kami.”


“Kami tidak butuh itu semua. Silahkan ambil kembali hadiahnya atau kami akan meninggalkan Singapura malam ini juga. Dan jangan harap kami akan bekerja sama lagi dengan Mr. Chan.”


Adrian langsung mengakhiri panggilannya tanpa menunggu Vivian membalas ucapannya. Pria itu lalu bergabung dengan Rudi dan Ikmal. Dengan kesal dia menghempaskan tubuh ke sofa. Tubuhnya sudah letih dan ingin segera beristirahat, tapi justru ada hal yang membuat emosinya meledak.


“Apa kata Vivian?” tanya Rudi. Dia juga kesal, karena saat masuk kamar, pria itu tengah menghubungi istrinya.


“Aku minta dia menarik kembali hadiahnya.”


“Gila.. aku pikir hadiahnya apaan, taunya cewek bayaran. Kalau model aku ama Ad yang masih single, masih bisa dimaklumi. Tapi kaya mas Rudi sama mas Jaya yang udah gandengan, bahaya,” cerocos. Jantung Ikmal masih belum normal detaknya setelah tadi bertemu dengan perempuan super seksi dengan pakaian kekurangan bahan.


“Eh.. mas Jaya mana?” sambungnya lagi setelah tak melihat keberadaan Jaya di tengah-tengah mereka.


Sontak ketiganya saling berpandangan, pikiran mereka sudah traveling kemana-mana. Pasalnya Jaya sedang mengalami masalah di rumah tangganya, bukan tidak mungkin pria itu melampiaskan hasratnya pada wanita bayaran itu.


Sementara itu, Jaya ternyata belum masuk ke kamarnya. Pria itu masih berada di area kolam renang, tengah bersitegang dengan seseorang lewat ponselnya. Dengan kesal dia memutuskan panggilan, kemudian bergegas kembali ke kamarnya. Jaya terkejut ketika mendapati seorang wanita muda mengenakan lingeri berbahan tipis tengah berbaring di atas ranjangnya.


“Siapa kamu?”


“Aku…. Hadiah untukmu malam ini.”


Jaya menelan ludahnya kelat melihat penampilan seksi wanita muda itu. Tubuhnya langsing dengan kulit putih mulus. Rambutnya bergelombang dengan warna blonde, dan kaki jenjangnya terlihat begitu seksi. Melihat Jaya yang hanya bergeming di tempatnya, wanita itu berinisiatif untuk mendekat.


Jantung Jaya berdegup dengan cepat begitu wanita itu berada di depannya. Tanpa mengatakan apapun dia langsung mendaratkan ciuman di bibir Jaya. Awalnya Jaya tak membalas ciumannya, namun karena wanita itu begitu pandai memainkan bibirnya, Jaya ikut terbawa suasana.


Decapan demi decapan langsung terdengar memenuhi seisi kamar. Jaya yang sudah terpancing, meremat bokong wanita itu dengan kencang. Tanpa melepaskan pagutannya, mereka berjalan menuju ranjang. Dengan gerakan pelan, Jaya mendorong tubuh sang wanita hingga jatuh ke ranjang, kemudian dengan cepat dia memposisikan diri di atasnya. Keduanya kembali melanjutkan ciuman yang sempat tertunda.


Ketika Jaya sedang menurunkan tali lingerie wanita di bawahnya, tiba-tiba saja bayangan wajah sang istri berkelebat di depan matanya. Dengan cepat pria itu bangun seraya mengucapkan istighfar.


“Kenapa mas?”


“Tolong kamu keluar.”


“Tapi mas..”


“KELUAR!!!”


Mendengar teriakan Jaya, nyali wanita itu ciut juga. Bergegas dia mengenakan outer lalu keluar dari kamar Jaya. Sepeninggal wanita itu, Jaya menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Hampir saja dirinya terbawa n*fsu, meniduri wanita yang bukan istrinya. setelah berdiam diri beberapa saat, dia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Di lobi, Adrian, Rudi dan Ikmal masih duduk menunggu. Mereka masih enggan masuk ke kamar, takut kalau para wanita penghibur itu masih berada di kamar. Tak berapa lama, tiga wanita seksi berturut-turut melintas di dekat mereka. Sepertinya Vivian sudah menarik mereka semua. Melihat situasi sudah aman, Adrian dan yang lain memutuskan kembali ke kamar. Saat keluar dari lift, mereka melihat seorang wanita keluar dari kamar Jaya. Penampilan wanita itu sedikit acak-acakkan. Namun tak ada satu pun dari mereka yang berkomentar. Memendam sendiri praduga mereka.

__ADS_1


🌸🌸🌸


“Saya terima nikah dan kawinnya Dewi Mantili binti Herman Suherman, dengan mas kawin satu set perhiasan dibayar tunai!”


“Bagaimana para saksi, sah?”


“SAH!!”


Pasangan pengantin nampak bahagia ketika mendengar kata sah dari para saksi dan juga penghulu. Adrian memakaikan cincin nikah ke jari Dewi, begitu pula sebaliknya. Usai melakukan ijab kabul, pasangan pengantin itu memisahan diri dari keluarga dan para tamu. Mereka memilih menyepi di balkon kamar pengantin. Adrian memeluk mesra pinggang Dewi dari belakang.


“Kamu mau bulan madu kemana?” tanya Adrian seraya mencium pipi gadis yang sudah sah menjadi istrinya.


“Ke pulau Umang aja,” jawab Dewi seraya menyandarkan kepalanya ke dada Adrian.


“Besok kita berangkat ke pulau Umang.”


Adrian melepaskan pelukannya, lalu membalikkan tubuh Dewi hingga keduanya berhadapan. Kemudian sebelah tangannya merangkum wajah sang istri. Perlahan dia mendekatkan wajah lalu mengecup lembut bibir Dewi. Melihat Dewi yang memejamkan mata, Adrian melanjutkan ciumannya. Bibirnya mulai memagut bibir atas dan bawah Dewi bergantian.


“Allahu akbar… Allahu akbar…"


Adrian terbangun ketika suara adzan bergema dari ponselnya. Untuk sesaat pria itu masih berbaring, mencoba mengumpulkan nyawanya dan mengingat potongan mimpi indah yang dialaminya.


“Astagfirullahaladziim..”


Adrian mengusap wajahnya dengan kasar. Gara-gara bertemu dengan wanita penghibur, dirinya susah tidur. Semalaman dia memandangi foto-foto Dewi yang ada di ponselnya demi mengusir rindu yang mendera. Akibatnya pria itu sampai bermimpi menikahi Dewi. Spontan tangannya bergerak memegang bibirnya yang baru saja mencium Dewi dalam mimpinya. Dan mimpi itu terasa begitu nyata, sampai hatinya begitu bahagia.


Pria itu segera menyadarkan diri. Dengan cepat dia bangun dari tidurnya kemudian bergegas menuju kamar mandi. Setelah menggosok gigi, membasuh muka dan berwudhu, dia keluar dari sana dan mulai menunaikan ibadah shalat shubuh. Hari ini, dia akan kembali ke kota Bandung menggunakan penerbangan siang.


🌸🌸🌸


Restoran di resor mewah tempat mereka menginap sudah didatangi para tamu untuk menikmati sarapan. Adrian yang paling terakhir keluar kamar, segera menuju restoran. Dia langsung mengambil sarapan sebelum bergabung dengan tiga rekannya yang sudah lebih dulu datang.


“Semalem ya, beneran pengalaman mendebarkan. Kalau ngga ingat iman, udah kuterkam aja tuh cewek,” Ikmal terkekeh.


“Untung semalem cuma telepon, bukan video call. Gawat kalau video call, disangkanya beneran aku booking cewek,” timpal Rudi.


“Tadi Vivian ke sini minta maaf. Dia mau ketemu kamu tadi, Ad. Tapi kubilang kamu masih di kamar. Dia ngga berani datang ke kamar kamu,” sambung Rudi.


Ikmal tak bisa menahan tawa. Pasalnya dia dan Rudi langsung kabur begitu melihat cewek seksi tersebut. Tak ada acara bentak membentak apalagi mengusir.


“Kebayang ngga mukanya si Ad pas nyuruh tuh cewek pergi, hahaha..” Rudi ikut menimpali.


Di antara yang lain, hanya Jaya yang tidak berkomentar apapun. Hampir saja semalam dirinya khilaf. Beruntung dia masih diberi kesadaran, jadi bisa terhindar dari perbuatan asusila. Walau dia sempat menyicipinya sedikit.


“Rencana pagi ini pada mau kemana?” tanya Ikmal.


“Apalagi, yang jelas berburu oleh-oleh,” jawab Rudi.


“Mba Utari nitip apa mas?”


“Buanyak banget. Listnya udah dikirim semalem via wa.”


“Hahaha…”


“Pada mau belanja di mana?” tanya Adrian.


“Rekomendasi sih ke Mustafa Center, Bugis Street sama Lucky Plaza yang harganya lumayan terjangkau,” jelas Ikmal.


“Kita keliling ajalah. Tadi Vivian bilang penerbangannya diganti jadi sore. Jadi kita punya waktu lebih banyak buat belanja.”


“Ok.. deh.”


"Oleh-oleh pesanan dari Batam belum sampe?" tanya Adrian lagi.


"Jam 10 katanya. Aku suruh titip di resepsionis aja," jawab Rudi seraya menyeruput kopinya.


Keempatnya kembali melanjutkan sarapannya, sambil terus berbincang. Rudi menjelaskan melalui Vivian, Mr. Chan meminta maaf atas kelancangannya kemarin, menyediakan wanita penghibur untuk Adrian dan tim.


Usai sarapan, mereka langsung pergi berburu oleh-oleh. Ikmal pergi bersama Rudi, mereka akan mengunjungi Bugis Street lebih dulu. Sedang Adrian dan Jaya akan menuju Mustafa Center. Mereka berangkat menggunakan transportasi umum. Ingin merasakan sensasi transportasi umum di Singapura. Rudi dan Ikmal memilih naik MRT, sedang Adrian dan Jaya memilih naik cable car.


Adrian dan Jaya berkeliling di Mustafa Center, mencari barang yang bagus untuk dijadikan oleh-oleh. Agenda Adrian adalah membelikan oleh-oleh untuk kedua orang tuanya, Aditya, Dewi serta ibunya, dan tak lupa untuk Roxas. Bahkan pria itu juga berniat membelikan oleh-oleh untuk enin.

__ADS_1


Usai berburu oleh-oleh, kedua pria itu mengistirahatkan diri untuk mengisi perut mereka. Adrian melirik pada kantung belanjaan milik Jaya yang tidak terlalu banyak. Pria itu juga terlihat tidak begitu antusias dengan perburuan oleh-oleh ini. Dia hanya membeli sedikit barang untuk keluarganya.


“Mas.. semalam kita cari-cari mas Jaya.”


Adrian membuka percakapan di sela-sela acara makan mereka. Dia penasaran karena tak melihat Jaya di manapun. Apalagi ketika kembali ke kamar, dia melihat seorang wanita keluar dalam keadaan acak-acakkan.


“Semalam aku nongkrong di kolam renang. Begitu balik ke kamar, tau-tau udah ada cewek di sana.”


“Hadiah dari Mr. Chan.”


Jaya hanya menganggukkan kepalanya. Diambilnya sebatang rokok kemudian membakarnya. Mengingat kejadian semalam, membuat Jaya tak enak hati. Pria itu menghisap rokoknya dalam-dalam.


“Semalam, hampir saja aku khilaf, Ad. Pikiranku kacau, Mini belum kembali juga ke rumah. Begitu lihat cewek seksi, jujur aku sempat h*rny juga. Kita sempat bercumbu sebentar. Tapi untung aku keburu sadar.”


“Godaan, mas. Apalagi mas lagi ada masalah juga. Soal mba Mini, apa belum ada kabar dia di mana?”


“Belum, Ad. Pusing aku udah cari kemana-mana. Semalam aku sampai ribut sama adikku, karena dia terus aja mojokin istriku.”


“Udah cari ke rumah orang tuanya?”


“Sudah. Tapi dia ngga ada, atau mereka sengaja menyembunyikannya. Ngga taulah, Ad. Aku pusing.”


“Beri mba Mini sedikit waktu lagi, mas. Mungkin dia lagi menenangkan diri.”


“Iya.”


Kebisuan kembali melanda keduanya. Adrian menyesap kopi hitam yang dipesannya, sedang Jaya menghabiskan rokoknya. Pria itu kemudian melihat pada Adrian.


“Kamu sendiri gimana?”


“Apanya mas?”


“Cewek kamu.”


“Cewek yang mana?”


“Jangan pura-pura, Ad. Aku tahu kamu kemarin mendadak pulang ke Bandung, pasti karena cewek kamu, kan?”


“Bukan cewekku, mas.”


“Calon istri,” ralat Jaya.


“Belum juga. Aku belum ngomong apa-apa sama dia.”


“Kalau ada perasaan, diungkapkan, Ad. Cewek itu bukan hanya butuh action, tapi juga pengakuan. Mereka ingin kejelasan secara verbal dari kita. Cepetan ngomong sebelum disambar orang.”


“Dia masih muda, mas. Masih labil, aku takut perasaannya padaku hanya perasaan sesaat saja.”


“Kalau begitu yakinkan dia kalau kamu serius. Lagi pula, kedewasaan seseorang tidak bisa diukur dari umur. Ngga semua anak ABG itu labil. Yang tua kadang banyak yang lebih labil, kaya aku, hahaha…”


Adrian ikut tertawa mendengar ucapan Jaya. Dua minggu lebih bersama pria itu, baru kali ini dia melihat Jaya tertawa. Adrian segera menghabiskan minumannya, kemudian mengajak Jaya kembali ke resor. Mereka harus bersiap ke bandara.


🌸🌸🌸


Sudah sejak dua jam lalu, Adrian tiba di rumahnya. Pria itu tengah bermalasan di atas kasur, membaringkan tubuhnya yang terasa penat. Sebagus dan semewahnya kamar hotel, tak ada yang lebih nyaman dibanding kamarnya sendiri.


Adrian bangun dari tidurnya kemudian membuka koper yang belum dibongkarnya. Dari dalam sana, dia mengeluarkan sebuah album foto. Sewaktu di Singapura, dia menyempatkan diri mencetak foto-foto kebersamaannya dengan Dewi. Baik saat bersama IPS 3 atau momen berdua saja.


Sejenak dipandangi foto-foto berdua dengan Dewi. Senyumnya tersungging seraya meraba wajah Dewi yang tengah tersenyum. Pria itu mengambil satu buah foto yang lebih kecil ukurannya, kemudian memasangnya di dompet. Foto dirinya bersama Dewi saat berada di skybridge Halimun.


Dia membuka laci meja kerjanya, lalu meletakkan album foto di sana. Tangannya kemudian meraih kotak beluduru yang tersimpan di dalam laci. Adrian membuka kotak tersebut. Sebuah cincin dilapisi emas putih langsung terlihat ketika penutup kotak dibuka. Cincin yang dibelinya sewaktu di Singapura. Rencananya cincin tersebut akan diberikan pada Dewi saat dia menyatakan perasaannya.


Aku harap kamu mau menerima cincin ini. Walau mungkin aku harus menunggu sampai kamu menyelesaikan kuliah, kuharap diriku menjadi pilihan hatimu menghabiskan waktu bersama. Membentuk keluarga kecil yang bahagia. Aku sungguh berharap Tuhan menjadikanmu jodohku, aamiin.


🌸🌸🌸


Diaminin ngga nih doanya?


Terus Aditya gimana?


Detik² pertemuan mereka bertiga semakin dekat, kalian siap ngga? Mamake juga masih menyiapkan hati🤣

__ADS_1


__ADS_2