Naik Ranjang

Naik Ranjang
Karma Dibayar Tunai


__ADS_3

Inge turun dari kendaraan miliknya setelah memarkirkan di pelataran kampusnya. Setelah mengunci mobil, dengan santai dia melenggang memasuki gedung fakultasnya. Beberapa mahasiswa yang dilintasinya nampak berbisik-bisik seperti membicarakan dirinya. Namun wanita itu nampak tak acuh dan terus berjalan.


Sesampainya di kelas, semua mata yang ada di sana langsung tertuju padanya. Sandra yang sudah datang lebih dulu segera menghampiri teman sekelasnya itu. Dia menarik kursi di bangku depan meja Inge. Matanya menatap tajam pada wanita itu.


“Kenapa lo?” tanya Inge yang menyadari tatapan Sandra padanya.


“Harusnya gue yang tanya kenapa elo tega nyebarin gossip soal Dewi?”


“Cih.. kemarin Budi sekarang elo. Penting banget ya si Dewi Dewi itu buat kalian. Sampai kalian ribut kaya gini.”


Inge melipat kedua tangannya di depan dada seraya melemparkan pandangan mengejek. Perdebatan kedua wanita cantik itu sontak menarik perhatian semua yang ada di kelas. Mereka menunggu adegan apa yang disuguhkan mereka berdua.


“Gue ngga nyangka ya, Nge. Hati lo busuk kaya gitu. Ngapain lo sebarin gossip ngga benar soal Dewi? Punya masalah apa lo sama Dewi sampe lo fitnah dia kaya gitu.”


“Fitnah? Itu kenyataan keles.”


“Kenyataan bagian mananya? Lo kalau ngga tahu masalah sebenarnya jangan asal nebak. Tiga antek-antek lo aja kemarin udah dibikin nangis bombay dilaporin ke polisi. Tunggu aja giliran elo.”


“Mau laporin gue apa? Emang ada bukti kalau gue yang sebar tuh gossip? Yang ribut sama Dewi kan mereka, bukan gue.”


“Tapi sumbernya dari elo. Mereka emang ngga punya bukti, tapi kesaksian mereka udah cukup buat lo di penjara.”


“Helow.. emang semudah itu masukin orang ke penjara? Kasihan gue sama pak Rian, gara-gara istrinya, namanya jadi ternoda.”


“Lo tuh bener-bener cewek ngga ngotak. Lo sebenarnya naksir pak Rian kan makanya lo sebarin fitnah kaya gini karena ngga suka sama Dewi. Ngaca lo sana, mana mau pak Rian sama cewek berhati busuk kaya lo.”


“Anj*ng lo ya, ngatain gue!!”


BRAK!


Dengan kesal Inge menggebrak mejanya. Sandra masih terlihat santai, tidak seperti Inge yang sudah terbakar emosi. Teman-teman sekelas mereka dibuat terkejut mendengar Inger yang mengucapkan kata kasar. Diam-diam Sandra tersenyum sudah berhasil membuat kedok Inge terbongkar. Wanita yang biasa terlihat lemah lembut ternyata kasar dan berperilaku buruk.


PLAK!!


Belum hilang rasa terkejut semua orang dengan gebrakan meja yang dilakukan Inge. Kini mereka dikejutkan dengan suara tamparan keras yang mendarat di pipi Inge. Sandra yang berada di depan wanita itu sampai melongo ketika tiba-tiba seorang wanita mendekat lalu menampar Inge dengan sangat keras. Sambil memegang pipinya yang ditampar keras, Inge melihat pada sang pelaku.


“Ibu siapa? Datang-datang langsung nampar orang!” berang Inge.


“Dasar perempuan murahan. Jadi selama ini kamu yang jadi selingkuhan suami saya!!”


Sontak semua yang ada di sana terkejut mendengar penuturan wanita itu. Wajah Inge mendadak pucat. Setelah dilihat dengan seksama, wanita di depannya adalah istri dari pria yang menjadikannya sugar baby. Wanita itu mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan foto-foto kebersamaan Inge dengan suaminya. Tiga di antaranya yang di upload ke media sosial oleh Budi lewat bantuan teman kakak Micky.


“Oh jadi cewek ini beneran elo.”


Sandra menunjukkan foto yang beredar di media sosial. Mata Inge membulat melihat foto dirinya bersama Chandra, om-om yang menjadi sumber keuangannya. Suara desas-desus di kelas langsung terdengar. Istri dari Chandra tersebut tidak bisa menahan diri lagi, dia menjambak rambut Inge lalu menarik wanita itu keluar kelas.


“Aaaarggghhhh!! Sakit!!”


Tanpa mempedulikan teriakan Inge, wanita itu terus menarik rambut Inge sambil berjalan keluar kelas. Bertepatan dengan itu, seorang dosen masuk ke dalam kelas. Dia terkejut melihat apa yang terjadi pada salah satu mahasiswanya.


“Ada apa ini?”


“Ibu jangan ikut campur,” ujar istri Chandra.


“Maaf bu, jangan begini. Ibu melakukan ini di kampus dan di dalam kelas. Jelas ini menjadi tanggung jawab saya. Tolong lepaskan dulu dia.”


Dosen itu terus membujuk, sampai akhirnya jambakan di rambut Inge terlepas. Inge meraba kepalanya yang terasa sakit. Wanita itu hanya menundukkan kepalanya saat menyadari semua yang ada di dalam kelas melihat padanya.


“Ada apa ini, bu?”


“Saya hanya ingin membawa dia saja. Saya mau melaporkannya ke polisi karena sudah merusak rumah tangga saya.”


“Tante jangan salahin saya. Om Chandra sendiri yang mau sama saya.”


“Berarti kamu mengakui ada hubungan dengan suami saya.”


Inge langsung terdiam begitu tahu kalau sudah salah bicara. Sandra tersenyum melihat apa yang terjadi. Dia puas Inge mendapatkan balasan juga atas perbuatannya pada Dewi. Tapi dia merasa hukuman untuk Inge tidak berhenti sampai di situ.


“Bagaimana kalau dibicarakan baik-baik saja, bu. Mari kita ke ruangan dulu,” ajak sang dosen.


Wanita itu menganggukkan kepalanya. Dia mengikuti langkah dosen wanita itu keluar dari kelas. Tak lupa ditariknya tangan Inge agar mau ikut dengannya. Inge hanya bisa pasrah mengikuti kemana wanita itu membawanya.


Sepeninggal Inge dan yang lainnya, suasana kelas langsung riuh. Berbagai macam komentar keluar dari mulut mereka. Sandra duduk di kursinya dengan santai. Dia tidak mau ikut-ikutan bergibah. Yang penting tujuannya mempermalukan Inge sudah tercapai. Telinganya terus mendengar komentar miring teman-temannya akan Inge.


“Gila si Inge, ternyata simpanan om-om.”


“Cih.. cantik-cantik jadi pelakor.”

__ADS_1


“Dasar maling teriak maling. Dia sebarin fitnah Dewi cewek ngga bener, taunya dia sendiri yang ngga bener.”


“Senjata makan tuan itu namanya.”


“Karma dibayar tunai.”


“Kalau jadi pak Rian udah gue laporin tuh si Inge biar di penjara.”


“Tau si Inge cewek bispak, gue booking aja dulu. Sok-sok nolak gue, taunya demen ama yang kantong tebel.”


Cibiran dan hujatan tak berhenti untuk Inge. Popularitas wanita itu langsung runtuh seketika karena ulahnya sendiri. Sudah cukup lama istri Chandra curiga akan hubungan Inge dan suaminya, namun baru sekarang dia mendapatkan bukti konkret pesrelingkuhan mereka. Dan waktunya berbarengan dengan gossip yang dihembuskan Inge untuk Dewi.


🌸🌸🌸


“Wi.. lo udah tau kejadian yang nimpa Inge?” tanya Mila saat mereka semua tengah berkumpul di kantin.


“Kejadian apa?”


“Dia abis dilabrak sama istri om-om yang melihara dia.”


“Serius?” mata Dewi membulat mendengarnya.


“Iya. Nih Sandra saksi hidupnya.”


“Ada apaan sih?”


Roxas yang baru datang disusul Budi langsung mendudukkan diri bersama dengan yang lain. Melihat semua temannya sudah berkumpul, Sandra segera menceritakan kejadian di kelasnya tadi pagi. Dia memang sengaja menunggu semua sahabatnya berkumpul agar tidak mengulang-ngulang cerita.


“Si Inge bukannya cewek yang dibawa Budi pas resepsi kemarin?” tanya Roxas yang memang paling ketinggalan berita kekinian.


“Iya. Si buluk nih yang jadi biang keroknya,” cetus Micky.


“Kok gue?”


“Ya kan elo yang ngajak Inge ke resepsi Dewi sama pak Rian. Gara-gara itu kan dia nyebar fitnah soal Dewi. Karena ngga suka Dewi nikah sama pak Rian.”


“Udah-udah jangan nyalahin Budi. Bukan salah dia juga keles. Emang dasarnya si Inge busuk aja. Mau diajak atau ngga sama Budi, dia tetap bakalan fitnah Dewi kalau dasarnya dia demen sama pak Rian.”


“Widih bijak banget lo, Xas,” Bobi menepuk lengan Roxas.


Semua hanya tertawa mendengar jawaban Roxas. Tapi memang harus mereka akui sejak Roxas menikah dan sebentar lagi akan menyandang status sebagai ayah, sikap Roxas semakin bijak saja. Tak jarang mereka mendapatkan petuah yang bermanfaat dari pria itu, selain voucher minum kopi gratis di kedai kopinya.


“Om.. traktir gue makan dong,” celetuk Dewi.


“Ah elo minta traktir gue mulu. Emang kaga dikasih jajan ama laki lo.”


“Dikasih. Tapi ngga tau kenapa rasa makanan di kantin ini lebih enak kalau dibeliin sama elo, hehehe…”


“Heleh modus, bilang aja pengen yang gratisan. Mau pesen apa?”


“Ketoprak, cabenya lima. Minumnya jus buah naga.”


Mau tak mau Roxas bangun untuk memesan makanan yang diminta oleh Dewi. Dia memesan dua buah ketoprak, dan jus untuk dirinya dan juga Dewi. Setelahnya dia kembali ke tempatnya semula.


“Xas, bini lo repot ngga pas ngidam?” tanya Bobi penasaran.


“Ngga juga. Cuma dia empet banget lihat muka gue, bawaannya sewot mulu.”


“Bhuahahaha.. derita lo kalo itu sih.”


“Yakin tar anak lo mirip banget sama elo. Kata nyokap gue gitu, kalau ibu hamil sebel banget ama suaminya, muka anaknya bakal mirip sama suaminya.”


“Aamiin..” Roxas mengusap wajah dengan kedua tangannya.


Tak berapa lama pesanan semua datang. Ketoprak untuk Dewi dan Roxas, bakso untuk Sandra, Mila dan Sheila, mie goreng untuk Micky, soto ayam plus nasi dua piring untuk Bobi dan indomie rebus plus telor dan kornet untuk Budi. Sambil menyantap makanannya, mereka melanjutkan perbincangan.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Acara makan dan perbincangan mereka terinterupsi dengan kehadiran seorang gadis cantik mengenakan gamis dan hijab yang terulur sampai ke dada. Sendok di tangan Budi menggantung begitu saja melihat kecantikan gadis itu. Roxas yang mengenalinya segera mengajak gadis itu untuk duduk.


“Gaaeess kenalin ini Khayra, temen sekelas gue. Dia juga aktivis di yayasan yatim piatu dan kaum dhuafa. Dia yang bantu gue salurin zakat pendapatan di kedai kopi gue.”


Gadis bernama Khayra itu menyalami tangan Dewi, Mila, Sandra dan Sheila. Sedang pada Budi, Bobi dan Micky, dia hanya menangkupkan kedua tangannya saja. Gadis itu lalu mengambil duduk di samping Dewi.


“Xas.. kok ngga bilang punya temen cewek bening kaya gini,” seru Bobi.

__ADS_1


“Lo kaga pernah nanya,” jawab Roxas santai.


“Soal program Jumat berkah jadi ngga, kak?” tanya Khayra pada Roxas.


Walau mereka teman seangkatan, namun Khayra tahu kalau Roxas lebih tua darinya. Makanya dia selalu memanggil Roxas dengan embel-embel kakak di depan namanya, dan Roxas juga tidak keberatan dengan itu.


“Jadi, kok. Tiap Jum’at aku bakalan keluarin 25 kupon gratis buat minum dan makan di AdRox.”


“Alhamdulillah,” seru Khayra.


“Gue dapet ngga, Xas?” tanya Bobi.


“Bisa aja kalau lo mau. Asal lo mau disebut kaum dhuafa aja, hahaha..”


“Kampret.”


“Elah jangan gitu, Bob. Itu jatahnya kaum dhuafa, jangan malu-maluin bokap nyokap lo. Masa bisa kuliahin anaknya di sini tapi ngga bisa kasih jajan,” Budi terkekeh.


Khayra hanya tersenyum saja mendengar ucapan Budi. Mendapat senyum manis dari Khayra tentu saja membuat Budi melayang. Dia jadi lebih rajin mengeluarkan kalimat-kalimat bijak demi menarik perhatian Khayra. Siapa tahu saja ukhti cantik ini terpesona dengan kebijakannya.


Adrian yang sudah selesai mengajar memutuskan untuk menyusul sang istri yang sedang berada di kantin. Dia bermaksud mengajak Dewi untuk menemui Doni. Dia ingin membelikan ponsel baru untuk istrinya. Kemarin layar ponsel Dewi rusak karena Arkhan menjatuhkannya.


“Makan, pak,” tawar Bobi ketika melihat Adrian mendekati meja mereka.


“Silahkan,” Adrian menarik kursi di samping Dewi.


“Pak, dompet saya kempes nih dipalak Dewi terus,” adu Roxas.


“Kaga ikhlas lo jajanin gue?” Dewi mendelik pada sahabatnya.


“Buset biasa aja tuh mata, udah kaya Suzanna,” jawab Roxas sambil terkekeh.


"Pak udah dengar kasus soal Inge?" tanya Sandra penasaran.


"Sudah, sekarang lagi diproses sama pihak kampus. Kemungkinan dia akan mendapat sanksi akademik."


Adrian sengaja tidak menjelaskan sanksi apa yang akan didapat Inge. Selain masalah dengan istri Chandra, dia juga sedah mengajukan keluhan atas fitnah yang disebar Inge. Ada kemungkinan wanita itu akan di DO dari pihak kampus dan menyerahkan semuanya proses hukum yang berlaku.


“Udah selesai makannya?” tanya Adrian.


“Udah. Mau pulang sekarang?”


“Iya.”


“Gaaesss gue duluan ya. Om, makasih ya. Jangan kapok jajanin gue.”


Adrian hanya mengulum senyum saja melihat Roxas yang melihat sambil meledek istrinya. Pria itu berjalan lebih dulu meninggalkan kantin. Adrian memperlambat jalannya, menunggu Dewi sampai ke dekatnya baru mereka berjalan bersama. Dia sengaja menggandeng tangan Dewi saat melintasi beberapa mahasiswa yang tengah nongkrong.


“Tumben dipegangin,” ujar Dewi sambil tersenyum.


“Takut ada yang naksir kamu.”


“Ish.. siapa juga yang naksir cewek bulet kaya aku.”


Tak ayal sebuah senyum menghiasi bibir Dewi mengetahui suaminya bersikap posesif padanya. Adrian segera membukakan pintu untuk Dewi sebelum dirinya naik ke belakang kemudi.


“Kita mau langsung pulang?” tanya Dewi seraya menarik tali sabuk pengaman.


“Ngga. Kita ke counter Doni dulu.”


“Ngapain, a?”


“Beli hape baru. Hape kamu kan layarnya rusak sama Arkhan.”


“Kan bisa dibetulin.”


“Beli baru aja. Yang rusak simpan aja.”


“Oke, deh. Nurut aja sama suami tersayang.”


Tangan Adrian beregrak menyalakan mesin mobil. Kakinya segera menekan pedal gas, dan perlahan kendaraan roda empatnya mulai bergerak meninggalkan area kampus. Mereka segera menuju pusat perbelanjaan yang khusus menjual gadget dan peralatan eletronik.


🌸🌸🌸


**Jangan Dewi aja yang dibeliin hape baru, aku juga mau🤭


Buat yang kemarin ribut soal salah tulis Rakan, harap maklum aja ya namanya juga manusia tempatnya salah. Tapi kalau soal nilam bukan typo ya, nilam yg kumaksud itu nini lampir, julukan buat Inge😂**

__ADS_1


__ADS_2