
Aditya menghentikan motor di depan kontrakan miliknya. Dia turun dari kendaraan roda dua itu lalu berjalan menuju rumah Dewi dengan menenteng bungkusan di tangannya. Nenden yang tengah menjaga dagangannya melemparkan senyuman pada pemuda itu.
“Dewi ada bu?”
“Ada, tuh lagi nonton tv.”
Dari luar Aditya bisa melihat Dewi tengah duduk bersandar ke tembok sambil menonton televisi karena pintu dibiarkan terbuka. Aditya segera melangkah kakinya masuk ke dalam rumah. Sejenak dia memandangi wajah Dewi yang sedikit pucat. Dia merasa bersalah karena membuat sang pujaan hati kehujanan kemarin.
“De.. udah sarapan belum?”
“Belum.”
“Nih, aku beli bubur ayam. Kita sarapan bareng ya.”
Dewi bangun dari duduknya dan tak lama kemudian kembali dengan dua mangkok, sendok dan sebotol kecap. Dewi membuka kotak stereofoam lalu mengeluarkan bubur yang terbungkus kantong plastik, memindahkannya ke dalam mangkok. Setelah itu dia menambahkan toping yang dibungkus terpisah.
“Ini bubur mang Juhana ya?” tanya Dewi seraya menyuapkan bubur ke dalam mulutnya.
“Iya. Enak kan buburnya?”
“Enak.”
Keduanya menikmati bubur yang diberi suiran ayam, potongan cakue, kacang kedelai, bawang goreng dan seledri. Tak lupa Aditya juga membali sate telur puyuh dan ati ampela goreng sebagai tambahannya.
“De.. gimana? Kamu masih demam?” Aditya memegang kening Dewi.
“Udah baikan kok.”
“Kalau sakit ngga usah dipaksain ikut.”
“Ngga kok, udah baikan. Lagian aku kan udah nunggu-nunggu momen ini. Masa sih ngga jadi ikut. Ini kan acara kumpul terakhir kita. Setelah ini mereka pada mencar, ada yang kuliah, ada yang kerja. Dan ngga bisa ketemu setiap hari, bisa ketemu dan kumpul bareng setahun sekali juga udah untung.”
“Iya, sih. Aku cemas aja kamu malah sakit di sana.”
“Aku udah baikan kok. Tenang aja.”
“Habis makan, minum obat terus istirahat lagi. Berangkatnya siang kan?”
“Iya.”
“Di sana pasti dingin. Jangan lupa bawa kaos kaki, sweater atau jaket. Kalau kamu kedinginan, jangan langsung pake jaket, tapi pakai pakaian berlapis. Kaos dalam, kaos tangan pendek, lapis lagi pake kemeja atau kaos tangan panjang. Kalau masih dingin baru pakai sweater atau jaket. Kaki jangan lupa pake kaos kaki.”
“Iya, ya ampun kamu cerewet amat kaya ibu,” Dewi terkikik.
Tangan Aditya bergerak mengusap puncak kepala Dewi. Gadis tercinta akan berlibur di daerah dingin dalam keadaan fit, tentu saja dia sedikit cemas. Maunya ingin Dewi membatalkan acaranya, tapi dia juga tidak bisa memaksa karena ini adalah momen terakhir dengan teman sekelasnya.
“Jaket kamu masih basah?”
“Iya kayanya.”
“Ada jaket lain ngga? Atau pakai jaketku aja ya.”
“Ngga usah. Ada sweater kok.”
“Beneran ngga mau pakai jaketku?”
“Kalau aku pakai jaket kamu terus kamu pakai apa? Kan jaket kamu yang satu masih basah juga. Aku ngga apa-apa kok. Lagian aku masih simpen jaket punya temanku, bisa kupakai lagi kalau kepepet.”
Aditya hanya menganggukkan kepalanya. Pemuda itu kembali melanjutkan makannya. Begitu pula dengan Dewi, gadis itu dengan cepat menghabiskan buburnya agar bisa minum obat dan kembali tidur. Dia harus segera memulihkan kondisi tubuhnya, kalau tidak bisa-bisa Nenden melarangnya ikut.
“Ada obatnya?” tanya Aditya begitu mereka selesai makan.
“Ada.”
Dewi bangun dari duduknya kemudian menuju lemari di mana kotak obat berada. Gadis itu mengambil obat demam yang biasa diminumnya lalu kembali ke dekat Aditya. Dia segera meminum obatnya itu.
“Istirahat lagi, ya. Nanti kalian kumpul di mana?”
“Di sekolah.”
“Jam berapa?”
“Setengah dua.”
“Ya udah, nanti biar aku antar sekalian berangkat kerja.”
“Ok.”
Dewi hendak mengambil mangkok dan gelas bekas untuk mencucinya, namun Aditya melarang. Pemuda itu menyuruh Dewi langsung masuk ke kamar.
“Istirahat aja. Sana masuk kamar, tidur lagi. Biar ini aku yang beresin.”
“Beneran?”
“Iya.”
Melihat anggukan kepala Aditya, Dewi berdiri kemudian masuk ke dalam kamar. Aditya membawa mangkok dan gelas kotor ke dapur kemudian mencucinya. Tak lupa dia juga membuang bungkus bekas bubur ke tempat sampah. Setelah selesai dia segera kembali ke kontrakannya.
“Bro.. udah sarapan belum?” tanya Aditya pada Roxas begitu masuk.
“Udah, tadi dikasih ibu nasi kuning.”
__ADS_1
Aditya ikut duduk di kasur lipat milik Roxas. Sahabatnya itu masih berbaring malas di atas kasur. Dia menegakkan diri ketika Aditya duduk di dekatnya.
“Gue nitip Dewi ya. Tolong jagain dia.”
“Tenang aja.”
“Kalau dia sakit tolong anterin pulang.”
“Emang Dewi sakit?”
“Kemarin dia habis kehujanan pas jalan bareng gue. Mudah-mudahan sih ngga keterusan sakitnya. Gue udah larang dia ikut kalau ngga enak badan. Tapi tau sendiri, Dewi kan keras kepala juga.”
“Ini kan perpisahan kelas. Wajar sih kalau Dewi ngotot pengen ikut. Tenang aja, bro. Gue bakalan jaga Dewi.”
Aditya menganggukkan kepalanya. Mengingat Roxas ada bersama Dewi, membuat perasaannya sedikit tenang. Kemudian pemuda itu melihat pada Roxas. Ada hal yang ingin ditanyakannya sejak dulu, tapi selalu lupa.
“Bro.. jujur ya. Lo suka ngga sama Dewi?”
“Suka gimana?”
“Lo berdua kan sobatan udah lama. Nah perasaan lo ke Dewi gimana?”
“Perasaan maksudnya gue naksir Dewi gitu?”
“Iya.”
“Bhuahahaha…”
Roxas malah terpingkal mendengar jawaban Aditya. Pertanyaan seperti ini memang kerap dia dengar dari mulut para lelaki yang menyukai Dewi, termasuk Budi. Itulah sebabnya pemuda itu hanya terpingkal saja.
“Denger ya. Gue kenal Dewi dari jaman dia masih ingusan. Kita deket karena satu frekuensi, dan dia anaknya asik banget, ngga pelit dan sering bantu gue. Perasaan gue ke dia tuh kaya abang ke adeknya aja. Karena biar kita satu angkatan, tapi umur gue dua tahun lebih tua dari dia. Jadi ya, gue cuma anggap adek aja ke dia. Apalagi kita kenal dari kecil dan gede bareng.”
“Emang umur lo berapa?”
“Dua puluh.”
“Lah seumur dong ama gue. Lo telat masuk sekolah?”
“Kaga. Gue ngendog (tinggal kelas) dua tahun. Tadinya Dewi tuh adek kelas gue, eh malah jadi teman seangkatan. Hahaha…”
“Lo ngehasilin berapa telor selama ngendog dua tahun?”
“Mayan banyaklah. Gue kan sering dapet nilai telor rebus pas SD huahahaha… tapi sejak satu kelas sama Dewi, ada peningkatan lah. Telornya netes jadi bebek atau kuping monyet. Tapi pernah juga gue dapet tujuh. Buset girang banget gue.”
“Hahaha… buset dapet tujuh girang. Tapi gue juga hampir samalah. Kalo ngga dikatrol abang gue, bisa jadi gue kaya elo, hahaha…”
Aditya kembali terkenang bagaimana dulu Adrian selalu membantu pelajarannya. Tak jarang sang kakak mengerjakan PR untuknya. Tapi setelah dirinya masuk SMP, Adrian mengubah polanya. Dia tak lagi mengerjakan PR sang adik tapi mengajarinya pelajaran yang tidak dimengerti. Aditya suka mendengar penjelasan Adrian yang menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
“Gimana apaan?”
“Perasaan lo sama Dewi. Lo beneran suka sama dia?”
“Iya. Dari awal ketemu dia, gue udah suka sama dia. Kemarin gue udah bilang soal perasaan gue sama dia.”
“Terus dia jawab apa?”
“Belum jawab apa-apa sih. Dia masih shock juga kali. Salah gue juga nembak pas hujan, di halte lagi. Mana lagi kedinginan gara-gara kehujanan. Ya dia ngga fokuslah.”
“Jadi lo beneran serius nih sama si Dewi?”
“Serius lah. Kalo ngga, ngapain juga gue ngontrak di sini. Kan tujuan gue pindah ke sini biar bisa lebih deket sama dia. Gue juga lagi nabung, rencananya gue mau nikah muda. Kalau uang gue udah cukup, gue mau ngelamar dia.”
Roxas hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja. Sungguh dirinya tak menyangka kalau Aditya akan seserius ini menjalin hubungan dengan Dewi. Bahkan sahabatnya itu sudah dengan matang mempersiapkan masa depannya.
“BTW Dewi pernah ada cerita ngga dia naksir siapa gitu?”
“Kaga. Kenapa emang?”
“Nanya aja. Berarti peluang gue besar ya.”
“Kayanya sih.”
“Doain gue ya biar bisa berjodoh ama Dewi.”
“Aamiin..”
“Udah ah gue mau molor dulu. Ada bahan nanti malam extend lagi.”
Aditya bangun kemudian berjalan menuju kamarnya. Kini tinggal Roxas yang terdiam. Pemuda itu nampak menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia pusing sendiri memikirkan percakapannya barusan dengan Aditya. Dewi memang tidak mengatakan apapun soal perasaannya. Tapi dilihat dari gerak-geriknya, pemuda itu yakin kalau Dewi menyukai wali kelasnya.
Duh lieur aing. Lamun si Dewi nyaan bogoh ka pak Rian, karunya si Adit. Tapi mun Dewi bogoh ka Adit, karunya oge pak Rian. Terus aing kudu kumaha? Adit jeung pak Rian sarua bageurna. Aahhh naha bet aing nu lieur, keun we eta urusan si Dewi, pikiran teuing. Mending sare (Duh pusing gue. Kalo si Dewi suka ke pak Rian, kasihan Adit. Tapi kalo Dewi suka Adit, kasihan juga pak Rian. Terus gue mesti gimana? Adit sama pak Rian sama baiknya. Aaahhh kenapa gue yang pusing, biarin aja itu urusan si Dewi, ngapain dipikirin. Mending tidur).
Roxas kembali merebahkan tubuhnya, mencoba untuk tidur dan mengabaikan hal yang mengganggu pikirannya. Beberapa kali pemuda itu membolak-balikkan badannya, sampai akhirnya bisa tertidur juga.
🌸🌸🌸
Selepas shalat Jumat, Roxas langsung bersiap. Dia berangkat lebih awal karena harus ke rumah Sandra untuk mengambil mobil. Dia memasukkan semua baju dan juga barang yang dibutuhkan ke dalam ransel. Setelah memakai jaketnya, pemuda itu keluar dari rumah. Di belakangnya menyusul Aditya yang juga sudah siap untuk bekerja.
Dengan ransel di punggungnya, Roxas menghampiri Dewi yang sudah siap di depan rumahnya. Gadis itu juga membawa satu ransel yang berisi semua kebutuhannya untuk di vila nanti. Karena badannya masih sedikit meriang, Dewi memutuskan memakai jaket Adrian yang masih ada padanya.
“Wi.. lo mau bareng gue berangkatnya? Gue mau ke rumah Sandra dulu ambil mobil. Si hejo dititip di rumahnya.”
__ADS_1
“Dewi pergi sama gue, Xas,” jawab Aditya dari arah belakang Roxas.
“Oh ya, udah. Gue cabut duluan ya.”
Roxas segera menaiki motornya. Dan si hejo segera melaju meninggalkan kontrakan haji Soleh. Sejenak Aditya memandangi jaket yang dikenakan Dewi. Jaket berwarna abu muda itu mirip seperti milik kakaknya. Tapi Aditya segera menepis kecurigaannya, karena jaket model seperti itu bukan hanya milik Adrian saja.
“Masih demam ngga?” Aditya menaruh tangannya di kening Dewi. Tubuh gadis itu masih terasa hangat.
“Badan kamu masih anget. Serius mau maksa pergi?” terdengar suara Adit sedikit cemas.
“Nanti juga baikan.”
“Pamitan dulu sama ibu.”
“Bu..” panggil Dewi.
“Sebentar neng.”
Terdengar suara Nenden dari dalam rumah. Tak lama wanita itu keluar dengan bungkusan di tangannya. Dia menyerahkan bungkusan tersebut pada Dewi.
“Apa ini bu?”
“Itu risoles sama lontong. Sampai di sana pasti kalian lapar, lumayan buat ganjel perut sebelum makan malam.”
“Ya ampun, makasih bu.”
“Baik-baik ya, neng.”
“Iya, bu. Dewi pergi dulu.”
Dewi mencium punggung tangan Nenden, yang disusul oleh Aditya. Pemuda itu kemudian memakaikan helm ke kepala Dewi. Setelah menggantungkan bungkusan pemberian Nenden di dekatnya, dia menaiki tunggangannya. Dewi kemudian naik di belakangnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Motor yang dikendarai Aditya segera melaju. Pemuda itu menarik tangan Dewi dan memasukkannya ke saku jaketnya. Tak ada penolakan dari Dewi, itu bisa membuat tangannya lebih hangat.
Sebelum mengantarkan Dewi ke sekolah, lebih dulu Aditya mampir ke apotik. Dia membelikan obat demam, vitamin, tolak angin dan minyak kayu putih. Lalu mampir ke toko yang menjual aksesoris motor untuk membelikan sarung tangan.
“Pakai sarung tangannya biar anget.”
Usai memakaikan sarung tangan pada Dewi, Aditya melanjutkan perjalanannya. Kali ini dia menarik tangan Dewi untuk memeluk pinggangnya. Gadis itu merebahkan kepalanya di punggung Aditya, saat merasakan tubuhnya semakin lemas. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di sekolah.
Teman-teman Dewi sudah banyak yang datang, termasuk Roxas yang membawa mobil Sandra. Mereka terkejut melihat Dewi diantar seorang pria ganteng. Salah satunya adalah Budi, yang sejak kelas dua mati-matian mepet Dewi tapi hasilnya selalu zonk.
“Itu pacarnya Dewi?” tanya Mila sambil tak melepaskan matanya dari Aditya.
“Kayanya sih,” timpal Sandra.
“Buset ganteng banget. Si Dewi diem-diem ternyata udah punya pacar ganteng. Pantes aja si Budi ditolak mulu,” sahut Wulan.
“Kira-kira si Budi bundir ngga? Secara saingannya ganteng banget. Kalau dibandingin, ibarat Shawn Mendes ama Sule,” sambung Sheila.
“Buset lo kalo ngomong suka bener,” lanjut Mila yang langsung disambung tawa mereka.
Dewi dan Aditya menolehkan kepalanya ketika mendengar tawa kencang keempat gadis itu. Mila langsung mesem-mesem, begitu Aditya melihat ke arahnya. Namun senyumnya hilang ketika Aditya tak menanggapinya. Pemuda itu kembali melihat pada Dewi.
“Obatnya jangan lupa diminum kalau masih demam. Vitaminnya juga biar kondisimu cepat fit. Balur badan sama minyak kayu putih biar hangat.”
“Iya, dokter cerewet,” seloroh Dewi.
“Kalau sakitnya tambah parah, minta antar pulang sama Roxas ya.”
“Iya, Dit. Kamu cerewet banget sih. Aku baik-baik aja kok.”
“Ya gimana kamu ngga khawatir kalau calon makmumku sakit gini.”
“Mulai deh gombalnya.”
Aditya terkekeh mendengar protesan Dewi. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala gadis itu. Apa yang dilakukannya tanpa disadari membuat keempat gadis yang tengah memperhatikan dirinya dibuat cenat-cenut sendiri. Mila bahkan sampai menggigiti tali tas selempangnya.
“Aku kerja dulu, ya. Kalau udah sampai, jangan lupa kasih kabar.”
“Iya, hati-hati. Yang semangat kerjanya.”
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Bye sayang.”
“Bye calon imam.”
Lesung pipi langsung tercetak di wajah Aditya ketika pemuda itu tersenyum setelah mendengar ucapan Dewi. Sambil melambaikan tangannya, Aditya berlalu dengan kendaraannya.
Sepeninggal Aditya, Dewi melepaskan sarung tangan dan juga jaket. Dia melipat jaket kemudian membuka ranselnya, mengambil paper bag dari dalamnya. Dewi memasukkan jaket ke dalam kantong kertas itu. Dia hendak mengembalikan jaket pada pemiliknya.
🌸🌸🌸
**Eaaa... Dewi udah manggil calon imam. Apakah itu tanda² kalau dia sudah menerima cinta Aditya?🤔
__ADS_1
Maaf ya minggu ini sepertinya ngga ada double up. Masih fokus ngurus anak🙏 Terima kasih untuk doa kalian semua, alhamdulillah kondisinya udah baikan**.