Naik Ranjang

Naik Ranjang
Degupan


__ADS_3

Karena kasus Yulita, rencana pembukaan kedai kopi milik Roxas dan Aditya terpaksa mengalami penundaan. Roxas dan Pipit harus kembali kantor polisi untuk melengkapi berkas penyelidikan. Mereka kembali memberi kesaksian atas kasus percobaan penusukan Pipit.


Selain itu, Pipit juga diminta memberi kesaksian atas kasus korupsi yang dilakukan Nizar, orang yang membantu Mahes di hotel. Berdasarkan hasil penyelidikan, Nizar memang melakukan tindakan korupsi, namun semua uang hasil korupsinya masuk ke rekeningnya sendiri. Sedang untuk Mahes, dia hanya membantu membuka jalan bagi pria itu mendapatkan saham minoritas.


Selesai dengan urusan di kantor polisi, Roxas mengajak Pipit ke suatu tempat. Sudah lama dia ingin memberikan kejutan untuk istrinya itu. Si hejo yang dikendarainya melaju kencang di jalanan ibu kota. Kemudian kendaraan roda dua tersebut berbelok memasuki perumahan yang baru saja dilaunching dua bulan lalu. Pria itu berhenti di depan rumah tipe 45 bergaya minimalis.


“Sayang.. ini rumah baru kita, tadaaaa,” ujar Roxas dengan nada senang.


Pria itu turun dari motornya, lalu membuka pintu rumah. Keadaan rumah masih kosong, belum ada satu perabot pun di sana. Pipit jalan berkeling rumah. Di rumah ini terdapat empat buah kamar. Dua di bawah dan dua di atas.


“Kamu suka ngga?” tanya Roxas.


“Suka.”


“Kita tinggal isi perabotannya ya. Semua terserah kamu aja.”


“Uang kamu masih ada?”


“Masih dong. Buat cicilan selama lima tahun juga masih cukup, tenang aja. Lagian usaha café juga sebentar lagi jalan. In Syaa Allah ada pemasukan tetap nantinya. Kamu yang pintar ya atur keuangan kita.”


“Beli perabotan rumah biar dari aku aja. Kita nyicil aja dulu, beli yang penting-penting dulu.”


“Betul. Paling penting itu beli kasur.”


“Ish.. kamu tuh.”


“Barang-barang di kontrakan juga masih ada. Kita bisa bawa ke sini, jadi kita tinggal beli sisanya aja. Sama satu lagi.”


“Apa?”


Roxas tidak langsung menjawab. Dia melihat pada sang istri dengan tatapan dalam. Apa yang ingin dikatakannya ini adalah sesuatu yang penting. Menyangkut orang yang paling berharga dalam hidupnya. Roxas berharap Pipit mau mengabulkan keinginannya.


“Ada apa?” tanya Pipit lagi.


“Aku.. mau ajak enin tinggal di sini. Kamu keberatan ngga?”


“Kenapa aku harus keberatan? Aku malah senang enin tinggal di sini. Aku kan jadi ada teman.”


“Makasih sayang, makasih.”


Roxas terlihat sangat senang mendengar jawaban istrinya. Digendongnya Pipit kemudian memutar-mutar tubuhnya. Pipit sampai memukul-mukul bahu Roxas, untuk menghentikan aksi suaminya itu. Roxas menurunkan Pipit kemudian mencium kening istrinya itu.


“Kalau perabotan sudah lengkap, kita jemput enin,” ujar Roxas.


“Iya, sayang.”


“Aku juga mau minta asisten rumah tangga, biar ada yang bantu kamu beresin rumah.”


“Ngga usah, aku juga bisa.”


“Yakin? Kamar kita aja kadang kaya kapal pecah, aaaaarrggg.. sakit sayang.”


“Ya udah kalau kamu mau cari ART, aku ngikut aja. Yang bisa masak juga ya.”


“Iya.. iya.. tapi kamu juga belajar masak, dong. Aku kan pengen makan masakan kamu.”


“Iya, nanti aku belajar masak sama mba Ida.”


“Gitu dong cantik, mmmuuaacchhh..” dengan gemas Roxas mencium kedua pipi istrinya.


Setelah acara melihat-lihat rumah selesai, Roxas mengajak Pipit pulang ke kediaman Toni. Rencananya, mereka akan tinggal di sana sampai acara pembukaan kedai kopi selesai. Baru kemudian pindah ke rumah barunya.


🌸🌸🌸


Usai makan malam, semua keluarga berkumpul di ruang tengah. Roxas ingin memberi pengumuman soal pembukaan kedai kopinya yang akan dilakukan akhir pekan ini. Dewi ikut bergabung sambil membawa sepiring risoles dan buah, lalu meletakkannya di atas meja. Tak lupa ibu menyusui itu mencomot satu buah risoles kemudian memakannya.


“Lihat tuh nak, mamamu dari tadi mulutnya ngga berhenti makan. Kamu harus minta jatah sama mama yang banyak,” celetuk Adrian pada Arkhan yang ada di pangkuannya.


Tawa Roxas hampir meledak melihat wajah Dewi yang sudah menunjukkan aura peperangan. Tapi bukan Adrian namanya yang dengan mudah terintimidasi tatapan ganas Dewi. Pria itu asik bermain kembali dengan Arkhan.


“Gimana hasil dari kantor polisi tadi?” tanya Toni pada Roxas.


“Sudah beres, kang. Ternyata orang yang nyuruh nusuk Pipit itu si tuyul dan mbak Yul. Pelakunya yang Ad buat jadi rujak beubeuk.”


“Jadi dalangnya masih Yulita? Astaga anak itu kerasukan setan apa,” seru Ida.


“Ngga tau juga, mba. Polisi juga lagi nyeledikin. Tingkahnya aneh, kadang nangis, kadang buas, kadang diem. Curiga punya kepribadian ganda gitu.”


“Duh amit-amit.. untung udah ditangkep tuh orang. Mudah-mudahan dihukum yang setimpal.”


Semua terdiam mendengar ucapan Ida. Membicarakan soal Yulita, otomatis membuat Dewi teringat akan Aditya. Suaminya itu juga menjadi korban kesadisan wanita gila itu. Kalau tidak ingat negara ini adalah negara hukum, ingin rasanya Dewi melenyapkan wanita itu untuk selamanya.


“Oh iya, akhir pekan ini kedai kopi aku dan Adit buka. Akang sama mba datang ya ke acara grand openingnya. Kamu juga, Wi. Ajak Arkhan sekalian sama Ad juga.”

__ADS_1


Sebenarnya Roxas masih canggung menyebut Adrian tanpa embel-embel bang lagi. Tapi memang posisinya dalam keluarga ini mengharuskan dirinya membiasakan diri memanggil Adrian dengan nama saja. Lagi pula pria itu juga tak keberatan dengan panggilan Roxas padanya.


Sosok Adrian benar-benar mengalami transformasi bagi seorang Roxas. Awalnya pria itu menjadi gurunya, kemudian menjadi kakaknya karena pertemanan dengan Aditya, dan sekarang menjadi keponakannya. Bahkan di kampus pria itu menjadi dosennya. Sedang dirinya juga mendapat julukan baru, sebagai om dan juga kakek.


“Jadinya kedai kopi kamu pakai nama apa?” tanya Toni.


“AdRox, keren ya kang?”


“Kenapa ngga Ngorox sekalian,” ceplos Dewi.


“Kaga usah protes. Makan aja yang banyak biar tambah bulet tuh badan,” ledek Roxas.


“Gini-gini bisa bikin tulang rontok ya,” Dewi mengepalkan tangannya pada Roxas.


“Yang sopan, itu om kamu, kakeknya Arkhan. Tar dikutuk jadi centong baru tau rasa kamu.”


“Ish…”


Dewi mencebikkan bibirnya ke arah Adrian. Perkataan pria itu selalu sukses membuat Dewi naik darah, turun bero. Wanita itu bangun dari duduknya kemudian mengambil Arkhan dari pangkuan Adrian. Sebelum pergi, Dewi melihat pada pria itu seraya menjulurkan lidahnya lalu masuk ke dalam kamar.


Tawa Adrian terdengar melihat tingkah Dewi yang menggemaskan di matanya. Toni hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah anak sulungnya yang selalu membuat Dewi kesal. Ida menghembuskan nafas melihat Adrian dan Dewi sudah seperti Tom and Jerry saja.


“Kamu gimana mau dapetin Dewi kalau kerjaannya cuma bikin anak itu darting,” cetus Ida.


“Jangan salah, mba. Justru sikap Ad yang kaya gini yang buat Dewi kangen. Yakin deh, mba. Dulu pas sekolah mereka kan juga kaya kucing ama tikus.”


“Mosok?”


“Iya, mba. Tenang aja.”


“Om.. ayo ajarin aku gitar lagi,” ujar Adrian seraya bangun dari duduknya.


“Oke.”


Roxas juga beranjak dari duduknya. Adrian ke kamar untuk mengambil gitar yang dulu sering dipakai Aditya, kemudian membawanya ke halaman belakang. Roxas juga sudah siap dengan gitarnya. Kegiatan barunya sekarang adalah mengajari Adrian bermain gitar. Dengan sabar pria itu mengajari cara memetik dan menggenjreng gitar. Dan mengajari beberapa kunci yang belum diketahui Adrian


🌸🌸🌸


Roxas didampingi Pipit berdiri di depan pita yang membentang sebelum pintu masuk AdRox Coffee. Ditangan pria itu terdapat gunting untuk menggunting pita. Pria itu meraih tangan Pipit. Posisi tangan mereka kini memegang gunting bersama-sama.


“Bismillahirrahmairrahiim..”


KREK


Di dalam kedai, pelayan termasuk barista sudah siap menyambut kedatangan para tamu. Semua yang datang langsung menempati meja masing-masing. Dewi duduk satu meja dengan mertua dan Adrian. Tak lupa wanita itu mengajak sang anak bersamanya. Sedang Pipit memilih membantu Roxas melayani tamu yang datang.


Micky, Bobi, Budi, Mila, Sandra juga datang ke café. Mereka duduk satu meja, menunggu hidangan yang disiapkan oleh teman mereka sekaligus pemilik kedai tersebut. Sheila yang datang bersama kekasihnya, duduk bersama personil The Soul, untuk menemai Fay. Bersama mereka juga sudah ada vocalis dan bassis baru sebagai pengganti Aditya dan Roxas.


Rencananya peluncuran mini album yang berisikan lagu-lagu terkakhir gubahan Aditya akan launching dua bulan lagi. Keseluruhan lagu masih dinyanyikan oleh Aditya dan Roxas juga masih sebagai bassis mereka. Hanya saja saat promo tur album, vocalis dan bassis baru akan menggantikan peran mereka.


Roxas mengahampiri meja yang dihuni personil band-nya seraya membawa tujuh buah minuman. Selain para personil, Wira juga datang untuk memberikan dukungan pada Roxas. Pria itu meletakkan minuman yang terbuat dari olahan kopi di atas meja.


“Xas.. kenalin ini Fahri, dia yang bakalan gantiin Adit dan ini Dio, yang gantiin kamu.”


Satu per satu Roxas menyalami personil baru The Soul. Keduanya juga terlihat sudah akrab dengan personil lainnya. Pria itu bahagia, The Soul akan tetap eksis sepeninggal Aditya dan dirinya. Dia tetap berharap The Soul tumbuh menjadi band besar dan terkenal nantinya, walau tanpa dirinya lagi di dalamnya.


Selain keluarga dan teman, ternyata beberapa Soulers ada juga yang datang ke AdRox Coffee. Selain untuk menikmati kopi, mereka juga ingin melihat mantan personil The Soul yang gantengnya seperti aktor Hollywood. Di sana juga mereka bisa melihat kenangan akan Aditya. Roxas memang memajang beberapa foto Aditya di sana. Saat bersama dengan The Soul atau saat sedang sendiri.


Bukan hanya Soulers yang bisa melihat dan merasakan akan kehadiran Aditya di kedai ini, tapi juga Dewi. Toni mengambil Arkhan dari pangkuan Dewi kemudian membawa anak itu untuk bersantai di meja depan kedai. Dia mengajak sang istri untuk menemaninya. Kini hanya tinggal Dewi dan Adrian saja di sana.


Dewi menundukkan kepalanya. Dengan gerakan pelan dia menghapus airmata yang membasahi pipinya. Kesedihannya tidak bisa dibendung lagi, apalagi di kedai itu juga memutar lagu-lagu The Soul. Adrian mengambil tisu lalu memberikannya pada Dewi. Wanita itu mengambil tisu lalu menghapus airmatanya.


Tak sanggup menahan airmata yang terus mengalir, Dewi beranjak menuju toilet. Di sana dia menangis sepuasnya, meringankan rasa sesak yang dirasakannya. Sementara di luar, Adrian meminta Roxas untuk mengganti lagu, agar tidak membuat Dewi semakin sedih.


“Om.. lagunya bisa diganti? Kasihan Dewi pasti keinget Adit terus.”


“Maaf.. aku lupa soal Dewi. Aku melakukan ini untuk mengenang Adit. Aku akan ganti lagunya.”


“Makasih.”


Roxas hanya mengangkat tangannya saja. Kemudian dia segera menuju peralatan audio. Pria itu memilih lagu yang kira-kira bisa membuat suasana ceria. Akhirnya pilihannya jatuh pada salah satu solois pria legendaris di Indonesia, khususnya di daerah Jawa Barat. Dia menyusun daftar lagu dulu sebelum memutarnya.


Dewi yang sudah merasa tenang keluar dari kamar mandi. Matanya masih terlihat merah, dan sedikit bengkak. Budi melihat dengan penuh iba pada wanita yang diharapkan menjadi pendamping hidupnya. Ingin rasanya dia mendekat lalu memeluk wanita itu. Tapi dia juga tahu, sebelum sempat melakukan itu, sudah pasti Roxas akan melemparkan coet atau galon beserta isi padanya.


Melihat Dewi yang sudah kembali duduk bersama dengan Adrian. Roxas baru mulai memainkan lagu baru pilihannya. Semoga saja lagu yang dipilihnya ini bisa menambah suasana romatis di antara mereka berdua.


Nepangkeun nami abdi Jurig (kenalin nama aku setan)


Padamelan ngaheureuyan (kerjaannya gangguin)


Dugikeun ka nyilakakeun (sampai mencelakakan)


Teu di kampung, teu di kota (ngga di kampung, ngga di kota)

__ADS_1


Pokona di mana-mana (pokoknya di mana-mana)


Hebatnya? (Sia) (hebat kan?)


Nepangkeun nami abdi Jurig (kenalin nama aku setan)


Réréncangan jalmi ageung (temannya orang kaya)


Sobat dalit konglomerat (sobat dekatnya konglomerat)


Sareng pajabat nu bangsat (juga pejabat yang korup)


Nu sok nipu rakyat (suka nipu rakyat)


Hebatnya, lah (sia) (hebat kan?)


“Bhuahahaha.. itu si Roxas kenapa setel lagu begini, hahaha…” Micky terpingkal dibuatnya.


Apa yang dilakukan Roxas cukup tepat. Kini kesedihan Dewi sudah berganti dengan tawa kecilnya. Lirik lagu Jurig yang dipopulerkan Doel Sumbang, memang terdengar aneh. Kebetulan sekali lagu itu juga kerap dinyanyikan teman-temannya semasa di sekolah dulu. Pandangannya beralih pada Micky dan Bobi yang sepertinya sudah siap untuk ikut bernyanyi.


“Nepangkeun nami abi.. JURIG.”


Micky dan Bobi ikut bernyanyi, namun ketika menyebutkan kata jurig, mereka menunjuk pada Budi. Mila dan Sandra langsung terbahak melihatnya. Bukan hanya mereka, bahkan Adrian dan juga Dewi ikut tertawa. Budi yang awalnya kesal, menjadi tersenyum ketika melihat Dewi tertawa.


Ngga apa deh gue jadi bahan bully-an yang penting bisa lihat Dew-ku tersenyum. Tenang aja dek, abang akan selalu membuatmu tersenyum.


Andai saja Micky dan yang lainnya bisa mendengar kata hati Budi tadi, sudah bisa dipastikan mereka akan langsung muntah gerobak. Untungnya kata-kata tersebut hanya diucapkan dalam hati saja.


Mata Dewi berbinar ketika Pipit menyajikan mie hot plate lengkap dengan chicken katsu di depannya. Tanpa sengaja tangan Dewi menyentuh hot plate yang masih panas. Dengan cepat dia mengangkat tangannya sambil mengaduh.


“Hati-hati, Wi. Itu masih panas,” peringat Adrian.


“Lupa.”


Adrian menarik tatakan dari kayu sebagai alas dari hot plate. Dia mengaduk-aduk mie tersebut sebentar untuk meminimalisir panas. Kemudian memutar-mutar mie dengan garpu. Setelah dirasa panas dari mie sudah menghilang, pria itu mengarahkannya ke mulut Dewi. Awalnya Dewi ragu untuk menerima suapan, tapi akhirnya mulutnya terbuka juga.


“Enak?” tanya Adrian.


“Enak, tapi ngga pedas.”


“Jangan pedas-pedas, kamu kan masih nyusuin Arkhan.”


“Dikit aja ngga apa-apa, bang. Arkhan kuat kok.”


Adrian berdiri untuk mengambil saos dan sambal, kemudian kembali ke mejanya. Dia menuangkan sedikit saos dan sambal ke dalam mie, lalu kembali melilit mie dengan garpunya. Dewi juga tidak canggung lagi menerima suapan dari Adrian. Tidak lupa pria itu menyuapkan chicken katsu pada Dewi.


“Ya ampun pak Rian sweet banget siiihhhh.. kan gue jadi pengen kaya Dewi,” ujar Mila sambil terus melihat pada Adrian dan Dewi.


“Sini gue suapin. Bentar gue minta centong dulu ama Roxas, hahaha…”


“Sue lo!” Mila menggetok Budi yang asal bicara.


“Arkhan mana ya?” tanya Dewi.


“Sama mama dan papa di luar. Kamu mending abisin dulu makannya, nanti Arkhan minta nyusu udah ada amunisi. Jangan sampe kamu pingsan pas nyusuin Arkhan gara-gara salatri.”


“Ish.. abang tuh kalau ngomong ngga pernah enak didengar.”


“Terus kamu mau dengar apa? Emang kenyataan kan kamu tuh selalu butuh asupan sebelum nyusuin Arkhan. Ini cuma mie aja, biasanya juga dua piring nasi, porsi kuli lagi, nasinya sampe segunung.”


“Mana ada!”


Mata Dewi melotot melihat pada Adrian. Namun pria itu hanya tertawa saja melihat emosi sang ibu menyusui. Tangannya meraih tisu kemudian menghapus sisa saos di sudut bibir Dewi. Sejenak pandangan mereka bertemu, perlahan namun pasti jantung Dewi berdetak lebih kencang dari biasanya. Wanita itu segera memutus pandangannya, demi menetralisir degup jantungnya.


Hari beranjak petang, Toni dan Ida memilih untuk pulang, begitu pula dengan Dewi dan Adrian. Pipit masih bertahan di kedai untuk membantu suaminya. Dewi naik ke mobil lalu menaruh Arkhan duduk di pangkuannya, dengan Ida berada di sampingnya. Tak lama kemudian kendaraan roda empat itu meluncur pergi.


Sepanjang perjalanan Dewi tak berani melihat ke depan. Dia hanya menundukkan pandangannya saja sambil mengajak Arkhan bicara. Dirinya masih belum sanggup bertatap mata dengan Adrian. Sepertinya perasaan cintanya pada pria itu belum benar-benar hilang dari hatinya.


Arkhan.. tolongin mama.. kalau mama jatuh cinta lagi sama ayah kamu gimana? Mas Adit.. aku harus gimana? Kalau bang Ad terus-terusan bersikap manis, aku bisa-bisa jatuh cinta lagi padanya. Aku ngga mau sakit hati kedua kalinya sama orang yang sama.


🌸🌸🌸


**Uhuk ada yang celebek nih kayanya😘😘


Siapin hati dan teh atau kopi pahit ya buat besok. Biar manisnya dari adegan Ad sama Dewi aja💃💃💃


Eh aku belum pernah kasih penampakan Fajar sama Doni ya. Nih sekarang aku kasih.


Pak Polisi Fajar**



Doni, sang playboy

__ADS_1



__ADS_2