Naik Ranjang

Naik Ranjang
Mario


__ADS_3

“Roxas..”


Kepala Roxas menoleh ke arah kanan, nampak seorang pria asing berdiri di dekatnya. Dia sama sekali tidak mengenal pria tersebut. Keningnya berkerut mendengarnya memanggil namanya.


“You are Roxas. Your mother Sinta, right? (kamu Roxas. Ibu kamu Sinta, kan?).”


Kembali Roxas dibuat terkejut mendengar pria itu berbicara bahasa yang tidak disukainya. Walau begitu dia paham kata-kata yang tadi dilontarkan. Pria itu tahu siapa ibunya. Matanya memicing memandangi pria di depannya. Melihat penampilan dan juga wajahnya, Roxas curiga, mungkinkah pria ini adalah ayah kandungnya.


“Bapak siapa?” Roxas sengaja tidak menggunakan bahasa Inggris. Selain malas, dia juga grogi kalau berbicara langsung dengan orang asing menggunakan bahasa Inggris.


“I’m Mario. I’m.. I’m your dad.”


Untuk sejenak Roxas hanya mematung memandangi pria bernama Mario tersebut. Lisa yang melihat mobil Roxas masih berada di depan rumah, segera keluar. Dia minta dibawakan kue yang dijual di AdRox sepulang dari kedai kopi nanti. Kening Lisa berkerut melihat Roxas tengah berbicara dengan seseorang. Lisa datang mendekat.


“Xas..” panggil Lisa.


Langkah Lisa terhenti ketika melihat pria yang bersama Roxas. Walau sudah dua puluh tahun lebih berlalu, namun dia masih bisa dengan jelas wajah pria yang sudah meninggalkan kakaknya. Lisa mendekati Mario, matanya menatap tajam pada pria itu.


“You! What are you doing here?! (kamu. Apa yang kamu lakukan di sini?!).”


Roxas cukup terkejut mendengar ucapan Lisa. Bukan terkejut mendengar perkataannya, namun dia tidak menyangka kalau bibinya itu bisa berbicara bahasa Inggris juga. Matanya menatap tak berkedip pada adik dari mamanya itu.


“I just wanna see Roxas, my son (aku hanya ingin bertemu Roxas, anakku).”


“Your son? He’s not your son! (anakmu? Dia bukan anakmu!).”


“Please..”


“Go!”


Mendengar keributan di depan rumah, Pipit dan enin keluar. Mereka ingin melihat keributan apa yang terjadi. Pipit bingung melihat Lisa sedang marah-marah pada pria asing. Mata enin membulat melihat Mario. Pria yang dulu datang menikahi anaknya secara sirri lalu meninggalkannya dalam keadaan hamil.


“Mario,” panggil enin, pria bernama Mario itu melihat pada enin.


“Mrs.. you still remember me? (nyonya, kamu masih mengingat saya?).”


“Of course we remembered you. You left my sister while she pregnant! (tentu saja kami masih mengingatmu. Kamu meninggalkan kakakku saat dia hamil!).”


“I’m sorry. I really.. really sorry. Where’s Sinta? I wanna see her (aku minta maaf, benar-benar minta maaf. Di mana Sinta? Aku mau bertemu dengannya).”


“Go.. nobody want you here! (pergi.. tidak ada yang meginginkanmu di sini!).”


“Tante, tolong bawa enin masuk. Kamu juga masuk, mas. Biar aku yang bicara dengannya.”


Pipit yang sudah membaca situasi dan paham siapa pria bule ini, meminta semuanya masuk ke dalam. Dia yang akan berbicara dengan Mario. Beberapa tetangga mulai keluar untuk melihat apa yang terjadi. Lisa menuruti keinginan Pipit, dia membawa enin masuk. Roxas juga ikut masuk ke dalam. Pria itu masih belum sadar dari keterkejutannya.


“We can talk here (kita bisa bicara di sini).”


Pipit mengajak Mario duduk di kursi yang ada di teras. Dari dalam rumah Lisa terus mengawasi Mario yang sedang bicara dengan Pipit. Roxas memilih masuk ke kamar. Untuk menenangkan dirinya, dia mengajak Zidan bermain.


Sementara di teras, Mario mulai menceritakan siapa dirinya. Mario menikahi Sinta 24 tahun yang lalu lewat pernikahan sirri. Dia diminta menjadi mualaf oleh orang tua Sinta sebelum menikahi anak mereka. Setelah tiga bulan hidup bersama sebagai suami istri, Mario mulai menyesali keputusannya. Hidup dengan wanita yang berbeda budaya dan agama sungguh sulit dijalani olehnya.


Di bulan keempat, saat kontrak kerjanya berakhir, pria itu diam-diam pergi meninggalkan Sinta. Dia tetap pergi walaupun tahu sang istri tengah mengandung anak mereka. Mario kembali ke Italia dan menjalani hidup seperti biasanya. Pria itu juga kembali menganut keyakinannya yang dulu.


Dua tahun yang lalu dia melihat Roxas di salah satu produk pakaian. Melihat wajah anak itu, dia yakin kalau Roxas adalah anaknya. Mario meminta bantuan temannya yang ada di Indonesia untuk menyelidiki tentang Roxas. Dari informasi yang didapat temannya, dia akhirnya yakin kalau Roxas adalah anaknya.


Tujuannya datang adalah untuk memperkenalkan diri. Melihat Roxas yang sudah tumbuh besar dan sukses, timbul penyesalan dalam dirinya. Oleh karenanya dia memberanikan diri datang untuk bertemu dengan Roxas. Dia ingin memperkenalkan diri sebagai ayah dari pria itu.


Pipit hanya mampu terdiam mendegar cerita Mario. Kalau tidak ingat pria yang duduk di sebelahnya adalah ayah mertuanya, mungkin dia sudah menyiram air dan menyuruh pria itu pergi. Dulu dia meninggalkan Sinta begitu saja walau tahu wanita itu sedang mengandung. Dan sekarang dia datang untuk mendapat pengakuan.


“May I know where Sinta now? (boleh aku tahu di mana Sinta sekarang?).”


“She had pass away a few years ago ( dia sudah meninggal beberapa tahun lalu).”


Mario terkejut mendengar Sinta sudah pergi mendahuluinya. Niatnya untuk bertemu dan meminta maaf tidak bisa jadi kenyataan. Kini satu-satunya harapan adalah bertemu dan berbicara dengan Roxas.

__ADS_1


“Can you help me? I wanna talk with Roxas (apa kamu bisa membantuku? Aku ingin bicara dengan Roxas).”


“I’m gonna talk to Roxas about you. Please wait until I call you. But don’t expect him to accept you after all you did (aku akan bicara dengan Roxas tentangmu. Tolong tunggu sampai aku menghubungimu. Tapi jangan berharap dia mau menerimamu setelah yang kamu lakukan).”


“Ok.. I’ll wait your call and thank you (baik, aku akan menunggu panggilan darimu dan terima kasih).”


Mario memberikan kartu namanya pada Pipit. Dia juga memberikan nomor Indonesia yang digunakan olehnya selama tinggal di negara ini. Saat ini Mario sedang ada pekerjaan di Bandung. Pria itu akan tinggal selama dua bulan. Setelah meninggalkan nomor yang bisa dihubungi, Mario berpamitan.


Mata Pipit terus memandangi mobil yang digunakan Mario melaju meninggalkan kediamannya. Terdengar helaan nafas panjangnya. Kembali dilihatnya kartu nama Mario yang ada di tangannya. Entah apakah Roxas mau menerima kehadiran pria itu atau menolak untuk bertemu dengannya.


Pipit masuk ke dalam rumah. Lisa dan enin tidak terlihat, sepertinya mereka berada di dalam kamar. Begitu pula dengan suaminya. Pipit berjalan menuju kamarnya, terdengar suara Zidan dari dalam. Pasti Roxas sedang bermain dengan anaknya. Ketika tangannya membuka pintu, nampak Roxas dan Zidan sedang bermain mobil-mobilan yang dibelikan Adrian kemarin.


“Mas..” panggil Pipit.


“Apa dia sudah pergi?”


“Iya.”


Wanita itu mendekati anaknya lalu menggendongnya. Begitu melihat dirinya Zidan memang langsung ingin digendong. Dia membaringkan Zidan di kasur dan bermaksud menyusuinya. Roxas menyusul naik ke kasur, dia membatalkan niatnya pergi ke kedai kopi miliknya. Moodnya sudah hilang setelah kedatangan Mario.


Mata Roxas terus memandangi Zidan yang tengah anteng menyusu. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala anaknya. Pikirannya kembali melayang pada sosok Mario. Kenapa baru sekarang pria itu muncul. Saat ini hidupnya sudah lengkap, bahagia lahir dan batin. Dia tidak butuh pria itu lagi.


“Mas.. dia.. ayahmu.”


“Hmm..”


“Apa mas mau bertemu dengannya?”


“Untuk apa? Apa masih ada gunanya aku bertemu dengannya? Kalau dia memang berniat menemuiku kenapa baru sekarang? Kemana saja dia selama ini?”


“Aku tahu, mas. Mas pasti kaget dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Tapi menghindarinya juga bukan jalan keluar terbaik. Dia sudah menceritakan padaku alasan dia meninggalkan mamamu.”


“Apa alasannya masuk akal?”


“Tidak.”


“Apa kamu mau menemuinya?”


“Entahlah. Kalau pun ketemu aku ngga tahu harus bicara apa. Aku ngga ngerti dia ngomong apa.”


Senyum terkulum di wajah Pipit, di saat seperti ini Roxas masih saja bercanda. Dibelainya wajah sang suami yang nampak mendung karena kedatangan Mario. Roxas meraih tangan Pipit lalu mencium punggung tangannya.


“Untuk saat ini aku belum mau bertemu dengannya. Tapi kalau nanti aku mau bertemu, tolong temani aku. Supaya aku tahu dia ngomong apa.”


“Iya, mas.”


Akhirnya senyum terbit di wajah Roxas. Dia mendekatkan wajahnya kemudian mencium bibir Pipit dengan mesra. Pria itu tidak melepaskan pagutan bibirnya. Terus saja dia ******* bibir sang istri.


PLAK


Roxas terkejut ketika Zidan memukul pipinya. Ternyata sang anak belum tidur. Acara menyusunya terganggu gara-gara ulah sang ayah. Dengan sangat terpaksa Roxas mengakhiri ciumannya. Pipit hanya terkikik geli melihat Roxas mengusap pipinya yang terkena tamparan sang anak.


🌸🌸🌸


Sebulan setelah kedatangan Mario ke rumah Roxas, akhirnya pria itu bisa bertemu dan berbicara dengan anaknya itu. Pipit menghubunginya dan mengatakan Roxas bersedia menemui pria itu di AdRox. Tentu saja Mario senang mendengarnya. Dengan bersemangat pria itu mendatangi Roxas di kedai kopinya.


Suasana AdRox sudah ramai didatangi pengunjung. Pipit sudah menyiapkan meja khusus untuk Mario di bagian ujung. Di sana pembicaraan keduanya tidak akan terganggu dengan lalu lalang pengunjung lain. Mario langsung menuju meja yang sudah disiapkan untuknya, Dia melihat Roxas masih melayani pelanggannya.


Pipit datang lebih dulu mendekati Mario dengan Zidan dalam gendongannya. Dia meletakkan Zidan di kursi khusus anak. Wanita itu memberikan kue kesukaan Zidan, kemudian mendudukkan diri di hadapan Mario. Mata Mario terus memandangi Zidan. Wajah Zidan yang mirip Roxas membuatnya yakin kalau anak di depannya adalah cucunya.


“He’s yor son? (dia anakmu?),” tanya Mario.


“Yes.”


“So.. he’s my grandson (jadi.. dia cucuku).”

__ADS_1


Setelah memberikan pesanan pelanggannya, Roxas segera menghampiri Pipit dan juga Mario. Dia mencium pipi Zidan lebih dulu sebelum duduk di samping istrinya. Mario terus memandangi Roxas dengan wajah tersenyum. Sebaliknya Roxas menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.


“Aku tahu siapa dirimu,” ujar Roxas.


“I know who you are,” Pipit menerjemahkan.


“Jujur.. sebenarnya aku tidak peduli siapa ayahku. Sejak aku dalam kandungan, anda juga sudah tidak bersama ibuku. Begitu juga saat aku lahir sampai aku memiliki anak. Rasanya aneh saja melihat anda tiba-tiba datang dan mengaku sebagai ayahku. Sejak dulu aku hanya mempunyai ibu. Dia yang berjuang mati-matian melahirkanku dan membesarkanku. Kita sudah bertemu, dan aku juga sudah tahu hubungan kita. Sepertinya itu cukup.”


Pipit segera menerjemahkan apa yang dikatakan Roxas pada Mario. Jujur saja dia sedih mengetahui tanggapan Roxas tentangnya. Pria itu menundukkan kepalanya, apa yang dilakukannya dulu memang sulit untuk mendapat maaf. Namun begitu dia berharap Roxas mau berbaik hati menerimanya.


“I hope we can fix our relation (aku harap kita bisa memperbaiki situasi ini).”


“Hubungan apa? Sejak awal kita tidak punya hubungan. Anda pergi walau tahu kalau mamaku sedang mengandung anakmu. Apa itu perbuatan bertanggung jawab? Apa yang anda harapkan dariku? Apa anda berharap aku bisa menerimamu dengan lapang dada dan melupakan semua yang terjadi? Maaf aku tidak sebaik itu.”


Wajah Mario semakin terlihat sedih begitu Pipit mengatakan apa yang dikatakan suaminya. Mario menarik tangan Roxas, matanya menunjukkan pengharapan. Dia benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Apalagi dia hanya memiliki anak perempuan dari istrinya yang berada di Torino. Dia juga ingin memiliki anak laki-laki, dan itu Roxas. Anak kandungnya dari pernikahan pertamanya.


“Please give me a chance (tolong beri aku kesempatan).”


Perlahan Roxas menarik tangannya. Pria itu berdehem untuk mengusir rasa tak nyaman yang menggelayuti hatinya. Melihat Mario yang nampak memelas padanya, rasanya tak tega. Tapi kalau diingat kembali penderitaan mama dan eninnya, rasa marah itu kembali muncul.


“Maaf.. aku tidak bisa memberikan apa yang anda inginkan. Aku juga butuh waktu untuk menerima ini. Kalau lain kali anda datang dan kita bisa bertemu lagi, mungkin saja perasaan marah dan benciku pada anda sudah berkurang. Tapi untuk sekarang, maaf.”


Secercah harapan muncul untuk Mario ketika mendengar apa yang dikatakan Pipit saat menerjemahkan kalimat sang suami. Kepala Mario mengangguk-angguk tanda mengerti. Dia tahu, Roxas pasti membutuhkan waktu untuk menerima dirinya.


“Thank you. I will come at least once a year to see you and your family (terima kasih. Aku akan datang setidaknya satu tahun sekali untuk menemuimu dan keluargamu).”


“Silahkan.”


“May I give your son present? He’s my grandson, right? (bolehkah aku memberikan hadiah untuk anakmu? Dia cucuku, kan?”


“Hmm..”


“Thank you.. thank you so much. And sorry, I can’t be a good father for you (terima kasih.. terima kasih banyak. Dan maaf, aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untukmu).”


“Aku punya ibu dan nenek yang baik, itu sudah cukup.”


Sebuah senyum getir terlihat di wajah Mario. Walau sikap Roxas terkesan dingin, tapi itu sudah lebih dari cukup untuknya. Setidaknya pria itu tidak mengusir atau melontarkan kata-kata kasar padanya. Dalam hatinya Mario berjanji akan menunjukkan kesungguhannya sebagai seorang ayah mulai dari sekarang. Walau mereka terpisah jarak, tapi sebisa mungkin dia akan terus menjalin hubungan dengan Roxas.


“The day after tomorrow I have to go back to Torino. I hope we can meet again someday (lusa aku akan kembali ke Torino. Aku berharap kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti).”


“Hmm..”


“I have to go now. Take care. I will contact you, oftenly (aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu. Aku akan menghubungimu sesering mungkin).”


Mario berdiri dari duduknya. Dia mendekati Zidan, mengusak puncak kepalanya dan mencium pipinya. Ditatapnya anak tampan di hadapannya ini. Anak itu adalah cucunya, darah dagingnya. Kemudian dia melihat pada Roxas yang masih duduk di tempatnya.


“May I hug you? (bolehkah aku memelukmu?).”


Cukup lama Roxas berdiam. Kemudian pria itu berdiri dan mendekati Mario. Dengan mata berkaca-kaca pria itu memeluk Roxas dengan erat. Pipit melihat pemandangan di depannya dengan perasaan haru. Walau belum mengakui Mario sebagai ayahnya, namun sikap Roxas sudah lebih lunak.


“Take care, Pipit. Bye Zidan (jaga dirimu, Pipit. Selamat tinggal, Zidan).”


Mario melemparkan senyumnya pada Roxas juga Pipit, kemudian pria itu meninggalkan café. Perasaannya sudah lega sekarang. Dengan wajah menyunggingkan senyuman, Mario keluar dari kedai kopi tersebut.


Sepeninggal Mario, Pipit memeluk pinggang suaminya. Wanita itu melemparkan senyuman pada pria itu. Roxas meraih tubuh Pipit lalu memeluknya dengan erat.


“Aku sudah melakukan yang benar kan?”


“Iya. Kamu sudah melakukannya dengan benar. Aku bangga padamu, mas.”


Tanpa mempedulikan pandangan para pengunjung kedai kopinya, Roxas terus memeluk Pipit dengan erat. Di saat terberatnya, sang istri terus mendampinginya dan memberinya kekuatan. Setelah mengurai pelukannya, dia memakai gendongan bayi di depan dadanya lalu memasukkan Zidan ke dalamnya. Roxas akan melayani pelanggan sambil menggendong Zidan.


🌸🌸🌸


**Jelas ya yang manggi itu babehnya Roxas, bukan pelakor apalagi Adit yang bangun fari kubur🤣

__ADS_1


Siap² ya.. Kalau ngga ada halangan besok akan** ............


__ADS_2