Naik Ranjang

Naik Ranjang
Tante Pipit


__ADS_3

Sedari tadi Ida hanya mondar-mandir di ruang tengah. Matanya sesekali melihat jam yang tergantung di dinding. Tiga lelaki yang ditunggunya masih belum ada yang datang menampakkan batang hidungnya. Padahal dia suka gemas sekali ingin menyusul orang yang sudah membuatnya uring-uringan.


Baru saja Ida hendak menghubungi suaminya, ketika mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Bergegas wanita itu keluar. Nampak Adrian turun dari kendaraannya. Ida segera mendekati anak sulungnya itu.


“Ad.. ayo antar mama.”


“Anter kemana?”


“Ke hotel Amarta.”


“Ngapain?”


“Jemput tantemu. Ternyata sudah seminggu dia di sini, keterlaluan. Bukannya langsung ke sini malah menginap di hotel. Ayo, Ad.”


Adrian memutar tubuhnya kembali ke dalam mobil. Setelah sang mama memakai sabuk pengamannya, dia segera menjalankan kendaraan. Sepanjang jalan, telinganya terus mendengar Ida menggerutu kesal.


“Kalau tadi pagi nenekmu nda telepon, mana tau mama kalau tantemu itu sudah pulang.”


“Mungkin tante lagi healing, ma.”


“Healing.. healing.. apa nda cukup tiga tahun tinggal di Jepang. Apa bukan healing itu?”


“Tante kerja, ma. Bukan jalan-jalan.”


“Mbuh lah.. kesel mama. Ayo lebih cepat lagi. Mau mama jewer itu kupingnya.”


Adrian tertawa pelan mendengar kelutusan Ida. Bisa dibayangkan bagaimana nanti nasib Fitria atau yang biasa dipanggil Pipit olehnya juga Aditya. Tantenya yang satu itu memang luar biasa. Selain susah diatur, gaya bicara Pipit yang ceplas-ceplos juga terkadang membuat emosi orang yang mendengarnya.


Kendaraan roda empat milik Adrian akhirnya sampai di hotel Amarta. Setelah memarkirkan kendaraannya, dia juga Ida masuk ke dalam hotel. Wanita itu segera menuju lift, dan memijit angka 8. Dia sudah tahu di kamar berapa adiknya itu menginap.


Ida langsung keluar begitu lift berhenti di lantai 8. Dengan langkah cepat dia berjalan menyusuri koridor sambil melihat nomor yang tertera di pintu. Wanita itu berhenti di depan kamar 8020. Tangannya bergerak memijit bel yang ada di samping pintu. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu terbuka.


“Dasar anak nakal!”


“Aaaarrggghhh… ampun mba… ampun..”


Begitu pintu terbuka, Ida langsung merangsek masuk seraya menjewer telinga Pipit. Karuan saja wanita itu menjerit kesakitan. Tapi Ida menulikan telinga, dia masuk sambil menarik telinga adik bungsunya itu. Adrian yang mengekor di belakang hanya bisa tertawa melihat kelakuan bar-bar sang mama.


“Ad.. tolong aku.. aaarrggghhh..”


“Aku bisa apa, tan?” ujar Adrian seraya mengangkat bahu.


“Mba.. aaarrgghh.. sakit mba.. lepas dulu… aarggghh..”


Akhirnya penderitaan Pipit usai. Ida melepaskan jewerannya. Tangan Pipit sibuk mengusap telinganya yang terasa panas dan perih, sampai terlihat merah. Ida berkacak pinggang di depan adiknya itu. Kini mulutnya sudah siap untuk menyebur.


“Kenapa kamu nda kasih kabar ke mba? Sudah seminggu kamu di sini, tapi nda pulang ke rumah. Malah enak-enakkan kamu di sini. Kalau ibu nda telepon, mana tau mba, kamu sudah pulang. Kerjaanmu cuma bikin orang sport jantung!”


“Hehehe.. bukan gitu ceritanya, mba. Ayo duduk dulu.”


Pipit memeluk lengan Ida kemudian membawanya duduk di sisi ranjang. Mata Ida memandangi seisi kamar. Di atas meja berserakan sampah bekas makanan, di kursi dan kasur juga terdapat beberapa pakaian.


“Jadi gini, mba. Aku sekarang kerja di hotel ini, jadi auditor. Nah aku diminta tinggal di sini selama seminggu buat ngawasin keadaan sebelum aku masuk kerja besok.”


“Halah alasan. Kalau kamu nda disusul, pasti nda bakal pulang ke rumah.”


“Ya pasti pulang, mba. Mana sanggup aku tinggal di hotel terus-terusan. Aku aja ini dibayarin sama pak Prayoga. Rencananya malam ini aku mau check out terus pulang ke rumah mba.”


“Nda usah tunggu malam, sekarang juga kamu pulang sama mba.”


“I.. iya, mba. Aku beres-beres dulu.”


Pipit bangun dari duduknya kemudian berjalan ke lemari. Dikeluarkan koper dari dalamnya, kemudian mengumpulkan pakaian yang bertebaran di kursi juga kasur. Ida terus memperhatikan apa yang dilakukan adiknya itu.


“Itu bajumu kan kotor. Moso kamu satukan semua dalam koper.”


“Tanggung mba. Nanti aku cuci lagi semua.”


“Dasar jorok. Dari dulu nda pernah berubah. Terus ini sampah, memangnya di sini nda ada tempat sampah? Katanya tinggal di Jepang, tapi kok ya kelakuan jorokmu nda berubah.”


“Haaiiissshhh… mba. Jangan protes terus. Nanti ngga ada yang betah jadi menantumu.”


“Hahaha…”


Tawa Adrian yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah juga. Melihat adu mulut antara mama dan tantenya memang hal yang menyenangkan. Masing-masing tidak ada yang mau mengalah. Pipit selalu saja memiliki jawaban untuk menyanggah ucapan Ida.


“Ad.. bawain koperku.”


“Siap, tan.”


“Mba kasihan sama pegawai hotel. Bisa pingsan mereka pas masuk kamarmu yang kaya kapal pecah.”


“Itulah kelebihanku, mba. Ayo.”


Pipit menggamit tangan Ida kemudian keluar dari kamar. Adrian mengekor di belakang seraya menggeret koper sang tante. Ketiganya berjalan menuju lift, menunggu kotak besi yang masih bergerak ke atas.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Malam harinya semua keluarga berkumpul di ruang tengah. Pipit membongkar kopernya kemudian mengeluarkan oleh-oleh yang dibeli untuk keluarga kakak keduanya. Sedang untuk orang tua dan kakak yang lain sudah dikirimkan lewat paket. Wanita itu mengeluarkan Yukata, tenugui dan Nama Chocolate.


“Ini, masing-masing dapat satu, ya. Ada Yukata, tenugui sama Nama Chocolate. Kasihkan sama pacar kalian,” Pipit mengedipkan matanya pada Adrian dan Aditya.


“Kamu nda beli buat ibu?”


“Tenang aja, mba. Udah kukirim hadiah buat bapak sama ibu lewat paket. Aku juga sudah kirim buat mas Selamet dan mas Adi, sama lewat paket. Aku ini adil. Ngga ada yang aku bedain.”


“Bagaimana pengalaman tinggal di Jepang? Kamu di Tokyo atau di mana?” tanya Toni.


“Tahun pertama aku di Tokyo, tahun kedua aku dipindah ke Osaka sampai aku selesai tugas. Mereka nawarin perpanjangan kontrak, tapi aku tolak. Gara-gara mbak yu-mu mas.”


Ida mengalihkan pandangannya ke samping mendengar ucapan Pipit. Dia memang meminta ibunya terus menyuruh adiknya itu untuk pulang. Bukan apa-apa, wanita itu khawatir kalau Pipit akan terlena kehidupan di sana. Fokus pada karir dan akhirnya hidup melajang.


“Tante di sana ngga punya pacar?” celetuk Aditya.


“Ngga.. pacaran sama orang sana, sia-sia aja. Mereka kebanyakan ngga mau komitmen. Biaya hidup di sana mahal, mereka mikir dua kali untuk nikah terus punya anak. Kebanyakan living together gitu, hubungan tanpa ikatan.”


“Tapi kamu masih perawan kan?” tanya Ida tanpa tedeng aling-aling.


Mata Pipit membulat mendengar sang kakak mengatakan kata itu dengan tanpa beban, di depan suami dan anak-anaknya pula. Pipit melirik Toni yang berpura-pura tak mendengar apa yang dikatakan istrinya. Aditya hanya cengar-cengir saja, dan Adrian… tidak usah disebut, ekpresinya tidak bisa ditebak, datar sedatar tembok.


“Ya ampun kak. Pertanyaannya ngga bisa disaring dikit? Malu kak.”


“Tinggal jawab, masih apa nda?”


“Ya masihlah. Pacaran aja ngga pernah gimana mau jebol.”


Karena kesal akhirnya Pipit menjawab pertanyaan tidak kalah frontal. Kini giliran Ida yang terkejut mendengarnya. Tawa Aditya langsung meledak. Perdebatan mama dan tantenya sungguh sebuah hiburan baginya.


“Tante kerja jadi auditor di hotel Amarta?” tanya Adrian mengalihkan pembicaraan.


“Iya. Eh pas kemarin aku check in, astaga kesal aku sama HRD mereka. Bisa-bisanya mereka terima orang yang ngga bisa bahasa Inggris. Katanya mau jadi hotel bintang enam bertaraf internasional. Concierge-nya aku tanya pake bahasa Inggris malah mblah mbloh.”


Aditya terkejut mendengar penuturan Pipit. Ceritanya sama dengan yang dikatakan Roxas. Jangan-jangan tamu menyebalkan yang diceritakan oleh Roxas adalah tantenya.


“Bentar tan.. pegawai concierge-nya mukanya bule bukan?”


“Iya. Muka doang bule, tapi ngga bisa ngomong Inggris. Dasar bule karbitan.”


“Anjaayyy… hahahaha… jadi yang diomongin Roxas itu tante, hahahaha…”


“Kenal tan, dia mah sobat aku. Dia juga personil di band, bagian pegang bass. Mantan muridnya bang Ad. Kan bang Ad yang minta kak Lita cariin kerjaan buat dia.”


“Serius Ad, itu mantan muridmu?”


“Iya, tante. Kelemahannya emang bahasa Inggris, tapi dia anaknya rajin kok, jujur juga dan pekerja keras.”


“Tante ajak ngomong Sunda aja, pasti lancar jaya, hahaha…”


Pipit terdiam, mencoba mengingat sosok Roxas. Memang saat berbicara, logat Sunda pemuda itu begitu kental. Mengingat Roxas membuat Pipit kembali kesal. Diliriknya Aditya yang masih belum berhenti tertawa, begitu pula dengan Adrian. Sepertinya kedua keponakannya ini mempunyai hubungan yang dekat dengan Roxas.


🌸🌸🌸


Pagi-pagi sekali Pipit sudah bersiap untuk kerja. Straight pants warna cream membungkus tubuh bagian bawahnya, bagian atas mengenakan kemeja lengan pendek yang ditutup dengan blazer warna senada dengan celana. Rambutnya dibiarkan terurai, dan wajah hanya dimake up sederhana. Tak lupa shoulder bag sudah tergantung di bahunya.


Karena belum punya kendaraan, Pipit minta diantar oleh Adrian ke hotel. Ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai kepala tim auditor. Usai sarapan, wanita itu segera naik ke dalam mobil. Bersama dengan Adrian, dia berangkat menuju hotel Amarta. Pipit minta diturunkan di depan gerbang saja, dan Adrian menjalankan mobilnya kembali.


Dengan gaya anggun, Pipit berjalan menuju pintu masuk. Dia memilih masuk ke hotel melalui pintu depan, bukan pintu khusus karyawan yang ada di samping. Dia ingin melihat keadaan hotel di pagi hari. Wanita itu berhenti tepat di depan Roxas yang sudah siaga di posnya.


“Kamu.. nanti ke ruangan saya,” ujar Pipit dengan nada suara datar.


“Ke mana bu?”


“Ruangan saya, di lantai tiga.”


“Ngga ada kamar di lantai tiga, bu. Itu mah kantor manajemen.”


“Lah iya. Saya ini auditor di hotel ini. Setengah jam lagi, saya tunggu kamu di sana.”


“Oh.. iya, bu.”


Roxas menganggukkan kepala tanda mengerti. Pipit segera masuk ke dalam, mata Roxas terus mengikuti pergerakan wanita tersebut. Dalam hatinya mulai bertanya-tanya apakah dirinya akan diberhentikan gara-gara insiden dengannya.


Aaahhh cilaka dua las kieu carana. Naha beut si eta jadi pegawai di dieu. Kumaha cenah? Aahh pasrah aing mah mun dipecat oge (celaka dua belas kalau begini. Kenapa dia jadi pegawai di sini. gimana caranya? Aah pasrah gue kalo dipecat).”


Sepeninggal Pipit, hati Roxas tak karuan. Dia sibuk memikirkan nasibnya yang mungkin akan berakhir hari ini. Kalau dia sampai dipecat, maka harus mencari pekerjaan lain. Tidak mungkin dia mengandalkan dari hasil nge-band saja di Red Kingdom. Pemuda itu melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah waktunya menemui Pipit di ruangannya. Dia bergegas menuju front desk, meminta ijin pada staf concierge di sana.


Beberapa kali Roxas menarik nafas panjang sebelum tangannya mengetuk pintu ruangan Pipit. Terdengar suara wanita itu mempersilahkannya masuk setelah mendengar ketukannya. Sambil menganggukkan kepala, Roxas masuk lalu duduk di hadapan Pipit.


“Siapa namamu?”


“Roxas, bu.”

__ADS_1


“Nama lengkap.”


“Aep Roxas Hidayatullah.”


“Apa? Aep?”


“Iya, bu.”


“Astaga, hahahaha…”


Roxas mendumel dalam hati mendengar tawa Pipit. Tapi harus dia akui kalau Pipit itu cantik, apalagi kalau sedang tertawa. Kalau saja wanita itu tidak bersikap menyebalkan, mungkin sudah dijadikan calon gebetannya. Sayang, kekesalannya pada wanita itu melebihi kekagumannya pada wajah cantiknya.


“Kamu ngga bisa speaking English?”


“Little-little sih I can, bu.”


“What? Hahahaha… lucu juga kamu, hahaha..”


Lucu.. emang urang badut? Nyaan ieu mah kudu ditakol jeung direndos (Lucu, emang gue badut? Bener ini harus dipukul sama diulek).


“Kamu pegawai DW ya?”


“Iya, bu.”


“Hmm.. gimana ya, posisi kamu tuh rawan kalau di depan. Gimana kalau ada bule yang nanya ke kamu?”


“Selama ini aman sih, bu. Saya selalu ngarahin ke front desk.”


“Gitu, ya. Tapi saya ngga yakin sih kalau kamu bisa selamet terus. Kalau dipindah ke bagian lagi gimana?”


“Saya mah pasrah aja, bu. Asal jangan dipecat. Mau jadi kang parkir hayu ajalah,” jawab Roxas pasrah.


“Ya sudah, kembali ke tempatmu. Saya akan diskusikan soal kamu sama bagian HRD.”


“Baik, bu. Terima kasih.”


Roxas segera undur diri. Dia bergegas keluar dari ruangan. Walau kesal, tapi dia bersyukur, Pipit tidak memecatnya. Lagi pula dia bukan manager HRD yang bisa memutus kontrak seenaknya. Baru dua bulan lalu dia menandatangani kontrak selama enam bulan sebagai DW kontrak. Pihak hotel akan membayar penalty kalau kontrak diputus begitu saja, apalagi dia tidak melakukan kesalahan.


“Udah, Xas?” tanya Petra, staf concierge yang berjaga di front desk.


“Udah, kang. Aman,” Roxas mengangkat jempolnya ke arah Petra.


Pria yang wajahnya seperti aktor Korea itu nampak tersenyum. Dia cukup lega ternyata Roxas tidak mendapat masalah apa-apa. Pemuda itu rajin dan sangat lihai dalam menjalankan pekerjaan. Apalagi banyak tamu yang memberikan ulasan positif karena Roxas. Pemuda itu menjadi primadona bagi para tamu, terutama tamu wanita. Bahkan minggu kemarin ada wanita hamil yang minta makan sambil disuapi Roxas kemudian diabadikan oleh suaminya. Benar-benar pesona Roxas itu luar biasa.


Waktu terus berputar, tak terasa waktu sudah hampir menuju jam makan siang. Petra mendekati Roxas yang masih berada di tempatnya. Dia ingin beristirahat lebih dulu, karena tiba-tiba perutnya terasa mulas.


“Xas.. aku istirahat duluan. Perutku mulas banget, kamu ngga apa-apa ditinggal sendiri? Yuni juga masih istirahat di belakang.”


“Ngga apa-apa, kang. Situasi aman kok.”


“Ok, deh. Aku ke belakang dulu.”


Roxas menganggukkan kepalanya. Dia melihat pada Petra yang setengah berlari menuju ruang istirahat. Wajahnya tadi sedikit pucat, sepertinya pria itu sudah tidak bisa menahan desakan dari bagian belakangnya lagi. Setelah Petra berlalu, Roxas kembali bersiaga di tempatnya. Dua buah mobil masuk berturut dari pintu gerbang kemudian berhenti di depan pintu lobi.


Dari dalam mobil, berturut-turut enam orang tamu turun. Roxas langsung menghampiri mereka semua. Dalam hati pemuda itu bersyukur, melihat tamu yang datang adalah produk lokal semua.


“Selamat siang, bapak, ibu..” sapanya.


“Siang.”


“Bisa tolong ambilkan troli?”


“Sebentar, bu.”


Roxas kembali ke dalam kemudian mendorong troli keluar. Dia menaruh semua barang bawaan tamu ke atasnya. Bersama dengan para tamu, dia masuk seraya mendorong troli tersebut. Setelah melakukan check in di resepsionis, Roxas mengikuti mereka masuk ke dalam lift.


Terdengar suara-suara mereka berbincang. Roxas yang tak sengaja mendengar tahu kalau mereka berasal dari Padang. Mereka sengaja ke Bandung selain untuk berlibur, juga untuk mencari barang dagangan di kota ini. Kotak besi yang mereka naiki akhirnya berhenti di lantai 5. Roxas mempersilahkan yang lain keluar lebih dulu, baru kemudian dirinya.


Setelah mengantarkan barang-barang ke kamar para tamu, Roxas kembali ke lantai dasar. Terlihat Yuni sedang mengantarkan tamu menuju restoran. Roxas menaruh troli ke tempat semula lalu kembali ke posnya. Baru saja dia berdiri tak kurang dari 10 menit. Nampak seorang tamu bule keluar dari gedung hotel. Dia berjalan menuju gerbang, dan tak lama kemudian dia kembali lalu menghampiri Roxas.


“Excuse me..”


“Yes sir..”


“Can you tell me, how can I get to Lembang by using public transportation? (bisakah kamu katakan bagaimana caranya sampai ke Lembang pake angkot?).”


🌸🌸🌸


**Hayo jawab apa Xas?🤣🤣🤣


Roxas apes mulu yee... Selamet ngahuleng🤣


Nah yang nebak Fitria itu tantenya Adrian sama Aditya bener ya. Nih penampakannya versi mamake**.


__ADS_1


__ADS_2