
Perlahan mata Nenden terbuka. Samar-samar dia bisa melihat suasana putih di sekitarnya. Hidungnya juga langsung dirasuki bau disinfektan. Beberapa kali wanita itu mengerjapkan matanya, agar penglihatannya semakin jelas. Melihat sang ibu membuka matanya, Dewi yang sedari tadi menunggui segera menegurnya.
“Ibu..”
“Ibu di mana ini?”
“Di rumah sakit, bu.”
Nenden memejamkan matanya sejenak, mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Setahunya dia tengah berada di rumah. Namun wanita itu merasakan sakit yang begitu sangat di bagian perutnya hingga jatuh pingsan.
Sepulang dari café, Dewi menemukan ibunya pingsan di kamarnya. Dengan cepat dia menghubungi Aditya dan Roxas. Pak haji Soleh yang mendengar berita pingsannya Nenden, meminta Salim segera mengantarkan wanita itu ke rumah sakit. Kini Nenden sudah berada di rumah sakit Mitra Sehat, rumah sakit di mana dirinya menjalani operasi. Setelah satu jam berada di ruang IGD, Nenden dibawa ke ruang perawatan kelas 2.
Seorang dokter bersama dengan suster masuk ke dalam ruang perawatan. Dokter bernama Handoko itu segera menghampiri bed Nenden. Dia memeriksa keadaan pasiennya yang mendadak harus dibawa ke rumah sakit.
“Ibu harus menjalani general check up. Kita harus melihat apa yang salah dengan keadaan ibu.”
“Iya, dok,” jawab Nenden pasrah.
Selesai memeriksa Nenden, dokter Handoko meminta Dewi untuk mengikutinya. Dia hendak berbicara di luar ruangan. Dewi langsung mengikuti dokter tersebut keluar. Dadanya berdebar menantikan apa yang akan dikatakan dokter tersebut.
“Apa ibumu sudah mengatakan keadaannya padamu?”
“Be.. belum, dok. Ada apa dengan ibu saya?”
“Dari hasil pemeriksaan terakhir, terdeteksi sel kanker dalam tubuhnya.”
“Astaghfirullahaladziim..” Dewi menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Ibumu harus melakukan general check up, biar kami tahu sudah sejauh mana perkembangan sel kankernya.”
“Iya, dok. Tolong lakukan yang terbaik untuk ibu saya. Tolong selamatkan ibu saya.”
“In Syaa Allah. Tolong jangan buat ibumu banyak beban pikiran. Tahu dirinya mengidap kanker saja sudah membuatnya sedih.”
“Iya, dok.”
Dokter Handoko menepuk pundak Dewi pelan, kemudian beranjak pergi meninggalkan gadis tersebut. Salim yang sudah selesai mengurus administrasi menghampiri Dewi ketika melihat gadis itu hanya duduk sambil menangis di kursi tunggu depan ruangan ibunya.
“Dewi..” panggil Salim seraya mendudukkan diri di samping Dewi.
“Ibu, kang..”
“Ibu kenapa?”
“Ibu.. kata dokter kena kanker,” Dewi mulai menangis.
“Innalillahi.. sabar ya, Wi.. semoga ada jalan terbaik untuk ibumu.”
“Terima kasih, kang.”
“Urusan rumah sakit sudah diurus. Kamu tidak perlu khawatir soal biayanya. Kemarin akang sudah mendaftarkan ibumu BPJS, juga kamu. Mungkin ada obat yang harus ditebus kalau tidak dicover.”
“Terima kasih, kang.”
“Roxas sama Adit mana?”
“Lagi pulang dulu, ambil perlengkapan buat aku sama ibu.”
“Akang masuk dulu, ya. Sekalian mau pamit.”
Dewi hanya menganggukkan kepalanya saja. Salim segera masuk ke dalam kamar perawatan untuk melihat keadaan Nenden sekaligus berpamitan. Dia berbicara sebentar dengan wanita itu. Dengan langkah pelan, Dewi menghampiri bed di mana Nenden berbaring lalu mendudukkan diri di kursi yang ada di samping bed.
“Bu.. Dewi.. akang pamit, ya. In Syaa Allah nanti siangan abi sama umi ke sini.”
“Terima kasih, kang.”
Salim menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari ruang perawatan tersebut. Dewi merapihakn selimut yang membungkus tubuh Nenden. Mata satu Nenden memandangi wajah Dewi yang nampak kuyu. Dia merasa bersalah karena sudah membuat anaknya cemas dan bersedih.
“Maafkan ibu ya, nak.”
“Maaf untuk apa, bu?”
“Ibu sudah membuatmu repot lagi.”
“Ibu kenapa bilang gitu? Dewi ngga apa-apa, bu. Kenapa ibu ngga bilang soal penyakit ibu yang lain?”
Terdengar helaan nafas Nenden. Ternyata dokter Handoko sudah menceritakan semuanya pada Dewi. Wanita itu hanya mengusap lengan Dewi dengan lembut. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dewi juga tak ingin memperpanjang lagi. Lebih baik ibunya beristirahat saja.
🌸🌸🌸
Sesuai anjuran dokter Handoko, Nenden segera menjalani pemeriksaan menyeluruh atau general check up. Dewi mendorong kursi roda yang dinaiki Nenden ke laboratorium. Pertama-tama, wanita itu akan menjalani pemeriksaan darah, dilanjut dengan pemeriksaan kolesterol, gula darah, fungsi hati, fungsi ginjal, EKG dan radiologi.
Aditya yang sudah kembali terus mendampingi Dewi menemani sang ibu menjalani serangkaian pemeriksaan. Dia mengambil ijin tidak masuk kerja karena tak tega meninggalkan Dewi sendirian. Sedang Roxas tetap harus ke hotel. Dia mulai menjalani karantina untuk persiapan ulang tahun hotel bersama dengan Amanda yang mendampinginya menjadi BA.
“Dokter tadi bilang apa, De?” tanya Aditya. Keduanya tengah menunggu di depan ruang radiologi.
“Dokter bilang ibu kena kanker.”
“Astaghfirullah.. sabar ya, De. In Syaa Allah, ibu akan baik-baik aja.”
Setelah melalukan pemeriksaan radiologi, Nenden diperkenankan kembali ke ruangan. Serangkaian tes sudah dijalani wanita itu. Sesampainya di kamar, Dewi langsung menyuapi ibunya makanan. Sejak semalam, Nenden memang tidak diperbolehkan mengkonsumsi apapun.
Dewi memberikan Nenden obat yang sudah disediakan oleh suster. Wanita itu kembali berbaring di bednya. Tubuhnya cukup lelah juga menjalani serangkaian pemeriksaan. Dewi selalu setia ada di sampingnya, begitu pula dengan Aditya.
“Adit.. kamu ngga kerja?”
“Ngga, bu.”
“Terima kasih sudah menemani Dewi.”
__ADS_1
“Iya, bu. Sebaiknya ibu istirahat aja ya.”
Aditya merapihkan selimut yang menutupi tubuh Nenden. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya lemah. Perlahan matanya mulai menutup, mengistirahatkan tubuhnya yang mudah terasa lelah.
Setelah Nenden tertidur, Aditya mengajak Dewi ke kantin. Sejak pagi gadis itu belum makan apapun. Awalnya Dewi menolak, namun Aditya terus membujuknya. Akhirnya Dewi mau menuruti yang kekasihnya katakan. Keduanya segera berjalan menuju kantin yang ada di lantai dasar.
“Makan, De..”
Aditya menyodorkan piring di dekatnya pada Dewi. Gadis itu masih belum menyentuh makanannya. Selera makannya hilang karena masih mencemaskan kondisi Nenden. Dia masih harus menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan dokter untuk ibunya. Aditya menyendokkan nasi dan lauknya dengan sendok lalu mengarahkannya ke mulut Dewi.
“Ayo makan dulu. Kalau kamu sakit, gimana kamu mau merawat ibu.”
Untuk sesaat Dewi hanya diam, tapi kemudian dia membuka mulutnya, menerima suapan dari Aditya. Gadis itu mengunyah makanan dengan sangat pelan. Aditya meraih tangan Dewi lalu menggenggamnya erat.
“Aku takut, Dit. Aku takut terjadi sesuatu sama ibu.”
“Kita positive thinking aja ya, De. Jangan lupa berdoa, yang penting kita sudah berusaha. Hasil akhirnya kita serahkan saja sama Allah.”
Aditya kembali menyendokkan makanan dan menyuapi Dewi. Dengan sabar dia terus membujuk kekasihnya itu untuk makan. Hati Dewi benar-benar tersentuh dengan perlakuan lembut Aditya.
🌸🌸🌸
Mata Dewi membelalak mendengar penjelasan dokter Handoko. Hasil pemeriksaan Nenden sudah keluar dan kini sang dokter tengah menerangkan kondisi fisik Nenden padanya. Airmata sudah tak bisa ditahan lagi oleh gadis itu. Aditya yang menemani Dewi menemui dokter Handoko hanya bisa memegangi tangannya.
“Ke.. kenapa sel kankernya tidak terdeteksi sebelumnya dok?” tanya Dewi di sela-sela tangisnya.
“Karena memang awalnya tidak ada. Kemungkinan ada pemicu hinggal sel ini berkembang lebih cepat. Atau bisa jadi sel ini bersembunyi di titik yang tidak disadari. Banyak kasus di mana pasien tidak pernah tahu kalau mengidap kanker. Tidak ada tanda-tanda dan ternyata sel kanker sudah menyebar dengan cepat.”
“Lalu, apa pilihan pengobatan untuk ibu saya?”
“Kanker ibu Nenden sangat ganas. Awalnya ini sel kanker menyerang perut, tapi tadi kami mendapati sel sudah menyebar ke paru.”
“Astaghfirullah..” tangis Dewi semakin kencang.
“Untuk sementara kami akan melakukan kemoterapi demi mematikan sel tersebut dan mencegah penyebaran ke organ lain. Jika berhasil, selanjutnya akan dilakukan operasi. Setiap hari kami akan terus memantau perkembangannya.”
Setelah penjelasan dokter Handoko berakhir, Aditya mengajak Dewi keluar dari ruangan dokter tersebut. Keduanya duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tunggu. Dewi semakin terisak mengingat kondisi ibunya.
“Sabar.. De..”
Hanya satu kata itu yang mampu Aditya katakan pada gadis tercintanya. Sejatinya dia juga bingung bagaimana menghibur Dewi. Jika dirinya berada di posisi gadis itu, dipastikan akan melakukan hal yang sama. Dewi mengusap airmatanya, kemudian meminta Aditya menemaninya kembali ke dalam kamar perawatan. Pasti sang ibu sudah menunggunya.
“Apa kata dokter, neng?” tanya Nenden begitu Dewi datang.
Melihat mata sang anak yang sembab, Nenden sudah bisa menebak kalau keadaannya tidak baik. Wanita itu tidak bisa menahan airmatanya. Bukan penyakitnya yang membuatnya bersedih. Namun jika dirinya tidak bisa bertahan, lalu bagaimana nasib Dewi nantinya. Anak gadisnya akan hidup seorang diri. Dia juga tidak bisa meminta tolong pada saudaranya di Jakarta, karena hidup mereka pun pas-pasan. Begitu pula dengan keluarga almarhum suaminya.
“Maafkan ibu, neng. Maaf kalau ibu selalu membuatmu susah dan bersedih.”
“Ibu kenapa bilang gitu? Ibu harus sembuh, Dewi masih butuh ibu. Ibu ngga boleh nyerah.”
Dewi memeluk Nenden dan menumpahkan semua kesedihannya. Aditya hanya mampu terdiam memandangi dua wanita di hadapannya yang tengah menangis. Dia menyusut air di sudut matanya, dirinya pun merasakan kesedihan yang sama.
🌸🌸🌸
Roxas mencoba mencuri waktu untuk menjenguk Nenden di rumah sakit. Jadwalnya mengikuti pelatihan untuk acara ulang tahun yang akan diselenggarakan seminggu lagi, membuatnya sulit untuk keluar dari hotel. Dia diperbolehkan keluar setelah meminta ijin langsung dari Mahes.
Berbeda dengan Adrian, pria itu harus berangkat ke Jambi. Mendadak kantornya mendapat pekerjaan. Rudi yang medapat tawaran pekerjaan, tidak bisa menolak karena nominalnya yang cukup besar. Hari Minggu pagi setelah melihat penampilan Aditya di café, pria itu langsung berangkat ke Jambi tanpa mengetahui keadaan Nenden.
“Neng.. kamu ngga kuliah?”
“Ngga, bu.”
“Kenapa? Bukannya semester ini sudah mulai.”
“Ngga ada yang jagain ibu.”
“Ibu ngga apa-apa, neng. Kamu berangkat aja. Jangan sampai nilai kamu jelek semester ini. Ayo neng.”
Nenden terus membujuk anaknya, namun Dewi bergeming. Dia tak ingin meninggalkan ibunya sendiri. Di saat bersamaan, Aditya datang sepulang dari hotel. Pemuda itu baru selesai menjalani shift malam.
“Kamu kuliah aja, De. Biar ibu aku yang jaga.”
“Tapi, Dit.”
“Kuliah, De. Kamu jangan bikin ibu sedih. Ayo aku antar. Habis antar kamu, aku ke sini lagi.”
Dewi melihat sejenak pada Nenden, wanita itu hanya menganggukkan kepalanya. Akhirnya Dewi mengalah dan memutuskan untuk kuliah. Setelah menitipkan ibunya pada penunggu bed sebelah, Dewi dan Aditya meninggalkan rumah sakit. Sebelum ke kampus, Dewi kembali ke rumah dulu untuk berganti pakaian.
“De.. jangan lupa kasih tau bang Ad. Aku belum sempat kasih tau abang soal ibu,” ujar Aditya setelah mereka sampai di kampus.
“Iya.”
“Kuliah yang benar. Jangan cemasin ibu. Ada aku yang jaga,” Aditya mengusap puncak kepala Dewi.
Pemuda itu memutar motornya kemudian meninggalkan pelataran kampus. Sepeninggal Aditya, Dewi segera masuk ke gedung fakultasnya. Perkuliahan pertama akan dimulai lima menit lagi. Dia harus bergegas sampai di kelas.
Selama perkuliahan, gadis itu tidak dapat berkonsentrasi. Pikirannya terus tertuju pada Nenden. Jam sepuluh nanti, ibunya akan kembali menjalani kemoterapi. Dewi melirik jam di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul sembilan lebih lima puluh enam menit. Empat menit lagi Nenden akan menjalani kemoterapi. Mungkin saja Aditya sedang mengantar ibunya ke sana.
Pukul sepuluh lebih empat puluh menit akhirnya perkuliahan berakhir. Dewi segera membereskan buku-bukunya. Sheila yang bingung melihat Dewi begitu tergesa, tentunya menjadi penasaran.
“Wi.. kok buru-buru amat. Mau kemana?”
“Ke rumah sakit.”
“Siapa yang sakit? Ibu?”
“Iya, Shei. Udah seminggu ibu dirawat.”
“Ya Allah, Wi. Kenapa kamu ngga kasih tau aku?”
__ADS_1
“Maaf.”
“Ayo kita ke rumah sakit,” ajak Sheila.
Dewi mengangkat tas ranselnya kemudian menyampirkan ke bahu. Bersama dengan Sheila, dia keluar dari kelas. Di dekat ruang dosen, dia berpapasan dengan Adrian. Gadis itu teringat akan pesan Aditya padanya.
“Pak.. bisa bicara sebentar?”
“Masalah kuliah atau pribadi?”
“Pribadi.”
“Ok.”
“Shei.. bisa tunggu aku bentar?”
“Iya. Aku tunggu di depan gedung ya.”
Dewi menganggukkan kepalanya, kemudian mengikuti langkah Adrian menuju halaman belakang gedung fakultas. Adrian mengambil duduk di bangku semen yang ada di sana. Dengan kepala menunduk, Dewi mendekat kemudian mendudukkan diri di samping Adrian.
“Ada apa?”
Mata Dewi masih menatap ke arah bawah. Dia yakin sekali, kalau tangisnya akan segera pecah begitu membicarakan tentang Nenden. Adrian masih sabar menunggu sampai gadis itu membuka mulutnya. Dewi menarik nafas panjang, kemudian mengangkat kepalanya. Menatap wajah teduh Adrian semakin membuatnya ingin menangis.
“Ada apa?” tanya Adrian lagi.
“Ibu…” suara Dewi terdengar lirih.
“Ada apa dengan ibu?”
“Ibu… ibu sakit lagi. Kata dokter.. ibu… kena kan..ker..”
Airmata yang sedari tadi ditahan akhirnya mendesak keluar, membasahi kedua pipi Dewi. Gadis itu menundukkan kepalanya, kemudian terisak. Adrian pun terkejut mendengar kabar tentang Nenden. Pria itu tak bisa mengatakan apa-apa. Dia hanya mampu memandangi Dewi yang masih menangis.
“Aku takut ibu pergi,” ujar Dewi di sela-sela tangisnya.
“Jangan berkata seperti itu.”
Tangis Dewi semakin kencang. Dia seakan tengah melepaskan beban hatinya saat ini. Berbicara dengan Adrian, membuatnya ingin melepaskan semua beban yang menggelayuti hatinya.
“Menangislah sepuasmu.”
Tangan Adrian bergerak mengusap puncak kepala Dewi. Membiarkan gadis itu mengeluarkan semua kesedihannya. Ingin rasanya menarik Dewi ke dalam pelukannya, namun ditahannya semua itu. Dia hanya duduk menemani gadis itu menangis sepuasnya.
🌸🌸🌸
“Nak Rian.”
Panggil Nenden dengan suara lemah, ketika wanita itu membuka matanya. Dilihatnya Adrian tengah duduk di dekat bed. Matanya melihat sekeliling, namun tak mendapati Dewi di sana.
“Ibu mau minum?”
Nenden hanya menganggukkan kepalanya. Adrian segera mengambil minuman dari atas nakas kemudian membantu wanita itu untuk minum. Nenden kembali membaringkan tubuhnya. Adrian sedikit menaikkan bed agar posisi ibu dari Dewi itu sedikit tegak.
“Dewi mana?”
“Dewi sedang makan dengan Adit.”
“Bagaimana kabar nak Rian?”
“Alhamdulillah, baik. Gimana ibu? Sudah enakan?”
“Yah.. beginilah nak Rian. Kalau sudah kemo, perut mual, bawaannya lemas pengen tidur terus.”
“Mudah-mudahan keadaan ibu lekas membaik.”
“Aamiin..”
Keadaan hening sejenak. Terlihat beberapa kali Nenden menarik nafas panjang. Wanita itu merasakan sedikit sesak di dadanya. Dia meminta Adrian kembali menaikkan kepala bed untuknya.
“Cukup, bu?”
“Iya.”
Nenden kembali merebahkan kepalanya di bantal. Posisi yang sekarang membuatnya bisa bernafas lebih baik. Matanya melihat ke bed yang ada di seberangnya. Tadi seusai kemoterapi, pasien di sana menghembuskan nafas terakhirnya. Padahal mereka masih berbincang saat sarapan.
“Nak Rian.. apa ibu bisa minta tolong?”
“Apa bu? Katakan saja.”
“Kalau sesuatu terjadi pada ibu, tolong dampingi Dewi. Dia pasti sedih kalau ibu pergi,” airmata Nenden mengalir saat mengatakannya.
“Ibu jangan bicara seperti itu.”
“Dewi.. sempat kehilangan semangat saat bapaknya pergi. Ibu tidak mau hal itu terjadi lagi. Ibu mohon berikan semangat padanya untuk meneruskan kuliahnya, sesuai keinginan almarhum bapak. Ibu percaya, nak Rian mampu membimbing Dewi. Tolong ibu…”
“Baik, bu. Tapi ibu juga harus berusaha untuk sembuh. Dewi akan sangat bahagia kalau ada ibu yang selalu mendampinginya.”
“Bukannya ibu tidak ingin sembuh. Tapi ibu merasa, waktu ibu tidak akan lama lagi. Dewi hanya seorang diri. Tidak mungkin juga ibu menitipkannya pada saudara ibu atau bapaknya. Mereka punya kehidupan sendiri. Pasti canggung juga untuk Dewi.”
“Makanya ibu harus kuat, demi Dewi.”
“Tapi nak Rian mau kan mengabulkan keinginan ibu?”
“In Syaa Allah, bu. Saya akan terus membimbing Dewi.”
“Terima kasih.”
Percakapan keduanya terhenti ketika Dewi dan Aditya masuk ke dalam ruangan. Adrian bangun dari duduknya, kemudian mempersilahkan Dewi duduk di sana. Pria itu berdiri di ujung ranjang. Apa yang dikatakan Nenden barusan, sedikit banyak mengganggu pikirannya.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Moga lekas sembuh ya bu Nenden...