Naik Ranjang

Naik Ranjang
Totalitas Akting


__ADS_3

Pipit membuka helm yang dikenakannya, kemudian memberikannya pada Roxas. Keduanya sedang berada di pelataran parkir Red Kingdom café. Wanita itu memang mengajak pria yang dijodohkan oleh kakaknya di sini. Ini adalah pria keempat yang akan ditemuinya. Ida masih belum berhenti untuk menjodohkannya, karena dua minggu lagi ibunya akan datang.


“Xas.. kamu datengnya nanti kalau udah aku kasih kode. Kalau dia udah nyerempet-nyerempet soal nikah.”


“Tapi jangan kaya kemarin ya, tan. Sumpah kaget aku dibilang udah nanem saham. Lihat lubangnya aja belum udah dibilang nebar benih.”


PLAK


Sebuah tepukan mendarat di kepala Roxas. Pemuda itu memang selalu tanpa saringan jika sudah berbicara. Tapi selain Roxas tidak ada yang bisa dimintai pertolongan. Tidak mungkin dia mengajak Adrian atau Aditya sebagai pacarnya.


“Aku masuk duluan. Ingat, nanti akting yang bagus, yang meyakinkan.”


“Iya.”


Pipit menarik nafas panjang kemudian berjalan memasuki café. Nampak seorang pria seumuran dirinya mengangkat tangannya ketika melihat wanita itu masuk. Pipit segera melangkahkan kakinya menuju meja tersebut. Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sang pria berdiri menyambut uluran tangannya.


“Pipit.”


“Viren.”


Keduanya kemudian mendudukkan diri di kursi. Pipit melambaikan tangannya pada sang pelayan. Wanita itu langsung memesan makanan dan minuman. Setelah mencatat pesanan, sang pelayan langsung meninggalkan meja. Viren terus memperhatikan wajah cantik Pipit. Rasanya tak salah kalau dirinya menerima perjodohan ini. Selain cantik, Pipit juga sudah bekerja dan mempunyai jabatan penting di kantornya. Itu artinya dia tidak perlu menjadi sapi perah untuk menafkahi keluarganya nanti.


“Ternyata wajahmu lebih cantik aslinya dari pada di foto,” Viren membuka percakapan.


“Oh jelas. Yang asli lebih menggoda,” jawab Pipit sekenanya.


“Kamu kerja di mana?”


“Hotel Amarta.”


“Wah hotel bagus itu. Katanya sekarang jadi hotel bintang enam ya.”


Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Pipit. Matanya terus menelisik lelaki di hadapannya. Kulitnya kuning langsat, tubuhnya cukup tinggi tapi sepertinya masih di bawah Roxas. Wajahnya lumayan, ngga malu-maluin buat dibawa kondangan. Di telinga sebelah kirinya terdapat anting kecil, menambah kesan bad boy padanya.


“Kamu sendiri kerja di mana?”


“Di La Race entertainmet.”


“Oh pantes ya, dibolehin tindik kuping gitu,” Pipit menunjuk pada telinga kiri Viren. Pria itu meraba telinganya sambil tertawa.


“Bagian apa?”


“Talent.”


“Wah pasti banyak ngurusin cewek-cewek.”


“Gitu deh. Tapi yang cantik dan cerdas kaya kamu jarang.”


“Wow.. kayanya kamu talent bagian ngegombal ya.”


“Hahaha…”


Mata Viren sedikit menyipit ketika tertawa. Pipit hanya memperhatikan dengan wajah tanpa eskpresi. Dari sekali lihat, dia sudah yakin kalau Viren itu tipe lelaki setia, setiap tikungan pasti ada gebetannya.


Seorang pelayan datang membawakan minuman pesanan mereka, kemudian menaruhnya di atas meja. Pipit langsung mengambil gelasnya kemudian menyeruputnya pelan. Viren melakukan hal yang sama, dengan mata terus melihat pada Pipit.


“Ngomong-ngomong kok kamu mau sih ikut perjodohan kaya gini,” tembak Pipit.


“Ya karena aku jomblo, hahaha..”


“Yakin jomblo? Kayanya ngga deh.”


“Beneran aku masih singlet. Makanya aku senang banget waktu mama mau jodohin aku. Ternyata ngga sia-sia ya aku bertahan sebagai jomblo, kalau jodohku kamu.”


“Tapi aku bukan jomblo loh.”


Ucapan Pipit sontak mengejutkan Viren. Berdasarkan info dari sang mama, wanita yang akan berkenalan dengannya masih sendiri. Makanya dia diminta untuk bertemu dengannya. Melihat wajah Viren yang nampak terkejut, Pipit melanjutkan ucapannya.


“Kok kaget?”


“Ya kaget lah. Setahuku kamu masih sendiri.”


Terdengar tawa pelan Pipit. Wanita itu menyugar pelan rambutnya ke belakang. Itu adalah tanda yang diberikan Pipit pada Roxas. Pertanda pria itu harus segera datang menghampirinya. Beberapa menit kemudian Roxas datang, kemudian duduk di samping Pipit.


“Udah lama nunggu?” tanya Roxas.


“Belum, baru sepuluh menitan,” jawab Pipit sambil tersenyum.


Viren memperhatikan Roxas yang baru saja tiba. Dia menebak kalau usia pria di hadapannya mungkin baru 21 atau 22 tahun. Tapi wajahnya sangat tampan, apalagi ada darah blasteran dalam dirinya. Pipit juga terlihat ceria menyambut kedatangan pria itu.


“Ini siapa? Adik kamu?” tanya Viren.


“Ya ampun, aku lupa ngenalin. Kenalkan, ini Roxas, pacarku.”


“Pacar?”


Pipit hanya menganggukkan kepalanya. Walau tak percaya, Viren segera mengulurkan tangannya menjabat tangan Roxas seraya berkenalan.


“Aku kira dia adikmu. Dia kayanya masih muda.”


“Iya, baru 21 tahun. Sebenarnya aku suka dengan berondong, hihihi..”


“Hah?”


Mulut Viren menganga, lagi-lagi Pipit membuatnya terkaget-kaget. Menurut info, usia Pipit saat ini 28 tahun. Jika Roxas sekarang 21 tahun, maka perbedaan usia mereka mencapai 7 tahun. Mungkin ini alasan orang tua Pipit tidak menyetujuinya dan akhirnya berniat menjodohkan Pipit.

__ADS_1


“Orang tuaku belum setuju aku nikah sama Roxas. Usia kita kan emang beda jauh. Tapi.. Roxas itu laki-laki baik dan bertanggung jawab. Dia juga sudah berpenghasilan dan siap menjadi imam hidupku. Aku hanya tinggal meyakinkan keluargaku saja. Benar kan sayang?” Pipit melihat pada Roxas.


“Iya, sayang,” sebelah tangan Roxas menggenggam tangan Pipit dan sebelahnya lagi merapihkan anak rambut yang sedikit menutupi mata wanita itu.


Heleh.. modus nih anak, pake pegang-pegang gue segala. Awas aja lo..


“Aku harap pertemuan kita sampai sini aja, ya. Gossip soal aku masih jomblo ngga benar. Kenyataannya kita lagi memperjuangkan restu untuk menikah.”


“Iya, bang. Doain aja ya, semoga kita cepat menikah,” Roxas meraih tangan Pipit kemudian mengecup punggung tangannya.


CUP


Pipit cukup terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Roxas. Namun sebisa mungkin dia menyembunyikan keterkejutannya. Viren hanya tersenyum hambar melihat kemesraan pasangan di depannya. Dia segera berdiri dari duduknya, rasanya percuma berlama-lama dengan mereka.


“Aku pergi dulu. Sukses untuk kalian berdua.”


Viren bangun dari duduknya, kemudian berjalan keluar café. Perasaannya campur aduk antara marah, kesal dan malu. Mata Pipit terus mengikuti pergerakan pria tersebut. Setelah Viren benar-benar keluar dari café, wanita itu menarik tangannya lalu memukul lengan pria itu.


“Adaww.. sakit, bu.”


“Balesan buat kamu. Modus aja, cari-cari kesempatan dalam kesempitan.”


“Bu.. akting itu, akting. Kalau kita biasa aja, nanti dia curiga. Harusnya ibu bersyukur aku tuh totalitas aktingnya.”


“Serah. Ayo pulang.”


“Ngga makan malam dulu bibeh,” goda Roxas.


“Bibeh.. bibeh pala lu peyang,” Pipit bangun dari duduknya kemudian segera meninggalkan Roxas.


Pria itu terpingkal melihat sikap jutek Pipit. Setelah menghabiskan minumannya, dia segera menyusul Pipit. Terlihat wanita itu sedang menunggu di dekat si hejo dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Roxas mengambil helm kemudian memberikannya pada wanita tersebut.


“Jangan lupa besok kamu ada pemotretan buat produk apparel.”


“Iya, bu.”


“Heran aku, kenapa kontrak kamu mampirnya ke meja aku terus. Emang aku manajer kamu apa?”


“Ngga apa-apa bu. Ibu aja yang jadi manajer aku.”


“Berani bayar berapa kamu?”


“Bayar pake cinta, bu. Hahaha..”


Pipit meletakkan tangan di kepala Roxas, kemudian menoyornya pelan. Namun tak ayal bibirnya menyunggingkan senyuman. Pria yang tengah menjalankan kendaraan roda dua ini memang selalu sukses membuatnya tersenyum atau tertawa lewat banyolannya.


Si hejo terus bergerak menyusuri jalanan yang mulai ramai dipadati kendaraan roda empat dan dua. Roxas masih belum mau mengganti tunggangannya, padahal uangnya lebih dari cukup untuk membeli motor baru. Tiba-tiba saja laju si hejo mulai tersendat.


“Lah.. lah.. kunaon deui si hejo.. (kenapa lagi si hejo).”


“Kenapa lagi? Jangan-jangan lupa isi bensin lagi.”


“Ngga, bu. Tadi sebelum berangkat aku isi full tank. Wah onderdilna ieu mah ngadat (onderdilnya ngambek kayanya).”


Roxas turun dari si hejo, lalu memeriksanya sebentar. Beberapa kali dia mencoba menghidupkan, tetapi si hejo sepertinya memang pingsan dan sulit disadarkan. Pria itu menoleh sambil melempar cengirannya.


“Harus ke bengkel kayanya, bu.”


“Hadeuh ada-ada aja. Bengkel di mana dekat sini?”


“Ada bu, di depan. Dua ratus meteran lah.”


“Ya udah, ayo.”


“Ibu mau bantu dorong?”


“Ya iya, biar cepet sampe. Kalo bantu doa doang, lama sampenya.”


Wajah Roxas menunjukkan senyuman. Baru kali ini ada perempuan yang rela mendorong si hejo bersamanya setelah Dewi. Kedua tangan Roxas berada di stang, kemudian mulai mendorong. Di bagian belakang, Pipit ikut mendorong. Tangannya bertumpu pada ujung jok.


Akhirnya mereka tiba juga di bengkel sederhana yang sebentar lagi akan bersiap untuk tutup. Melihat kedatangan pelanggan, sang montir segera menghampiri Roxas.


“Kunaon kang? (kenapa kang).”


“Duka teuing. Jiganya aya nu lesot, duka kedah digentos. Tos sabaraha kali sok mogok wae. Dipariksa we kang, naon wae nu kedah digentos (Ngga tau. Kayanya ada yang copot atau harus diganti. Udah berapa kali suka mogok aja. Diperiksa aja kang, apa aja yang harus diganti).”


“Maklum kang, motorna tos uzur, hahaha… (maklum kang, motornya udah tua).”


“Hahaha.. muhun, kang. Motor karuhun iyeu teh (iya, kang. Motor nenek moyang).”


Sang montir segera memeriksa keadaan Roxas. Pipit mendudukkan diri di bangku yang ada di sana, sementara Roxas berjongkok melihat apa yang dilakukan montir tersebut. Pria itu mencopoti beberapa onderdil yang diperkirakan menjadi biang kemogokan.


“Wah ieu mah kedah ngendong, kang. Onderdilna ge kedah pesen heula. Da nu model kieu tos rada sesah milariannana (Wah ini harus nginep, kang. Onderdilnya juga harus pesan dulu. Yang model gini agak susah nyarinya).”


“Nya teu nanaon, kang. Asal beres we.. nyungkeun nomer akang we (ngga apa-apa, kang. Asal beres aja. Minta nomer akang aja).”


Roxas mengeluarkan ponselnya. Dia segera mengetikkan beberapa angka yang disebutkan oleh montir tersebut. Roxas menekan tombol panggilan setelah menyimpannya. Seketika ponsel sang montir yang ada di saku celananya bergetar.


“Eta nomer abi, kang (itu nomer saya, kang).”


“Muhun, kang. Mun tos rengse ku abi diwaleran (Iya, kang. Kalau udah beres saya kabari).”


“Nuhun, kang.”


Sang montir mengumpulkan onderdil yang tadi dilepaskan kemudian dikumpulkan di satu tempat. Pria itu lalu memasukkan motor ke dalam. Dia menutup pintu dan menguncinya. Roxas mengajak Pipit segera pergi, karena bengkel sudah tutup.

__ADS_1


“Ayo, bu. Motor ditinggal aja. Ibu mau naik taksi online?”


“Ngga. Aku mau naik angkot aja.”


Tangan Pipit melambai ketika melihat angkot mendekat. Wanita itu segera naik ke dalamnya disusul oleh Roxas. Keduanya duduk di pojokan sambil berhadapan. Pipit melihat bingung pada pria di hadapannya.


“Kamu ngapain naik? Kan kontrakan kamu ngga sejalur sama aku.”


“Aku mau nganterin ibu. Masa ngga dianterin. Tar kalo ada apa-apa di jalan, aku kena gibeng bang Rian sama Adit.”


“Lebay.”


Meski begitu, senyum Pipit terbit mendengarnya. Roxas memang pria yang baik dan bertanggung jawab. Dia heran kenapa Yulita sama sekali tidak tergerak hatinya dengan kebaikan pria ini.


“Kamu sama Yulita gimana?”


“Layu sebelum berkembang, bu.”


“Kok gitu? Semangat dong ngejarnya.”


“Ngga lah, bu. Dia cuma anggap aku adik aja. Meni mengsedih,” Roxas berpura-pura menangis.


“Itu coba airmatanya dilap yang bener,” Pipit mengusap telinga Roxas sambil terpingkal.


“Hahaha… si ibu bocor juga, hahaha…”


“Eh iya, Yasiin yang buat 40 hari udah beres belum?”


“Tiga hari lagi katanya, bu. Nanti aku aja yang ambil.”


“Ok deh.”


Di sebuah perempatan, keduanya turun dari angkot kemudian menyambung naik angkot lain yang melewati daerah perumahan di mana Pipit tinggal. Kondisi angkot sama seperti tadi, hanya diisi dua atau tiga orang saja. Saat ini angkot memang sulit bersaing dengan ojek atau taksi online.


“Xas.. kamu ganti motor aja napa sih. Ngga cape apa mogok mulu?”


“Pengennya bu. Tapi itu motor keramat.”


“Ya ngga usah dijual si hejo. Kamu kurungin aja pake aquarium terus pajang di dalem rumah, hahaha…”


“Gusti karunya teuing si hejo jadi arwana hahaha…”


“Tapi emang kamu harus beli kendaraan baru, Xas. Kamu bakalan banyak tawaran pemotretan. Kamu harus mobile, kalo si hejo mogok mulu, yang ada kamu telat terus.”


“Iya, sih. Bu. Bagusnya aku beli motor apa ya?”


“Ya kamu maunya apa? Yang bikin nyaman dan ngga bikin kantong kamu berat. Kamu kan punya kebutuhan lain juga.”


“Iya juga sih, bu.”


Roxas mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah ada beberapa pilihan merk motor yang akan dibelinya. Dia akan berdiskusi dengan Aditya, siapa tahu sahabatnya itu bisa memberinya masukan.


Tangan Pipit terangkat kemudian mengetuk atap angkot. Wanita itu bangun kemudian berjalan turun dari angkot. Roxas pun mengekor di belakang. Dia mendahului Pipit membayar ongkos angkot. Keduanya lalu berjalan memasuki perumahan tempat tinggal Ida.


“Makasih udah nganterin. Kamu mau masuk dulu?”


“Ngga deh, bu. Aku langsung aja.”


“Ya udah. Kamu hati-hati.”


“Iya, bu. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Roxas membalikkan badannya kemudian meninggalkan kediaman Toni. Untuk beberapa saat Pipit masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Roxas sampai menghilang di belokan. Wanita itu segera membuka pintu pagar begitu Roxas sudah tak terlihat. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum masuk ke rumah. Sudah bisa dipastikan sang kakak akan langsung mencecarnya.


🌸🌸🌸


Dua hari menjelang 40 hari Nenden, Iis sudah datang bersama dengan suaminya. Begitu pula dengan Nandang. Mereka cukup terkejut karena tidak perlu menyiapkan apa-apa lagi. Semua sudah diurus oleh pak haji Soleh. Bahkan untuk Yasiin sudah dihandle oleh Pipit. Mereka hanya perlu menyiapkan tenaga saja untuk membereskan ruangan.


Tita yang tidak kembali ke kampung setelah datang bersama dengan Soka, ikut bergabung duduk di ruang depan bersama dengan suami dan ipar-iparnya. Tanpa menyerah, dia terus menggaungkan perihal pernikahan. Kebetulan sekali, Dewi juga sudah pulang kuliah. Gadis itu duduk di samping Iis.


“Jadi bagaimana, Wi? Kamu setuju kan buat menikah?” Tita membuka pembicaraan.


“Ai si eceu eta deui eta deui nu diomongan (si mba, itu lagi itu lagi yang diomongin),” sewot Iis. Namun Tita tak menggubris omongan Iis, dia fokus pada Dewi. Apalagi sekarang ada Nandang yang akan membantunya.


“Kan dari kemarin Dewi bilang ngga mau, bi.”


“Pikirin lagi, Wi. Kapan lagi kamu dapet yang modelan den Soka. Udah ganteng, mapan lagi. Dari pada sama Adit yang kere.”


Mata Dewi melotot mendengar ucapan Tita. Dia semakin kesal saja dengan adik ipar almarhum bapaknya ini. Ucapannya tidak pernah disaring, bisa-bisanya menghina Aditya. Padahal kehidupan pria itu jauh lebih mapan dari keluarga Tita dan Nandang.


“Wi.. apa yang dibilang bibimu, benar. Coba pikirkan lagi. Hidup kan bukan buat hari ini dan esok saja. Tapi kamu harus memikirkan ke depan. Kalau selesai kuliah kamu langsung dapat kerja, kalau ngga gimana? Belum lagi kamu kan harus bayar kontrakan, biaya sehari-hari, apa cukup pendapatanmu?” sambung Nandang.


“Ai akang. Harusnya akang teh dukung Dewi, bukannya ngomong kaya gitu,” sela Iis.


“Kita realistis aja, Is. Kita ini susah, kalau Dewi bisa mendapatkan pasangan yang bisa menjamin hidupnya, bukannya bagus? Kamu selalu mengganggap buruk niat baik kakakmu.”


“Masalahnya…”


“Assalamu’alaikum..”


🌸🌸🌸


**Waalaikumsalam.. Ayo masuk, jangan lupa sendalnlya dilepas😂

__ADS_1


Siapa nih yang dateng**???


__ADS_2