Naik Ranjang

Naik Ranjang
Bonchap : Kerinduan


__ADS_3

Dibantu Dian, Dewi mendandani anak-anaknya. Hari ini mereka akan menghadiri acara wisuda Arkhan. Anak itu sekarang sudah berusia enam tahun dan baru saja menyelesaikan sekolahnya di TK B. Anak itu menjalani pendidikan tingkat kanak-kanak di sekolah yang sama dengan Zidan, hanya saja Zidan masih menjalani satu tahun lagi di sana.


Davira sudah terlihat cantik mengenakan dress lengan panjang selutut yang dilapisi dengan celana legging. Tak lupa hijab instan yang menempel di kepalanya, sesuai dengan warna legging yang dikenakannya. Aksa juga sudah siap dengan pakaiannya, begitu pula dengan Arkhan yang masih berada di kamarnya.


Adrian keluar dari kamar mengenakan kemeja batik yang senada dengan pakaian yang dikenakan istrinya. Pria itu segera menuju ruang tengah. Kedua anaknya juga sudah siap. Dia memangku Davira yang sudah terlihat cantik.


“Arkhan mana?”


“Masih di atas. Sebentar lagi juga turun.”


“Toganya udah ada?”


“Ada di sekolah. Toganya nyewa ngga beli.”


Pria itu hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar jawaban sang istri. Dia mengambil kue yang ada di atas meja lalu memberikannya pada Davira. Sedang dirinya menyesap kopi yang sudah disediakan untuknya. Dewi sendiri menyempatkan menyusui Aksa, supaya anak itu tidak rewel di sekolah sang kakak nanti.


Sementara itu di kamar, Arkhan masih mematut dirinya di depan cermin. Dia sudah siap dengan seragamnya. Tidak lupa anak itu mengenakan kopeah yang senada dengan warna seragamnya. Setelah dirasa tidak ada yang kurang dengan penampilannya, Arkhan bersiap untuk turun. Seperti biasa, dia akan berpamitan dahulu dengan sang papa. Anak itu berdiri di depan foto Aditya.


“Papa.. hari ini aku diwisuda. Aku diminta tampil di acara pentas seni. Doain aku ya, pa supaya penampilanku bagus. Aku bisa buat bangga mama, ayah, Avi sama Aksa. Oh iya, pa, yang ngiringin aku nyanyi genpa loh. Aku pergi dulu ya, pa. Assalamu’alaikum.”


Arkhan mengecup dua jarinya lalu ditempelkan ke foto Aditya. Setelahnya anak tersebut keluar dari kamarnya. Dengan cepat dia menuruni anak tangga. Nampak kedua orang tua dan adik-adiknya sudah menunggu di sana. Arkhan menghampiri Dewi lalu duduk di sampingnya.


“Anak mama sudah siap?”


“Udah, mama.”


“Susunya diminum dulu, sayang.”


Dengan cepat Arkhan mengambil segelas susu di atas meja, lalu meneguknya sampai habis. Dewi mengambil tisu lalu mengusap sudut bibir anaknya yang terdapat sisa susu. Arkhan bangun dari duduknya, bersiap untuk pergi. Adrian yang sudah menghabiskan kopinya juga bangun dengan Davira dalam gendongannya.


“Kita berangkat sekarang?” tanya Adrian.


“Iya, ayah.”


Adrian mengulurkan tangannya, Arkhan menyambut tangan sang ayah. Keduanya menuju mobil yang sudah siap di depan rumah. Arkhan naik ke kursi penumpang bagian depan. Dia segera memakai sabuk pengamannya. Adrian mendudukkan Davira di kursi bagian belakang lalu memasangkan sabuk pengaman juga di tubuh anaknya. Tak lama Dewi masuk bersama dengan Aksa. Melihat semua penumpang sudah berada di posisinya masing-masing, Adrian segera menjalankan kendaraannya.


Sepanjang perjalanan Arkhan terus menghafalkan lagu yang akan dinyanyikannya. Untuk acara wisuda di sekolahnya, akan ada pertunjukkan seni yang diisi oleh semua siswa yang bersekolah di sana. Arkhan diminta tampil menyanyi solo dengan diiringi gitar. Pihak sekolah meminta Roxas selaku orang tua Zidan untuk mengiringi Arkhan menyanyi.


Mobil yang dikendarai Adrian berhenti di depan sekolah Arkhan. Sudah banyak kendaraan yang terparkir di sana. Pria itu segera turun kemudian mengambil Davira. Pria itu berjalan memasuki gedung sekolah dengan Arkhan dan Davira di kanan, kirinya. Dewi berjalan di belakangnya sambil menggendong Aksa.


Terlihat lambaian tangan Pipit ketika mereka memasuki aula tempat acara diselenggarakan. Mereka segera menghampiri wanita itu. Arkhan dan Davira segera mencium punggung tangan Pipit yang biasa mereka panggil dengan sebutan genma. Wali kelas Arkhan menyambut kedatangan anak didiknya. Dia meminta Arkhan bergabung dengan teman-temannya di tempat yang sudah disediakan.


Acara dimulai dengan sambutan dari pihak sekolah dan juga perwakilan dari orang tua. Selanjutnya adalah pengumuman siswa berprestasi dari kelas A dan B. Dari hasil pembelajaran selama setahun, Arkhan berhasil menyabet ranking satu untuk kelas B2. Di sekolahnya terdapat dua kelas B, B1 untuk kelas anak perempuan, kelas B2 untuk anak laki-laki. Sedang Zidan berhasil menyabet ranking 3 untuk kategori kelas A2. Beruntung anak memiliki kecerdasan sang mama.


Setelah pemberian hadiah untuk siswa berprestasi, barulah wisuda dimulai. Semua anak TK B yang mengikuti wisuda dipersilahkan naik ke atas panggung. Mereka semua sudah mengenakan toga berwarna hitam dengan warna kuning di bagian pinggirnya. Mereka berdiri mengantri di dekat panggung. Kepala dan wakil kepala sekolah naik ke atas panggung, kemudian guru yang berada di bawah panggung mempersilahkan anak-anak tersebut naik ke atas panggung.


Satu per satu mereka naik untuk menerima medali dan juga piala dari kepala dan wakil kepala sekolah. Sesudahnya mereka berbaris di atas panggung. Usai pemberian medali dan piala, Arkhan diminta maju untuk memberikan sambutan. Sambutan sendiri sudah disiapkan oleh pihak sekolah, anak itu hanya tinggal membacakan saja. Arkhan maju ke depan, tangannya memegang mic. Anak itu sudah menghafal pidato singkat yang sudah disiapkan untuknya.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”


“Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”


“Alhamdulillah hari ini kami bisa melaksanakan wisuda bersama teman-teman. Selama bersekolah di sini kami merasa senang, banyak pelajaran yang bisa kami ambil dan memiliki teman-teman yang baik. Terima kasih untuk bu guru tercinta yang sudah membimbing kami selama ini. Terima kasih untuk ayah dan bunda yang selalu membantu kami belajar di rumah dan mendoakan kami. Kami sayang kalian semua. Semoga Allah membalas kebaikan kalian, aamiin yaa rabbl’aalamiin. Sekian sambutan dari saya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”


“Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”


Gemuruh tepuk tangan terdengar ketika Arkhan selesai menyampaikan pidato singkatnya. Anak itu kembali ke barisannya. Sekarang mereka akan melakukan foto bersama. Sang fotografer sudah bersiap mengabadikan gambar mereka semua. Para orang tua juga ikut mengabadikan lewat kamera masing-masing. Adrian terus mengambil gambar sang anak dengan kamera DSLR-nya.


Setelah pelantikan wisudawan, acara dilanjutkan dengan penampilan pentas seni persembahan dari semua murid. Anak-anak TK A1 naik ke atas panggung, mereka akan tampil membacakan surat-surat pendek. Dengan suara lantang mereka membacakan surat-surat pendek sebanyak tujuh surat.


Penampilan selanjutnya adalah tarian yang dipersembahkan oleh grup satu kelas B1. Dengan mengenakan kostum tari yang sudah disediakan pihak sekolah, lima orang anak menari mengikuti irama musik lagu berjudul Kun Anta.


Setelah beberapa persembahan tari, kali ini perwakilan kelas A naik ke panggung untuk menyanyikan lagu asmaul husna. Zidan dan Cilla naik ke atas panggung. Di kedua tangan mereka sudah terdapat mic. Keduanya saling melihat lalu menganggukkan kepala. Tak lama terdengar suara Zidan dan Cilla menyanyikan lagi asmaul husna.


Roxas merekam penampilan sang anak dengan kamera ponselnya. Adrian juga mengabadikan gambar Zidan beberapa kali. Pipit nampak terharu melihat anaknya yang baru berusia lima tahun sudah bisa melafalkan asmaul husna dengan fasih dan lancar. Dia menyusut air di sudut matanya.


Usai penampilan mereka, acara terus berlanjut. Kali ini anak-anak kelas A1 naik ke atas panggung. Mereka akan membacakan hadist-hadist yang sudah dipelajari secara bergantian. Sementara di pinggir panggung Arkhan bersiap untuk tampil. Roxas berada di dekat anak itu sambil membawa gitarnya.


Satu per satu anak A1 turun dari panggung usai tampil. Salah satu guru yang didapuk sebagai pembaca acara naik ke atas panggung.


“Untuk penampilan selanjutnya, kami panggilkan Arkhan!”


Suara tepuk tangan mengiringi langkah Arkhan dan Roxas saat naik ke atas panggung. Adrian langsung bersiap dengan kameranya. Pipit menggantikan Dewi merekam penampilan anaknya. Roxas menarik kursi yang ada di panggung lalu mendudukkan diri di sana. Dia mengatur posisi mic agar pas dengan gitarnya. Arkhan juga bersiap di tengah panggung dengan mic di tangannya. Tak lama terdengar suara petikan gitar Roxas dan Arkhan mulai bernyanyi.


“Yaa man shollaita bikullil Anbiya’. Yaa man fii qolbika Rohmatun linnas. Yaa man allafta quluuban bil Islam. Yaa habiibii yaa shafii’i yaa Rasula Allah. Bi ummi wa abi, fadaytuka sayyidi. Sholatun wa salam, ‘alayka yaa Nabi.”

__ADS_1


Suara merdu Arkhan langsung terdengar ketika anak itu menyanyikan salah satu lagu favoritnya, Rahmatan lil’aalamiin milik Maher Zain. Tak dapat digambarkan bagaimana perasaan Dewi dan Adrian saat ini melihat anaknya tampil di atas panggung. Mata wanita itu berkaca-kaca, melihat Arkhan seperti melihat mendiang suaminya. Roxas juga merasakan keharuan yang sama. Dia seperti tengah mengiringi sahabatnya bernyanyi.


“Ya man hallayta hayatana bil iman. Ya man bijamalika ‘allamtal ihsan. Ya man nawwarta qulubana bil quran. Ya habibi ya shafi’i ya Rasula Allah. Bi ummi wa abi, fadaytuka sayyidi. Sholatun wa salam, ‘alayka yaa Nabi.”


Bukan hanya Dewi, namun Adrian juga merasakan hal sama. Pria itu seperti melihat sang adik tampil kembali di atas panggung untuk menghibur semua orang. Matanya tak lepas memandangi Arkhan yang menyanyikan lagu milik Maher Zain dengan begitu lancar.


Bukan hanya kedua orang tuanya, tapi semua yang hadir juga terpukau mendengar suara merdu Arkhan. Andai saja anak itu mau mengikuti ajang pencarian bakat, pasti akan lolos ke babak final. Suaranya begitu jernih dan merdu. Pelafalannya menyanyikan lagu berbahasa Arab juga begitu pas.


“Habibi ya Muhammad. Atayta bissalami wal huda, Muhammad. Habibi ya, ya Muhammad


Ya rahmatan lil’alameena ya Muhammad. Habibi ya Muhammad. Atayta bissalami wal huda, Muhammad. Habibi ya, ya Muhammad. Ya rahmatan lil’alameena ya Muhammad.”


Suara tepuk tangan kembali terdengar setelah Arkhan selesai menyanyikan lagunya. Bersama dengan Roxas, anak itu turun dari panggung. Dewi langsung menyambut sang anak lalu memeluknya dengan erat. Airmatanya luruh saat mendekap anak semata wayangnya dengan Aditya.


“Mama kenapa nangis?” tanya Arkhan seraya menghapus airmata di wajah mamanya.


“Mama cuma terharu, sayang. Suaramu bagus sekali, seperti papamu.”


“Papa pasti bangga sama aku ya, ma.”


“Iya, papamu sangat bangga padamu.”


Dewi mencium kedua pipi anaknya kemudian memeluknya lagi. Perlahan dia mengurai pelukannya. Arkhan melihat pada ayahnya yang tengah melihat ke arahnya. Mata sang ayah juga nampak berkaca-kaca. Adrian berjongkok lalu merentangkan kedua tangannya.


“Bisa peluk ayah, sayang?”


Arkhan segera menghambur dalam pelukan Adrian. Pria itu memeluk erat tubuh keponakan yang sudah dianggap anaknya sendiri seraya mendaratkan ciuman di puncak kepalanya. Dalam bayangannya, dia tengah memeluk sang adik yang sejak kepergiannya tidak pernah hadir dalam mimpinya.


“Ayah lagi kangen sama papa, ya?”


“Iya. Ayah kangen banget sama papamu. Kalau dia datang di mimpimu, tolong minta dia hadir dalam mimpi ayah.”


Mendengar kata-kata Adrian, Pipit pun tak bisa menahan tangisnya. Roxas memeluk bahu sang istri. Dia juga sangat merindukan sahabatnya yang sudah lama meninggalkannya. Dewi terus menghapus airmata yang membasahi pipinya. Davira dan Aksa yang tidak tahu apa-apa hanya menatap mamanya yang sedang menangis.


🌸🌸🌸


“Bang..”


Adrian menolehkan kepalanya ketika mendengar suara yang begitu dirindukannya memanggil namanya. Nampak Aditya berjalan mendekatinya dengan senyum tersungging di wajahnya, menampilkan lesung pipinya. Pria itu mengenakan setelan koko berwarna putih, wajahnya juga terlihat cerah. Dia mendudukkan diri di samping Adrian.


“Aku sangat merindukan abang. Maaf kalau aku ngga pernah datang menemui abang. Seperti yang abang bilang, aku lagi sibuk ngerayu bidadari.”


Terdengar tawa keduanya. Adrian memandangi wajah sang adik lekat-lekat. Penampilannya tidak berubah, masih sama saat pria itu meninggalkan dirinya. Pria itu mengusak puncak kepala sang adik yang begitu dirindukannya.


“Anakmu sudah besar sekarang. Dia mewarisi suara merdumu. Kemarin dia bernyanyi untuk acara wisuda di sekolahnya. Arkhan sudah tumbuh menjadi anak yang baik dan soleh. Dia juga sangat menyayangi adik-adiknya.”


“Alhamdulillah, aku bahagia mendengarnya. Terima kasih abang sudah mendidiknya dengan baik. Kalau aku, belum tentu bisa mendidiknya sebaik abang. Terima kasih abang sudah mau menjadi pengganti diriku, hingga dia tidak kehilangan sosok ayah. Terima kasih sudah menjaganya selama ini. Aku sayang abang.”


Aditya memeluk Adrian dengan erat. Airmata Adrian jatuh bercucuran. Setelah sang adik meninggalkannya, baru sekarang dia bisa bertemu lagi. Aditya masih memeluk sang kakak, dia tahu betapa pria itu merindukannya.


“Abang jangan bersedih lagi. Aku sudah tenang di duniaku yang sekarang. Terima kasih sudah menjaga Dewi dan Arkhan untukku. Sekarang aku sudah benar-benar tenang, ada abang yang akan selalu menjaga dua orang yang kusayangi. Aku akan menunggu abang, Dewi, mama, papa, tante, Roxas dan anak-anak di Jannah-Nya. Aku akan sabar menunggu sampai saat itu tiba. Sampaikan peluk sayangku untuk Dewi, Arkhan, Avi dan Aksa.”


Perlahan Aditya mengurai pelukannya. Wajah sang kakak masih bersimbah airmata. Aditya menyeka airmata di wajah sang kakak. Kemudian pria itu menyunggingkan senyumannya. Adrian menggenggam erat tangan Aditya. Lambat laun sosok Aditya terlihat samar lalu menghilang dari hadapan Adrian.


“Adit!”


Adrian terbangun dari tidurnya sambil memanggil nama sang adik. Dewi yang tidur di sampingnya ikut terjaga. Wanita itu bangun dari posisi berbaringnya. Disentuhnya pundak sang suami yang masih duduk terdiam di sampingnya.


“Kenapa, a?”


“Adit.. dia baru saja datang dalam mimpiku. Setelah sekian lama, baru sekarang dia muncul. Aku sangat merindukannya.”


Dewi memeluk tubuh suaminya, membelai lembut kepalanya dan mengusap punggungnya. Tangis Adrian kembali pecah dalam pelukan sang istri. Dewi membiarkan Adrian menumpahkan semua kerinduan dan kesedihannya. Daster yang dikenakannya sampai basah karena airmata suaminya.


“Aa sudah sudah menjadi abang yang baik untuknya. Aa juga sudah menjaga diriku dan Arkhan dengan sangat baik. Dia pasti tidak mau membuat abang bersedih, makanya dia tidak pernah muncul dalam mimpi abang. Cukup Arkhan saja yang menjadi pengobat rindu untuk kita semua.”


Tak ada jawaban dari Adrian, pria itu masih menangis tersedu. Perlahan Dewi melepaskan pelukannya. Dihapusnya buliran bening yang membasahi wajah suaminya, lalu menangkup wajah Adrian dengan kedua tangannya.


“Mas Adit baik-baik aja. Dia sudah tenang di alamnya, seperti yang aa bilang. Aa jangan bersedih lagi. Sudah banyak yang aa lakukan untuknya selama dia masih hidup, dan mas Adit tahu itu. Dia juga sangat menyayangi aa, seperti aa menyayanginya.”


Perasaan Adrian sedikit tenang mendengar apa yang dikatakan istrinya. Diraihnya kedua tangan Dewi lalu mendaratkan kecupan di punggung tangannya. Pelan-pelan Dewi merebahkan kembali tubuh suaminya. Dia juga ikut berbaring lalu masuk ke dalam pelukan sang suami.


Adrian mencoba memejamkan matanya kembali. Pikirannya mencoba mengulang lagi pertemuan singkatnya dengan Aditya tadi. Selain perasaan sedih, pria itu juga bahagia melihat sang adik yang sudah terlihat tenang dan bahagia. Dalam hatinya terus mendoakan agar Aditya senantiasa diberikan tempat terbaik di sisi Sang Pencipta. Adrian mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri. Wanita yang sangat dicintainya sekaligus hadiah terindah yang diberikan Aditya untuknya.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Roxas dan Pipit sedang bermain dengan kedua anaknya di teras rumahnya. Sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Dari dalamnya turun Mario bersama dengan dua orang wanita yang masih muda. Roxas berdiri kemudian membukakan pintu pagar untuk tamunya.


“Roxas, my son.”


Mario memeluk Roxas dengan hangat. Ini adalah kunjungan keduanya ke Indonesia. Dia ingin melihat cucu keduanya yang baru saja lahir beberapa bulan lalu. Walau ini adalah kunjungan keduanya, namun dia masih mengikuti perkembangan anaknya di tanah air melalui sambungan skype atau telepon.


“This is your sister. Adriana and Bianca.”


Bergantian Roxas menyalami kedua adik satu bapaknya itu. Sambil menggendong Yumna, Pipit menghampiri ayah mertuanya. Mata Mario berbinar melihat anak dalam gendongan Pipit.


“This is my grand daughter? (ini cucuku?).”


“Yes.”


“May I?”


Pipit memberikan Yumna pada Mario. Pria itu nampak senang sekali melihat Yumna tak menolak digendong olehnya. Zidan yang sedang bermain mobil-mobilan meninggalkan mainannya begitu saja lalu menghampiri ayahnya. Dia berdiri di samping Roxas seraya memandangi orang-orang yang berdiri di depannya.


“Oh look at this handsome boy. Hi.. what’s your name (oh lihat anak tampan ini. hai.. siapa namamu?),” tanya Adriana sambil berjongkok di depan Zidan.


“Zidan.”


“Hi.. Zidan. I’m Adriana, I’m your aunt (hai Zidan. Aku Adriana. Aku tantemu).”


“Aunt?”


Wajah Zidan nampak bingung. Roxas menyetarakan dirinya sejajar dengan sang anak. Dia mulai menerangkan siapa orang-orang di depannya. Dengan seksama anak itu mendengarkan penjelasan sang ayah.


“Itu kakek Zidan, namanya opa Mario. Ini tantenya Zidan. Tante Adriana dan tante Bianca.”


Kepala Zidan mengangguk-angguk mendengar penjelasan ayahnya. Roxas sendiri memilih berdamai dengan kenyataan dari pada berkutat dengan kebencian. Dengan lapang dada dia menerima Mario. Bagaimana pun juga pria itu adalah ayah kandungnya. Dalam darahnya juga mengalir darah Mario. Walau hubungan mereka masih terasa canggung, namun sudah lebih baik dari saat pertama bertemu.


“Kenapa aku jarang ketemu opa sama tante?”


“Opa sama tante tinggal di Italia.”


“Jauh ya, pa?”


“Jauh.. kalau naik delman, kira-kira lima tahun baru sampai.”


Zidan melongo mendengar ucapan papanya. Pipit menepuk lengan suaminya yang kadang tidak pernah serius dalam berbicara. Wanita itu mempersilahkan Mario dan anak-anaknya untuk masuk. Enin yang juga sudah legowo pada Mario, menyambut kedatangan mantan menantunya dengan baik. Pipit seperti biasanya menjadi penerjemah untuk suami dan juga enin.


“I bring present for you. Will you come to take it from the car? (aku bawa hadiah untukmu. Maukah kamu ikut ke mobil untuk mengambilnya?),” tanya Mario pada Zidan.


“Opa punya hadiah buat Zidan. Ikut opa ke mobil,” ujar Pipit.


Dengan wajah sumringah Zidan mengikuti Mario. Pria itu membuka bagasi mobil lalu mengeluarkan sebuah mobil-mobilan yang bisa dikendarai oleh Zidan. Mata anak itu membelalak melihatnya.


“Wow…” ucapnya.


“Let’s try this (ayo kita coba).”


Mario kembali masuk ke dalam rumah. Dia meminta Zidan mengendari mobil mini yang dibelinya untuk cucu tersayang. Pria itu mengajarkan bagaimana cara mengendarai mobil yang bisa bergerak layaknya mobil sungguhan. Mobil tersebut menggunakan aki untuk menggerakkannya.


“Yeaaayyy.. Idan jadi Rossi!” teriaknya.


“Bukan Rossi.. kalau Rossi yang dagang tahu di perempatan,” celetuk Roxas.


“Lewis Hamilton,” seru Adriana.


Tawa bahagia Zidan terdengar ketika anak itu mulai mengendarai mobilnya. Dia berputar-putar di dalam rumah. Namun karena pergerakannya di dalam rumah terbatas, Roxas mengajak anaknya itu bermain di luar rumah. Bianca menawarkan diri ikut menemani dan Roxas tak menolaknya. Sedang Adriana memilih bermain dengan Yumna.


“I’m happy for both of you. Thank you for everything (saya ikut bahagia untuk kalian berdua. Terima kasih untuk semua).”


“Roxas still awkward if near to you. But he’s loving you as a father (Roxas masih canggung jika dekat denganmu. Tapi dia menyayangimu sebagai ayahnya).”


“I know, and I’m very gratefull. This is enough for me (aku tahu, dan aku sangat bersyukur. Ini sudah cukup bagiku).”


Senyum mengembang di wajah Pipit mendengar ucapan Mario. Roxas yang masih berada di luar bersama dengan Bianca dan Zidan, diam-diam memesan makanan untuk para tamunya. Bukan makanan Italia, melainkan makanan Sunda. Dia ingin ayah dan adik-adiknya mencicipi makanan yang sangat disukainya itu.


🌸🌸🌸


**Yang galfok kemarin, aku jelasin ya. Yang pinter english itu bi Lisa bukan enin, karena pernah kerja di LN🤭


Mulai besok aku libur sampai hari lebaran.

__ADS_1


Mohon Maaf Lahir Batin untuk semuanya🙏**


__ADS_2