Naik Ranjang

Naik Ranjang
Mundur Teratur


__ADS_3

“Bang..” sapa Aditya.


Pemuda itu masih tinggal di kediaman orang tuanya, karena Toni masih belum pulang dari dinasnya di luar kota. Aditya menarik kursi di samping sang kakak yang tengah menikmati sarapan di meja makan.


“Pulang jam berapa, bang?”


“Jam tujuh. Kamu sendiri pulang jam berapa?”


“Jam satu. Aku kan kebagian shift sore.”


“Hari ini sama?”


“Iya, sama. Bentar lagi Red Kingdom café mau grand opening. Nanti abang datang ya, sekalian lihat perform perdana The Soul. Kita juga habis nambah personil, buat keyboard. Udah lengkap sekarang.”


“In Syaa Allah, nanti abang usahakan datang.”


“Sekalian ajak kak Lita.”


“Ck.. malas.”


Bukan Yulita yang ingin diajak Adrian ke grand opening Red Kingdom, dia ingin membawa Dewi ke sana. Pria itu ingin menjalin hubungan serius dengan gadis itu. Rencananya dirinya akan mengungkapkan perasaannya di sana. Adrian juga berencana merequest lagu pada adiknya. Tentu saja lagu Noah, salah satu band kesukaan Dewi.


“Yaa.. ajaklah bang.”


“Kamu aja yang ajak.”


“Abang kaya ngga tau kak Lita kaya gimana. Dia kan ngga suka nongki di café, hidupnya lurus kaya jalan tol Cikampek. Tapi kalau abang yang ajak, pasti mau. Ok, bang.”


“Tumbenan kamu minta abang ajak Lita. Jangan bilang calon makmum kamu itu Lita.”


“Astaga, bang. Bukanlah, calon makmumku tuh masih imut, kinyis-kinyis. Ini mah demi Roxas, tuh anak kan lagi naksir berat kak Lita.”


“Yang benar?”


Adrian cukup terkejut mendengar penuturan Aditya. Dia tak menyangka Roxas menyukai Yulita yang usianya empat tahun di atas pemuda itu.


“Abang ngga tau, ya. Roxas itu lebih senang sama cewek dewasa dibanding yang seumuran, apalagi yang di bawah.”


“Oh gitu. Ya udah, nanti abang ajak Litanya. Kali aja dia khilaf dan tergoda sama Roxas, hahaha….”


Adrian tak bisa menahan tawa membayangkan Yulita yang senantiasa bersikap tenang, berperilaku anggun bersanding dengan Roxas yang tingkahnya ajaib. Tapi dibalik itu, Roxas adalah pribadi yang baik dan bertanggung jawab. Kasih sayangnya pada enin, menunjukkan kualitas pemuda itu bukan kaleng-kaleng.


“Kamu kapan mau ngenalin calon makmum?”


“Ngga tau, bang. Ngga jadi kayanya.”


“Loh, kok ngga jadi?”


“Terakhir kita ngobrol, dia masih butuh waktu untuk kasih jawaban. Aku juga bebasin dia, kalau emang dia punya pilihan lain, ya ngga apa-apa. Dan akhir-akhir ini, aku ngerasa dia seperti mulai jaga jarak. Feeling aku aja sih, bang. Kayanya dia udah punya gebetan sendiri. Dari pada kecewa, aku mendingan mundur teratur deh. Jadi sahabatnya aja udah cukup, kok.”


Adrian terdiam mendengar penuturan sang adik. Sekilas dilihatnya wajah Aditya yang sedikit menunjukkan kekecewaan dan kesedihan. Sepertinya dia serius dengan gadis itu. Adrian cukup sedih melihatnya, tadinya dia berharap gadis pujaan Aditya bisa menjadi penawar luka atas keegoisan ayah mereka. Kemarin-kemarin pria itu melihat wajah Aditya yang selalu cerah dan bersemangat. Tapi sekarang, keceriaan dan semangat itu sedikit memudar.


“Kalau memang dia jodohmu, pasti akan kembali padamu, Dit. Atau mungkin Tuhan sudah menyiapkan jodoh lain yang lebih baik dari dia.”


“Aamiin.. mudah-mudahan, bang. Aku sayang banget sama dia. Tapi kalau dia ngga punya perasaan yang sama, aku bisa apa.”


Sebuah tepukan pelan mendarat di pundak sang adik. Adrian seakan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Aditya. Kemudian dia teringat hadiah yang sudah disiapkan untuk adiknya. Adrian bangun dari duduknya, kemudian bergegas menuju kamarnya. Tak lama dia kembali dengan menenteng sebuah tas berisi gitar elektrik yang diinginkan Aditya. Semoga saja hadiah ini bisa mengembalikan senyumnya.


“Dit.. nih hadiah buat kamu.”


Aditya menolehkan kepalanya. Dia terkejut melihat di tangan sang kakak terdapat sebuah tas yang dia yakini berisi gitar. Adrian menyerahkan tas di tangannya pada Aditya. Untuk sesaat Aditya hanya terdiam memandangi tas tersebut, tangannya terulur ketika melihat Adrian menyorongkan benda tersebut ke arahnya. Perlahan dibukanya tas itu, matanya membulat melihat gitar elektrik yang ingin dibelinya sudah ada di hadapannya. Bahkan merek dan tipenya benar-benar sesuai keinginannya.



“I.. ini apa bang?”


“Hadiah buat kamu. Epiphone Les Paul Standard, bener kan?”


“I.. iya sih ini yang aku mau. Tapi kenapa abang yang beliin?”


Aditya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia bingung Adrian bisa tahu merk gitar yang ingin dibelinya, padahal kakaknya itu tidak tahu menahu soal gitar. Kemudian dia teringat akan Roxas, pasti sahabatnya itu yang sudah membocorkan. Pantas saja bule kamuflase itu bertanya-tanya soal gitar yang ingin dibelinya.


“Hadiah buat kamu. Sebentar lagi band kamu bakalan perform, mudah-mudahan gitar itu jadi jalan pembuka kamu meraih apa yang kamu impikan.”


“Makasih ya, bang.”


Hanya itu yang mampu Aditya ucapkan. Pemuda itu langsung memeluk kakak tersayangnya. Dia begitu terharu akan perhatian Adrian. Walaupun tidak berharap mendapat hadiah ini, tapi setidaknya bisa mengurangi kesedihan hatinya akan hubungannya dengan Dewi yang semakin tak menentu.


Di sisi lain, Adrian juga bahagia melihat senyum di wajah sang adik. Tak sia-sia dia merogoh kocek cukup dalam untuk membelikan gitar tersebut. Hanya satu harapannya, Aditya bisa secepatnya menggapai impiannya, dan membuktikan pada sang ayah kalau pilihannya tidak salah. Hingga dia bisa kembali pulang ke rumah dengan kepala tegak.


“Bang.. ini kan harganya lumayan mahal.”


“Alhamdulillah abang habis dapat rejeki. Mr. Chan kemarin kasih bonus besar. Anggap aja itu rejeki kamu lewat abang,” Adrian menepuk pundak adiknya.


Aditya tak mampu berkata-kata lagi. Harga gitar di tangannya ini mencapai sembilan juta rupiah. Tabungannya saja untuk membeli gitar ini belum sampai setengahnya. Tapi Adrian tanpa pikir panjang langsung membelikan untuknya. Semangatnya yang sempat padam beberapa hari terakhir ini kembali naik. Dia akan lebih fokus dengan impiannya, dan menyingkirkan dulu masalah percintaannya.


“Kamu masih lama kan di sini? Papa dua minggu di Malangnya,” pertanyaan Adrian membuyarkan lamunan Aditya.


“Iya, bang. Aku mau di sini dulu. Aku masih kangen mama juga.”


“Syukurlah. Lebih bagus kalau kamu kembali tinggal di rumah.”


“Belum bisa, bang. Abang tahu sendiri alasannya.”

__ADS_1


“Kamu dan papa sama-sama keras kepala. Abang tahu kalau papa juga mengkhawatirkan kamu. Tidak bisakah kamu yang mengalah?”


“Abang tahu aku sudah banyak mengalah. Aku terus naik, berusaha menggapai papa, tapi papa yang tidak mau turun menyambutku.”


Adrian hanya mampu terdiam. Apa yang dikatakan Aditya benar adanya. Mungkin saja Aditya sudah merasa letih, sedari dulu selalu berusaha mendapatkan perhatian sang ayah yang selalu melihat padanya. Aditya selalu dibandingkan dengan dirinya, membuat Adrian takut kalau Aditya membencinya, karena keberadaan sang adik selalu terabaikan disebabkan olehnya. Itulah yang membuat Adrian selalu berusaha menjadi seorang kakak, teman bahkan ayah untuk adiknya. Untuk mengganti perlakuan Toni yang berat sebelah.


🌸🌸🌸


Sepulang dari kampus, Adrian tak langsung menuju rumahnya, melainkan mampir dulu ke rumah Dewi. Selain untuk memberikan oleh-oleh, tentu saja dia ingin melepas rindu, bertemu dengan gadis pujaannya. Dengan beberapa bungkusan di tangannya, Adrian melangkah mendekati rumah Dewi.


Di saat bersamaan, Dewi baru saja keluar dari rumahnya. Dia terkejut melihat Adrian tengah menuju ke arahnya. Hatinya bersorak senang akhirnya bisa bertemu kembali dengan pria itu. Dengan senyum mengembang, Dewi menyambut kedatangan sang pujaan hati.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Masuk, a.”


Dewi mempersilahkan Adrian untuk masuk. Pria itu memberikan dahulu bingkisan oleh-olehnya pada Dewi baru kemudian masuk ke dalam rumah. Mendengar kedatangan Adrian, Nenden yang berada dalam kamar langsung keluar untuk menyambutnya. Adrian menyalami wanita tersebut.


Nenden mempersilahkan Adrian untuk duduk. Dewi bergegas ke dapur untuk membuatkan minum. Nenden duduk menemani sang tamu di ruang depan. Ibu dari Dewi itu semakin yakin kalau Adrian menyukai anaknya, dilihat dari semakin intensnya pria tersebut mengunjungi anaknya.


“Pak Adrian katanya habis dari Singapura,” Nenden membuka percakapan.


“Iya, bu. Baru pulang kemarin malam.”


“Enak ya, pak, kerjanya jalan-jalan terus.”


“Alhamdulillah.”


“Bapak teh nanti masih ngajar di sekolah Dewi dulu?”


“Tolong bu, jangan panggil bapak lagi. Panggil nama saja,” ujar Adrian sambil tersenyum. Dia sedikit enggan dipanggil dengan sebutan bapak sekarang. Rasanya aneh saja dipanggil bapak oleh bakal calon mertuanya.


“Oh iya, sudah ngga jadi guru Dewi lagi. Lagian masih muda juga. Nak Adrian sekarang kegiatannya apa?”


Nenden merubah panggilan bapak menjadi nak. Walau masih sedikit canggung, tapi Nenden berusaha membiasakan diri. Lagi pula kalau benar Adrian menyukai Dewi, lucu saja rasanya memanggil bakal calon pasangan anaknya dengan sebutan bapak.


“Kemarin masih mengerjakan proyek bersama teman-teman. Tapi sebentar lagi saya sudah mulai mengajar di kampus.”


“Oh jadi dosen sekarang, Alhamdulillah. Kalau bisa sih, nak Rian jadi dosennya Dewi aja,” Nenden tertawa kecil mendengar harapannya.


Adrian hanya tersenyum saja. Dia masih belum mau memberitahukan kalau nanti memang dirinya yang akan mengajar Dewi di kampus. Biarlah itu menjadi kejutan manis untuk gadis tersebut. Dewi datang dari arah dapur membawakan minuman untuk Adrian. Dia meletakkan cangkir berisi teh manis di depan Adrian.


“Ibu.. ini ada oleh-oleh dari a Rian,” Dewi menyodorkan bingkisan yang tadi diberikan Adrian. Nenden cukup terkejut mendengar panggilan Dewi untuk mantan wali kelasnya itu.


“Ngga banyak, bu. Hanya beberapa makanan khas batam dan Singapura saja.”


Nenden memandangi oleh-oleh yang diberikan Adrian, dua di dalam paper bag yang dia tidak tahu apa isinya. Satu lagi di dalam tote bag, yang isinya diperkirakan adalah makanan. Satu per satu, Nenden mengeluarkan isi di dalam tote bag. Ada bingka bakar, teh bunga rosella, bilis molen, rocklate, coklat merlion dan selai kaya.



“Aamiin..”


“Kalau ini apa, a?” Dewi mengambil kotak bertuliskan rocklate.


“Itu coklat marsmallow.”


“Wah pasti enak. Eh ini juga coklat ya,” Dewi membuka kotak satunya. Coklat berbentuk patung merlion.


“Hmm.. kamu kan suka coklat.”


“Makasih ya, a.”


“Ibu ke kamar dulu, ya. Kalian lanjutkan saja ngobrolnya.”


Nenden mengambil salah satu paper bag miliknya kemudian masuk ke dalam kamar. Wanita itu tak mau mengganggu kebersamaan anaknya dengan Adrian. Sepertinya mereka butuh waktu berdua untuk melepas rindu. Sesampainya di kamar, dia mengeluarkan isi di dalam paper bag. Ternyata Adrian memberikannya cardigan berbahan lembut. Dari bahannya saja, Nenden sudah mengira kalau harganya tidaklah murah.


“Ini apa, a?” tanya Dewi menunjuk pada paper bag yang tersisa.


“Buka aja. Itu buatmu.”


Dewi mengambil paper bag tersebut kemudian mengeluarkan isi dari dalamnya. Dia terpekik senang saat melihat sebuah tas ransel wanita berwarna hijau. Adrian tahu benar apa warna kesukaannya.


“Suka?”


“Suka, pake banget. Makasih ya, a.”


“Sama-sama. Pakai itu buat kuliah.”


“Pasti dong.”


Dewi memeluk tas ransel wanita dengan model kekinian berwarna hijau botol. Anggap saja dia tengah memeluk orang yang telah memberikan oleh-oleh. Adrian tersenyum senang melihat Dewi menyukai barang yang dibelikannya.


“Kamu mau jalan-jalan atau makan di luar?”


“Ngga usah. Aa pasti cape, baru pulang kemarin malam. Tadi pagi udah ke kampus. Kita ngobrol aja di rumah.”


Kepala Adrian mengangguk pelan. Tubuhnya memang masih terasa lelah, semalam dia tidur larut malam karena tak bosan memandangi foto-foto yang dicetaknya. Pria itu mengajak Dewi duduk di teras, agar bisa berbincang santai sambil menikmati semilir angin sore.


“Roxas kerja?”


“Libur dia hari ini, lagi nengok enin. Minggu kemarin, aku sama Adit ikut Roxas ke rumah enin. Kita panik enin ngga ada di rumah mamangnya. Roxas marah, hampir aja mukul mamangnya.”


“Terus?”

__ADS_1


“Taunya enin dibawa sama bibinya Roxas yang baru pulang dari Kalimantan. Rumah yang dulu dijual sama mang Tirta, dibeli lagi sama mang Karna, suaminya bi Lisa.”


“Alhamdulillah. Jadi sekarang enin ada yang urus.”


“Iya. Sekarang Rox udah tenang kalau ninggalin enin. Ada bi Lisa yang ngurus.”


Adrian bersyukur mendengar cerita Dewi. Kini Roxas bisa lebih fokus pada pekerjaan dan mewujudkan impiannya bersama dengan Aditya.


“Sebentar lagi Red Kingdom café mau grand opening. Kamu mau datang ngga lihat performance The Soul?”


“Mau dong. Ngga sabar lihat penampilan mereka.”


“Kita berangkat bareng, mau? Nanti aku jemput.”


“Boleh, a. Pasti keren penampilan mereka. Aku ngga sabar lihat Adit sama Roxas manggung.”


Bukan hanya Dewi, Adrian juga tidak sabar menantikan penampilan The Soul. Dia ingin melihat sang adik tampil. Berada di panggung, berdiri di depan stand mic, dengan gitar tersampir di bahunya, Aditya terlihat bahagia sekali. Melihat Aditya bahagia, tentu menjadi kebahagiaan untuknya.


“Aku pulang dulu. Sebentar lagi mau maghrib.”


“Iya, a.”


“Oh iya, titip oleh-oleh buat Roxas.”


Dewi berdiri dari duduknya kemudian mengikuti langkah Adrian menuju mobilnya yang terparkir di dekat gerbang. Pria itu mengeluarkan tote bag dan paper bag dari dalam mobil, lalu memberikan pada Dewi.


“Aku pulang dulu. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Adrian masuk ke dalam mobil lalu menjalankan kendaraannya. Dewi terus berdiri di tempatnya, memandangi mobil Adrian sampai tak terlihat lagi. Dewi kembali ke rumahnya sambil tersenyum bahagia. Dia seperti baru saja diapeli oleh kekasihnya.


🌸🌸🌸


“Rox.. ini oleh-oleh dari a Rian,” Dewi memberikan oleh-oleh dari Adrian begitu Roxas sampai ke rumah.


“Tadi bang Rian ke sini?”


“Iya.”


“Ya ampun, bang Rian baik banget sih.”


Roxas mengambil oleh-oleh dari tangan Dewi. Dia membuka pintu, kemudian masuk ke dalam kontrakan. Dewi juga ikut masuk lalu mendudukkan diri di ruang depan. Gadis itu baru menyadari kalau di kontrakan Aditya sekarang sudah ada televisi.


“Eh Adit baru beli tv.”


“Kemana aja lo, baru tau. Tapi bukan dia yang beli. Itu dibeliin abangnya.”


“Abangnya Adit baik, ya.”


“Banget. Dia bukan cuma perhatian ke Adit, tapi ke gue juga. Apa yang dia kasih ke Adit, pasti gue juga dapet. Gue berasa punya abang beneran.”


“Pantes Adit sayang banget sama abangnya.”


Mengingat Aditya, Dewi kembali bersedih. Sejak Aditya pulang ke rumahnya, Dewi tidak menghubungi Aditya lagi. Dia sengaja menjaga jarak dari pemuda itu, karena tak mau terus memberinya harapan. Tapi tak dapat dipungkiri kalau hatinya juga sakit. Kebaikan dan perhatian Aditya begitu terasa sampai ke lubuk hatinya.


“Wi.. lo sama Adit gimana?” tanya Roxas membuyarkan lamunan Dewi.


“Gue ngga bisa bohong kalau gue suka sama a Rian. Mungkin aja falling in love sama dia. Dan gue juga ngga mau kasih harapan palsu sama Adit. Sejak dia pulang ke rumahnya, gue belum hubungi dia lagi. Gue salah ngga, Rox?”


“Lo beneran yakin perasaan lo sama bang Rian?”


“Kayanya, Rox. Walaupun gue juga belum yakin sama perasaan a Rian ke gue. Salah ngga sih, Rox, kalau gue anggap a Rian juga punya perasaan sama gue?”


“Emang bang Rian belum bilang apa-apa gitu?”


“Bilang cinta maksud lo? Belum.”


“Bang Rian itu cowok dewasa, dibanding ngucapin kata cinta, dia lebih senang menunjukkan lewat sikap. Nah selama ini yang lo rasain gimana?”


“Ya kalau dari persepsi gue, kayanya a Rian suka juga sama gue. Tapi kalau ngga diomongin bingung juga. Takutnya gue salah tafsir.”


“Iya juga sih.”


“Euung.. Adit.. ada ngobrol ngga sama elo soal gue?”


“Ada. Tadi gue sempat ngobrol sama dia bentar. Intinya, dia ngga masalah kalau emang lo udah punya pilihan lain. Dia berharap hubungannya sama elo ngga berubah. Lo tetap sahabat baiknya. Dan jangan kaget kalau nanti dia sedikit beda. Kaya ngga panggil lo sayang lagi, mungkin, atau ngegombalin elo. Dia sadar harapannya semakin tipis ke elo, dan ngga mau jatuh terlalu dalam lagi.”


Mata Dewi berkaca-kaca mendengar semua penuturan Roxas. Walau tidak ada cinta, namun dia menyayangi Aditya dengan tulus. Tahu kalau pemuda itu terluka olehnya, Dewi pun ikut merasakan sakit. Andai Adrian tidak memberi perhatian dan membuat hatinya berbunga-bunga, mungkin saja perasaannya pada Aditya akan berkembang menjadi cinta.


🌸🌸🌸


Eng ing eng... mereka bertiga otw ketemuan nih🙈


Dari komen para readers, mamake dapat menggolongkan ke dalam 4 tim.


Tim Adrian : Pokoknya aku dukung Dewi sama aa Ian.


Tim Aditya : Aku lebih setuju Dewi sama Aditya.


Tim Galon : Aku setuju aa Ian sama Dewi tapi Adit gimana dong, kasihan juga.


Tim Ngarep : Dewi sama Adrian aja thor, Aditya biar buat aku.

__ADS_1


Kalian masuk tim mana🤣🤣🤣


__ADS_2