
Felix dan Kayana memutuskan untuk pulang ke rumah barunya. Rumah baru yang dihadiahkan oleh Felix pada istrinya.
"Hari ini, aku harus mendapatkan hakku," ucap Felix ketika berada di dalam mobil.
Semalam, Kayana memang berjanji akan memberikannya. Berhubung acara sangat padat dan baru selesai dini hari, Kayana merasa lelah. Felix tidak tega untuk memaksanya.
"Baiklah, suamiku," ucapnya pasrah.
"Kado dari sahabatmu tidak lupa untuk dibawa, kan?" tanya Felix.
Kado gila berisi lingerie berbagai model dan warna yang sudah diberikan jadwal sesuai tulisan Callista. Senin sampai Minggu. Felix sangat menyukai kado spesial itu. Itu artinya, cepat atau lambat dia akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya dari sang istri.
"Iya, sudah kubawa. Memangnya kenapa?" tanya Kayana pura-pura untuk tidak mengerti.
"Aku ingin kamu memakainya sesuai jadwal yang sudah diberikan sahabatmu itu," ucap Felix.
"Hah?" Kayana terkejut. "Apa maksudnya?"
"Jangan pura-pura bodoh, sayang. Hari ini, entah siang atau malam. Secepatnya aku akan meminta hakku. Siap tidak siap, kamu harus siap. Tidak ada ceritanya, suami memerk*sa istrinya. Yang ada, istrinya harus sukarela menyerahkannya," goda Felix.
Wajah Kayana memerah karena malu.
"Kenapa harus malu? Kita akan melakukannya di tempat yang sangat privasi," ucapnya.
"Terserah kamu saja, sayang," ucap Kayana mengalah.
Sejak pernikahannya tanggal dua puluh empat Desember dan sampai hari ini, Felix tetap bersabar menunggu kepastian dari istrinya. Semalam gadis itu telah menjanjikan akan memberikan haknya pada malam pergantian tahun. Ternyata mereka lebih sibuk dari rencananya.
Mobil mereka telah memasuki kawasan rumah elite yang halamannya tidak terlalu luas tetapi sangat asri. Felix sengaja memilih rumah yang tidak terlalu besar dan tetap elegan.
Di sana, Felix sudah menyiapkan penjaga gerbang. Mengenai pelayan atau asisten rumah tangga, dia harus berdiskusi dulu dengan istrinya. Dia tidak mau memutuskannya secara sepihak.
"Kamu menyukai suasana rumahnya, sayang?" tanya Felix ketika dirinya baru saja membukakan pintu mobil.
"Halamannya bagus dan tidak terlalu luas. Masih cukup untuk parkir beberapa mobil," ucapnya.
"Kenapa hanya mengomentari lahan parkirnya saja?" Felix tidak mengerti.
"Siapa tau sahabatku mau mampir, masih ada tempat untuk memarkir mobilnya," ucap Kayana.
Felix segera mengajak istrinya untuk masuk ke rumah. Felix membuka kunci pintunya.
Ceklek!
__ADS_1
"Masuk, sayang...," ajak Felix.
Rumah bergaya Eropa modern dengan dua lantai telah disuguhkan untuk sepasang suami istri itu. Felix segera mengajak istrinya untuk naik ke lantai dua.
"Kamar kita ada di lantai dua. Ayo naik!" ajaknya.
Kayana mengekor dari belakang mengikuti suaminya.
"Kamu suka model rumahnya?"
Kayana tidak menyangka akan mendapatkan suami seperti Felix. Pria mapan dan tampan. Dia juga sangat penyayang dan ramah.
"Iya, rumahnya bagus. Nyaman," ucapnya.
"Hari ini, kita fokus menata beberapa barang. Setelah itu, kita bisa beristirahat," ajak Felix.
Felix mengeluarkan beberapa barang dari mobilnya. Dia juga dibantu oleh penjaga rumah itu. Sekitar kurang lebih dua jam, Kayana dan Felix selesai menatanya.
Hari menjelang malam, ini pertama kalinya Kayana menyiapkan makan malam untuk suaminya. Dia memang tidak terlalu ahli di bidang perdapuran, tetapi karena pernah bekerja sebagai pelayan restoran XX, sedikit banyak dia mulai mengerti.
"Sayang, makan malam sudah siap," Kayana memanggil suaminya yang sedang berada di kamarnya.
Ketika hendak keluar kamar, Felix mencegahnya. Dia memeluk istrinya dengan sangat mesra. Dia sangat menginginkannya malam ini.
"Tidak! Untuk beberapa saat, biarkan seperti ini," ucap Felix.
"A-aku masih bau dapur, sayang. Kita makan malam dulu, setelah itu terserah apa maumu," ucap Kayana.
Kayana baru saja selesai memasak dan menghidangkan makanan. Suaminya langsung memeluk begitu saja tanpa permisi.
"Baiklah. Setelah makan malam. Jangan menolakku lagi!" ucap Felix melepaskan pelukannya.
Keduanya kini berada di meja makan. Menikmati makan malam sederhana.
"Kenapa kamu selalu menolakku?" tanya Felix.
"A-aku tidak menolaknya. Aku belum siap, itu saja," kilah Kayana.
"Malam ini, di rumah baru kita... Aku akan meminta hakku diberikan. Aku tidak memaksamu. Kuharap, kamu memberikannya dengan sukarela," ucapnya.
Benar saja, seusai makan malam Felix telah menyiapkan bath up dengan air dan aroma terapinya. Dia mengajak istrinya untuk berendam bersama.
"Kita buat suasana menjadi rilek terlebih dahulu," ajak Felix.
__ADS_1
Kayana sangat malu harus terlihat polos di hadapan suaminya. Felix yang memintanya seperti itu.
Sangat cantik....
Felix menggenggam tangan gadis itu dan membimbingnya untuk masuk ke dalam bath up. Felix berada di bawah, sementara istrinya berada tepat di atasnya. Felix memeluk gadis itu dengan sangat mesra sekali.
"Nikmatilah malam ini, sayang. Aku akan melakukannya dengan perlahan," bisik Felix pada istrinya.
Di dalam bath up, Felix memang mengajak istrinya untuk berendam saja. Sekadar menikmati kebersamaan tanpa gangguan dari siapapun.
Kayana memejamkan matanya. Dia mulai merasakan sentuhan-sentuhan aneh yang diberikan suaminya. Ini baru permulaan untuk Kayana dan Felix.
Felix mulai menyusuri leher jenjang istrinya dan punggung yang sangat lembut dan halus untuk ukuran seorang perempuan.
Sekitar setengah jam menikmati kebersamaannya di dalam bath up, Felix meminta istrinya untuk mengeringkan tubuhnya. Dia akan meminta haknya di atas ranjang rumah barunya.
Keduanya berada di dalam kamarnya. Felix mengganti lampu kamarnya yang terang benderang itu menjadi lampu temaram yang sangat syahdu. Felix mulai mengabsen inci demi inci dan membuat istrinya itu akan meminta lebih dari itu. Setelah puas, Felix memberikan ci*man yang sangat mesra. Ci*man yang saling menuntut untuk memberi dan menerima. Ini pertama kalinya untuk mereka berdua. Felix lebih piawai daripada Kayana. Pria berumur itu lebih berpengalaman walaupun ini untuk pertama kalinya.
"Boleh aku melakukannya?" tanya Felix lagi sebelum dia melakukan penyatuan.
Kayana yang sudah berada di atas kendali suaminya, dia tidak mampu lagi untuk menolak setiap sentuhan pria itu. Sangat memabukkan.
Felix memulai penyatuannya secara perlahan dan sangat hati-hati. Kayana berusaha menahan rasa sakit yang mulai masuk ke dalam jiwanya.
Dan...
Kini semuanya telah masuk dengan sempurna. Perlahan, Felix mulai memainkan ritme permainan yang pelan dan sangat halus itu membuat Kayana mendes*h tidak karuan. Gadis itu sudah kehilangan kendali. Bahkan dia meminta lebih dan lebih pada suaminya. Felix merasa bahagia akhirnya malam ini dia telah berhasil mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dari sang istri.
Felix mempercepat ritme permainannya. Dia mendapatkan pelepasan untuk pertama kalinya. Pria itu langsung memeluk istrinya dengan sangat romantis.
"Terima kasih, sayang," ucap Felix. Pria itu mengecup istrinya dengan sangat lembut.
Kayana hanya mengangguk. Dia sangat kewalahan mengimbangi permainan suaminya yang menurutnya sangat luar biasa itu.
"Apa kamu mau mengulanginya lagi?" goda Felix. Sebenarnya pria itu ingin mengulang permainan yang sama, tetapi melihat istrinya sudah kelelahan karena seharian berkutat di rumah barunya untuk menata dan menyiapkan semuanya. Itu sangat melelahkan.
"Lain kali saja, sayang. Aku sangat lelah," ucap Kayana.
Felix memeluk istrinya. Mereka berada dalam satu selimut yang sama dan masih dalam keadaan polos.
🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓
Tidak terlalu panas... Maafkan emak... siang-siang merusak pandangan mata 😁😁🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1