Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Bonchap - Jangan Khawatir


__ADS_3

Kepergian Dizon dan Olivia yang mendadak membuat semua keluarga Damarion berpamitan untuk pulang. Yang paling khawatir adalah Carlotta. Wanita paruh baya itu tidak berpikir ke arah sana sebelum mengambil keputusan. Dia pikir putranya akan baik-baik saja, tetapi ternyata diluar dugaan.


"Sean, kami sekeluarga langsung pamit, ya? Aku khawatir terjadi sesuatu pada Olivia," ucap Carlotta.


"Iya, tante. Terima kasih sudah menyempatkan datang." Sean mengantarkan mereka ke halaman depan.


Sementara Callista dan yang lainnya berada di ruang tengah. Baby A sudah lebih dulu dibawa masuk ke kamarnya oleh baby sitter.


"Apakah akan terjadi sesuatu dengan dokter Olivia?" tanya Callista yang mulai terlihat cemas.


"Kakak ipar jangan khawatir. Monster itu tidak akan menyakiti belahan jiwanya, karena tidak akan ada lagi orang yang mau bersamanya," jawab Zelene.


"Sayang, jangan pikirkan orang lain. Biarkan saja pria itu menyelesaikan masalahnya." Jenica berharap agar menantunya tetap tenang.


"Benar kata mama mertua. Kakak ipar jangan khawatir. Dizon bukan orang yang sangat kejam. Lihat saja nanti." Vigor meyakini jika pria aneh itu sebenarnya terlihat sangat malu dikatakan sebagai pria budak cinta.


Obrolan sedang berlangsung, Sean baru saja masuk dan bergabung dengan mereka.


"Ada apa, sayang? Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Sean. Dia langsung duduk di samping istrinya.


"A-aku kepikiran Dizon, sayang." Callista selalu saja khawatir pada pria itu. Apalagi ingatannya soal ucapan Dizon tempo hari. Masih saja terngiang di telinganya.


"Jangan pikirkan pria lain, fokus saja sama suamimu," ucap Sean santai. Dia tidak peduli lagi pada Dizon. Olivia pasti bisa mengatasinya.


"Nah, Kak Sean benar. Dokter Olivia bisa mengatasinya. Jangan khawatir!" Zelene beranjak dari tempat duduknya. Dia ingin mengambil makanan dan minuman untuk teman mengobrol mereka.


"Honey, kamu mau kemana?" tanya Vigor.


Zelene menoleh lalu menjawab pertanyaan suaminya. "Mengambil makanan dan minuman. Apa kamu memerlukan sesuatu, honey? Atau mama mau sesuatu?"


"Kopi, honey," pinta Vigor. Pria itu sangat ngantuk sekali malam ini.

__ADS_1


"Mama ikut saja apa yang kamu bawa, Ze."


"Kakak ipar atau Kak Sean mungkin mau dibawakan sesuatu?" tanya Zelene sebelum benar-benar pergi ke dapur.


"Tidak perlu. Bawakan saja yang ada." Sean tidak menginginkan apa-apa lagi. Kebahagiaan keluarganya saja yang paling penting.


"Sean, bagaimana kabarmu, nak?" tanya mamanya.


"Aku baik, ma. Aku juga sudah mendengar semua cerita dari tante Jelita. Kenapa bisa mama mau menikah dengan papa? Sementara tante Jelita juga ngotot ingin menikah dengannya." Sean penasaran. Ingin menanyakan langsung pada tante Jelita membuatnya merasa tak enak hati.


Vigor dan Callista ikut penasaran dengan pertanyaan Sean. Benar-benar diluar nalar jika saudari kembarnya rela dimadu.


"Papamu sangat mencintai mama, Sean. Setelah mendengar syarat yang diajukan Jelita, mama mundur dari hubungan itu. Tetapi, syarat yang diajukan papamu lebih gila lagi. Dia__" ucapan mamanya terjeda ketika Zelene datang bersama pelayan dan beberapa nampan dari tangan mereka.


"Maaf, aku ketinggalan cerita. Lanjutkan lagi, ma!" ucap Zelene. Semua pelayan yang bersamanya langsung kembali ke dapur.


"Dia meminta mama untuk menjadi istri keduanya jika terpaksa harus menikah dengan Jelita. Awalnya mama menolak, tetapi Jelita memaksanya. Sayang, syarat yang diajukan Jelita terlalu menguntungkan pihaknya. Mama seperti seorang pelakor karena yang semua orang tau bahwa istri sahnya papamu adalah Jelita."


Semua yang ada di ruangan itu jadi memahami bagaimana kejadian waktu itu.


"Mama mertua tidak ingin membalas saudari kembarnya? Mungkin bisa dengan cara mendeportasinya ke planet Pluto. Maafkan aku, mama mertua. Dari awal, Vigor sangat kesal padanya." Vigor adalah orang yang paling berambisi untuk mendeportasi tante Jelita kala itu.


Semua yang ada di ruangan itu malah menertawakan dirinya. Vigor sangat lucu dengan cara balas dendamnya, tetapi Jenica menggeleng.


"Mama tidak perlu balas dendam. Sebenarnya Jelita sudah menyakiti dirinya sendiri. Dengan membawa kalian pergi bersamanya, dia pikir akan membuatku sakit hati. Tetapi kenyataannya malah dia yang sakit hati melihat keturunanku dan suaminya. Bukan begitu?"


Ternyata Mama Jenica adalah mama yang luar biasa. Dia bahkan enggan membalas perbuatan saudari kembarnya. Balas dendam sama saja dengan tidak ada bedanya antara Jenica maupun Jelita. Itulah istimewanya mama Jenica. Makanya suaminya sangat mencintainya.


Callista mengambil minumannya terlebih dahulu. Dia sudah kehausan.


"Sayang, pelan-pelan," ucap Sean.

__ADS_1


"Suami mama persis dengan kelakuanmu, Sean." Jenica ingat betul bagaimana pria itu selalu bisa membahagiakan dirinya.


"Benarkah? Karena yang Sean tau ketika dengan tante Jelita, papa sepertinya selalu menghindar. Ya walaupun yang Sean tau, mereka berada dalam satu kamar yang sama." Sean hanya tau itu dan tidak mengerti rahasia apa yang sedang disembunyikan papanya.


"Itu mama yang memintanya. Mama ingin agar papa kalian bertanggung jawab pada istri tuanya. Dan, mama ingin selalu mengetahui kabar kalian. Tetapi, tante Jelita lebih dulu mengerti rencanaku. Akhirnya komunikasi antara papa dan mama terputus selama puluhan tahun."


Sean maupun Zelene tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya kehidupan mamanya seorang diri. Rasanya berjauhan dengan pasangan saja mereka tidak sanggup. Mamanya wanita istimewa yang diciptakan untuk mereka.


"Ma, lanjutkan ngobrol bersama Zelene dan Vigor, ya. Kamar mama nanti disiapkan oleh bibi Madison dan pelayan lainnya. Aku dan Callista ada urusan penting," ucap Sean mengakhiri pembicaraannya.


Sean dan Callista masuk ke kamar utama. Di sana, Callista ingin mengatakan sesuatu dan hanya berdua saja dengan Sean.


"Apa yang ingin kamu katakan, sayang?" Sean memeluk istrinya sangat mesra.


"Kamu ingat apa perkataan Dizon tempo hari? Tentang putri kita yang akan mengejar duda model sepertinya. Mengingat kejadian malam ini, Dizon tiba-tiba membawa dokter Olivia pergi dan rasanya itu membuat pikiranku melayang, sayang. Aku tidak ingin nasib putriku seperti dokter Olivia." Callista selalu khawatir semenjak kelahiran putrinya.


"Sayang, jangan berpikir seperti itu terus. Ucapan Dizon hanya omong kosong."


Callista melepaskan pelukannya.


"Bagaimana kalau itu benar terjadi, sayang? Aku tidak bisa membayangkan nasib putriku selanjutnya." Callista duduk di ranjang dan menekuk wajahnya. Keberuntungannya mendapatkan Sean adalah anugerah terindah. Pria itu sangat menyayanginya.


"Sudah kubilang berulang kali. Jangan khawatir! Putri kita akan tumbuh menjadi gadis yang kuat. Percayalah!" Sean berusaha membuat istrinya untuk tidak memikirkan ucapan Dizon tempo hari. Sebenarnya Sean sudah melupakannya, tetapi istrinya selalu saja mengingatkan ucapan itu.


Daddy percaya padamu, Aqua. Kamu gadis yang kuat dan hebat. Kamu pasti bisa menaklukkannya jika benar ucapan pria gila itu terjadi. Daddy sangat yakin jika kamu mampu.


🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓


Bocoran sekuel Nikah Kontrak Dengan Duda 40+. Rencananya emak ikutkan even, tetapi belum tau lolos atau tidak. Mohon doanya, ya... Terima kasih...


__ADS_1


__ADS_2