Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Dua tim yang berbeda


__ADS_3

Sesuai waktu yang telah ditentukan, hari ini Sean mengambil cuti satu hari. Dia akan mengantarkan istrinya untuk periksa kehamilan.


Callista sangat antusias karena selama kehamilannya yang mulai memasuki trimester dua ini hampir tidak pernah mengalami morning sickness. Badannya perlahan mulai melar karena dia semakin doyan makan.


Beberapa baju kesayangannya sekarang sudah bergeser dan berganti daster ibu hamil. Tampilannya jauh lebih lucu karena wajah imutnya yang seperti ABG malah memakai daster.


Callista bercermin. Dia memandang penampilan barunya yang lumayan lucu itu menurutnya. Sean melihatnya dari atas ranjang.


"Aku terlihat chubby, yah?" tanya Callista sembari mengembungkan kedua pipinya.


"Masih tetap cantik, sayang," puji suaminya.


Callista memutar badannya di depan cermin. Dasternya ikut mengembang seperti sebuah payung di kala hujan.


"Apakah aku seperti model?" tanya wanita hamil itu sangat antusias.


"Iya, model dari Tuan Sean Armstrong," jawab Sean dengan tawa renyahnya.


"Tolonglah, hargai istrimu ini. Dia sedang berhalusinasi menjadi seorang model," sindirnya.


"Ck, sudah ganti cita-cita rupanya. Bukankah kapan hari bilang ingin jadi pengangguran yang berkecukupan? Jadi istriku apakah masih kekurangan?" tanya pria itu.


Aku masih kurang. Belum memiliki hati mama mertua yang sekeras batu itu. Kapan wanita itu bisa menerimaku seperti Mama mertua pada umumnya?


"Hei, kenapa melamun, sayang?" Sean beranjak mendekati istrinya.


"A-aku hanya memikirkan Mama mertua," ucapnya. Sean lebih dulu memberikan pelukan hangatnya.


"Kenapa kamu kepikiran Mama?" Sean melepaskan pelukannya kemudian mengelus perut istrinya. "Anak Papa, selalu sehat dan jangan merepotkan mama, ya?" Sean berjongkok di hadapan istrinya.


"Aku berharap anak ini laki-laki, tetapi jika perempuan aku tetap akan menyayanginya. Dan...." Callista menghentikan ucapannya.


"Dan apa?" Sean berdiri memegang kedua tangan Callista.


"Jika suamiku mau melepaskan aku... Aku sudah siap, tetapi tolong jangan pisahkan aku dengan anakku. Setelah kita berpisah nanti, aku akan bekerja menghidupi anakku seorang diri," ucap Callista dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sayang... Ribuan kali aku mengatakan. Aku tidak akan pernah bercerai darimu. Laki-laki atau perempuan, dia tetap anakku. Aku tidak bisa terpisah darinya. Jangan berpikir kita akan bercerai. Itu tidak akan pernah terjadi," balas Sean meyakinkan.


"Tapi, Mama...."


"Mau tidak mau, wanita itu harus menerima keturunanku sebagai cucunya."


Callista yakin pada suaminya, tetapi tidak yakin pada wanita itu.


"Langsung berangkat?"


Callista mengangguk. Sean langsung mengajaknya menuju basemen dan naik mobilnya.


"Pelan-pelan, sayang." Sean membantu istrinya masuk ke kursi depan.


Sepanjang perjalanan, wanita hamil itu terlihat ceria sekali.

__ADS_1


"Kamu sangat bahagia, sayang," ucap Sean.


"Tentu, hari ini aku akan bertemu dengan baby A. Rasanya aku terus saja ingin melihatnya ketika berhadapan dengan layar monitor USG," ucap Callista antusias.


"Apalagi aku, daddynya," balas Sean bangga.


Callista menoleh ke arah suaminya dan berusaha memastikan sesuatu. "Daddy atau Papa?"


"Daddy dan Mommy," jawab Sean.


"Big no! Aku tidak suka panggilan itu. Persis seperti Willow memanggilmu kala itu." Callista terlihat sangat cemburu.


"Lalu?"


"Pipi-Mimi, Ayah-Bunda, Mami-Papi, Pipop-Mimom," ucap Callista memberikan pilihan.


Aish, ini sangat sulit. Kenapa bisa begitu? Batin Sean.


"Ya sudah, aku pilih ayah bunda saja," jawab Sean.


"Ayah kangen sama baby A?" tanya Callista.


"Iya, bunda. Ayah sangat kangen," balasnya.


Sean merasa tidak terlalu cocok dengan panggilan seperti itu. Nantilah bisa diatur lagi asal istrinya saat ini bahagia.


Tak terasa, mobilnya telah memasuki area parkir rumah sakit. Sean bergegas untuk turun dan mengambil nomor antrean. Ini tidak akan terlalu sulit karena rekam medis Callista sudah terdaftar di rumah sakit tersebut.


"Nyonya Callista...," panggil Suster.


Callista masuk ditemani suaminya. Sebelum menemui dokter, Suster tersebut memeriksa tekanan darah, berat badan, dan lingkar lengan ibu hamil. Setelah itu baru mempersilakan masuk dan naik ke brankar pasien untuk diperiksa.


Callista menyingkap dasternya sedikit saja. Jangan khawatir, ya. Callista memakai celana panjang dibagian dalamnya. Agar tidak terlalu fulgar seperti bayangan kalian.


Suster segera mengoleskan gell, kemudian dokter Adelard Zeroun mulai melakukan tugasnya untuk memutar tranducer dan mencari keberadaan baby A.


Di layar monitor, bergerak janin yang diperkirakan usianya memasuki tiga belas minggu. Itu artinya sudah memasuki trimester dua.


"Dok, apakah sudah kelihatan jenis kelaminnya?" tanya Sean.


"Belum, Tuan. Biasanya baru terlihat di usia kehamilan delapan belas minggu. Sekarang masih baru tiga belas minggu. Sekitar satu bulan lagi, itupun jika Anda sedang beruntung," kata dokter Adelard.


"Maksudnya?" tanya Callista.


"Terkadang baby sangat malu untuk menunjukkan jenis kelaminnya. Terkadang dia baru terlihat di trimester tiga. Semoga saja bulan depan kalian beruntung, ya." Dokter itu meletakkan tranducer kembali ke tempatnya kemudian memproses hasil printing USG-nya.


Callista turun dari brankar kemudian duduk di depan dokter bersama suaminya.


"Perkembangannya sangat bagus. Tetap konsumsi makanan bergizi dan jangan lupa selalu meminum vitamin yang saya resepkan," dokter Adelard menyerahkan resep dan hasil USG pada Callista.


"Dok, jika saya tidak mengkonsumsi susu kehamilan apa tidak masalah?" tanya Callista. Pasalnya kapan hari dia pernah membelinya, tetapi tidak pernah meminumnya.

__ADS_1


"Tidak masalah asal kecukupan gizinya sudah terpenuhi," jawab dokter.


"Baik dokter. Terima kasih," jawab Callista.


Setelah selesai, keduanya berjalan ke apotek untuk menebus vitamin dan mengurus administrasi pembayaran.


"Setelah ini, kamu mau kemana, sayang?" tanya Sean.


"Aku ingin makan sesuatu, tetapi aku belum tau itu apa," ucapnya.


"Pikirkan dulu sebelum kita sampai ke apartemen. Aku tidak mau harus putar balik lagi."


Sambil menunggu antrean di apotek, Callista sedang berpikir keras untuk memilih makanan apa yang akan di makan.


"Aku ingin makan soto ayam yang ada koyanya."


"Hah? Nyari di mana itu?"


"Entahlah. Yang kuingat ada sebelum taman kota. Dekat apartemen Royal," jawab Callista.


"Setelah ini, kita kesana."


Sekitar lima belas menit mengantre, akhirnya tiba pada panggilan nama istrinya. Sean bergegas mengambilnya kemudian meninggalkan rumah sakit untuk mencari makanan sesuai permintaan istrinya.


Sepanjang jalan, Callista melamun lagi. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya makan soto itu dengan sangat enak. Terkadang ada tim yang suka diaduk dan tidak. Dia bingung, lebih enak ikut tim mana?


"Kok diam? Apa ada yang salah dengan suamimu?" tanya Sean.


"Tidak. Aku hanya bingung saja. Bagaimana menikmati soto ayam yang paling enak," ucapnya.


"Hah? Maksudnya?" Sean semakin bingung. Bukankah kalau ingin makan, ya makan saja.


"Iya, menurut Ayah, lebih enak tim diaduk atau tidak?"


Astaga! Aku sekarang dipanggil ayah. Sudah seperti bapak dan anak saja kalau seperti ini. Batin Sean.


"Terserah kamu. Kalau memang suka keduanya, bisa pesan dua," ucap Sean.


Mobil sudah parkir di pinggir jalan. Untung saja itu memang area parkir. Penjual soto yang dimaksud Callista adalah pedagang kaki lima yang berada di kawasan itu.


Setelah berada di dalam, Callista memesan tiga mangkok soto. Dua untuk dirinya dan satu untuk suaminya. Dia hanya ingin membandingkan makan dari dua tim yang berbeda. Dia juga memesan dua gelas teh hangat tanpa gula. Ketika sedang menunggu datangnya pesanan, dia dikejutkan oleh kehadiran seseorang.


Kenapa dia ada di sini juga, hah?


🍒🍒🍒🍒🍒🍒TBC🍒🍒🍒🍒🍒🍒


Kalian tim mana, nih? Kalau emak Author tergantung mood... tapi lebih suka tim tidak diaduk... 😁😁😁


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya...


🥀🥀🥀🥀☕☕☕☕⭐⭐⭐⭐⭐ jangan lupa dikirimkan untuk emak author agar semakin bersemangat lagi. Terima kasih... 😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2