
Sepanjang perjalanan menuju ke apartemennya, Sean melihat istrinya sangat diam dari biasanya.
"Sayang, kenapa diam? Bicaralah apapun itu, aku akan mendengarkannya," ucap Sean sembari fokus mengendarai mobilnya.
Hari belum terlalu gelap, namun suasana senja telah membuat matahari perlahan mulai kembali ke peraduannya. Bias cahayanya seolah menjadi baground perjalanan sepasang suami istri untuk pulang.
"Aku tidak apa-apa, sayang. Hanya merasa lelah saja. Oh ya, sebelum pulang kenapa tidak menemui Mama mertua dulu," Callista tak enak hati. Sebenarnya ingin lebih dekat dengan Mama mertuanya, tetapi melihat responnya sangat dingin seperti itu membuat Callista tidak nyaman.
"Lain waktu saja. Atas nama Mama, aku minta maaf. Aku janji akan membuatmu bisa dekat dengannya."
Mobilnya mulai memasuki area bassement. Di sana, Sean membukakan pintu untuk istrinya.
"Turunnya pelan-pelan saja, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kehamilanmu," ucap Sean mengingatkan.
Sean menggandeng mesra istrinya untuk sampai ke unitnya. Sesampainya di sana, sepasang suami istri itu langsung masuk ke dalam kamar.
Callista meminta tolong suaminya untuk melepaskan gaun yang dipakainya.
"Sayang, bantu aku...," pinta Callista.
"Kau menggodaku, sayang?" tanya Sean.
"Ish, mesum jauh-jauh sana!"
Sean tertawa. Semakin hari, istrinya semakin menggemaskan.
"Mau mandi bersama?" Sean menawarkan.
"No, lain waktu, yah!" Callista lebih dulu masuk ke bathroom. Sementara Sean sibuk melepas jas dan meletakkannya di atas sofa kamar.
"Aku penasaran, kenapa Olivia bisa berada dipernikahan Felix? Setauku, gadis pemilih telat nikah itu hanya kenal beberapa orang di daerah ini," ucap Sean.
Sean memejamkan matanya sejenak. Melihat kekacauan yang ditimbulkan dokter wanita itu membuatnya ingin tertawa.
Sebentar lagi, Dizon pasti akan mengejar wanita itu. Setelah kutahu jika Diana hanya menjadikanku dan dirinya tameng untuk mengakui Willow sebagai putrinya. Alasan apa sebenarnya yang disembunyikan Diana tentang pria yang bernama Juvenal itu? Aku harus meminta Vigor menyelidikinya.
Sekitar sepuluh sampai lima belas menit, Callista tak kunjung keluar dari bathroom.
"Lama sekali dia berada di dalam," Sean berniat mengetuk pintu dan memastikan istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Tok tok tok.
"Sayang, lekaslah! Apa kau baik-baik saja?" teriak Sean melihat pintu itu sengaja dikunci dari dalam.
__ADS_1
Ceklek!
Callista membuka pintu. Dia hanya memakai bathrobe tanpa berganti pakaian. Terlihat sedikit pucat wajahnya.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Sean panik. Dia kemudian membimbing istrinya untuk duduk di ranjang.
"Aku memuntahkan semua makanannya, sayang," ucapnya.
"Apa ini rasanya tidak nyaman sama sekali?"
Callista mengangguk.
"Istirahatlah! Akan kubuatkan teh hangat untuk meringankan rasa mualnya," Sean membimbing istrinya untuk duduk bersandar di headboard ranjang.
Sean ke dapur. Dia membuat teh hangat dengan merebus sedikit air. Sebenarnya ada dispenser air panas, tetapi rasanya akan sangat berbeda dengan air rebusan asli. Tak lama, sekitar sepuluh menit Sean kembali ke kamarnya dengan secangkir teh dan sendok di tangannya.
"Aku ambilkan sedikit demi sedikit," Sean meminumkan teh hangat itu menggunakan sendok. "Bagaimana rasanya? Sudah lebih mendingan?"
"Iya, jauh lebih baik, sayang," ucapnya.
"Malam ini, kau mau makan apa? Kita bisa beli saja. Kau pasti akan kelelahan jika harus memasak. Oh ya, apa mau dipanggilkan asisten rumah tangga untuk membantumu, sayang?" Selama sebelum menikah dengan Callista, asisten rumah tangga itu hanya bekerja di pagi sampai sore hari. Untuk membersihkan seluruh area apartemen kecuali kamarnya. Setelah menikah, Callista menolak adanya asisten rumah tangga karena dirinya juga sudah tidak bekerja. Biasanya Callista yang membereskan semuanya.
"Entahlah, sayang. Rasanya aku tidak ingin memakan apapun," tolaknya. Dia masih merasa mual dan sedikit pusing setelah memuntahkan semua makanan yang dimakannya di acara pernikahan sahabatnya.
"Aku ingin makan buah saja. Itu mungkin yang bisa masuk saat ini," Akhirnya Callista memutuskan.
"Baiklah. Kau ingin makan buah apa? Biar aku yang akan membelikannya."
"Melon sepertinya sangat segar," terlintas dibenak Callista sebuah melon dengan rasa yang sangat manis dan menyegarkan.
"Baiklah, aku akan pergi sebentar untuk membelikannya. Tidak masalah, kan?" tanya Sean.
Kebetulan hanya jarak beberapa ratus meter dari apartemennya ada toko buah. Sean memang jarang membelinya di sana. Hanya jika keadaan darurat seperti ini, pria itu berangkat ke sana.
"Iya, sayang," Callista mengizinkannya.
Butuh waktu sekitar setengah jam untuk pulang pergi dan membeli buah di toko itu. Karena jalanan tidak bisa memutar balik, dia harus berjalan lurus sampai menemukan jalan masuk untuk kembali ke apartemennya. Demi istrinya, Sean rela melakukannya.
Selain Melon, Sean juga membeli buah jeruk. Buah itu sangat nyaman untuk mencegah rasa mual.
Empat puluh menit. Sekarang Sean sudah kembali ke kamarnya. Dia mengambilkan sedikit melon kemudian mengupasnya dengan cekatan dan mengirisnya menjadi beberapa bagian kecil agar istrinya gampang untuk memakannya. Dia juga mengambilkan garpu, agar istrinya makan tanpa memakai tangan langsung.
"Sayang, kau bisa melakukan semua ini dengan sangat mudah?" tanya Callista yang melihat suaminya sangat cekatan.
__ADS_1
"Ini hanya buah, sayang. Semua orang juga bisa melakukannya."
Callista menikmati melon itu dengan sangat nikmat. Benar saja, dia tidak muntah memakannya.
"Terima kasih, sayang...."
"Untuk?"
"Buah melonnya...."
"Itu tidak sebanding dengan perjuanganmu menjaga buah hati kita sampai sembilan bulan ke depan. Selalu sehat dan jangan stres. Kalau ada sesuatu yang membuatmu kurang nyaman, katakan. Aku akan mengatasi semuanya. Termasuk rasa cemburu yang berlebihan. Jangan khawatirkan suamimu, sayang. Aku tidak akan berselingkuh ataupun main wanita. Aku sudah tua dan harus sadar diri," ucap Sean.
Callista menertawakan suaminya.
"Eh, kenapa tertawa?"
"Enggak, lucu aja. Rasanya seperti menikah dengan duda matang," ledeknya.
"Tunggu, sepuluh menit lagi kita lanjutkan," pamit Sean. Pria itu bergegas masuk ke bathroom untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Tepat sepuluh menit, Sean sudah berada di depan istrinya dengan menggunakan kaos oblong dan celana pendek yang biasanya dipakai Callista di awal pernikahan mereka. Pria itu naik ke ranjang untuk sekedar mengobrol dengan istrinya.
"Sayang, maafkan aku. Beberapa hari yang lalu, aku tak sengaja bertemu Dizon," ucap Callista jujur.
"Dizon? Apa dia menyakitimu, sayang?"
"Tidak. Dia sangat baik, malah," ucapnya.
Kenapa Callista bisa mengatakan jika pria itu baik? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
"Iya, waktu itu aku sangat cemburu padamu, sayang. Ketika pergi ke butik, tak sengaja aku bertemu dengannya. Dia memaksaku untuk mengobrol sebentar. Aku menolaknya berulang kali, tetapi pria itu memaksanya."
Sean bahagia jika istrinya sempat cemburu padanya, tetapi dia juga takut setelah istrinya bertemu dengan Dizon.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Dizon menceritakan tentang penolakannya untuk menikahi Diana. Yang ingin kutanyakan, apakah Dizon belum pernah menikah sama sekali?" Callista penasaran. Sepertinya cerita hidup pria itu sangat rumit.
"Aku tidak tau banyak tentang Dizon. Aku pernah mendengar dari Diana, jika pria itu telah menikah di luar negeri, tapi entahlah. Itu bukan urusanku, sayang," ucap Sean.
Sean kemudian memeluk istrinya dengan lembut. Dia sekarang merasakan kebahagiaan menjadi miliknya walaupun sebenarnya dia harus berjuang untuk mendekatkan Mama Jelita dengan istrinya.
"Tetaplah disisiku! Jika kau merasa ada sesuatu yang kurang nyaman, katakan saja. Kita cari solusinya. Jangan ada adegan ngambek atau kabur-kaburan lagi. Itu sangat melelahkan, sayang!" ucap Sean mengakhiri sesi obrolannya.
__ADS_1
😍😍😍😍TBC😍😍😍😍