Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Dia sudah datang?


__ADS_3

Sean mengendarai mobilnya ke kantor. Niatnya pergi bersama Zelene diurungkan. Dia ingin agar Zelene bisa lebih akrab dengan kakak iparnya.


Akhirnya kalian bertemu juga, Ze. Kakak harap, kamu bisa lebih akrab dengan Callista. Dia wanita terakhir pilihan kakak.


Mobil telah sampai di tempat parkir kantor. Sean bergegas turun. Ternyata Vigor sudah menunggunya sejak tadi.


"Baru datang, Bos? Kukira hari ini Bos tidak masuk," ucapnya.


"Tumben kamu ada di sini? Ada apa?" tanya Sean. Asistennya itu hampir tidak pernah berada di luar ruangannya.


"Anu, Bos..., tadi Bu Diana datang lagi. Dia mencari Bos. Setelah tau jika Bos belum datang, orangnya langsung kembali."


Mau apalagi wanita itu?


Sean dan Vigor naik ke lantai atas menuju ke ruang kerja Sean.


"Tumben hari ini masuk siang, Bos?" Vigor mendaratkan tubuhnya di kursi depan Bosnya.


"Ada urusan sebentar. Memangnya kenapa? Apa kamu mau memotong gajiku?" canda Sean.


"Mana berani, Bos... Oh ya, apa Mama Jelita sangat merepotkan?" Sean tau arah pembicaraan Vigor. Karena kunci utama penengah dari semua masalahnya sudah berada di sini.


Kamu pasti merindukan Zelene. Tenang saja, dia sudah ada di sini.


"Mama Jelita dari dulu sangat merepotkan. Ah, tapi biarkan saja," Sean sengaja tidak memberitahukan keberadaan Zelene. "Oh ya, semua berkas yang mau ditandatangani apa sudah disiapkan?"


Vigor beranjak dari tempat duduknya untuk kembali ke ruangannya dan mengambil beberapa berkas penting. Dia membawa semua berkas ke ruangan Bosnya.


Vigor sebenarnya ingin mendapatkan solusi dari semua masalah yang dihadapinya saat ini. Melihat Bosnya sedang sangat sibuk maka diurungkan niatnya itu.


"Kamu sepertinya sedang ada masalah?" tanya Sean yang melihat tingkah tak biasa dari asistennya itu.


Iya, Bos. Masalah perjodohanku. Aku sebenarnya masih menyukai Zelene.


"Sebaiknya Bos selesaikan dulu. Sebentar lagi makan siang, mungkin kita bisa makan sambil mengobrol. Itupun jika Bos tidak keberatan," ucap Vigor. Walaupun Sean sudah seperti kakak baginya, dia juga harus tau batasannya.


Vigor kembali ke ruangannya. Dia sedang memikirkan apa yang akan disampaikan kepada Bosnya.


Kenapa kepala tiba-tiba menjadi pusing seperti ini? Sebenarnya tujuan keluargaku benar. Aku memang sudah saatnya menikah. Tetapi menggapai Zelene adalah hal yang sangat mustahil. Aku tidak tau harus berbuat apalagi?


Vigor sudah tertarik dengan gadis itu sejak lima tahun yang lalu saat membantu mengurus perceraian Bosnya. Hampir setiap hari keduanya berinteraksi pulang pergi dari rumah ke pengadilan.


Setelah Bosnya selesai menjalani proses perceraiannya, tiba-tiba saja Zelene menghilang. Ternyata dia pergi ke luar negeri tanpa sepengetahuan Vigor. Kala itu, Vigor merasa putus asa dan kecewa. Dia juga tidak pernah tau alasan apa yang membuat Zelene pergi.


Sempat dia ingin melampiaskan kekecewaannya untuk mencari wanita lain, tetapi bayangan Zelene selalu menari indah di pelupuk matanya. Itulah sebabnya, Vigor enggan mendekati wanita.


Kau selalu menarik, Ze. Apakah kita akan berjodoh? Melihat Mama Jelita tipikal orang yang perfeksionis. Dia pasti akan menolakku secara tidak hormat.

__ADS_1


Vigor melihat jam tangannya, sekarang saatnya makan siang. Sesuai rencana, dia akan makan siang bersama Bosnya.


Sean sudah menunggunya di depan ruangan Vigor.


"Kenapa dengan dirimu? Sejak tadi aku perhatikan sedang melamun. Tak baik bujang melamun, jauh jodoh baru tau rasa," goda Sean.


"Bos bisa saja. Mana mungkin, Duda sudah lewat... Sekarang giliran perjaka yang maju," canda Vigor.


"Mau makan siang dimana?" Sean sudah sampai di tempat parkir.


"Boleh memilih yang lebih jauh?" tawar Vigor.


"Tentu. Memangnya mau makan siang dimana?"


"Mal Sinar Galaxy. Aku ingin makan bakso, Bos," ajak Vigor.


Sean tidak menolak permintaan asistennya. Malah dia yang sengaja menyetir mobil menuju ke Mal Sinar Galaxy.


Sepanjang perjalanan, Vigor sebenarnya ingin melakukan sesi curhat, tetapi diurungkannya.


Sesampainya di Mal Sinar Galaxy, Sean mengajak Vigor ke tempat bakso yang pernah didatanginya dengan Callista beberapa waktu yang lalu.


"Bos sepertinya sudah hafal Mal Sinar Galaxy? Sejak kapan Bos pernah jalan?" Vigor memang tau jika Bosnya itu tipikal orang yang enggan untuk datang ke keramaian apalagi sekelas Mal besar ini.


"Sejak menikahi Callista, gadis itu membawa perubahan besar untukku," Sean menjawabnya dengan senyuman tersungging di bibirnya.


"Mbak, aku mau pesan...," panggil Vigor pada pelayan.


"Iya, Pak. Maaf mau pesan apa?"


"Bakso biasa, satu. Lemon tea, satu," jawab Sean yang lebih dulu memesan.


"Bakso mercon, satu. Air mineral, satu," Vigor adalah pencinta makanan pedas.


"Sudah Pak, itu saja?" tanya pelayan.


"Iya," jawab Vigor.


Setelah pelayan itu pergi, Vigor sudah tidak tahan untuk melakukan sesi curhat kepada Bosnya.


"Bos, sebelumnya aku mau minta maaf. Sebenarnya aku akan segera menikah," ucapan Vigor membuat Sean terkejut.


Sean tau jika Zelene sebenarnya sangat menyukai asistennya itu.


"Mau menikah? Kapan dan dengan siapa?" Ada raut kekhawatiran yang mendalam di wajah Sean.


"Keluargaku akan memilihkan jodoh untukku, Bos. Aku tidak bisa menolak, kecuali...," Vigor seperti sedang memberikan teka teki pada atasannya.

__ADS_1


Apa Zelene akan kehilangan orang yang disayanginya?


"Kecuali apa?" Sean semakin penasaran. Dia tidak ingin adiknya merasakan sakit hati seperti yang pernah dirasakannya.


"Kecuali aku bisa membawa calon untuk dihadapkan kepada keluargaku, tetapi aku rasa akan banyak kendala, Bos," Vigor sedikit lebih tenang bisa mengungkapkan semua kegundahannya.


Apa aku bisa membuat Zelene bersatu dengan Vigor? Melihat kenyataan Mama Jelita yang seperti itu.


Pelayan datang membawakan pesanannya.


"Bos, makan dulu...," ucap Vigor.


Sean memakan baksonya yang polos itu. Dia tidak menambah apapun didalamnya. Sampai Vigor menggodanya.


"Bakso sama istri, sama-sama polos ya, Bos," goda Vigor.


"Ck, sudah nikmati saja bakso pedasmu itu! Jangan sampai aku mengirimmu ke Pluto," Sean balas menggodanya.


Keduanya menikmati semangkok bakso beserta minumannya. Setelah selesai, keduanya melanjutkan obrolannya.


"Kamu mau menikahi adikku?" Sean ingin membuat adiknya lekas menikah.


Apa Bos Sean tidak sedang bercanda? Tapi mana mungkin? Zelene sedang di luar negeri.


"Bos sedang bercanda?"


"Kamu mau memperjuangkan adikku? Jika kamu mau, aku akan membantumu," Sean meyakinkan asistennya.


Mana mungkin Bos. Zelene sedang berada di luar negeri, sementara keluargaku memintanya untuk segera membawa calon istri ke hadapannya.


"Sebenarnya aku masih menginginkan Zelene, Bos. Tetapi...," Vigor berada di persimpangan. Dia menginginkan adik Bosnya, tetapi dia akan kesulitan melawan Mama Jelita.


"Kamu jangan khawatir, aku akan meminta Zelene bertemu denganmu. Atau kamu mau secepatnya bertemu dengannya?" Sean menawarkan.


"Ck, mana mungkin Bos. Zelene bukannya masih di luar negeri?"


"Ck, dasar lelaki tidak peka. Dia sudah datang...," ucap Sean.


"Hah, dia sudah datang?" Binar mata Vigor mempertanyakan kesungguhan ucapan Bosnya.


"Tidak percaya?" goda Sean.


Vigor menggeleng.


"Sepulang kerja, mampir ke apartemenku. Dia ada disana," Sean berdiri hendak membayar pesanannya, tetapi dihalangi oleh Vigor.


"Biar aku saja, Bos," ucap Vigor dengan bahagianya.

__ADS_1


Apa ini serius? Bos Sean tidak berbohong, kan?


__ADS_2