
Tak menunggu lama, pesanan bakso mereka datang. Callista harus bisa menerima kenyataan jika dia dilarang keras makan makanan pedas. Sebenarnya dia sudah terlanjur gondok sama suaminya. Dia memakan bakso biasa yang sangat polos. Dia tidak menambahkan apapun di sana. Ini merupakan wujud protes pada suaminya.
"Call, tumben kek gitu? Biasanya kalau makan bakso, hampir semua isi sambal lo masukkan ke mangkok," Kayana melihat sesuatu yang tak biasa sahabatnya itu.
"Lagi ngikutin tren aja, Kay," jawabnya pada Kayana dan berusaha menyindir suaminya.
"Emang ada ya tren makan bakso kek gitu? Kok gue ngerasa kudet banget, yak?" ucapan Kayana semakin membuat Callista kesal.
Sean hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.
"Googling aja!" Lagi-lagi niat Callista menyindir suaminya.
"Sudah-sudah, lebih baik kalian makan dulu. Nanti obrolannya dilanjutkan lagi," ucap Sean.
Sedang fokus menikmati makanannya, tiba-tiba Kayana melihat pria yang menabraknya tadi masuk ke food court yang sama dengan dirinya. Pria itu sedang bersama dengan pria yang lebih muda.
Tidak akan ada jodoh yang tertukar. Gue lagi beruntung banget malam ini.
"Call, itu pria yang tadi. Doi masuk ke tempat ini," ucapnya dengan binar mata bahagia.
Sean lebih penasaran kepada pria yang disebut Kayana. Dia menoleh ke sana kemari mencari sosok yang dimaksud.
Felix? Apa mungkin dia? Dan... Oh, astaga!
"Kay, maksudmu dua pria yang barusan masuk itu?" Sean penasaran. Kebetulan dua pria yang barusan masuk, Sean juga mengenalnya.
"Iya, Om. Pria yang terlihat matang dan berkharisma itu," ucapan Kayana sudah bisa ditangkap dengan baik oleh Sean.
Astaga, Kayana... Pria itu?
"Sekarang, Om minta lekas kalian selesaikan makannya. Om lupa jika malam ini ada kerjaan yang harus diselesaikan," Sean tidak ingin istrinya curiga jika dirinya menghindari salah satu pria itu.
Niatnya untuk menghindari, ternyata malah berbuntut panjang. Salah satu dari pria itu menyadari keberadaannya. Kedua pria itu menghampirinya dan membuat Kayana panas dingin.
"Kak Sean? Kita bertemu lagi," ucap Felix. Sebelumnya memang bertemu di depan toko baju dan mengobrol di sana.
"Hai, Felix. Ternyata dunia itu sempit, yah? Bahkan sudah dua kali kita bertemu," ucap Sean menyambut dua orang yang dikenalnya itu. Sean berdiri tanda menghormati kedua orang itu.
"Boleh gabung di sini? Kakak lagi sama siapa?" tanya Felix. Sementara pria satunya lebih banyak diam. Berbeda lagi dengan Kayana sudah seperti cacing kepanasan. Dia sepertinya sangat tertarik dengan pria pendiam di sebelah Felix.
"Boleh, silakan saja! Oh ya, Felix. Perkenalkan ini istriku, Callista dan yang itu Kayana, teman istriku," Sean tak peduli lagi di hadapan pria itu untuk memperkenalkan istrinya.
__ADS_1
"Kak, ayo kita gabung di sini saja! Biar lebih rame. Bukan begitu, Kak Sean?" ajak Felix pada pria di sebelahnya.
Sepertinya Felix lebih tertarik pada teman istrinya Sean, Kayana. Tetapi tatapan gadis itu terlalu fokus pada pria matang yang ditemui sebelumnya. Dia merasakan getaran pada pandangan pertama. Ciee, Kayana!
"Oh ya, perkenalkan Felix dan ini kakakku, Dizon. Kebetulan kami sedang berlibur di sini," ucap Felix memperkenalkan diri ketika sudah duduk di kursi bersama mereka. Begitu juga dengan Dizon.
"Hai, Om! Salam kenal dari Kayana," ucap gadis itu dengan mata manjanya untuk menggoda Dizon. Orang yang merasa menjadi pusat perhatian itu tak merespon Kayana sama sekali.
Ish, pria itu dingin dan arrogant sekali! Ah, tapi tidak apa-apa. Lagipula, jodoh bisa berbeda karakter, bukan?
Lain halnya dengan Callista. Dia lebih memilih menghabiskan semangkok bakso yang sejak tadi membuatnya gondok. Sean berusaha menegurnya supaya mau berkenalan dengan Felix dan Dizon.
"Sayang, perkenalkan dirimu pada Felix dan kakaknya," pinta Sean.
Sebenarnya Callista ogah memperkenalkan diri. Dilihat wajah suaminya seperti menyimpan sesuatu dengan pria yang disebut kakak oleh Felix.
"Ah, baiklah. Om, perkenalkan Callista, istrinya Tuan Sean Armstrong," ucapnya membuat sosok yang disebut Kakak oleh Felix itu pandangannya tertuju padanya.
Si*l! Kupikir setelah dia kehilangan Diana, seumur hidupnya dia akan menduda. Ternyata seleranya jauh lebih baik dariku! Istrinya lumayan menarik. Lebih menantang daripada Diana.
"Kak, mau pesan apa? Biar aku panggilkan pelayan," ucap Felix pada kakaknya.
Sementara Felix sedang memesan makanannya, Sean dan lainnya melanjutkan makan yang tertunda karena sesi perkenalan telah selesai.
"Kau sekarang tinggal di mana, Sean? Aku dengar jika kau sudah tidak menempati rumah utama Mama Jelita," ucap Dizon. Dia berusaha menggali informasi penting untuk dirinya.
"Tak perlu tau dimana aku tinggal. Jika perlu sesuatu, silakan mampir ke kantor SA Corporation. Aku selalu standby di sana, kecuali hari libur," jawab Sean. Dia melihat tatapan mata tak biasa Dizon pada istrinya.
Kamu pikir aku bodoh? Tidak akan kubiarkan untuk kedua kalinya.
Sebelum berlanjut terlalu jauh, Sean melihat makanan di mangkuk masing-masing telah tandas. Dia meminta izin untuk balik terlebih dahulu.
"Baiklah, Felix, Dizon. Kami pamit pulang. Kami harus mengantar teman Callista terlebih dahulu. Jika menunggu kalian makan, aku khawatir waktunya tidak akan keburu," ucap Sean.
Callista dan Kayana telah berdiri. Begitu juga dengan Sean.
"Bye, Om! Kami duluan...," pamit Kayana.
"Oke, hati-hati di jalan," ucap Felix dan Dizon bersamaan.
Kayana merasa tubuhnya melayang mendengar jawaban dari pria yang dikaguminya itu.
__ADS_1
Mereka secepatnya berjalan ke bassement. Kali ini, Kayanya duduk di belakang seorang diri. Sementara Callista duduk di samping kemudi suaminya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sehingga mereka masih bisa mengobrol dengan santai.
"Om kenal dengan pria itu? Maksudku yang kakaknya Felix itu," tanya Kayana.
Bukan kenal lagi, Kay. Kenal sekali malah. Pria itu yang menjadi selingkuhan mantan istriku, Diana.
"Kenapa, Kay? Kamu menyukainya?" Sean tau arah pembicaraan gadis itu.
"Iya, Om! Dari pandangan pertama malah. Pria itu tadi yang nabrak aku waktu jalan bareng Callista," ucap Kayana semringah sekali.
Astaga, Kay! Bahkan aku juga tidak tau apakah pria itu sudah beristri atau masih suka mempermainkan istri orang lain.
"Kenapa harus kakaknya, jika adiknya lebih muda dan lebih tampan?" tanya Sean pada Kayana.
"Ish, Om. Itu selera Kayana. Mana mungkin dia berpindah ke lain hati," jawab Callista, istrinya.
"Masalahnya bukan lagi mengenai selera, sayang. Pria itu sudah beristri," ucap Sean pada istrinya.
"Astaga! Aku pikir dia seorang Duda, Om. Astaga... Huhuhu... Gue patah hati untuk yang kedua kalinya, Call...," teriaknya pada Om Sean dan Callista.
"Sabar, Kay. Jangan putus asa!" hibur Callista.
"Sudah jangan bersedih, Kay! Om janji akan membantumu," ucap Sean. Dia merasa kasihan pada Kayana. Dia memilih pria yang salah di matanya. Andaikan dia lebih memilih Felix, mungkin Sean akan mendukungnya.
Apa aku jodohkan dengan Felix saja? Siapa tau pria itu mau menerimanya?
ππππto be continuedππππ
Hai hai hai, akak readers yang budiman di manapun berada. Semoga selalu diberikan limpahan keberkahan, kesehatan, dan rezeki yang berlimpah... Aamiin...
Jangan lupa like, komentar dan votenya yah, agar emak author lebih bersemangat untuk menghadirkan kisah selanjutnya. Terima kasih...
Kuy mampir ke karya teman emak. Ceritanya di jamin keren... Cus mampir kesana... Cerita ini dibuat karena ada even bertema berbagi cinta. Semoga kalian suka ππππ
Judul : Berbagi Cinta : Pilih Aku, Suamiku
Author : Navizaa
__ADS_1