
Ceklek!
Sean membuka pintu apartemennya. Dia melihat bekas gelas dan piring masih ada di ruang tamu.
"Sayang...," panggil Sean.
Callista baru saja keluar dari kamarnya. Dia baru saja selesai membersihkan diri.
"Baru pulang, sayang?" tanya istrinya.
"Iya. Sedikit terlambat. Apa hari ini ada tamu?" Sean berjalan melewati istrinya masuk ke kamar.
Callista mengekor dari belakang. "Zelene... Dia baru pulang, sayang."
Callista membantu melepas jas, dasi, dan kemeja yang dipakai suaminya. Sehingga menampakkan dada bidang yang sangat mempesona.
"Kami pergi ke Mal...," ucapnya sembari memainkan dada bidang suaminya.
"Kamu selalu menggodaku. Giliran aku minta jatah, masih dipending terus," protes suaminya.
"Aku sangat lelah, sayang...." Callista membawa baju kotor itu ke keranjang baju yang terletak di tempat mesin cuci berada.
Callista kembali lagi ke kamar. "Mandilah! Aku mau membereskan ruang tamu dan menyiapkan makanan."
Sean masih pada posisinya duduk di atas ranjang. Dia masih malas untuk masuk ke bathroom.
Hanya beberapa menit, Callista masuk lagi dan melihat suaminya masih belum beranjak dari tempatnya.
"Apa yang sedang mengganjal dipikiranmu, sayang?" tanya Callista. Dia mendekat dan duduk di samping suaminya.
"Ini hanya tentang Diana, sayang," ucap Sean sembari menoleh ke arah istrinya.
Deg!
Mendengar nama orang yang menjadi rivalnya membuat Callista sangat cemburu. Dia pikir setelah wanita itu bertemu ayah biologis anaknya, dia akan berhenti untuk mengganggu suaminya. Nyatanya tidak sama sekali.
Apa yang akan dilakukan wanita itu pada suamiku? Apa belum puas juga dia bertemu dengan ayah biologis anaknya itu? Dasar wanita jal*ng!
"Kenapa kamu terdiam?" tanya Sean. Pria itu tidak paham, setelah menyebutkan nama mantan istrinya, Callista langsung mode cemburu.
"A-aku tidak apa-apa. Lanjutkan saja melamunnya... Aku balik ke dapur dulu," pamit Callista. Dia tidak tahan sikap suaminya yang mendadak membahas wanita itu.
Sesampainya di dapur, Callista mengeluarkan air mata sebelum suaminya melihatnya menangis. Pikirannya kembali kalut, dia mengingat jika sedang hamil.
Maafkan Mama, nak. Mama sering sekali cemburu pada papamu. Mama tidak ingin ada orang lain lagi selain kita. Batin Callista sembari mengelus perutnya.
Sean melihat dari jauh tingkah istrinya. Dia memang belum mandi, tetapi melihat istrinya berkutat di dapur membuatnya sangat bahagia.
"Sayang... Kamu kenapa?" tanya Sean.
Callista tidak langsung menjawab. Ternyata suaminya sangat tidak peka sekali.
Rupanya papamu tidak peka, nak.
Tidak mendapatkan jawaban, Sean mendekati istrinya. Dia hanya memakai boxer tanpa kaos oblong kesayangannya. Dia memeluk istrinya dari belakang dan membuat wanita itu terkejut lantas mendorong suaminya untuk mundur.
__ADS_1
"Eh, kenapa? Tidak suka dengan bau keringat suamimu?" tanya Sean yang mendapatkan penolakan itu.
"Aku siapkan makanan dulu. Lebih baik cepatlah mandi, setelah itu kita makan bersama," ucap Callista tanpa memandang wajah suaminya.
"Baiklah." Sean kembali ke kamarnya.
Callista menyelesaikan tugasnya di dapur. Setelah selesai menghidangkan makanan, dia duduk menunggu suaminya.
"Semuanya sudah beres, tinggal menunggu pria menyebalkan itu datang," ucap Callista dengan suara yang sangat nyaring. Dia tidak sadar jika suaminya sudah kembali dan hampir sampai di meja makan.
"Hemm, siapa yang kamu maksud pria menyebalkan itu?" tanya suaminya.
Callista menutup mulutnya sendiri. "Tidak ada. Mungkin hanya salah dengar saja," kilahnya.
"Ck, telinga suamimu ini masih sangat bagus untuk mendengar suara sekencang itu. Apa yang membuatmu kesal padaku?" Sean duduk di kursi dan mulai mengambil piring makannya.
"Aku kesal karena kamu menyebutkan nama wanita menyebalkan itu di hadapanku! Kamu pikir aku tidak cemburu?"
Sean menatap sekilas wajah istrinya. Dia langsung menertawakannya.
"Eh, kenapa tertawa? Tidak ada yang lucu!"
Sean tidak merespon istrinya. Dia langsung saja menikmati makan malamnya. Sepertinya salah paham lagi telah terjadi. Ketika selesai, Sean membereskan piring makan dan beberapa peralatan makan lainnya yang sudah kotor.
"Biar aku saja!" ucap istrinya.
"Masuklah ke kamar! Sebentar lagi aku menyusul," perintahnya.
Callista tidak menjawab apapun. Dia langsung masuk ke kamarnya. Dia membiarkan suaminya untuk membereskan meja makan seorang diri. Sesampainya di kamar, Callista lebih memilih untuk langsung naik ke ranjang dan berpura-pura tidur.
Ceklek!
"Aku tau jika kamu belum tidur, sayang. Dengarkan penjelasanku dulu!"
Sean menengok wajah istrinya. Pria itu tersenyum di hadapannya.
"Mendekatlah!" Sean memutar tubuh istrinya untuk menghadap ke arahnya. "Ada yang ingin kusampaikan padamu."
Callista menutup rapat kedua telinganya. Dia malas jika mendengar tentang mantan istri suaminya.
"Jangan seperti anak kecil! Dengarkan dulu!" Sean menarik kedua tangan istrinya.
"Apa yang harus kudengar lagi tentang wanita itu?"
"Bumil ternyata sensitivitasnya sangat tinggi, yah? Makanya dengarkan dulu... Diana sudah pamit padaku," ucapnya.
Callista tidak peduli tentang Diana. Dia lebih peduli jika suaminya tidak mengurus lagi wanita itu.
"Baiklah, jika kamu tidak ingin bertanya lagi. Aku tetap akan menceritakannya," ucap Sean.
Sean menceritakan kedatangan Juvenal dan Diana. Dia juga menceritakan parcel buah yang didapatnya kemarin itu adalah dari wanita itu. Dia juga menceritakan jika pasangan itu akan kembali ke negara Diana tinggal sekarang. Sean lupa belum menceritakan karena sedang sibuk mengurus beberapa pekerjaan dari apartemennya.
Barulah Callista bisa tersenyum lagi mendengar penuturan suaminya.
"Maaf... Kupikir wanita itu akan mendekatimu lagi," ucapnya.
__ADS_1
"Tidak! Juvenal akan bertanggung jawab."
"Apa suamiku pernah mencintai wanita itu?" tanya Callista membuat Sean menatap tajam padanya.
"Kenapa ingin tau masa laluku?"
"Sekedar ingin tau saja," jawab Callista.
"Nanti kamu bisa cemburu lagi," sindir suaminya.
Callista menggeleng.
"Dulu... Aku sangat mencintainya. Apalagi ketika tau dia sedang hamil. Ternyata perlahan semua kebohongannya terungkap," ucap Sean dengan wajah sedihnya mengingat pengkhianatan mantan istrinya.
Apa Diana adalah wanita pertama yang sangat dicintai suamiku?
"Apa dia cinta pertama suamiku?" tanya Callista.
"Aku tidak pernah memiliki cinta pertama, tetapi aku pernah mempunyai cinta monyet," ucap Sean membuat Callista menertawakan suaminya. "Eh, kenapa tertawa?"
"Ternyata pria keren seperti Om tidak punya cinta pertama."
"Ck, Om lagi? Sudah kubilang berulang kali, jangan panggil Om. Berasa nikah dengan keponakan sendiri," sindir Sean.
Sean lalu menyerang Callista dengan ci*mannya yang menuntut lebih untuk memberikan yang lainnya. Dia juga mengabsen inci demi inci tubuh istrinya itu, ketika istrinya meminta lebih, Sean menghentikannya.
"Tidak untuk sekarang! Kamu bilang sangat lelah, bukan?" ledek Sean. Pria itu selalu bisa saja membuat Callista terbang ke awan kemudian menjatuhkannya secara bersamaan.
Callista langsung memutar badannya membelakangi suaminya. Pria itu selalu bisa membalas semua kelakuan istrinya yang terkadang masih kekanakan itu.
Sean tersenyum puas. Dia tidak akan menyentuh istrinya sebelum pergi ke dokter untuk mengecek kondisi kandungannya. Benar-benar suami idaman!
☘️☘️☘️☘️☘️☘️TBC☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Walaupun sedikit terlewati, tetap akan emak munculkan...
Diana Carington
Burchard Juvenal Halbur
Willow
Yang penasaran dengan visual asisten atau Om kurir, sabar yach... jangan lupa like, vote, dan komentarnya...
🥀🥀🥀🥀☕☕☕☕⭐⭐⭐⭐⭐ jangan lupa dikirimkan agar emak author lebih bersemangat...
Sambil menunggu update selanjutnya, yuk kepoin duda lainnya... Judulnya Ranjang Panas Om Duda
Author : Morata
__ADS_1
Terima kasih... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻