
Kehadiran Callista dan Zelene membuat kantor Sean terlihat heboh. Banyak yang merasa patah hati. Pertama, patah hati terhadap Bos Dudanya yang diam-diam telah memiliki seorang istri. Kedua, patah hati terhadap asisten Bosnya yang anti pacaran itu diam-diam telah menikah. Semua karyawan SA Corporation dibuat ambyar.
Setelah masalah kakak ipar selesai, sekarang semua berkumpul di ruangan Sean. Sean dan Vigor menikmati makan siang yang dibawakan istrinya.
"Ternyata kalian kompak bener ya. Bisa membawakan suaminya makan siang persis kesukaan masing-masing," ucap Sean.
"Kak Sean bisa aja, sih," balas Zelene.
"Sayang, kamu tadi makan apa?" tanya Sean pada istrinya.
"Nasi goreng ikan asin," Callista tersenyum menjawab pertanyaan suaminya.
"Selera kita soal makanan selalu berbeda, yah? Tapi, soal lain kita sehati," goda Sean pada istrinya.
"Ehem, pengantin barunya kita. Kenapa Bos yang terlihat seperti pengantin baru," Vigor merasa tersaingi.
"Ck, kamu perlu banyak belajar dari yang sudah berpengalaman," canda Sean.
Setelah makan siang dan obrolan ringan sedang berlangsung, tiba-tiba seseorang menerobos masuk ke dalam ruangannya. Padahal sebelumnya Sean sudah meminta staf front office dan Satpam untuk menahan tamunya agar tidak masuk terlebih dahulu karena Sean masih ingin bercengkerama dengan istri dan adik-adiknya.
"Maaf, Bos. Kami sudah berusaha menahannya, tetapi beliau memaksa masuk untuk bertemu dengan Anda," ucap Satpam tersebut.
"Sean, Mama ingin berbicara denganmu," ucap Mama Jelita. Wanita paruh baya itu juga tidak sanggup menunggu terlalu lama mengenai kabar yang baru diterimanya. Mama Jelita juga melihat anak bungsunya sedang bersama asisten yang ditolak mentah-mentah olehnya.
Kenapa semua anakku jadi pembangkang?
Sean mengajak Mamanya ke ruangan sebelah. Ruangan yang lebih privasi dan hanya ada deretan sofa di sana.
"Mari ikut denganku, Ma," ajak Sean.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu menoleh sekilas pada anak bungsunya, asisten Sean, dan gadis yang katanya istri dari anak sulungnya. Tatapan mata yang ditunjukkan sangat tidak menyukai mereka. Terutama dua orang yang bertolak belakang dengan kehidupannya.
Di dalam sebuah ruangan, Sean meminta Mamanya untuk duduk terlebih dahulu. Walaupun sang Mama selalu bersikap seperti itu, Sean berusaha menghormatinya.
"Duduklah, Ma!" pinta Sean.
Mama Jelita duduk di sofa. Dia sudah tak tahan untuk segera mengetahui kebenarannya. "Apa benar gadis itu istrimu?"
Sean mengangguk.
"Yakin dia istri sahmu? Atau hanya seorang sugar baby yang mencari pria matang sepertimu untuk dijadikan sugar daddy?" Mama Jelita tidak terima dengan status gadis yang dijumpainya itu.
"Namanya Callista, Ma. Dia istri sahku," jawab Sean.
"Mama tidak percaya! Mana mungkin kau menikah tanpa restu Mama. Mama tidak setuju kau bersamanya," Mama Jelita mengutarakan ketidak sukaannya pada Callista.
"Dengan atau tanpa restu Mama, pernikahan kami sudah sah. Tolong Mama bisa menghargai pilihanku," Sean menolak tegas semua ucapan Mamanya yang tidak masuk akal itu.
"Ma... Asal Mama tau, siapapun dia tidak penting untuk Mama. Bagiku, yang paling penting adalah kebahagiaan dan kejujuran. Mama tidak pernah belajar dari kesalahan beberapa puluh tahun yang lalu. Mama memaksaku untuk menikah dengan Diana yang ternyata dia selingkuh dengan mantan kekasihnya, Dizon," Sean terpaksa membuka luka lama itu.
"Mama mau kau menceraikannya saat ini juga. Mama tidak peduli kau suka atau tidak. Setelah itu, kembalilah rujuk dengan Diana. Demi Willow," Mama Jelita memaksa anaknya untuk mengikuti kemauannya.
"Tidak akan pernah, Ma! Gadis itu akan melahirkan anak-anak untukku. Mama jangan pernah ikut campur lagi kehidupan pernikahanku ataupun pernikahan Zelene. Mama cukup diam dan nikmati hari tua Mama," Sean menolak semua kegilaan Mamanya.
"Jadi, Zelene sudah menikah dengan lelaki miskin itu?" Mama Jelita dikejutkan lagi dengan kabar yang tidak bagus menurutnya.
"Ma, Vigor pria yang bertanggung jawab. Dia akan berusaha membahagiakan Zelene dengan caranya. Tolong Mama hargai semua keputusan anak-anak Mama," Kali ini Sean memohon agar Mamanya mau berubah.
Tidak, Sean! Semua orang akan menganggap Mama menjadi orang tua yang tidak becus mengurus anak. Kalian semua membuat Mama kesal, kecewa. Kehidupan bergelimang harta membuat kalian memilih orang yang tidak berkelas. Mama sangat kecewa. Kalian berdua mempermalukan Mama.
__ADS_1
"Mama tetap tidak setuju. Kau dengan gadis itu maupun Zelene dengan asisten miskin itu. Mama minta, secepatnya kalian urus perceraian!" Keputusan Mama Jelita dianggap final baginya.
Sean berdiri. Dia mengambil napas yang sangat dalam kemudian menghembuskannya.
"Sekali lagi, atas nama Zelene maupun Sean. Kami dengan tegas menolak permintaan Mama. Jika Mama tetap memaksa, Sean tidak segan akan mengirim Mama kembali ke negara A. Sean tidak peduli, mau Mama marah atau benci pada Sean, silakan. Karena bagi Sean dan Zelene, kebahagiaan tidak melulu soal harta, pangkat, dan jabatan, Ma. Harga diri memang penting, tetapi Mama terlalu membuat semua orang harus mengikuti kemauan Mama, itu tidak akan baik, Ma," ucap Sean.
Mama Jelita semakin meradang. Dia tidak ingin kaum sosialitanya tau jika memiliki menantu dari kalangan rendahan.
"Terserah kau, Sean. Mama tidak akan pernah mengakui kedua menantu itu sampai kapanpun," ucap Mama Jelita ketika posisinya sudah terjepit.
"Itu hak Mama. Terserah Mama. Jangan ganggu kebahagiaan kami. Sebagai anak, kami tidak ingin menjadi pembangkang. Tetapi Mama selalu memaksakan kehendak Mama tanpa memikirkan kebahagiaan anak-anak Mama. Mama lebih percaya pada Diana. Mama juga percaya pada Willow. Padahal Mama tau, kan? Mereka semua menipu kita, Ma," Sean sudah tidak tahan untuk tidak menyerang Mamanya.
Jika sekarang aku gagal, tak masalah. Aku akan mencoba cara lain untuk membuat mereka semua terpisah.
Mama Jelita berdiri. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan putra sulungnya itu.
"Baiklah, terserah kau saja. Mama pergi," pamitnya pada Sean.
Mama Jelita keluar melewati ruang kerja Sean. Di sana, wanita itu masih melihat kedua menantu yang tidak diharapkan. Mama Jelita melengos memandang mereka. Bergegas dia meninggalkan kantor putranya untuk urusan lain lagi.
Sean yang baru saja keluar dari ruang pribadinya langsung disambut oleh istri dan adiknya.
"Mama mertua meminta kita bercerai?" tanya Callista.
"Apa yang kakak bicarakan dengan Mama?" tanya Zelene.
Keduanya memberondong pertanyaan pada Sean. Sean menjawabnya dengan senyuman.
"Kalian berdua jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja," jawab Sean.
__ADS_1
Aku yakin, Mama tidak akan pernah berhenti mengusik kehidupanku dan Zelene. Sampai Mama berhasil mewujudkan keinginannya. Apa sebaiknya aku bicarakan saja pada Zelene? Kita cari solusi yang tepat untuk membalas perbuatan Mama.
😍😍😍😍 to be continued 😍😍😍😍