
"Kay, lo hari ini nggak ada kegiatan, kan?" tanya Callista yang saat ini hanya berdua saja di apartemen bersama sahabatnya.
"Sumpah demi apapun, Call. Gue belum bisa move on sama wajah laki lo yang gantenganya nggak ketulungan itu," canda Kayana. Suami sahabatnya itu memang cakepnya luar biasa. Selain cakep aura wajahnya sangat berkharisma.
"Ish, suami orang tuh," balas Callista dengan tawanya.
"Pantesan lo betah banget tinggal berdua sama doi. Kalau gue jadi elo, gue gak bakalan turun dari ranjang sedetik pun. Gue bakalan bikin doi betah banget buat nyentuh gue," Khayalan Kayana terlalu absurd.
"Ish, tingkat kemesuman lo terlalu over, Kay," ledek Callista.
"Bodo amat, Call. Kenyataannya memang begitu," Kayana tertawa renyah.
"Eh, daripada kita nggak ada kerjaan. Ngemal yuk! Sekarang gue yang traktir elo belanja apapun yang lo mau," Callista menawarkan.
Binar mata Kayana terlihat sangat jelas. "Serius, lo? Lo mau traktir gue apapun itu?"
Callista mengangguk.
Kayana memeluk sahabatnya itu dengan erat sekali. "Thank you, Call. Lo baik bener."
"Ish, lepasin! Kagak bisa napas, gue," pinta Callista.
Kayana dan Callista berangkat ke Mal Sinar Galaxy naik motor Kayana untuk mempercepat agar lekas sampai di sana.
Hari menjelang siang, pengunjung Mal terlihat sangat ramai sekali. Kayana dan Callista tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Keduanya menuju toko baju yang menjual beberapa baju bermerek.
"Call, boleh yah gue beli baju dengan merek Gucci, Prada, Chanel, Versace, Christian Dior, dan Louis Vuitton?" tanya Kayana pada sahabatnya.
"Ck, lo mau beli baju apa mau ngerampok gue? Tu baju semua apa cuman merek aja yang lo hapal?" canda Callista.
Kayana tertawa. Baru pertama kalinya doi masuk ke toko baju yang bermerek seperti ini. Apalagi dia hanya memilih untuk dirinya sendiri. Entahlah, setelah berkeliling di toko tersebut, Kayana menyerah.
"Gue nggak pantes pake yang bermerek kayak gini, Call," keluh Kayana pada sahabatnya.
"Eh, kenapa? Bukannya ini cita-cita elo dari dulu biar bisa beli baju bermerek Dunia?" tanya Callista.
__ADS_1
"Nggak pantas karena nggak cocok sama gaji gue," Kayana tertawa. Walaupun saat ini sahabatnya bisa saja membelikan apa yang dia mau, tetapi dia masih sadar diri untuk tidak memanfaatkan kebaikan sahabatnya itu.
"Kita cari ke tempat lain aja, Call. Nggak bermerek tak masalah, asal gue dapet selusin," ajak Kayana.
Callista tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu. Keduanya pindah dari toko pakaian bermerek ke tempat yang biasa Kayana kunjungi.
Saat hendak memasuki toko tersebut, dari kejauhan Callista seperti melihat dua orang yang di kenalnya sedang berjalan dengan wanita paruh baya yang belum pernah dilihatnya sama sekali. Callista mencegah Kayana untuk masuk ke toko terlebih dahulu.
Itu sepertinya adik ipar dan mantan istri suami gue. Siapa wanita paruh baya itu? Untuk apa mereka bertiga jalan bersama? Melihat wajah adik ipar seperti tertekan sekali. Ish, ini tidak beres!
"Kay, tunggu!" ucap Callista lirih.
"Ada apa?" Kayana menghentikan langkahnya.
"Kita ikuti ketiga orang itu, yak? Sepertinya ada yang tidak beres. Nanti saja gue ceritakan. Yang penting kita nggak ketinggalan kemana mereka pergi," ajak Callista.
Kedua sahabat ini sudah seperti detektif handal yang mengikuti mereka tanpa diketahui. Mereka berdua tak kehabisan akal, menyelinap dari toko ke toko. Sampai akhirnya tiba di sebuah butik berkelas yang ada di Mal Sinar Galaxy.
Eh, kenapa adik ipar dibawa ke butik? Apa ini ada hubungannya dengan masalah yang dihadapi suami gue?
"Ze, pilihlah gaun yang bagus untuk pertunanganmu besok!" ucap wanita paruh baya itu.
What? Mama? Jadi itu Mamanya Om Sean? Kenapa beda sekali dengan anak lelakinya?
"Ze, pilihlah sesuai seleramu. Jangan membantah!" perintah Mamanya lagi.
"Enggak, Ma! Seleraku cuman Kak Vigor," balas Zelene. Dia memang sengaja membuat Mamanya marah.
"Ze...," Jika tidak ingat ini tempat umum, mungkin Mama Jelita akan kelepasan menampar anak gadisnya itu.
"Ma, biarkan aku membantunya memilih gaun pertunangan sekaligus gaun pengantin untuk minggu depan," ucap Diana, mantan menantu Mama Jelita.
Hah? Ini gila... Wanita itu membantu adik ipar? Gue ngga salah lihat? Ini sangat gawat... Aku harus segera pergi dari sini sebelum ketahuan.
Callista menyeret tangan Kayana untuk keluar dari butik. Ketiga orang yang berada di dalam butik tidak menyadari jika sejak tadi ada yang mengawasi mereka.
__ADS_1
"Eh, sudah selesai main detektifnya? Emang mereka siapa sih, Call?" tanya Kayana yang saat ini berjalan di sampingnya.
"Adik ipar, mantan istri suami gue, dan satunya gue ngga kenal. Tapi kalau dari percakapan mereka yang gue dengar, adik ipar manggil Mama. Dia sepertinya Mama mertuaku, Kay," Callista masih menyembunyikan rasa keterkejutannya. Kenapa ketiga orang itu bisa jalan bareng. Callista sedikit cemburu melihat mantan istri suaminya.
"Hemm, gue boleh berkata jujur nggak, Call?" Kayana sebenarnya takut menyakiti sahabatnya. Mengingat dia juga tidak bisa untuk tidak jujur pada sahabatnya.
"Apa, Kay?"
"Mertua lo kayak nenek Sihir," Kayana melihat wanita paruh baya itu dengan wajahnya yang selalu bersikap aneh. Sepertinya sangat jahat sekali.
Duh, omongan Kayana ngena banget dihati gue. Tapi bener juga sih. Doi tadi sempat ribut sama adik ipar.
"Hais, itu juga Mama suami gue yang katanya lo nggak bisa move on ngelihat wajahnya. Ketemu Mamanya lo langsung berubah," canda Callista. Sebenarnya hatinya berkata persis yang diucapkan Kayana.
Mertua gue seperti nenek sihir.
"Sorry to say, Call. Gue nggak ada maksud nyinggung, yak?" Kayana meminta maaf pada sahabatnya.
"Tak masalah. Yuk cari makanan dulu!" ajak Callista. Dia tidak ingin keberadaannya di Mal ini terendus mantan istri suaminya.
"Oke," Kayana mengikuti kemana Callista berjalan.
Callista sebenarnya ingin makan di tempat yang biasa dia kunjungi bareng suaminya, tetapi hari ini lebih baik dia memilih tempat yang ada di pojok Mal. Yaitu sebuah restoran yang menyuguhkan steak sebagai makanan yang paling terkenal.
"Ini keren, Call. Lo ngajak gue makan di sini?" tanya Kayana yang masih tidak percaya jika saat ini dia berada di restoran yang paling terkenal di Mal Sinar Galaxy.
"Kenapa? Lo nggak suka?"
"Bukan begitu, Call. Gue suka banget... Sering-sering ajak gue ke sini, yak?" canda Kayana.
Callista tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Dia lekas memanggil pelayan untuk memesan makanannya.
"Iya, Kak. Mau pesan apa?" tanya pelayan itu.
"Beef steak lada hitam, dua. Air mineral kemasan 600ml, dua. Sudah itu aja, Kak," jawab Callista.
__ADS_1
Setelah pelayan itu pergi, dia melihat seseorang yang dikenalnya datang mendekat.
Astaga! Kenapa dia lagi, sih?