
Vigor Abraham, asisten suaminya berjalan mondar-mandir di ruang tunggu kantor pencatat pernikahan. Callista dan Kayana ikut dibuat pusing melihat tingkah asisten itu.
"Om kurir, please! Bisa berhenti nggak? Makin pusing gue lihatnya!" protes Callista.
"Iya, Om. Jangan bikin kita makin panik, dong!" Kayana ikutan memprotes ulah asisten suami sahabatnya itu.
"Aku khawatir Bos Sean tidak berhasil membawa Zelene keluar dari rumah Mama Jelita," ucapnya.
"Ck, Om kurir jangan meremehkan suami gue! Doi punya seribu cara untuk membuat adik ipar keluar dari sana. Om jangan khawatir!" Callista membela suaminya.
"Aku takut nggak jadi nikah dengan Zelene," curhatan asisten suaminya disambut tawa oleh Callista dan sahabatnya.
"Ck, Om kurir jangan khawatir... Dunia itu luas, nggak jadi nikah dengan adik ipar nggak masalah. Ada pengantin pengganti," tunjuk Callista pada Kayana.
Vigor yang sejak tadi dibuat panik dengan ketidak pastian yang dihadapinya malah tertawa renyah membalas candaan istri Bosnya itu.
"Ck, mana mungkin aku mau menikah dengannya. Lebih baik aku mati perjaka daripada nikah sama dia," Vigor tertawa.
Kini Kayana yang tertawa melihat kelakuan lelaki di hadapannya. "Mana mungkin gue mau model pria kayak Om. Nggak ada menariknya juga. Seandainya di dunia ada satu lelaki dan salah satu lelakinya itu Om, gue juga ogah kali nikah sama Om. Mendingan jomblo seumur hidup," candaan Kayana membuat semua orang tertawa.
Vigor menatap tajam ke arah Kayana. "Jadi, menurutmu aku tidak menarik?"
Kayana menggeleng. "Enggak! Coba tanya Callista, seandainya ada Duda dan pria lajang, doi pilih mana? Jelas Duda-lah. Karena Duda lebih meresahkan!" ejek Kayana.
Hais, nggak istri Bos ataupun sahabatnya. Sama-sama gesrek!
"Om kurir tau tidak? Jika di dunia ini ada dua lelaki, salah satunya Om kurir dan suami gue, semua wanita juga nyadar keles bakal milih pria menawan macam Om Sean," kali ini Callista sengaja memanasi Vigor agar lelaki itu semakin pusing.
"Jadi menurutmu, Zelene tidak akan memilihku?" Vigor gusar mendengar pernyataan Callista mengenai dirinya.
Callista mengangguk. "Bisa jadi Zelene akan memilih pria itu. Ya, walaupun gue tidak tau secakep apa pria itu? Mendengar nama kerennya aja semua wanita bakalan klepek-klepek," ujar Callista.
Kelakuan Vigor semakin persis setrikaan. Bolak balik tak tentu arah. Dia juga berkali-kali menatap jam tangannya. Waktu berjalan semakin cepat dan orang yang ditunggunya tak kunjung datang.
Vigor mengusap kasar wajahnya. Ketakutan terbesarnya kali ini adalah kehilangan Zelene untuk kedua kalinya. Saat harapannya mulai menipis, dari arah berlawanan nampak Bosnya datang seorang diri. Vigor semakin panik.
"Bos, apa Zelene jadi melangsungkan pertunangannya?" tanya Vigor.
Sean hanya mengangguk saja menanggapi pertanyaan asistennya itu. Wajah kesedihan nampak di hadapan pria tiga puluh tahun itu.
Vigor langsung syok. Dia terduduk di lantai ruang tunggu gedung pencatat pernikahan.
__ADS_1
Sean mendekati istrinya. Dia membisikkan sesuatu pada istri kecilnya itu. Setelah mendapatkan bisikan itu, Callista mengajak Kayana untuk mengikuti perintah suaminya.
Sebelum Callista mengikuti perintah suaminya, dia ada misi yang harus dijalankannya.
Emang enak gue kerjain!
"Nah, kan. Apa gue bilang, Om?Adik ipar bakalan milih lelaki itu yang dari namanya saja sudah keren dari lahir. Lihat, Om kurang greget sih!" Callista menertawakan Vigor. Dia membuat lelaki itu semakin kalut dengan tidak adanya Zelene bersama Sean.
Tak hanya Callista dan Kayana yang menertawakan lelaki putus asa di hadapannya itu, tetapi Sean juga ikutan menertawakan.
Ck, dasar pria lemah! Begitu saja sudah putus asa!
"Benar kata istriku. Namamu kurang keren. Coba saja ganti Pedro Abraham, misalnya," goda Sean. "Ayo pulang! Tunggu apalagi? Zelene tak mungkin datang. Aku sudah memaksanya untuk ikut, Mama Jelita melarangnya," ucap Sean ketika hanya tinggal berdua dengan Vigor.
Mendengar perkataan Bosnya, Vigor sudah tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri sehingga Sean memapahnya menuju ke mobil.
"Ck, begitu saja lemah. Seperti dunia hanya ada Zelene saja," goda Sean.
"Bos terlihat sangat bahagia jika aku gagal menikah dengan Zelene. Apa Bos tidak memperjuangkan cintaku?" Vigor merasa kecewa pada Bosnya.
"Yang mencintai Zelene itu kamu, bukan aku! Harusnya yang berjuang itu kamu. Mana bisa aku berjuang? Sudah untung aku mau datang ke rumah utama. Kau tau sendiri kan, Mrs. Perfeksionis itu seperti apa?" ucap Sean yang masih memapah lelaki putus asa itu.
Sesampainya di mobil Sean, pria mantan Duda itu meminta Vigor masuk ke dalam mobilnya.
Vigor menolak karena dia juga membawa mobilnya sendiri.
"Tidak, Bos! Aku bisa pulang sendiri," tolaknya.
"Jadi, kau mau menolak calon kakak iparmu?"
Pertanyaan Sean membuat Vigor semakin bingung. Bukankah dirinya sudah gagal menikah dengan adiknya, tetapi mengapa seolah masih ada kesempatan untuk mendapatkan Zelene kembali?
"Apa maksud ucapan Bos barusan?" tanya Vigor.
"Ck, dasar lelaki bodoh! Begitu saja sudah putus asa," Zelene menjawabnya dari dalam mobil.
Vigor seperti mimpi mendengar suara pujaan hatinya yang dikira sudah tidak ada harapan lagi.
"Aku bermimpi kan, Bos? Itu pasti halusinasiku mendengar suara Zelene," ucapnya.
Callista yang melihat lelaki bodoh di hadapanya tak tahan untuk tidak membuat lelaki itu sadar. Callista menampar lelaki itu dengan candaannya.
__ADS_1
"Eh, pria bodoh! Dia itu adik ipar beneran. Jadi nikah nggak, nih? Keburu tutup kantornya," ucapan Callista menyadarkan Vigor. Lelaki yang hampir putus asa itu akhirnya menyadari jika Zelene lebih memilihnya.
Zelene mendekati calon suaminya dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Vigor spontan langsung memeluk Zelene dengan sangat erat.
"Terima kasih, Ze! Kau mau datang untuk menikah denganku," ucap Vigor dengan rasa syukur yang luar biasa.
"Eh, ayo cepat! Keburu tutup," ajak Callista mengingatkan.
Semuanya menuju ke kantor pencatat pernikahan. Di sana Zelene dan Vigor melangsungkan pernikahan. Setelah keduanya dinyatakan sah, Vigor lupa membawakan cincin untuk istrinya.
"Astaga, Ze! Aku minta maaf, sayang. Aku lupa membawa cincin perkawinan kita," Vigor merasa malu di hadapan semua orang.
"Tak masalah, Kak. Asal aku bersamamu," ucap Zelene.
Semua yang hadir memberikan tepukan meriah untuk sepasang pengantin yang melangsungkan pernikahan dadakan itu.
"Setelah ini, kalian mau pulang kemana?" tanya Sean.
"Ke apartemen kakak dulu, boleh?" usul Zelene.
"Boleh, Ze. Apartemen kakak selalu terbuka lebar untukmu."
"Selamat untukmu yah, Om!" ucap Kayana. "Call, gue langsung balik ya. Ada keperluan yang harus gue kerjain," pamitnya.
"Terima kasih, Kay," jawab Vigor.
"Hati-hati, Kay. Terima kasih sudah membantu," balas Callista.
Setelah pernikahan dadakan selesai, Vigor dan Zelene pulang ke apartemen Sean menggunakan mobil Vigor. Sedangkan Callista dan suaminya berada di mobil milik Sean.
"Om, apa tidak sebaiknya mereka pulang ke apartemen Om kurir?" tanya Callista di dalam mobil.
Sean tidak menjawab pertanyaan istrinya malah dia tertawa lepas.
"Kenapa Om tertawa?" Callista heran dengan kelakuan suaminya.
"Dengar! Zelene tidak akan berani berduaan dengan Vigor. Walaupun Zelene sudah dewasa, dia belum berpengalaman bertemu makhluk hidup seperti dirimu, sayang. Lihat, aku berani taruhan. Dia akan mengorek informasi sebanyak-banyaknya melalui dirimu," ucap Sean dengan senyum mengembang.
Callista yang mendengar nama makhluk menggelikan itu, wajahnya menjadi merah merona.
"Ish, apa aku sangat berpengalaman di bidang kemesuman? Bukankah Om yang mengajariku?" balas Callista.
__ADS_1
Sean tertawa mendengar jawaban istrinya itu.