Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Performa Hebat


__ADS_3

Sepulang dari kondangan Anthony dan Nanas, sekarang Sean fokus menyelesaikan rencananya yang sudah tersusun rapi. Dia juga tidak mau kalah dengan Anthony. Yang sudah jelas malam ini sedang gencarnya mepet sang istri. Siapa lagi kalau bukan Nanas.


"Sayang, malam ini biar aku yang menyiapkan makan malamnya. Kamu istirahat saja," bujuk Sean.


Sean sudah merencanakan untuk memesan makanan. Dia hanya menyiapkan saja. Malam ini, tidak boleh gagal untuk mendapatkan jatah dari istrinya. Pikirannya sudah hampir meledak jika tidak mendapatkan pelampiasan yang tepat.


"Baiklah! Aku membersihkan diri dulu, sayang," pamit istrinya.


Ini akan jauh lebih mudah dari yang kubayangkan, sayang. Sebentar lagi pesanan makanan akan sampai. Setelah mandi, kamu bisa langsung makan. Setelah itu, kita lakukan pertemuan rutin itu. Batin Sean.


Sean ke dapur. Dia cukup menyiapkan piring dan memainkan ponselnya untuk memesan beberapa makanan. Istrinya biasanya mandi sekitar satu jam. Tidak kurang dan tidak lebih.


"Baiklah. Lihat saja, kali ini aku menang," ucap Sean. Dia sengaja memesan makanan dari restoran yang paling dekat dengan lokasi apartemennya.


Sekitar empat puluh lima menit, makanan yang dipesannya telah sampai. Bergegas dibawanya masuk ke meja makan dan ditata sedemikian rupa supaya istrinya percaya. Selera makan wanita hamil itu semakin menjadi, makanya Sean menambahkan pesanannya yang biasanya ukuran sedang menjadi dobel.


"Done! Tinggal memanggil istriku," ucap Sean.


Pria empat puluh satu tahun itu masuk ke kamarnya. Belum ada pergerakan di dalam kamar itu, Sean menuju ke bathroom. Sialnya, pintu terkunci dari dalam. Callista sengaja menguncinya agar sang suami tidak nyelonong masuk.


Ceklek!


Callista keluar dengan pakaian longgar yang terlihat rapi. Versi ibu hamil semacam memakai daster. Terlihat seksi di mata suaminya.


"Eh, kenapa melihatnya seperti itu?" protes Callista.


"Kamu terlihat semakin seksi, sayang," puji Sean.


"Ck, merayu terus!" ucap Callista sembari menyisir rambutnya di depan cermin.


Sean tidak mampu menolak pesona istrinya. Ketika hamil, aura kecantikannya semakin bertambah. Sangat cantik malah.


"Aku ke sini untuk mengajak makan malam. Masakannya sudah siap," ucap Sean.


"Benarkah? Aku sudah sangat lapar."


Callista bergegas menyelesaikan make up naturalnya itu. Semenjak mengandung, dia selalu ingin tampil cantik. Dandan adalah hal yang wajib untuknya saat ini.


Sean melihat perubahan aneh pada istrinya. Sangat berbeda dengan Diana di kala itu. Wanita itu enggan untuk berhias, malah lebih cenderung menolak untuk mencium aroma parfumnya.


Apa kehamilan setiap wanita sangat berbeda? Batin Sean.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Callista.


"Tumben... Kenapa kamu lebih sering berdandan akhir-akhir ini?"

__ADS_1


"Entahlah. Rasanya aku ingin terus memakai make up sepanjang waktu," jawab Callista. Akhir ini dia memang selalu nyaman berlama-lama di meja rias sekadar untuk membuatnya tampil semakin cantik.


"Baiklah. Kutunggu di meja makan," ucap Sean akhirnya.


Tak lama, istrinya duduk di meja makan. Dia sangat heran melihat isi meja makan yang terdiri dari berbagai macam masakan.


"Sayang, apa aku tidak salah lihat?" tanya Callista.


"Memangnya ada yang aneh?"


"Kenapa banyak sekali masakannya? Aku tidak percaya padamu! Makanan ini pasti beli, kan?" selidik Callista.


Sean tidak bisa membohongi istrinya. Biasanya dia hanya akan memasak satu atau dua menu masakan. Hari ini ada lebih dari empat jenis masakan yang terhidang.


"Hehe, kenapa? Sesekali tolong hargai usaha suamimu," ucap Sean.


"Ck, kamu ingin membuatku semakin gendut!" protes Callista.


Sean cuman bisa melongo melihat ocehan istrinya. Segera diambilnya piring dan diisi beberapa makanan, kemudian diserahkan kepada istrinya.


"Segini banyaknya, sayang?" tanya Callista.


"Makan saja dulu! Kujamin pasti habis. Ini rasanya sangat enak," ucap Sean.


Callista hendak membereskan bekas piring makannya, namun tangannya dicegah oleh sang suami.


"Biar aku saja," ucapnya.


"Kubantu. Pasti kamu sangat lelah seharian bekerja," Callista mengangkat piring kotornya ke wastafel dapur.


"Istirahatlah! Malam ini aku ingin meminta hakku. Dobel ya? Aku butuh sesuatu yang spesial," goda sang suami sembari menyelesaikan pekerjaannya di dapur. Apalagi kalau bukan mencuci piring.


"Ish, mana bisa begitu? Kita lagi perang. Mana mungkin bisa damai," sindir Callista.


"Sudah kubilang... Perang ranjang yang sesungguhnya akan terjadi," goda Sean.


Sean tidak pernah bercanda dengan kata-katanya. Setelah selesai di dapur, segera pria itu menggendong istrinya yang sejak tadi berdiri di sampingnya.


"Eh, mau apa pria mesum?" protes Callista.


"Perang ranjang. Sudah kubilang, ini adalah perang yang sesungguhnya," Sean sudah tak peduli penolakan istrinya.


"Kalau aku tidak mau?"


"Hati dan ragamu tidak sejalan, sayang...," ledek Sean.

__ADS_1


Kenyataannya memang begitu. Raganya seolah menolak, tetapi hatinya menginginkan lebih. Bahkan ketika Sean berhasil membuatnya polos, Callista pasrah dan sangat menikmati.


Sean tidak membiarkannya bisa santai, setelah semuanya polos. Sean mengangkat tubuh istrinya masuk ke bathroom. Sean ingin agar semuanya terlihat lebih segar. Sekitar setengah jam berkutat dengan perairan, Sean membawa kembali tubuh istrinya yang sudah lebih segar itu ke ranjang.


Perang ranjang segera di mulai. Callista seperti seorang yang benar-benar terhipnotis untuk menerima perlakuan lembut suaminya. Pria itu mampu membuat Callista menggelinjang hebat.


Perlahan namun pasti, Sean mulai mengabsen inci demi inci wanita hamil itu. Dia akan melakukannya secara perlahan, mengingat kandungan istrinya masih terlalu muda.


Ketika puas membuat istrinya meminta lebih, Sean melakukan penyatuannya dengan sangat hati-hati. Pria itu menggeseknya seperti bunyi biola yang berdecat namun terdengar sangat indah. Suara des*han demi des*han yang terlontar dari mulut istrinya membuat Sean semakin bersemangat.


Done! Pelepasan pertamanya berhasil. Sean masih belum berhenti untuk membuat istrinya melenguh nikm*t. Pria itu selalu bisa membangkitkan gair*h istrinya lagi hanya dengan sentuhan nakalnya.


Lagi-lagi, godaan Sean membuat Callista memintanya lebih dan lebih. Sean melakukannya lagi untuk yang kedua kalinya. Hanya butuh beberapa menit telah membuat istrinya merasakan terbang dan menikmati indahnya surga dunia.


Entah di menit ke berapa, Sean mendapatkan pelepasan yang kedua kalinya. Dia masih terus menggoda istrinya sampai hampir untuk yang ketiga kalinya, Callista meminta lagi. Jika bukan karena istrinya sedang hamil, Sean mungkin akan melakukannya lagi.


Callista terlihat kecewa. Gair*ahnya yang telah memuncak itu tiba-tiba harus berhenti karena suaminya hendak membersihkan diri.


"Eh, kenapa manyun begitu?" ucap Sean setelah puas menggoda istrinya.


"Ck, kenapa berhenti? Aku masih ingin melanjutkannya...," gerutu Callista.


"Kamu ketagihan, kan? Performa suamimu ini memang hebat, sayang," ledek Sean.


"Ish, jangan dulu... Lanjutkan lagi!" pinta Callista.


Bukan Sean namanya jika tidak mampu membuat istrinya gembira dan gondok secara bersamaan.


"Sudah cukup, sayang! Ingat, kamu sedang hamil. Tidak boleh terlalu lelah. Oke?" Sean melenggang dengan kepolosannya masuk ke bathroom.


Callista masih saja menggerutu. Sekali lagi dia juga masih sanggup. Berhubung sang suami sudah menyudahi aktivitasnya, dia bisa apa? Hanya menahan gair*h yang tidak tersalurkan. Ck, rasanya sakit seperti baru putus dengan kekasih. Eaaaa....


🍓🍓🍓🍓🍓TBC🍓🍓🍓🍓


Maaf, sudah dibuat hareudang di pagi yang indah ini... Jangan lupa like, vote, dan komentarnya... Abis kondangan di Duda Salah Kamar soalnya.


🥀🥀🥀🥀☕☕☕☕⭐⭐⭐⭐⭐pun boleh dikirimkan. Terima kasih 😍😘



Sean Armstrong



Callista

__ADS_1


__ADS_2