Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Kedatangan Felix Damarion


__ADS_3

Setelah kepergian Zelene ke apartemennya, sekarang Sean sedang mengadakan rapat penting dengan beberapa karyawannya. Rapat dadakan ini dilangsungkan karena ada masalah intern yang harus mereka selesaikan secepatnya.


Ketika rapat sedang berlangsung, staf front office memberitahukan kepada Bosnya jika ada tamu yang ingin bertemu.


Tok tok tok.


Staf itu membuka pintu ruang rapat kemudian langsung mendekati Bosnya.


"Maaf, Bos. Bukannya saya lancang. Di depan ada tamu yang ingin bertemu. Katanya penting sekali," ucap staf tersebut.


"Siapa? Laki-laki atau perempuan?" tanya Sean.


"Laki-laki, Bos. Dia bilang namanya Damarion."


Damarion? Apa Dizon yang datang? Untuk apalagi dia kesini?


"Baiklah! Antarkan dia ke ruanganku!" perintah Sean.


Setelah staf itu pergi, Sean meminta Vigor untuk melanjutkan rapat. Dia yang akan menemui Damarion seorang diri dan menyelesaikan kesalahan pahaman yang terdahulu.


"Vigor, lanjutkan rapatnya. Aku akan menemuinya."


"Bos tidak apa-apa menghadapi pria itu sendirian? Aku sangat khawatir," ucap Vigor, asistennya sekaligus adik iparnya.


"Aku baik, Vigor. Kamu tenang saja," ucapnya kemudian meninggalkan ruang rapat.


Sean masuk ke ruangannya. Dia harap-harap cemas semoga kali ini Dizon tidak berbuat nekat pada dirinya. Dia mengingat masa lalunya yang sangat buruk dengan pria itu.


Tok tok tok.


"Masuk!" ucap Sean dari dalam.


Ceklek!


Melihat yang datang, Sean bisa bernafas lega. Ternyata Felix Damarion yang datang.


"Duduklah, Felix!" Sean mempersilakan Felix untuk duduk di sofa. Sean juga duduk di tempat yang sama dengannya.


"Apa kabar, Kak?" tanya Felix.


"Aku baik. Angin apa yang membawamu kemari sepagi ini?" Sean hanya ingin berbasa-basi dengan pria itu.

__ADS_1


"Kakak bisa saja. Ini bahkan menjelang siang, Kak. Kakak sibuk sekali?" tanya Felix.


"Tidak terlalu. Oh ya, atas nama keluarga Armstrong aku minta maaf telah membuatmu gagal di hari pertunangan itu."


"Tak masalah. Itu jauh lebih baik daripada aku menikah kemudian harus bercerai," ucapnya tersenyum. Bukan maksud Felix untuk menyinggung kegagalan pernikahan Sean. "Maaf, ucapanku tak ada maksud untuk menyinggung, Kak."


Sean mengerti jika Felix sangat berbeda dengan kakaknya.


"Kak..., sebagai keluarga Damarion, aku meminta maaf pada Kakak dan keluarga. Karena ulah Kak Dizon, pernikahan kakak harus kandas seperti itu," Felix merasa kasihan pada pria di hadapannya yang begitu rumit dengan pernikahannya di masa lalu.


"Tidak apa-apa, Felix. Itu hanya salah paham antara Dizon denganku," Sean sebenarnya enggan membuka luka lama. Berhubung adik rivalnya datang dengan kebaikan, Sean tidak bisa mengabaikan pria itu.


"Tapi tidak untuk kali ini, aku mohon jaga kakak ipar dengan baik," ucapan Felix barusan membuat Sean menatap tajam ke arahnya.


"Apa maksudmu?"


"Kak Dizon kali ini akan mengejar istrimu. Dia akan memaksa wanita itu untuk menikah dengannya. Entah, kegilaan apa yang akan kakakku lakukan?" ucap Felix menjelaskan. Di sisi lain, dia sangat menyayangi Kakaknya. Melihat kelakuan buruk yang terus dilakukannya membuat Felix harus turun tangan melindungi orang-orang yang akan menjadi target selanjutnya oleh sang kakak.


Astaga, pria itu semakin gila saja! Kupikir sekian tahun telah mendapatkan Diana, tak membuatnya berubah.


"Terima kasih, Felix. Sebenarnya kejadian waktu itu adalah kesalah pahaman. Aku tidak pernah tau jika Diana sudah menjadi kekasih kakakmu. Keluarga kami menjalin kesepakatan untuk menjodohkanku dengan Diana. Kami menerimanya. Kamu tau sendiri, kan? Kejadian selanjutnya seperti apa? Mereka membuat affair di belakangku," ucap Sean.


"Baiklah, Kak. Aku hanya mampir sebentar. Tolong untuk lebih hati-hati lagi. Bukan maksudku untuk menakuti. Mama sudah memaksa Kak Dizon untuk bertanggung jawab atas Kak Diana dan Willow," Felix hendak berdiri, namun Sean mencegahnya. Dia masih ada perlu penting dengannya.


"Tunggu, Felix! Aku ada perlu sedikit denganmu," Sean baru ingat jika dirinya ada misi untuk menjodohkan Felix dengan Kayana, sahabat istrinya. "Maaf, kamu mau minum apa? Sejak tadi terlalu fokus mengobrol. Aku lupa jika sedang ada tamu."


"Ah, iya Kak. Tidak usah minumannya. Aku hanya sebentar, kok. Apa ada sesuatu yang penting untukku?" tanya Felix.


"Masih ingat gadis semalam yang bersama istriku?"


Gadis yang bernama Kayana itu. Masih sangat muda. Memangnya kenapa?


"Iya. Kenapa, Kak?" Felix tidak mengerti arah pembicaraan Sean.


"Apa kamu tidak tertarik padanya? Maksudku, apa kamu ingin mengenalnya lebih jauh?" Sean berharap Felix mau mengenal gadis itu agar tidak susah payah mencarikan pria lain. Toh Felix juga sedang mencari jodoh.


Apa aku coba saja? Siapa tau memang dia yang terbaik.


"Baiklah, Kak. Aku akan mencobanya. Kakak bisa mengabariku kapan saja. Aku akan siap," ucap Felix meninggalkan kartu namanya di atas meja.


Semoga saja gadis itu mau menerimaku.

__ADS_1


Felix berdiri untuk pamit. "Terima kasih, Kak. Kau memang orang yang baik."


Felix berjalan mendekati pintu. Ketika dia hendak keluar, Vigor masuk. Adik iparnya itu sangat mengkhawatirkan Sean sejak tadi.


"Maaf, Bos. Aku lancang masuk. Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu, Bos," ucap Vigor. Dia pikir kakak iparnya berhadapan dengan Dizon.


"Jangan khawatir. Bukan kakakku yang datang," ucap Felix. "Baiklah, Kak. Aku langsung balik," ucapnya pada Sean.


"Iya, hati-hati."


Sean kembali ke meja kerjanya. Dia masih memikirkan ucapan Felix barusan. Sepertinya dia harus berusaha lebih keras lagi untuk menjaga Callista.


"Ada apa, Bos?" tanya Vigor.


"Felix mengingatkan aku untuk selalu menjaga Callista. Dizon menargetkan istriku itu. Entah, apa yang ada dipikiran pria bejat itu? Tak henti-hentinya merusak rumah tangga orang," ucap Sean sambil memijit pelipisnya.


Sean tak habis pikir. Urusannya dengan Dizon ternyata belum selesai sampai hari ini. Padahal waktu itu dia sudah melepaskan Diana untuk kembali padanya. Nyatanya, sekarang dia malah menginginkan Callista.


Apartemen yang sekarang ditempatinya jauh dari jangkauan orang lain. Sementara hanya asistennya, adiknya, dan sahabat istrinya. Jika Dizon sampai tau, Sean harus segera memindahkan istrinya untuk sementara waktu.


Ketika sedang melanjutkan pekerjaannya bersama Vigor, seseorang mengetuk pintu. Keduanya saling memandang.


"Siapa yang datang?" tanya Sean pada Vigor.


Vigor hanya mengangkat bahu, menandakan dia tidak tau tamu yang sedang berada di balik pintu.


Ceklek!


Zelene muncul dengan senyuman semringahnya.


"Astaga, kalian berdua lama sekali. Aku sampai jamuran menunggunya di depan pintu," ucap Zelene dengan membawa beberapa paper bag yang berisi makan siang untuk kakak dan suaminya.


Zelene menutup kembali pintunya. Kedatangan Zelene ke kantor membuat Sean semakin panik.


"Mana kakak iparmu?" tanya Sean.


"Oh, Kakak ipar sedang tidur. Setelah makan, dia bilang sangat lelah sekali ingin melanjutkan tidurnya. Kakak jangan khawatir, aku sudah memberikan wejangan untuk tidak sembarangan menerima tamu," ucap Zelene menjelaskan.


Harusnya Zelene tidak pernah meninggalkannya sendirian.


😍😍😍😍to be continued😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2