
"Sayang, kapan kita liburan?" tanya Callista manja.
"Belum tau, sayang. Kamu ingin pergi ke mana?"
"Aku pingin ke Mal. Aku sudah kangen makan bakso pedasnya," Callista merayu. Dia melingkarkan tangan pada tangan suaminya.
"Jangan begini, sayang... Aku bisa terlambat!" tolaknya.
Sean sedang memikirkan syarat yang diajukan Mama Jelita kemarin. Dia sebenarnya ingin bercerita pada Callista, tetapi diurungkan niatnya itu. Dia ingin bumil tetap fokus pada kehamilannya.
"Apa aku pergi sendiri ke Mal?"
Tidak! Dia bisa pergi dengan Zelene.
"Enggak! Aku tidak setuju. Apa kamu tidak kelelahan berkeliling di Mal seluas itu?"
Callista menggeleng. "Aku hanya butuh hiburan, sayang. Aku jenuh berada di apartemen terus."
"Pergilah dengan Zelene! Kapan kamu ada waktu, kabari dia...," usul Sean.
Callista mengerucutkan bibirnya.
"Eh, kenapa istriku manyun begitu?" tanya Sean yang hendak menuju meja makan.
"Nomor ponsel Zelene?" tanya Callista.
"Oh, astaga... Dari awal pernikahan kita, selalu saja nomor ponsel terlupakan. Iya, nanti kukirim ke ponselmu," ucap Sean.
Callista sudah memakai ponsel baru yang dibelikan suaminya. Dia juga sudah menyimpan satu set perhiasan yang diberikan bersamaan hadiah ponselnya itu.
"Masak apa, sayang?" tanya Sean ketika sampai di meja makan.
"Nasi goreng saja. Aku hari ini sangat lelah," ucapnya.
"Tak masalah. Setelah ini istirahatlah. Jaga kandunganmu dengan baik. Semua vitaminnya masih ada?"
"Masih, nanti kalau sudah habis, kita pergi ke dokter lagi," ucap Callista sembari menyiapkan sepiring nasi goreng.
Sean sangat menikmati apapun makanan buatan istrinya. Setelah sepiring nasi goreng tandas, dia menikmati secangkir kopi hangat di pagi hari. Istrinya sangat piawai untuk menghadirkan kopi hitam yang enak.
"Sayang... Suamimu pamit dulu, yah?" ucap Sean kemudian mengecup kening istrinya. Tak lupa, dia menyempatkan untuk mencium perut istrinya yang mulai sedikit membuncit. "Jaga Mama dengan baik, Papa berangkat dulu, sayang," pamit Sean pada buah cintanya.
"Hati-hati di jalan. Jangan lupa kirimkan nomor Zelene," ucap istrinya.
Sepanjang perjalanan, Sean terus saja memikirkan istrinya. Memikirkan syarat yang diberikan sang Mama. Walaupun dia akan terus bersama istrinya, tetapi ucapan Mamanya juga mengganggu pikirannya.
Sesampainya di kantor, Sean tak sengaja berpapasan dengan Vigor yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Sean.
__ADS_1
"Baru datang, Bos? Aku tidak apa-apa," Vigor tidak ingin Bos sekaligus kakak iparnya itu memikirkan hal yang sama dengannya.
"Iya. Belum terlambat juga, kan? Bawakan beberapa berkas penting untuk proyek luar kota. Secepatnya kita akan menunjuk orang untuk mengurus proyek itu," ucap Sean.
Pria itu meninggalkan adik iparnya. Dia masuk ke ruangannya, melepas jasnya. Tak lupa mengambil ponsel untuk mengirimkan nomor Zelene pada istrinya.
"Selesai!" ucapnya.
Tok tok tok.
"Masuk!" ucap Sean.
Sean pikir, Vigor yang datang. Ternyata staf front officenya yang masuk.
"Ada apa? Kenapa tidak telepon saja?" protes Sean. Mood pria itu sedikit terganggu.
"Ini ada titipan makan siang, Tuan. Dari ojek online yang mengantarkannya," Staf itu menyerahkan beberapa paper bag untuknya.
"Dari siapa?" tanya Sean. Pria itu tidak pernah menerima makan siang seperti ini.
"Tidak tau, Bos. Mungkin ada note di dalamnya. Saya permisi dulu," pamit staf itu.
Belum sempat Sean membuka paper bag itu, pintu di ketuk lagi oleh seseorang.
Tok tok tok.
"Masuk!" ucap Sean.
Vigor masuk membawakan beberapa berkas yang dimintanya. Wajahnya masih seperti tadi, ditekuk seperti membawa beban yang sangat berat.
"Kenapa wajahmu semakin hari semakin jelek!" protes Sean.
"Hah?"
"Sebenarnya kamu kenapa? Terlihat seperti banyak masalah," ucap Sean sembari menerima berkas dari Vigor.
Apa aku cerita saja, yah? Setidaknya mengurangi beban dipikiran.
"Mama Jelita, Bos...," Vigor tidak melanjutkan ucapannya.
"Kenapa dengan Mama?" tanya Sean dengan tatapan penasaran.
"Mama Jelita mengajukan syarat padaku, Bos...."
Kali ini Sean meletakkan semua berkas yang akan dicek olehnya. Tatapan matanya beralih dan fokus ke Vigor, asisten sekaligus adik iparnya itu.
"Apa yang Mama ajukan padamu?"
"Mama bisa menerimaku jika dalam waktu setahun sampai dua tahun ke depan, Zelene harus sudah melahirkan seorang bayi laki-laki. Aku pusing mendengarnya, sampe sekarang Zelene belum hamil... Jika dalam rentang waktu tersebut, syarat yang diajukan Mama Jelita belum ada hasil maka....," Vigor kalut jika harus melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Maka apa? Ceritakan yang lengkap!"
"Maka Mama Jelita memintaku menceraikan Zelene. Wanita itu akan dinikahkan dengan orang lain," jawab Vigor.
Sean memijit pelipisnya. Setelah beberapa bulan di luar negeri, Sean pikir Mamanya akan berubah. Minimal bisa menerima semua menantunya tanpa persyaratan konyol itu.
Ternyata dugaan Sean salah. Mamanya malah memberikan persyaratan konyol itu kepada anak dan menantunya.
"Aku juga mendapatkan syarat yang sama. Tapi, kamu tidak perlu khawatir. Sebelum dua tahun, jika Zelene belum hamil, aku akan membebaskanmu untuk pulang ke kampung atau ke luar negeri. Aku akan meneruskan perusahaan ini seorang diri, jangan khawatir. Aku bisa mencari asisten baru. Tetap pertahankan Zelene!" ucap Sean. Mamanya sudah sangat keterlaluan.
Sean mengusap kasar wajahnya. Dia harus memikirkan cara untuk membuat Mamanya jera. Mengirimkan Zelene dalam waktu dekat untuk kembali ke luar negeri itu adalah hal mustahil. Dia masih membutuhkan adiknya untuk membantu Callista. Mengandalkan sahabat Callista sudah tidak mungkin. Gadis itu sudah punya keluarga yang harus diurus.
Sean membutuhkan Zelene sampai istrinya melahirkan, setelah itu secepatnya akan mengirimkan adik beserta suaminya ke luar negeri. Mereka akan membuka restoran di sana. Itu yang sudah ada dipikiran Sean saat ini.
"Jadi, Mama Jelita juga memberikan syarat itu pada Bos? Keterlaluan sekali Mama," gerutu Vigor.
Sean mengangguk. Dia merahasiakan hal itu dari istrinya. Tetapi, cepat atau lambat wanita itu pasti akan tau dari mulut adiknya, Zelene.
"Vigor, apa Zelene tau tentang syarat yang diajukan Mama padamu?" tanya Sean.
"Iya, bahkan Mama dengan terang-terangan mengatakan itu di depan Zelene. Aku memikirkan nasib pernikahanku dan Zelene malah memikirkan nasib pernikahan Kakak," ucap Vigor.
Secepatnya Callista harus tau itu. Aku tidak mau terjadi salah paham lagi karena kesengajaanku menyembunyikan rahasia besar ini. Lebih baik tau dari mulutku langsung daripada Zelene. Adikku itu pasti selalu membuat kehebohan.
Sean mengambil ponselnya. Dia akan mengirim pesan pada adiknya itu untuk tidak mengatakan apapun pada istrinya.
[Ze, tolong jangan katakan apapun pada kakak iparmu, ya! Tentang syarat yang diajukan Mama pada Vigor maupun padaku.] Pesan terkirim.
Sean berharap ini belum terlambat. Jika sudah terlanjur dikatakan Zelene pada istrinya, perang dunia akan terjadi. Ibu hamil itu sangat sensitif sekali dan akan sangat susah untuk merayu dan mengembalikan moodnya.
Tring...
Ponsel Sean berdering.
[Aduh! Aku baru saja mengatakannya. Mimik muka kakak ipar langsung berubah drastis. Aku sedang berada di apartemen kakak dan berniat pergi ke Mal.]
Setelah membaca pesan dari adiknya, wajah Sean berubah pucat. Dia harus memikirkan cara untuk mengembalikan mood istrinya yang sudah turun itu.
🌹🌹🌹🌹TBC🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like, vote dan komentarnya... 🥀🥀🥀🥀☕☕☕☕⭐⭐⭐⭐⭐ pun boleh diberikan...
Sambil menunggu update selanjutnya, kuy kepoin karya teman emak author... Ceritanya keren juga loh...
Judulnya : Berbagi Cinta : Ternyata Aku Dikhianati
Author : Erni Handayani
Terima kasih, luv Yu All... 😍😍😍😍
__ADS_1