Nikah Kontrak Dengan Duda 40+

Nikah Kontrak Dengan Duda 40+
Seperti ABG Labil


__ADS_3

Setelah dirawat selama beberapa hari, Zelene sudah diperbolehkan untuk pulang. Kehamilannya sudah baik-baik saja. Dia harus banyak beristirahat dan mengurangi aktivitas yang terlalu berat.


Vigor sudah kembali bekerja seperti biasa. Dia tidak khawatir lagi pada istrinya.


Hari ini di apartemen, Zelene sedang membaringkan badannya. Beberapa hari dirawat di rumah sakit membuatnya bosan. Dia merindukan suasana apartemen suaminya yang tenang dan nyaman itu.


Callista juga sudah mendapatkan kabar tentang kepulangan adik iparnya.


"Sayang, sebelum ke kantor, bisa antarkan aku ke apartemen Zelene? Aku merasa kesepian di apartemen seorang diri," ucap Callista ketika berada di meja makan. Dia menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.


"Apa kamu tidak kelelahan?" tanya Sean.


"Tidak. Aku bisa ngobrol sama Zelene. Dia 'kan belum tau kalau Kayana pergi," jawab Callista.


Tidak ada salahnya membiarkan mereka bertemu. Toh biar sama-sama berbagi cerita.


"Akan kuantarkan ke sana. Selesaikan sarapan paginya dulu," ucap Sean.


Callista menyelesaikan sarapannya dan bergegas untuk bersiap. Sean membantu merapikan ruang makan dan beberapa alat masak yang telah selesai digunakan.


Lima belas menit Callista telah selesai bersiap. Dia menunggu suaminya di ruang tamu.


"Ayo sayang. Cepatlah! Kamu bisa terlambat," teriak Callista.


Sean hanya merapikan jas kerjanya saja. Eks duda itu terlihat semakin matang, apalagi sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


"Sabar. Izinkan aku mencium baby A dulu," pintanya.


Sean berjongkok di depan perut istrinya. Dia mengatakan sesuatu yang membuat Callista semakin terharu.


"Jaga mama dengan baik, ya. Baby A harus nurut sama mama papa. Jangan tinggalkan papa ya, nak. Teruslah berada di samping papa, apapun keadaannya. Katakan sama mama seperti itu, ya," ucap Sean kemudian mengecup perut buncit istrinya untuk beberapa saat.


"Kenapa kamu terlihat sangat khawatir?" tanya Callista.


"Aku hanya ingin kita selalu bersama. Apapun keadaannya, kita tetap akan bersama. Oke?" ucap Sean.


Keduanya bergegas menuju basemen. Sean segera mengendarai mobilnya ketika keduanya sudah berada di dalam.


"Tunggulah di apartemen Zelene. Sepulang kerja aku akan menjemputmu."

__ADS_1


"Kalau tiba-tiba aku ingin pulang, bagaimana?" tanya Callista. Terkadang dia merasa bosan dan menunggu itu sangat melelahkan.


"Naik taksi saja, tetapi sebelum itu kabari suamimu," usul Sean.


"Siap bos suami. Oh ya, suamiku kan orang kaya raya. Kenapa Zelene tidak naik mobil sendiri? Atau minimal dia mempunyai mobil," tanya Callista. Beberapa pertanyaan ini hadir dalam pikirannya.


"Aku tidak pernah mengizinkan dia naik mobil sendiri. Seperti papaku mengajarkan pada mama. Agar suami bisa menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Zelene memang tidak bisa mengendarai mobil sendirian. Itulah sebabnya, Vigor selalu mengantarkan kemana dia pergi. Bukankah itu juga berlaku pada dirimu, sayang?" ucap Sean.


Callista memang tidak bisa mengendarai mobil. Dia hanya sampai naik sepeda motor. Itu saja ketika bekerja menjadi Delivery Order restoran XX beberapa bulan yang lalu. Kemana-mana dia bisa diantar suaminya maupun sopir taksi.


"Sayang, kamu langsung berangkat ke kantor, ya," pamitnya ketika berada di depan gerbang apartemen Vigor.


"Iya. Kamu turunnya hati-hati, ya. Salam untuk Zelene," ucapnya.


Callista berjalan dengan santai untuk naik ke unit Vigor dan Zelene. Untung saja unitnya bukan di bagian paling atas seperti apartemen suaminya.


Callista menekan bel selama beberapa kali. Barulah seseorang membuka pintunya.


"Kakak ipar?" Zelene terkejut mendapati kedatangan Callista yang mendadak itu.


"Boleh aku masuk?" tanya Callista.


"Ayo masuk, Kak," ajak Zelene. Dia menutup pintu unitnya lagi. "Tumben kakak ke sini? Ada perlu apa? Biasanya kakak yang memintaku ke sana." Zelene memberondong beberapa pertanyaan pada kakak iparnya.


"Memang biasanya kita sama kesepiannya, 'kan. Kak Sean juga ke kantor. Suamiku juga. Jadi apa masalahnya?" tanya Zelene. Dia meminta kakaknya untuk masuk ke ruang tengah. Di sana mereka bisa mengobrol dengan santai. Sebelum itu, Zelene juga menyediakan minuman dan makanan ringan sebagai pelengkap untuk mengobrol.


"Bukan itu, Ze. Ada kabar yang tidak kamu ketahui." Callista menyandarkan kepalanya di sofa ruangan itu.


"Sepenting apakah itu?" tanya Zelene.


"Kayana meninggalkan kita semua. Dia pergi ke luar negeri bersama suaminya. Dia akan kembali beberapa tahun lagi," ucap Callista terlihat sedih.


"Ya ampun. Kenapa sangat mendadak sekali? Memangnya ada masalah apa?" tanya Zelene.


"Kayana menduga jika suaminya terlibat skandal dengan sekretaris barunya yang sangat seksi dan bohai itu," jawab Callista.


"Ish, mana mungkin. Kalau si Dizon, aku baru percaya. Felix itu baik, Kak. Jika bukan karena aku sudah terlanjur jatuh cinta dan gagal move on dari suamiku, mungkin aku sudah menikah dengannya," jawab Zelene.


Ucapan Zelene terlihat masuk akal. Yang menjadi pertanyaan Callista, kenapa tidak diselesaikan saja masalahnya tanpa harus pergi ke luar negeri?

__ADS_1


"Tunggu, kakak ipar. Kita memang tidak tau masalah yang sebenarnya. Mungkin ada tujuan khusus kenapa mereka mendadak memutuskan untuk menetap di sana. Kakak ipar jangan khawatir, Kayana pasti akan menemui kita lagi," ucap Zelene.


"Tapi aku merasa kesepian, Ze."


Callista mengambil gelas kemudian menuangkan minumannya. Zelene membuatkan lemon tea dingin. Rasanya jauh lebih segar daripada buatannya.


"Lemon tea-nya seger, Ze," puji Callista.


"Kakak ipar bisa saja. Oh ya, berapa lama lagi kakak akan melahirkan?"


"Hanya beberapa bulan lagi, Ze. Beberapa hari lagi aku harus kontrol kehamilan. Ini hampir memasuki trimester tiga," ucapnya.


"Kakak tidak mengadakan syukuran? Mungkin acara makan-makan supaya banyak yang mendoakan kelancaran kelahiran bayi Kak Sean," ucap Zelene.


"Enak saja. Ini bayiku. Mana bisa kakakmu melahirkan," sindirnya.


"Oh ayolah kakak ipar. Itu bayi kalian bersama," balas Zelene.


Iya juga, sih. Tanpa suamiku, mana bisa aku hamil.


Callista tersenyum. Dia baru sadar jika ada andil suaminya didalam kehamilannya.


"Aku akan meminta suamiku membuat acara yang kamu maksud."


Zelene beranjak dari sofa. Dia masuk ke dalam untuk mengambil beberapa berkas kesehatannya.


"Kak, doakan kehamilanku lancar, ya," ucap Zelene.


"Memangnya ada masalah tentang kehamilanmu?" tanya Callista. Dia melihat ada raut sedih yang tergambar jelas di wajahnya.


"Aku harus banyak bedrest, Kak. Suamiku belum tau. Dokter bilang, kandunganku sedikit lemah. Jika sewaktu-waktu terjadi pendarahan, aku harus melakukan curetase. Itu artinya aku keguguran, Kak," ucap Zelene dengan berkaca-kaca.


"Kenapa kamu tidak jujur saja pada Vigor. Dia pasti akan mengerti daripada harus melihat kondisimu tanpa dia tau yang sebenarnya," ucap Callista. Dia sudah merasa menjadi wanita paling bijaksana dalam bertutur kata. Padahal sebenarnya dia juga masih sedikit labil. "Apa ucapanku terlalu bijaksana?"


Zelene tertawa. "Kakak ipar sangat lucu. Terkadang seperti ABG labil, terkadang sangat dewasa sekali," puji Zelene.


"Ck, ABG labil yang sebentar lagi melahirkan bayi," ucap Callista membuat Zelene bisa melupakan masalahnya.


Zelene melarang dokter untuk memberitahu kondisi kehamilannya. Vigor terlanjur sangat bahagia. Dia tidak mau mengecewakan kebahagiaan suaminya itu. Itulah sebabnya, Zelene berusaha menutupi masalah kehamilannya itu.

__ADS_1


Ucapan kakak iparnya juga benar. Sekarang Zelene merasa dilema. Menyimpan masalahnya seorang diri atau membagi keluh kesahnya pada sang suami. Hanya Zelene yang bisa memutuskannya.


🍇🍇🍇🍇🍇TBC🍇🍇🍇🍇🍇


__ADS_2