
Dokter Olivia sudah berada di rumah Damarion. Dia juga barusan makan malam bersama keluarga barunya, minus sang suami. Entah sampai detik ini suami anehnya itu belum pulang.
"Dizon tidak mengabari, 'nak?" tanya Mama Carlotta.
"Tidak, Ma. Mungkin sebentar lagi akan sampai," ucap Olivia. Sebagai istri, tidak ada kecemasan khusus menghadapi suaminya itu. Kalau mau pulang, pasti pulang ke rumahnya. Mau kemana lagi? Paling juga clubing kalau ada teman setipe.
"Kamu jangan khawatir, Dizon pria yang baik," ucap Mamanya menenangkan.
Olivia berada di ruang tengah sendirian. Dia bosan membaca majalah di meja kemudian menonton televisi. Mama Carlotta meminta menantunya untuk tidak sungkan dan menganggap seperti rumahnya sendiri.
"Nak, kalau sudah mengantuk sebaiknya tidur saja. Dizon nanti akan menyusulmu," ucap Mama Carlotta yang kebetulan lewat di dekatnya.
"Iya, Ma." Olivia segera menekan tombol off pada remote televisi kemudian masuk ke kamarnya.
Olivia seorang diri di kamar pria asing yang saat ini menjadi suaminya. Dia berusaha menahan kantuk yang luar biasa. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Aku sangat mengantuk. Sebaiknya aku tidur," ucapnya setelah berganti baju tidur dan masuk ke dalam selimut hangatnya itu. Ruangan itu memang ber-AC, tetapi Olivia tidak bisa tidur tanpa selimut.
Ceklek!
Dizon baru saja masuk ke kamarnya. Dia melihat suasana lampu yang temaram itu menandakan istrinya telah tidur. Bergegas dia masuk ke bathroom untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
"Bisa-bisanya tidak menyambut kehadiran suaminya. Malah tidur nyenyak seperti itu," ucap Dizon di depan cermin.
Dizon telah menyelesaikan ritual mandinya kemudian memakai piyama tidurnya. Dia akan bergabung seranjang bersama sang istri.
Rencananya malam ini dia ingin menuntaskan sesuatu yang tertunda karena alarm sialan itu malah istrinya tidur. Dia sengaja pulang terlambat karena merasa kaku berhadapan dengan istrinya. Walaupun keduanya sudah sama-sama dewasa, tetapi rasanya seperti ABG yang baru saja memiliki pasangan. Lebih tepatnya, sedang berada di mode sangat bahagia. Itu untuk Dizon, entah untuk dokter Olivia. Mendapatkan Dizon merupakan sebuah berkah atau musibah, hanya dia yang tau.
Terbersit pikiran nakal dalam otak Dizon. Sengaja dia membuka selimut kemudian mengecup perut istrinya. Olivia refleks dan hampir berteriak jika Dizon tidak langsung membungkam bibir istrinya dengan tangan kekarnya itu.
"Ssttt, jangan berteriak! Bisa-bisa aku kena pasal tuduhan pemerkosaan kepada istriku sendiri," ucap Dizon melepas tangannya.
"Kenapa kamu mengagetkanku? Bisa kan minta dengan baik-baik dan tidak harus mengejutkan seperti ini," ucap Olivia yang sepertinya merasa terganggu tidur malamnya. "Kalau aku jantungan, bagaimana?"
"Kalau kamu jantungan, aku bisa menikah lagi," cibir Dizon.
"Kalau Tuhan hanya kasih aku saja untuk jodohmu, bagaimana?"
Dizon terdiam. Berdebat dengan sang istri agaknya tidak akan pernah selesai.
"Sudah bicaranya? Malam ini aku mau menagih hakku yang belum kamu berikan. Aku sudah memberikan nafkah lahir untukmu. Kini giliranmu memberikan nafkah batin untukku," ucap Dizon.
__ADS_1
"Maaf, tidak salah dialog, kah? Harusnya aku yang meminta nafkah batin itu," ucap Olivia sengit.
Pancingan Dizon ternyata berhasil. Dia sudah tidak malu lagi untuk memintanya karena sang istri telah mengatakan permintaannya sendiri.
"Aku akan memberikannya malam ini dan tidak ada peraturan untuk mematikan lampu seperti di hotel itu," goda Dizon.
Olivia terjebak dengan ucapannya sendiri. Mau tidak mau dia harus mengikuti permintaan suaminya.
"Bersihkan dirimu selama sepuluh menit. Aku tunggu!" ucap Dizon.
Olivia beranjak dari ranjang menuju bathroom. Dia harus menuruti semua kemauan suaminya.
"Apakah malam ini semuanya akan dimulai?" ucap Olivia memulai ritual mandinya. Dia membasahi tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Dia langsung masuk ke walk in closet dan mengambil piyama tidurnya. Ketika hendak memakai piyama, matanya tertuju pada hadiah lingerie berwarna hijau yang sangat indah. Model V Neck yang menampakkan keindahan yang sempurna.
Kita lihat saja, siapa yang akan kalah malam ini?
Diambilnya lingerie itu kemudian dipakainya. Dia juga memakai parfum yang ada di lemari milik suaminya.
Siapa peduli aku memakai parfum maskulinmu itu?
Dizon sudah menunggunya hampir dua puluh menit.
"Ck, apa saja yang dilakukan wanita itu di dalam sana? Awas saja kalau sampai tertidur!" ucapnya.
Ceklek!
Pintu terbuka. Olivia nampak seperti bidadari yang baru saja turun dari khayangan dan membuat Dizon menatap keindahan di hadapannya itu tanpa berkedip sedikitpun.
Sempurna.
Hanya itu yang mampu terucap dibenak Dizon. Sepertinya dia memang kalah dengan istrinya yang lebih dulu bisa memancing dirinya.
Olivia sangat cantik dan terlihat menggoda. Dizon merasa terhipnotis untuk mendekati istrinya kemudian membimbingnya ke ranjang miliknya.
Dizon sudah tidak tahan untuk tidak melakukannya malam ini. Diberikan ciuman untuk sang istri kemudian turun ke bawah dan memberikan jejak kepemilikan di sana. Olivia sudah masuk dalam permainan Dizon. Bunyi suara merdu telah menggema di kamar itu.
Perlahan-lahan Dizon mulai menjadikan polos istrinya. Setelah melihat keindahan yang sempurna di depan matanya, dia langsung melepas semua yang dipakainya.
Olivia langsung menutup matanya dengan kedua tangan manakala melihat tubuh suaminya yang sudah polos itu.
__ADS_1
"Jangan seperti itu! Kamu akan terbiasa melihatnya," ucap Dizon menarik kedua tangan istrinya.
Olivia sudah tidak mampu berkata lagi. Dia pasrah apapun untuk malam ini.
"Boleh aku melakukannya?" tanya Dizon sebelum miliknya memasuki inti.
Olivia hanya mengangguk pasrah. Dizon perlahan mulai bekerja. Dia sepertinya sudah sangat lihai dalam melakukan hal itu. Tetapi tidak dengan Olivia. Wanita itu mencari pegangan untuk menahan sesuatu yang akan memasukinya.
Sekitar lima menit berjuang, Dizon telah masuk sempurna ke dalamnya. Dia mulai mengikuti alunan suara yang sangat indah itu. Dengan perlahan namun pasti, Dizon bermain sangat baik dan luwes sekali.
Pasangan pengantin yang sudah matang itu menikmati malam pertamanya dengan sangat syahdu dan tenang sekali tanpa gangguan alarm sialan seperti beberapa waktu yang lalu.
Ketika hendak melakukan pelepasan, Dizon meminta izin untuk kedua kalinya.
"Boleh aku lepaskan di dalam?"
Tak ada penolakan dari Olivia. Wanita itu memang menginginkan anak. Dizon terlihat sangat bahagia setelah melepaskan pelepasan pertamanya. Dia terbaring lemah di samping istrinya.
Dizon sebenarnya ingin memintanya lagi, tetapi mengingat besok dia dan istrinya harus bekerja membuatnya mengurungkan niat.
Olivia bergegas masuk ke bathroom untuk membersihkan diri, sementara Dizon beranjak dari kamarnya untuk mengambil sprei bekas peperangannya barusan. Terlihat stempel warna merah segar yang tertinggal di sana.
Terima kasih untuk kesempurnaan yang telah kamu berikan untukku.
Dizon memakai piyamanya kembali dan mengganti spreinya dengan yang baru. Sprei lamanya itu langsung dimasukkan ke tempat sampah agar tidak terlihat oleh siapapun.
Olivia sudah terlihat segar kembali. Dia masuk ke kamarnya dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan apapun.
"Kemarilah!" panggil Dizon yang sudah berada di atas ranjang.
"Kamu tidak membersihkan diri dulu?" tanya Olivia.
"Aku sangat lelah. Kemarilah!"
Olivia naik ke ranjang. Suaminya itu dengan sigap memeluk istrinya tanpa bertanya lagi.
"Terima kasih untuk malam ini. Sebenarnya aku ingin memintanya lagi. Lihatlah, ini sudah dini hari. Aku tidak tega melihatmu kelelahan keesokan hari. Tidurlah!" Dizon melepaskan pelukannya kemudian menyiapkan bantal untuk istrinya tidur.
Bagi Olivia, Dizon tetap pria yang aneh. Kadang terlihat kaku, kadang juga romantisnya luar biasa seperti malam ini.
☕☕☕☕TBC☕☕☕☕☕
__ADS_1